Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pertempuran


__ADS_3

Disela pertarungan sengit antara naga emas dan Ular berkepala tiga. Arnius memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Yosi. Setelah melihat kesempatan serta cela yang ada. Arnius melompat dari punggung naga emas dan melesat menyerang Yosi yang hanya diam di atas punggung Anulata. Kilatan api biru Arnius hampir mengenai Yosi jika Anulata tidak cepat menghindar.


"Kau beruntung pangeran, aku masih menyadari gerakan anak muda itu. Serahkan mustika itu padaku sekarang, atau kau benar-benar mati."


Anulata masih berusaha membujuk Yosi secara baik-baik.


Serangan Arnius dan juga Ryu kogane masih bisa di hindari oleh Anulata dengan baik. Saat Arnius kembali melancarkan serangannya, ia merasakan ada sesuatu yang datang dari arah belakang. Segera ia membuat perisai pelindung karena tak mampu lagi menahan serangan yang sudah ada di ujung kepalan tangannya.


Pekik suara Phoenix terdengar menggema, seketika puluhan panah yang tadinya melesat menyerang Arnius berubah menjadi debu dan menghilang. Eiji meluncur turun dari punggung Kin Raiden begitupun Keiko dan yang lainnya. Semua berbaur menyerang para anak buah Yosi yang masih tersisa.


"Kau lawan ku Phoenix angkuh."


Seekor serigala besar melompat tepat di hadapan Kin Raiden.


Sambaran petir menyambut cakaran kuku tajam sang serigala, tanpa butuh waktu lama tubuh serigala sudah terbujur kaku tanpa nyawa. Kin Raiden beralih menyerang hewan ilahi lainnya yang jumlahnya tidak sedikit.


Hanya dengan satu kepalan tangan, sepuluh tubuh prajurit tumbang tak bernyawa tanpa sempat mengayunkan senjatanya ataupun tahu siapa yang telah menyerangnya. Azumi mulai menyerang tanpa turun dari atas punggung elang besarnya. Puluhan barisan prajurit Yosi tumbang tanpa sempat melakukan perlawanan berarti.


Seekor gagak hitam menyadari hal itu dengan cepat dia terbang dan menyerang Azumi yang masih berada di atas punggung elang.


"Pengendalian darah, kau mangsaku nona cantik."


Gagak hitam yang berusaha menyerang elang tunggangan Azumi, berubah menjadi kepulan asap yang kemudian membentuk sebuah tubuh seorang manusia.


Seorang laki-laki berjubah hitam berusaha menyerang Azumi yang masih bertahan di atas punggung elang. Kilatan cambuk hitam tepat mengenai dada elang dan membuatnya turun menukik tajam ke bawah.


"Bertahanlah."


Azumi berusaha mengendalikan darah yang terus keluar dari tubuh elang yang dinaikinya.


Wu Ling melihat elang yang membawa Azumi turun tanpa terkendali, seketika ia mulai memadatkan udara disekitar Azumi dan membuat elang tersebut turun perlahan.


"Racun, elang ini terkena racun."


Azumi berteriak setelah memeriksa luka pada dada elang yang dinaikinya.


"Kei keluarkan Zora, elang ini butuh bantuan secepatnya."


Wu Ling seketika berteriak setelah mendengar teriakan Azumi.


"Tidak bisa, Zora juga terluka dan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja."

__ADS_1


Keiko menyahut singkat tanpa mengubah serangannya pada lawannya.


"Wu Ling terima ini."


Arnius yang mendengar teriakkan para rekannya segera menghampiri Wu Ling dan menempelkan lengan kirinya pada lengan Wu Ling untuk memindahkan gelang giok hitam miliknya, setelah mengeluarkan Jung Bao dan beberapa hewan lainnya.


"Masukkan semua yang terluka ke dalam gelang itu, kibaskan saja lenganmu di dekat mereka. Akan ada yang mengobati mereka di dalam sana."


Arnius kembali berucap sebelum kembali melancarkan serangannya pada hewan ilahi yang berusaha membantu Yosi.


Wu Ling mengangguk mengerti, setiap ia melihat hewan yang terluka parah langsung ia masukkan kedalam gelang pemberian Arnius tersebut.


Pertempuran terjadi hingga hanya menyisakan beberapa hewan ilahi yang terhitung kuat, baik itu dari pihak Arnius maupun Yosi.


Mereka mencoba bertempur dengan sedikit menjauh dari pertarungan Anulata dan Ryu kogane, untuk menghindari dampak serangan mereka yang begitu mengerikan. Namun tidak dengan Kin Raiden. Sang Phoenix terus menyerang setiap binatang yang mencoba menjauh darinya ataupun sang naga emas.


Seorang laki-laki bertubuh besar terlihat mencoba mengatur nafasnya yang memburu, tubuhnya penuh dengan luka sayatan serta cakaran. Toraken masih berusaha menghalangi setiap serangan yang ditujukan kepada Yosi.


"Paman belang bertahanlah, akan ku bunuh mereka semua. Kita akan pulang dan menyerahkan kepala Naoki kepada ayahnya."


Teriakan Yosi terdengar sedikit panik karena melihat luka di sekujur tubuh panglima yang begitu dia hormati.


Toraken berucap pelan namun tetap terdengar jelas.


"Baiklah."


Yosi mengangguk perlahan.


"Tidak akan kubiarkan."


Arnius kembali melesat menyerang Yosi tanpa jeda, namun setiap serangannya akan ditangkis oleh para anak buah serta hewan ilahi yang masih setia pada Yosi. Meskipun tubuh mereka hancur berkeping-keping ataupun terbakar hingga menjadi abu.


Tubuh Yosi saat ini juga dipenuhi dengan berbagai luka sayatan. Arnius berhasil memisahkan Yosi dari Anulata, yang masih bertarung sengit dengan Ryu kogane. Hampir setiap serangan Arnius dapat di tangkis oleh setiap anak buah Yosi. Jika tidak, mungkin tubuh pangeran itu sudah tidak lagi berbentuk.


Anak buah Yosi yang tersisa saat ini hanya tinggal beberapa hewan ilahi serta Toraken sang panglima kepercayaannya, begitupun gagak hitam yang mampu melukai banyak hewan serta Azumi, Haruka dan Naoki yang terluka karena racun darinya.


Wu Ling berusaha berdiri dengan di bantu oleh Yuki yang juga terluka cukup dalam karena cakaran hewan. Saat ini mereka berdua hanya membuat perisai pelindung untuk diri mereka sendiri karena para musuh sudah berkumpul melingkari Yosi yang berada tepat ditengah mereka. Sementara Arnius, Eiji dan Keiko sudah bersiap menyerang mereka kembali.


Pekik burung dan geraman keras yang begitu menggelegar, mewarnai langit senja di atas tanah pasir merah.


"Apa kau tidak mampu mengatasi kaum mu yang sok kuat ini sendiri hah."

__ADS_1


Kin Raiden kembali melontarkan petir kearah Anulata yang masih saja menyemburkan asap hitam beracun.


"Apa kau mampu jika harus menyerangnya serta menahan racunnya yang begitu mematikan agar tidak mengenai mereka yang bertarung di bawah. Dasar bodoh, berpikirlah. Jika aku tidak menahan serangannya, seluruh racun itu akan menyebar dan kalian akan ikut terkena imbasnya."


Kembali geraman keras terdengar.


"Baiklah, kau tahan racunnya dan aku akan membunuh hewan melata ini tanpa sisa."


"Kalian ingin menyerang ku bersamaan, ayo majulah aku tidak takut."


Anulata kembali melemparkan sisik hitam serta kibasan ekornya.


Kepanikan juga terjadi di dalam gelang giok hitam, hampir seluruh hewan ilahi yang di keluarkan oleh Arnius terluka parah dan juga terkena racun. Para hewan yang tidak ikut dalam pertarungan saat ini, sedang berlomba dengan para malaikat pencabut nyawa. Mereka berusaha secepatnya mengobati temannya yang terluka. Para peri menyerahkan beberapa botol air kehidupan, sementara para hewan lainnya yang melakukan perawatan.


Azumi yang juga terluka, terlihat terbaring di atas dipan sederhana begitupun Naoki, dan Haruka. Mereka masih belum sadarkan diri namun sudah melewati masa kritis, terlihat Memei selalu menemani mereka. Angsa besar itu tidak akan membiarkan teman majikannya merasa tidak dilayani dengan baik di tempatnya.


"Tebasan kilat."


Serangan Arnius yang begitu tiba-tiba mengejutkan para anak buah Yosi, mereka mampu menahan walau sayatan pada tubuh mereka bertambah.


"Baiklah aku tidak akan membuat kalian menderita terlalu lama."


Keiko mengepalkan tangannya seketika beberapa hewan ilahi terbujur kaku dengan tubuh yang membeku seutuhnya.


Kini tertinggal sang gagak hitam dan Toraken yang masih berdiri melindungi Yosi. Asap hitam mulai menutupi seluruh tubuh ketiganya.


"Ingin melarikan diri, jangan harap."


Eiji memadatkan udara disekitar mereka tanpa menyisakan ruang untuk bergerak.


Asap hitam mulai menghilang sepenuhnya, yang terlihat saat ini hanyalah pangeran Yosi beserta kedua pengawal setianya yang tertunduk dan kesulitan bernafas. Keiko kembali mengepalkan tangannya dan seketika ketiganya terbujur kaku.


"Bunuh ular itu kogane."


Suara Arnius terdengar jelas di kepala Ryu kogane. Tanpa menunggu lama Ryu kogane menyerang Anulata tanpa menghiraukan lagi racun yang keluar dari ketiga mulutnya.


Tebasan kilat dari api biru sang naga emas, memotong tiga kepala Anulata sekaligus. Sementara api biru yang senantiasa menyelimuti tubuh sang naga emas, membuat racun yang telah dikeluarkan oleh Anulata tidak berdampak terhadap tubuhnya dan membakar sisa tubuh Anulata hingga tidak tersisa.


Arnius bergegas mendekati Wu Ling dan juga Yuki setelah memberi perintah kepada Ryu kogane, ia mengambil kembali gelang giok hitam serta segera memasukkan keduanya ke dalam gelang tersebut supaya terhindar dari racun Anulata, dan segera mendapat perawatan yang baik di dalam gelangnya.


Minori yang sedari tadi hanya berdiri di sisi nona muda nya, memastikan segel pelindungnya berfungsi dengan baik supaya Keiko terhindar dari hujan bisa ular yang di semburkan oleh Anulata, yang setiap saat keluar selama pertempurannya melawan Ryu kogane dan juga Kin Raiden. Meskipun ia tahu bahwa sang naga emas sudah menahan hempasan bisa ular tersebut, ia tetap memasang perisai pelindung di sekitar nona muda nya tanpa sedikitpun menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2