
Arnius saat ini tengah melayang di hadapan Arashi, sosok pemuda yang telah membawa pergi wanita cantik dari benua selatan yang pernah ia nikahi. Pemilik naga emas itu hanya diam serta tidak berucap satu kata pun di hadapan pangeran negri bulan tersebut. Pemilik pedang hitam black diamond itu masih berusaha meredam amarah yang kini bergemuruh di dalam dadanya.
Kedua tangannya terlipat di depan dada, pandangan matanya menatap tajam wajah Arashi yang masih berusaha menghindari telapak tangan besar sang gorila emas.
Hanya dalam waktu singkat, Arashi mampu membalikkan keadaan. Kini sang gorila emas berusaha mati-matian untuk lepas dari jeratan penguasaan segel pangeran negri bulan tersebut. Hanya dengan sedikit gerakan tangan, Arashi memukul dan juga membanting tubuh besar sang gorila emas.
"Fudo."
Arnius mengangkat sebelah tangannya. Seketika pedang hitam itu melayang mendekati tuan mudanya. Berada di dalam genggaman Arnius, kobaran api besar menyelimuti pedang hitam tersebut.
Seluruh hewan yang ada di tempat itu, kini menoleh ke arah Arnius yang sedang menggenggam pedang hitam black diamond. Berbagai aura aneh terpancar dari tubuhnya. Semua yang ada di tempat tersebut, merasakan aura api Arnius yang bercampur dengan aura black diamond.
Arnius mengibaskan pedang hitam di tangannya hingga menimbulkan energi pedang yang luar biasa besar. Kibasan api yang muncul dari energi pedang hitam bagaikan cambuk api yang kini telah menghancurkan penguasaan wilayah segel pangeran Arashi.
Pangeran negri bulan tersebut terlempar hingga menghancurkan sebagian dinding bangunan. Darah segar mulai terlihat menetes dari sudut bibirnya.
"Baru kibasan kecil dari pedang hitam ini sudah membuatmu terlempar. Sebenarnya keberanian apa yang kau punya, hingga berani membawa pergi istri orang."
Slaazz...
Kembali cambuk api melesat cepat ke arah pangeran Arashi. Beruntung pangeran tersebut bisa menghindar tepat waktu. Bangunan yang tadinya hanya runtuh sebagian dindingnya, kini benar-benar terbelah.
"Aku tahu mereka semua adalah bawahan mu, jadi aku tidak akan membunuh mu. Aku hanya akan menyiksamu, seperti halnya yang telah kau lakukan pada istri ku."
Arnius terus melesatkan cambuk api sampai berulang kali. Hal itu sangat menyulitkan bagi pangeran Arashi untuk menghindar.
"Aku tidak pernah menyiksa istri mu, bahkan aku tidak menyentuhnya sama sekali."
Pangeran Arashi mencoba mengulur waktu untuk memulihkan kembali kondisi tubuhnya.
"Memisahkan dia dari suami dan juga keluarga nya, membuatnya begitu tersiksa."
Duaaarrr...
Sebuah ledakan keras terdengar setelah Arnius melesatkan cambuk api hingga menghancurkan perisai pelindung yang sempat di buat oleh pangeran Arashi.
__ADS_1
Seolah tidak ingin membiarkan lawannya menghirup udara segar terlalu lama. Arnius kembali melesatkan cambuk api dan pisau api secara bersamaan dari ke dua tangannya.
Arnius memang sengaja tidak menggunakan jurus apapun, dia hanya terus melesatkan api untuk menyiksa pemuda yang telah membawa pergi istrinya secara paksa. Dia yakin bahwa seseorang yang baru saja tiba di tempat itu adalah seseorang yang sangat berpengaruh di dalam istana bulan maupun pasukan the Beast yang menurutnya layak untuk disegani.
Selain itu, dia tidak ingin menyulitkan seluruh rekannya hingga mereka harus berurusan dengan pasukan terkuat di negri ini. Pelatihan terakhir yang mereka dapatkan dari pertapa Kitaro, membuat tubuh mereka menjadi lebih kuat. Hanya dengan sedikit tenaga, Arnius mampu mencabik-cabik tubuh pangeran Arashi hingga tidak berdaya.
Saat ini kapten Zen pun berhasil menendang sebuah peledak yang tengah meluncur cepat menuju ke kapal kebanggaannya. Perisai pelindung yang sempat menahan semua serangan, kini telah hancur. Sehingga sang kapten kapal benar-benar harus waspada terhadap serangan meriam peledak yang bisa menghancurkan kapalnya.
Kini tempurung putih Shiro Kame benar-benar berusaha keras melindungi serangan yang di tujukan ke kapal tua Classic pearl. Sang kapten kapal pun mengerti, bahwa kondisi tubuh gadis kecil itu belum benar-benar pulih. Sehingga ia tetap waspada untuk menghalau setiap peledak yang mengarah ke kapalnya.
Zen terlihat semakin kuat dan beringas karena serangan bertubi-tubi dari beberapa kapal ikan Yama yang sempat membuat Classic pearl hampir terguling. Dengan sekuat tenaga, Zen berhasil menopang sisi kapal yang hampir membuat kapal tersebut terbalik.
Sementara Kuma terus bergelantungan di sisi kapal yang lebih tinggi, untuk segera menstabilkan kondisi Classic pearl. Seluruh awak kapal Classic pearl terus berjuang untuk menghancurkan armada bangsawan Yama. Tembakan demi tembakan terus mereka luncurkan, sehingga satu demi satu kapal kecil yang bisa bergerak bebas itu hancur.
Tubuh pangeran Arashi kini sudah terluka pada beberapa bagian. Pakaian yang dikenakannya pun kini sudah tidak utuh lagi. Luka bakar yang dideritanya sudah sangat memprihatinkan.
Kedua kakinya sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Kini ia jatuh tersungkur di atas reruntuhan bangunan.
"Akan kuberikan suatu tanda, supaya kau dapat selalu mengingat kejadian ini seumur hidupmu."
Arnius berjalan perlahan mendekati tubuh pangeran Arashi yang sudah tidak berdaya. Ia menempelkan telapak tangannya ke lengan kiri pangeran Arashi. Jerit kesakitan benar-benar memenuhi seluruh lereng Oyo, hingga membuat pangeran tersebut tidak sadarkan diri.
Makaira yang sedang mengumpulkan seluruh penghuni kediaman Yama bersama dengan komandan Sato, sempat melihat ke arah Arnius.
"Ternyata pedang hitam itu hanya melindungi keturunan dari tuannya yang berada di dalam rahim perempuan berwajah giok. Sepertinya pangeran negri bulan berada dalam masalah besar saat ini."
Makaira tersenyum kecil saat pandangannya bertemu dengan wajah suaminya yang masih diliputi oleh keterkejutan.
"Lalu apa hubungan dia dengan pemuda yang saat ini bertarung dengan Zuraya."
Komandan Sato beralih menatap pertarungan sengit antara adik lelakinya dengan seorang pemuda.
"Bukankah wajah serta postur tubuh keduanya hampir sama. Hanya rambut mereka yang berbeda."
Makaira tersenyum kecil.
__ADS_1
"Mereka bersaudara. Jika dia berhasil menebas lengan kiri Zuraya, gadis nakal itu benar-benar akan jauh dari ku. Haah.."
Komandan Sato menghela nafas panjang kemudian mengusap pelan wajahnya.
"Kita lihat saja, apa dia mampu menebas lengan panglima tertinggi pasukan the Beast."
"Tentu saja dia bisa, apa kau tidak lihat pedang yang ada di tangannya itu. Dia menguasainya dengan baik."
"Pedang bulan dan black diamond."
Makaira berfikir sejenak.
"Penguasa binatang ilahi."
Makaira dan komandan Sato berucap hampir bersamaan.
"Suamiku, pasukan mu berada dalam masalah besar."
"Keputusan Zuraya adalah jalan keluar yang terbaik. Pangeran Arashi memang harus diberi sedikit pelajaran. Ku harap pemuda itu masih menyisakan nyawanya."
Komandan Sato mulai menyeret tubuh tua Yama keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Sekarang perintahkan seluruh armada mu untuk berhenti menembak, atau aku sendiri yang akan memusnahkan semua anggota keluarga mu."
Komandan Sato membawa tubuh tua Yama ke tempat yang lebih luas. Tiga naga besar yang masih berusaha menghancurkan seluruh kapal ikan, bisa melihat dengan jelas sang komandan pasukan the Beast yang membawa serta seorang pria tua.
Yama mengambil sesuatu dari dalam jubahnya, kemudian menembakkannya ke udara. Asap berwarna hijau melesat ke udara, dan tidak perlu waktu lama. Asap itu mulai hilang karena hembusan angin. Serangan dari setiap kapal ikan besar berhenti seketika, setelah asap hijau itu terlihat di udara.
"Sekarang minta seluruh kapal mu untuk kembali ke tempatnya."
Komandan Sato kembali memberikan perintahnya. Yama melambaikan tangannya, seluruh kapal ikan mulai turun dari ketinggian. Kapal kecil yang masih tersisa pun mulai kembali ke kapal induknya.
"Baguslah jika kau tidak mempersulit semuanya. Karena para penduduk bumi itu pasti akan melenyapkan seluruh keluarga mu jika tidak ada kami di tempat ini."
Komandan Sato kembali mengikat kedua pergelangan tangan Yama.
__ADS_1
"Anak muda, aku tahu kau begitu kesal kepadanya. Tapi tolong sisakan sedikit nyawa pangeran itu. Sebagai gantinya, aku akan mengantar kepergian kalian kembali ke bumi bersama dengan wanita yang sudah di bawa olehnya."
Komandan Sato berucap dengan suara yang lantang, sehingga terdengar jelas oleh semua orang. Termasuk Ai Sato dan juga semua yang berada di dalam ruangan bersama Yao Yin.