
"Seina, cepat cari nona kecil mu itu. Sebelum terjadi sesuatu kepadanya."
Hanya geraman yang terdengar saat Doulu memandang burung biru kecil yang masih saja bertengger di bahunya.
Seina mengepakkan sayap kecilnya menuju ke istana naga. Dalam hatinya ia berharap gadis kecilnya dalam keadaan baik-baik saja serta bersedia pulang bersama dengannya.
Seina berkicau sekali, setelah ia bertengger pada sebuah batang pohon sakura yang tertanam di area taman bunga. Kedua matanya melihat gadis kecil yang dicarinya sedang duduk termenung seorang diri.
Ai mengenali kicauan burung tersebut, kedua matanya menatap sekeliling untuk memastikan tidak ada yang sedang mengawasinya. Putri komandan the Beast tersebut mulai melambaikan tangannya sebagai isyarat bahwa tempat itu aman.
Seina kembali mengepakkan sayapnya dan mendarat di hadapan Ai Sato.
"Nona Ai pulang lah, Doulu dan Dielu menunggu di perbatasan. Komandan dan panglima Zuraya mengkhawatirkan keselamatan mu nona."
"Apa ibu sudah mengetahuinya?"
"Aku tidak tahu nona, aku bersama dua gorila itu langsung menuju ke tempat ini setelah mendapatkan perintah dari panglima Zuraya."
"Tunggulah diperbatasan, aku akan menemui mu di sana. Katakan pada Akira bahwa aku baik-baik saja di sini dan tidak perlu mengkhawatirkan aku. Ingat Seina, jangan sampai Doulu dan Dielu membuat keributan."
"Baik nona."
Seina kembali terbang keluar dari dalam istana setelah bertemu dengan gadis kecilnya.
"Nona Ai, sebaiknya kau kembali ke istana bulan. Aku khawatir jika masalah ini terus berlanjut, dirimu akan berada dalam masalah besar."
Yao Yin mendekati Ai Sato setelah melihat kepergian burung biru kecil yang baru saja berbincang dengan gadis tersebut.
"Kakak, aku ingin menemanimu saat melahirkan nantinya. Apakah boleh?"
"Tentu saja Ai, kau selalu mengingatkan ku pada adik ipar ku yang selalu bersikap manis dengan ku."
"Apakah dia juga cantik seperti dirimu?"
Ai Sato tersenyum manja.
"Tentu saja. Umurnya sedikit lebih muda darimu, namun ia juga lincah dan manja seperti dirimu."
"Senangnya jika aku mempunyai kakak yang baik dan pengertian seperti kakak Yin."
Ai Sato memeluk erat tubuh Yao Yin.
"Jaku, tolong kau simpan baik-baik buah persik bulan ini. Berikan satu setiap harinya kepada kakak cantik ku ini. Aku harus menemui Doulu dan Dielu sebelum ke dua gorila itu membuat keributan, karena tidak menemukan diriku. Aku pasti akan segera kembali, jaga baik-baik nyonya muda mu. Jangan pernah keluar dari istana ini sebelum aku kembali. Jika ada pesan yang harus disampaikan, kau cari saja Akira. Harimau merah itu akan selalu berjaga di perbatasan."
Jaku mengangguk seraya menerima beberapa persik bulan dari Ai Sato dan menyimpannya ke dalam cincin ruang miliknya.
"Kakak, aku akan berpamitan kepada putri Sin terlebih dahulu."
Ai Sato bergegas mencari keberadaan Sinziku untuk berpamitan.
Sementara di perbatasan terlihat Akira sedang berusaha menenangkan dua gorila batu yang saat ini tengah berdiri dan berjalan ke sana kemari tanpa henti. Keduanya begitu gelisah karena Seina tak kunjung kembali.
"Tolong berhenti bergerak, kalian membuat tempat ini terus berguncang."
__ADS_1
"Grrrr.."
"Ya dewa.. Apa yang mereka katakan. Mereka mengerti ucapan ku, namun aku tidak mengerti geraman mereka."
Akira berjalan dengan terus memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Seina... Untunglah kau kembali. Cepat tenangkan mereka, sebelum tempat ini hancur."
Akira melihat burung biru kecil terbang mendekati mereka.
"Doulu, Dielu berhentilah bergerak. Gadis kecil kalian baik-baik saja, dia akan segera menemui kita di sini. Jadi jangan hancurkan tempat ini."
Doulu dan Dielu mulai berhenti bergerak, keduanya kembali duduk dengan tenang setelah mendengar ucapan dari Seina.
Hari mulai berganti malam, Doulu dan Dielu pun terlihat sudah tertidur. Seina menggelengkan kepalanya perlahan, saat melihat ke dua gorila batu yang sudah terlelap.
"Sejak gadis kecil itu mulai merangkak, kalian sudah bermain bersama. Sejak saat itu hingga sekarang, aku masih merasa mengasuh tiga anak-anak."
Seina bergumam perlahan seraya menyeka air matanya yang telah menetes. Saat ini Seina sudah merubah penampilannya menjadi seorang wanita dewasa. Sudah sejak lama Seina tinggal bersama dengan keluarga Sato, ia mengasuh putri tunggal keluarga tersebut sejak gadis itu dilahirkan. Bahkan usianya juga masih kecil pada saat itu.
Ai Sato tumbuh bersama para hewan besar di sekelilingnya, termasuk Doulu dan Dielu. Ketiganya selalu bermain bersama sejak dulu. Sementara Seina yang bertugas mengawasi mereka. Seina bergegas beranjak dari tempatnya, saat menyadari aura seseorang yang begitu di kenalnya mendekati mereka.
"Nona, apa kita akan pulang sekarang juga?"
"Seina, bisakah kita tetap di sini. Aku tidak ingin jauh dari kakak Yin."
Ai Sato sedikit memohon kepada Seina.
"Nona, sebaiknya kita pulang terlebih dahulu dan menunggu perintah dari komandan. Aku bisa mengantar nona Ai ke tempat ini setiap saat."
Ai Sato melompat ke atas tubuh Dielu yang masih tertidur pulas, dengan sedikit memanjat gadis cantik itu mulai menyandarkan tubuhnya pada leher gorila batu tersebut.
"Dielu, apa kau tidak ingin membawaku pulang?"
Dengan sedikit menguap, Ai Sato berkata lirih di bawah telinga teman besarnya. Mendengar suara gadis kecilnya, membuat Dielu dan Doulu terbangun.
"Ayo bawa gadis kecil kalian pulang."
Seina kembali berubah menjadi burung biru kecil dan bertengger di bahu Doulu.
"Jangan berlari terlalu kencang aku lelah dan mengantuk."
Ai Sato kembali menguap.
"Bukankah sudah sejak lama, nona Ai terbiasa tidur di dalam dekapan Dielu."
Doulu dan Dielu pada awalnya hanya berjalan biasa, namun setelah terdengar dengkuran halus dari gadis kecilnya. Kini keduanya mulai berlari agar segera tiba ke tempat tujuan.
Setelah menjelang pagi ke duanya telah tiba di dalam markas besar pasukan the Beast. Dielu tidak menurunkan tubuh gadis kecilnya, melainkan membawanya memasuki hutan dan kembali melanjutkan tidurnya.
Rumput biru perak mulai menjalar menaiki tubuh Dielu, kemudian daunnya melebar dan mulai membungkus tubuh mungil yang masih terlelap dalam dekapan tangan besar Dielu.
Malam masih belum berganti, Seina pun ikut terlelap di atas lengan Doulu hingga matahari benar-benar terbit.
__ADS_1
"Bawa gadis nakal itu ke mari. Haah.. Kenapa dia lebih memilih untuk tidur dalam dekapan tangan batu dari pada pelukan ibunya."
Sebuah rumput biru perak mulai menjalar menjauh setelah mendengar ucapan lembut sang ratu. Hana Makaira, ratu peri rumput biru perak.
Tubuh Ai Sato kembali melayang di dalam balutan daun serta beberapa tumbuhan biru yang mulai menjalar memasuki sebuah ruangan. Kemudian meletakkan tubuh mungil Ai Sato di atas ranjang besar.
Hana membelai lembut rambut panjang putrinya kemudian mendaratkan ciuman lembut di keningnya. Ai Sato pun mulai terbangun karenanya.
"Ibu.."
Gadis cantik itu memeluk ibunya erat.
"Putriku, kau ini sudah dewasa. Kenapa masih selalu membuat masalah. Seharusnya kau itu segera menikah, bukannya tidur di dalam dekapan Dielu terus menerus."
"Itu karena aku nyaman ibu."
"Ai, seharusnya kau tahu. Tidak selamanya kau bisa terus bersama dengan mereka. Suatu hari nanti kau harus meninggalkan mereka dan mengikuti suami mu."
"Maka dari itu, sebelum aku menikah. Aku ingin sepuasnya bermanja dengan Doulu dan Dielu."
"Haais.. Kau ini, kalau di nasehati selalu saja bisa menjawab."
"Sekarang ada masalah apa lagi, hingga paman mu harus menyuruh Doulu dan Dielu untuk menjemputmu?"
"Ibu tahu kan tentang kakak cantik yang pernah Ai ceritakan. Saat ini dia berada di istana naga untuk mencari perlindungan dari pangeran Arashi."
"Dan .."
"Dan dia telah mengungkapkan bahwa pangeran pertama kerajaan naga itu masih hidup hingga saat ini."
"Hm.... Sudah aku duga, seseorang pasti bisa menyelamatkannya. Lagi pula pada saat itu, dia hanyalah bayi tanpa dosa yang baru saja lahir di muka bumi ini. Dan bagaimana kau bisa mengetahui hal ini?"
"Mm.. Aku menyuruh beberapa sulur tanaman untuk mendengarkan perbincangan mereka."
Ai Sato tersenyum canggung, dan mulai berjalan menjauhi ibunya. Gadis itu mengetahui dengan pasti, bahwa sang ibu melarangnya untuk mencuri dengar pembicaraan orang lain.
"Kau selalu saja melakukan kesalahan, apakah kau siap jika aku pilihkan suami untuk mu?"
Hana mengikat tubuh putrinya yang mulai menjauh dengan tumbuhan sulur, untuk membawanya kembali mendekat.
"Bukankah kita sudah sepakat, bahwa yang menjadi suamiku adalah seseorang yang mampu mengalahkan paman Zuraya."
"Paman mu itu terhitung kuat, siapa yang berani berpikir untuk mengalahkannya."
"Tenanglah ibu, suatu hari pasti ada seseorang yang bisa mengalahkan paman. Sekarang bolehkah aku pergi ke kamarku dan membersihkan tubuh?"
"Baiklah pergilah."
Ai Sato bergegas keluar dari ruangan ibunya, sebelum tanaman sulur kembali mengikatnya.
"Haah... Akhirnya aku terbebas dari pembahasan tentang pernikahan."
Ai Sato menghela nafas panjang setelah menenggelamkan tubuhnya di dalam sebuah bak mandi besar yang sudah di penuhi dengan kelopak bunga sakura.
__ADS_1
"Bagaimanakah sosok seorang pemuda yang mampu mengalahkan paman Zuraya yang begitu kuat ya..."
Ai Sato membayangkan seorang pemuda berwajah tampan, selalu baik terhadap setiap orang, jujur dan tidak pernah menyombongkan diri seperti pangeran Arashi yang dibencinya hingga ia tertidur di dalam bak mandi.