
"Mutiara api neraka. Apakah benda itu benar-benar ada, jika pun ada di mana aku bisa menemukannya?"
"Di dalam buku tertulis api neraka, mungkinkah benda itu ada di tempat ini?"
"Bagaimana warna dan juga bentuknya?"
"Oh dewa, kenapa aku begitu bodoh. Bagaimana jika benda itu tidak ada di tempat ini. Aku bahkan tidak tahu apapun tentang benda itu, bagaimana mencarinya?"
Arnius terus berjalan sambil mengusap wajahnya yang sudah di penuhi oleh peluh karena udara panas yang semakin menyengat. Ia hanya bisa menerka-nerka tentang benda yang ingin dicarinya.
"Kenapa tempat ini semakin panas, bahkan pohon pun sudah tidak terlihat lagi."
"Apa ini yang mereka sebut dengan neraka?"
Arnius kembali berhenti sejenak untuk memperhatikan tempat di sekitarnya.
"Sudah berapa lama aku berjalan, akan ku coba untuk menghubungi gadis kecil itu lagi."
Sembari terus melangkah, Arnius mencoba untuk berbicara dengan Kana putrinya.
"Hai cantik ku, apa kau mendengar ku?"
"Ayah, kenapa lama sekali ayah tidak menghubungi ku. Apakah ayah sudah mendapatkan putri yang lebih cantik dari pada aku."
"Lama? benarkah? aku merasa baru beberapa saat yang lalu aku berbicara dengan mu. Jika aku perhitungkan, mungkin baru beberapa hari. Berapa usia mu saat ini? Bagaimana kau sekarang sudah lancar dalam berbicara? dan siapa yang mengajarimu kalimat yang baru saja kau katakan. Dari mana kau mendengarnya Kana?"
"Ayah kalau bertanya itu satu persatu. Kenapa ayah sama cerewetnya dengan ibu."
Kana mengerucutkan bibirnya seraya terus memainkan sabuk emas yang ia pinjam dari bibi Kei.
"Katakan berapa usia mu saat ini?"
"Ayah pergi cukup lama, kemarin semua paman dan bibi ku baru saja merayakan hari kelahiran ku. Usia ku sudah tiga tahun ayah. Dan saat ini bibi Kei memperbolehkan aku meminjam tongkat emasnya."
"Ya dewa, tiga tahun. Sebenarnya bagaimana cara waktu di tempat ini berputar."
"Ayah cepatlah kembali, aku sudah bosan hanya bermain dengan mereka selalu. Mereka semua sudah aku kalahkan, bahkan hanya dengan melihat Fudo saja mereka sudah lari terbirit-birit. Ini membosankan ayah."
"Jangan pernah menyakiti siapapun Kana."
"Iya ayah, ibu juga selalu berpesan seperti itu kepadaku dan juga kakak. Aku hanya ingin bermain dengan mereka, namun mereka selalu berlari saat baru melihat bayangan ku saja. Seolah wajah dan tubuh ku ini begitu menyeramkan."
Kana terus berbicara sembari memainkan tongkat emas Keiko yang selalu berubah bentuk sesuai keinginannya. Suara celotehan gadis kecil itu terdengar oleh Kuro yang saat ini bertugas mengawasi dirinya.
"Kuma pergilah temui nyonya muda, sepertinya gadis kecil itu sedang berbicara dengan seseorang. Aku akan terus mengawasinya."
Kuma hanya mengangguk sesaat, kemudian bergegas pergi mencari keberadaan Yao Yin.
__ADS_1
"Ibu Yin cepatlah, Kana terlihat sedang berbicara seorang diri."
"Bagaimana bisa?"
"Cepatlah."
Teriakkan Kuma terdengar pula oleh beberapa rekannya yang lain, termasuk juga panglima Ryu kogane. Mereka semua bergegas menuju ke tempat gadis kecil itu berada. Dan benar saja, mereka semua melihat serta mendengar gadis kecil itu berbicara seorang diri.
"Ayah kenapa nafas mu terdengar begitu memburu, sebaiknya ayah duduk dan beristirahat sejenak. Sepertinya ayah sangat lelah."
"Tempat ini semakin panas sayang."
"Bagaimana jika Kana panggilkan bibi Kei. Bibi pasti bisa membuat tempat itu membeku."
Arnius hanya tersenyum kecil saat mendengar celotehan putri kecilnya.
"Menurut Kana apakah ada benda yang tersimpan di tempat sepanas ini."
"Entahlah ayah. Sebentar akan aku tanyakan kepada ibu. Ibu..."
Kana sedikit berteriak memanggil Yao Yin yang masih berusaha berjalan secepatnya menuju ke tempatnya.
"Ada apa putri ku? siapa yang berbicara dengan mu?"
"Ibu, saat ini ayah berada di tempat yang begitu panas. Bahkan aku bisa mendengar nafasnya yang semakin tidak beraturan. Tolong tanyakan kepada bibi Kei, bagaimana caranya supaya tempat itu bisa sedikit saja menjadi dingin."
"Ada apa kakak, apa yang terjadi?"
"Bibi Kei, untunglah ada bibi di sini. Jadi tolong ajari ayah untuk membuat beberapa hujan salju, karena saat ini ayah berada di tempat yang begitu panas. Aku sudah meminta ayah untuk berhenti sejenak dan mengatur kembali nafasnya yang sudah tidak menentu. Ayah bisa saja pingsan karena lelah."
"Apa yang kau katakan Kana. Cepat minta ayah nius untuk beristirahat."
Kana hanya mengangguk kemudian kembali berucap.
"Ayah... Ayah harus berhenti. Apa ayah mendengar ku? ayah."
Kana terus berbicara, namun selama beberapa saat sama sekali tidak ada sahutan dari sang ayah. Keadaan menjadi semakin hening, sekalipun hampir seluruh anggota Classic team telah berkumpul di tempat itu. Semuanya seolah menahan nafasnya, mereka semua terlihat begitu tegang.
"Ayah jawab aku."
Yao Yin memegang erat lengan putrinya, sementara Genta berusaha menenangkan Ryota yang masih berusaha melepaskan diri dari dekapannya.
"Kana sayang, ayah baik-baik saja. Sepertinya memang ayah harus berhenti sejenak untuk beristirahat."
"Haah... Syukurlah ayah masih bisa mendengar ku. Ayah membuat semuanya cemas."
"Semuanya? Siapa yang ada di dekatmu?"
__ADS_1
"Semuanya, semua paman dan juga bibi. Ibu juga ada, bahkan paman Ryu saat ini sedang sibuk menahan kakak yang juga ingin berbicara dengan ayah."
"Katakan kepada semuanya bahwa ayah baik-baik saja. Dan sampaikan salam sayang ayah kepada putra ayah yang perkasa."
"Tentu saja ayah."
"Kak Ryo, ayah bilang. ayah juga sangat menyayangi dan merindukan putranya yang perkasa."
"Ayah.. Ryota di sini ayah. Apakah ayah mendengar ucapan ku."
Ryota berlari sekuat tenaga untuk mendekati adiknya, setelah berhasil melepas diri dari dekapan Genta. Pria kecil itu memegang tangan Kana dan berusaha memusatkan perhatiannya untuk bisa mendengar suara sang ayah.
"Setidaknya aku juga pernah berada di dalam perut yang sama dengan Kana. Jadi bisakah ayah mendengar suara ku?"
Ryota masih terus berusaha.
"Putra ayah memang hebat, iya ayah mendengar suara kalian."
Suara Arnius terdengar semakin melemah.
"Ayah bertahanlah."
Tangan Kana dan Ryota saling menggenggam erat, saat keduanya mendengar ucapan ayahnya yang semakin melemah.
"Kana pusatkan perhatian mu, kita harus membantu ayah."
Ryota meminta Kana untuk duduk dan memusatkan perhatiannya, mereka berharap bisa menyalurkan energinya kepada sang ayah. Sementara Yao Yin dan yang lainnya semakin terlihat cemas.
"Kalian berdua tunjukkan jalannya, paman Ryu yang akan menyalurkan energi."
Kedua tangan Genta menyentuh pundak Kana dan juga Ryota. Sang naga emas itu berusaha ikut menemukan keberadaan tuan mudanya, walaupun hanya sekedar menyalurkan energinya.
"Ah sial, mereka menemukan ku."
Arnius kembali berdiri dan mulai bersiap untuk bertarung. Beberapa sosok aneh kini bermunculan di sekitarnya.
"Apakah kau tersesat, tuan muda? Seharusnya kau tidak berjalan ke tempat ini. Tidak ada seseorang pun yang bisa bertahan hidup di dekat batu api neraka, begitupun dirimu. Kalian semua cepat tangkap manusia itu."
Suara seorang pria terdengar dari sosok yang bertubuh lebih besar dari pada yang lainnya. Seluruh anggota tubuhnya terlihat begitu aneh di mata Arnius.
"Mahkluk apa kalian ini sebenarnya?"
"Kami adalah kaum iblis abadi."
"Namun sebelumnya terimakasih sudah memberi tahukan nama tempat ini, jadi aku melangkah ke tempat yang benar."
Arnius mulai menangkis setiap serangan yang tertuju kepadanya. Ia terus menghindari dan sesekali mencoba untuk menyerang balik lawannya dengan sisa kekuatannya.
__ADS_1