
Tangan Yao Yin terlihat bergerak perlahan kemudian di ikuti kepala dan akhirnya kedua matanya mulai terbuka.
"Kepala ku pusing, dimana ini?"
Suara Yao Yin terdengar begitu lemah.
"Nona tenanglah jangan banyak bergerak, tubuh nona masih lemah. Mari saya bantu untuk bersandar."
Memei membantu Yao Yin untuk duduk bersandar dengan kedua sayapnya yang bisa berfungsi seperti tangan manusia pada umumnya.
"Nona anda berada di dalam giok hitam tuan muda Arnius. Minumlah ramuan ini nona, supaya tubuh anda segera pulih dan segar kembali."
Jaku menyodorkan mangkuk kecil berisi cairan bening, sementara Yao Yin masih diam terpaku dan hanya memandangi dua burung besar yang ada di hadapannya.
"Maaf hamba belum memperkenalkan diri. Nama saya Memei dan ini Jaku, kami yang akan melayani nona selama berada di tempat ini."
Memei dan Jaku sedikit membungkuk.
"Kalian bisa berbicara?"
"Iya nona, silahkan anda minum dulu ramuan ini. Jika nona sudah membaik kami akan membawa nona berkeliling tempat ini."
Jaku kembali menyodorkan mangkuk kecil yang di tengah dipegangnya diantara kedua sayapnya.
Yao Yin menerima mangkuk tersebut dan mulai meminumnya perlahan.
"Nyonya beruang akan membantu mengoleskan ramuan ke seluruh tubuh nona untuk mengurangi bengkak yang ada pada tubuh anda jika nona berkenan."
Yao Yin meraba tangan nya yang memang terlihat membengkak dan bahkan ia juga merasakan seluruh punggungnya menebal karena rasa gatal yang teramat sangat sebelumnya.
"Nona tidak perlu khawatir, nyonya beruang sudah tua dan bahkan kedua matanya sudah tidak mampu lagi melihat. Namun dia mahir dalam memijit serta mengobati cedera ringan pada otot dan persendian."
Memei mengerti keraguan yang ada dalam pikiran nona mudanya.
"Nyonya beruang sudah menunggu di ruangan samping, mari saya akan membantu nona berjalan."
Jaku dan Memei mulai memapah Yao Yin untuk berpindah ke ruangan sebelah yang tidak begitu jauh.
Yao Yin terpaku melihat betapa indahnya ruangan yang ia tempati saat ini, tangannya meraba dinding yang terbuat dari berbagai jenis bebatuan berharga yang sudah di tata rapi.
"Ini adalah kamar mandi untuk anda nona muda. Saya akan mempersiapkan air untuk berendam setelah nyonya beruang memijit tubuh anda."
Memei mendudukkan Yao Yin di atas lempengan batu hitam yang halus.
"Gunakan kain ini untuk menutupi tubuh nona selama nyonya beruang mengoleskan minyak ramuan serta memijit tubuh anda nona."
Jaku menyerahkan selembar kain yang cukup lebar.
Yao Yin menerima kain itu dan segera melepas pakaian yang dikenakannya, setelah keduanya meninggalkan tempat tersebut. Yao Yin sering melihat para sepupu perempuannya melakukan perawatan kulit tubuh dan bahkan mereka juga selalu mengajak dirinya. Namun Yao Yin tidak pernah tertarik dengan hal semacam itu. Meskipun ia turut pergi bersama mereka, namun ia hanya melihat dan menunggu para sepupunya hingga menyelesaikan ritual mandinya.
__ADS_1
"Nona tubuh anda sehalus sutra dan sebening giok. Meskipun mataku buta namun tidak untuk tanganku. Aku bisa merasakannya."
Nyonya beruang nampak sedikit tersenyum.
"Terimakasih nyonya, bengkak ditubuh ku sudah mulai pulih. Pijatan anda juga membuat tubuhku nyaman dan segar kembali, ramuan ini begitu harum. Aku juga mencium aroma gardenia yang begitu membuatku nyaman."
Yao Yin mengusap tangannya lembut.
"Luna dan para peri lainnya begitu mahir membuat aneka ramuan dan racun, nona muda bisa mengunjunginya lain kali. Nyonya angsa dan merak hijau sudah mempersiapkan air hangat untuk anda berendam nona silahkan."
Nyonya beruang mulai berjalan perlahan meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah berendam serta memakan beberapa masakan Memei. Yao Yin berjalan melihat ke beberapa tempat. Pada saat ia sedang memperhatikan sebuah pohon, mata Yao Yin melihat kilatan cahaya dari kejauhan.
"Cahaya apa itu Jaku?"
Yao Yin bertanya kepada Jaku yang selalu menemaninya berkeliling.
"Sepertinya tuan muda kembali memasukkan sesuatu ataupun seseorang ke dalam giok hitam ini nona."
Jaku menjawab singkat.
"Boleh aku melihatnya?"
"Tentu saja nona, sepertinya cahaya itu berasal dari dermaga nona"
Yao Yin semakin mempercepat langkahnya saat mendengar kata dermaga. Dia begitu penasaran sebesar apa tempat ini sebenarnya, hingga dermaga pun ada di dalamnya.
Jaku menunjuk ke sebuah kapal besar lengkap dengan tiang layarnya, tampak seseorang berdiri di atas geladak kapal.
"Zen."
Yao Yin semakin mempercepat langkahnya setelah mengenal sosok yang dilihatnya.
Selain Yao Yin dan Jaku ada pula beberapa kera dan binatang lainnya berjalan mendekati kapal besar tersebut.
"Classic pearl, kau kapal tua yang indah."
Yao Yin mengusap pelan dinding kayu kapal besar tersebut.
"Nona Yin kau baik-baik saja? ayo naiklah."
Zen berteriak keras saat melihat Yao Yin berada di tepi dermaga.
Yao Yin tersenyum kecil kemudian melesat naik ke atas classic pearl, ia kemudian melangkahkan kakinya ke setiap sudut kapal.
"Semat datang di classic pearl nona."
Zen kembali mendekat dan menyapa Yao Yin.
__ADS_1
"Apa ada yang salah dengan kapal ini, hingga dirimu juga ada di sini paman Zen?"
"Arnius meminta ku untuk memeriksa kapal serta menyiapkannya untuk perjalanan pulang nanti."
"Bolehkah aku membantumu paman?"
"Tentu saja nona. Kau seorang ahli perkakas, mana mungkin aku menolak bantuan darimu."
Zen tersenyum lebar.
Setelah melihat keseluruhan isi kapal serta mendengar cerita tentang perjalanan para anggota classic pearl yang begitu menyukai kebersamaan serta penuh dengan tantangan, terlintas beberapa pemikiran dari Yao Yin untuk sedikit merubah penampilan classic pearl. Dan hal itu mendapat persetujuan dari Zen sang nahkoda kapal.
Yao Yin mulai menepuk pelan kotak perkakas yang menempel di pinggangnya, kemudian muncul sebuah kotak yang berisikan berbagai macam alat pertukangan.
Ia mulai menggambar beberapa hal, kemudian meminta beberapa barang kepada beberapa kera yang juga membantunya. Seluruh hewan mulai bekerja di bawah komando Yao Yin begitupun Zen.
"Paman aku akan mengubah dek depan kapal ini agar sedikit lebih luas. Berdasarkan cerita darimu semua anggota lebih sering berkumpul disini untuk membicarakan sesuatu ataupun sekedar makan bersama."
"Tapi nona kau tidak bisa menyingkirkan pelontar dan yang lainnya, karena benda ini harus siap setiap saat."
"Aku tahu paman, tenanglah. Sebaiknya paman perhatikan saja pekerjaan ku."
Yao Yin mulai melakukan aksinya setelah para hewan yang diminta mencarikan beberapa barang yang dimintanya telah kembali. Yao Yin mulai meniup alat-alat pertukangan yang masih berada di dalam kotak, mata Zen seolah tak ingin berkedip saat ia melihat berbagai jenis alat seperti halnya palu, gergaji, alat ukur dan bahkan paku sekalipun mampu bergerak sendiri sesuai perintah dari Yao Yin.
Setelah bekerja sama dengan puluhan hewan selama beberapa saat, bagian depan serta samping kapal mulai terlihat lebih luas karena berbagai alat perang yang tadinya memenuhi seluruh tempat itu kini tidak ada lagi. Bahkan beberapa meriam Zora juga tidak terlihat lagi.
"Bagaimana paman tempat ini, sudah cukup luas dan bersih kan. Kita akan beralih ke dalam ruang kemudi. Aku akan menambahkan sedikit perubahan."
Yao Yin tersenyum kecil kearah Zen yang masih mematung melihat pelontar, pemanah, jaring dan bahkan meriam sudah tidak terlihat lagi. Namun Yao Yin sudah memberitahu cara untuk mengeluarkan peralatan tersebut satu persatu ataupun sekaligus.
"Paman selain bisa dikendalikan dari tempatnya, berbagai pelontar hingga meriam bisa di kendalikan dari ruang kemudi. Aku membuatnya seperti itu supaya memudahkan paman jika suatu saat paman harus mempertahankan kapal ini seorang diri. Ini semua tombol yang berurutan untuk setiap pelontar maupun meriam. Dan yang berbentuk bulat ini adalah pengendali arah tembakan. Tekan tombol yang berada tepat ditengah untuk menembakkannya."
Yao Yin terus menjelaskan semua peralatan yang sudah diperbaikinya. Zen selalu mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela ataupun bertanya karena Yao Yin sudah menjelaskannya dengan begitu terperinci.
Setelah semua penjelasan Yao Yin usai, pandangan Zen tak pernah lepas dari sebuah benda bulat yang menempel tak jauh dari kemudi kapal. Benda bulat yang memiliki jarum sebagai penunjuk di bagian tengahnya.
"Benda bulat itu adalah bagian inti kapal ini nantinya, dari benda itu paman akan mengetahui bagaimana keadaan mesin penggerak utama yang berada jauh di lantai dasar kapal. Sebelum kita memperbaiki penggerak utama, aku ingin membuat sesuatu terlebih dahulu."
Yao Yin berjalan kembali ke dek kapal, nampak seekor burung sudah menunggunya di sana.
"Nona muda, Jung Bao mengatakan bahwa nona bisa menggunakan apapun yang ada ditempat ini, termasuk sayap kupu-kupu yang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya."
Seekor elang besar berkata di hadapan Yao Yin dengan sedikit menunduk.
Yao Yin sebelumnya melihat beberapa sayap kupu-kupu yang berukuran cukup besar, bersandar pada sebuah batu besar. Sayap itu sudah di tinggalkan oleh sang pemilik tubuh. Karena berusia lanjut, kemudian meninggal, namun sayapnya terlepas dari tubuhnya dan masih dalam keadaan utuh. Semakin tua dan kuat sang kupu-kupu, maka semakin kuat pula sayap yang dimilikinya.
"Terimakasih tuan elang, jika begitu apakah para lebah sudah melakukan tugasnya?"
"Sudah nona, para peri sudah membuat cairan dari para lebah sesuai dengan yang anda inginkan. Kemudian merendam sayap kupu-kupu tersebut kedalamnya. Semuanya sudah siap, para burung sedang membawanya ke tempat ini."
__ADS_1
Tak lama turunlah beberapa burung yang tengah membawa sayap kupu-kupu yang sudah terpisah menjadi beberapa bagian.