
Arnius berkonsentrasi dan berusaha masuk ke dalam gelang hitamnya seperti yang dikatakan oleh kakek naga putih. Tidak butuh waktu lama, ia merasa berada pada sebuah tempat yang cukup asing baginya. Tempat yang begitu luas hampir seluas kota besar yang pernah dia kunjungi.
"Tempat ini ... "
Mata Arnius membulat saat melihat tempat yang begitu luas dan tempat itu ada di dalam sebuah gelang, sungguh hal yang mustahil.
"Kemarilah nak, ayo kita berkeliling sebentar. Aku akan menjadi pemandu mu."
Arnius tersentak saat melihat kakek naga putih sudah tertidur di atas ayunan panjang yang terikat pada dua buah pohon besar yang tiba-tiba berbuah lebat saat ia berpikir pasti sangat indah jika pohon itu berbuah sangat banyak.
"Haaais .. kenapa kau polos sekali, apa yang ada di pikiranmu itu hanya makanan?"
Kakek naga putih menggelengkan kepalanya saat melihat pohon di dekatnya berbuah lebat.
"Dengarkan aku, dua pohon yang kau lihat ini sering disebut pohon harapan. Tempat ini adalah milikmu sekarang, jadi apa yang kau pikirkan akan terwujud oleh pohon ini."
"Maaf kakek saya hanya berpikir jika pohon sebesar itu berbuah lebat pasti akan terlihat sangat menyenangkan."
"Gelang ini sejak dulu selalu berganti pemilik, hingga diriku yang memilikinya dan sekarang kau yang memilikinya. Hanya satu hal yang tidak akan terjadi di tempat ini yaitu hujan. Jika kau berpikir salju tidak ada juga ditempat ini, itu salah. Ada satu tempat bersalju di ujung sebelah sana, ada danau penuh air kehidupan di sana, ada juga air laut yang tidak berombak di sisi lainnya. Di sana juga ada sebuah gunung, hutan dan beberapa perkebunan. Kau tahu hidup seorang diri itu terkadang membosankan, jadi terkadang aku mengisi hari-hari ku dengan berkebun."
Arnius mengikuti kemanapun kakek tua itu terbang, serta mendengarkan dengan seksama dan sesekali melihat arah yang ditunjuk oleh kakek naga putih tanpa berkomentar apapun.
"Aku sudah menjelaskan sedikit garis besarnya, ayo kita kembali rumah itu. Walau tidak memiliki atap dan dinding tapi aku menyebutnya sebuah rumah, karena tidak akan ada hujan, badai atau apapun di tempat ini yang bisa merusaknya. Selain kau sendiri yang merusak tempat ini. Kenapa kau hanya diam saja?"
"Kakek tempat ini sungguh di luar perkiraan ku. Tempat bersalju itu seperti sebuah pulau es namun tidak terasa dingin sama sekali, laut itu penuh dengan ikan seperti halnya ikan-ikan besar di laut namun airnya begitu jernih bahkan terumbu karang bisa terlihat dengan jelas. Serta ada kapal besar yang bersandar pada dermaga kecil. Gunung itu ... Bukannya itu gunung harta? itu adalah tumpukan koin emas, mutiara berharga, batu roh serta banyak hal berharga lainnya."
"Aku memang menyebutnya seperti itu, aku mengumpulkan setiap koin emas ataupun benda berharga lainnya di tempat itu hingga menggunung seperti kau lihat saat ini."
"Maaf kek tapi jika boleh bertanya, berapa umur kakek saat ini? hingga mampu mengumpulkan harta sebanyak itu."
"Ha ha.. aku hidup di dunia cukup lama nak, mungkin beberapa ribu tahun. Kemudian aku dibawa ke nirwana oleh seseorang, ditempat itu aku juga merasa sedikit bosan. Akhirnya aku memilih untuk tinggal dan menjaga pulau iblis ini. Sudahlah ayo kita ke hutan, akan ku perkenalkan kau kepada seseorang."
Arnius mengikuti kakek naga putih terbang mendekati rimbunnya beberapa pepohonan. Setelah menapakkan kaki di luar hutan, kakek tua itu terlihat bertepuk tangan tiga kali dan memanggil seseorang.
"Jung Bao keluarlah, ada yang ingin aku kenalkan kepadamu."
Tanah sedikit bergetar setelah kakek tua menyelesaikan ucapannya. Seekor harimau berlari dari dalam hutan dan berdiri tepat di hadapan Arnius.
"Hormat Jung Bao pada tuanku."
Harimau tersebut sedikit menunduk di hadapan Arnius.
"Jung Bao bagaimana kabarmu? kau sudah tahu bukan, dia adalah tuan barumu sekarang. Namanya Arnius."
__ADS_1
Kakek naga putih mengusap pelan kepala Jung Bao.
"Jung Bao adalah binatang tertua di tempat ini, aku memberinya tugas untuk menjaga tempat ini. Dia yang memimpin para hewan untuk selalu merawat tempat ini, jadi kau tidak perlu repot menyirami beberapa tanaman di kebun serta tidak perlu membersihkan rumah atau hal lainnya. Karena Jung Bao sudah mengatur semuanya. Kau bisa membawanya sesekali keluar dari gelang ini, namun dia tetap tinggal di tempat ini, untuk menjaga tempat ini tetap bersih dan rapi. Kau boleh menggunakan apapun yang ada di tempat ini, tapi setidaknya jangan sampai merusaknya."
Arnius mengangguk mengerti dan pada saat mereka hendak melihat perkebunan, ada seekor angsa besar terbang ke arah mereka sambil berteriak memanggil Jung Bao.
"Ada apa dengan mu Memei, kenapa kau begitu tergesa-gesa?"
"Jung Bao ada seseorang tidur di ranjang tuan besar. Maaf .. hormat Memei pada tuan besar dan tuan muda."
Seekor angsa setinggi manusia membungkuk hormat di hadapan Arnius dan kakek naga putih.
"Mei .. Aku mengetahui apapun yang masuk serta keluar dari tempat ini, jadi orang itu tidaklah berbahaya. Hanya saja kau jangan mengusiknya, dia bisa membakar habis tempat ini. Aku mencium aroma naga ditubuh pemuda itu seperti halnya aroma tuan besar. Sekarang kembali dan kerjakan tugasmu."
"Maaf, aku mengeluarkan Genta supaya dia bisa beristirahat dengan lebih baik."
Arnius berkata pelan.
Memei sedikit membungkuk kemudian kembali melayang meninggalkan tempat itu.
"Jung Bao kumpulkan semua penghuni hutan ini, supaya tuan barumu mengetahui siapa saja yang ada di tempat ini."
"Baik."
Arnius terkesima melihat puluhan hewan yang berdiri serta menunduk hormat hampir bersamaan di hadapannya. Ada beberapa kuda, monyet, beruang, angsa, rusa, serigala, trenggiling dan bahkan puluhan atau mungkin ratusan lebah dan burung-burung.
"Mereka bisa menjadi pasukan kedua mu setelah semua teman-teman mu itu, kau bisa mengandalkan mereka untuk menghadapi iblis di gerbang berikutnya. Air kehidupan selain mampu menyembuhkan, air itu mampu mengikat orang yang ataupun hewan yang meminumnya dan akan menjadi pengikut mu. Karena saat kau meneteskan darah mu, air itu juga menerimanya termasuk semua yang ada di tempat ini."
"Zooi memberi hormat tuan muda, saya adalah komandan pertama pasukan serigala."
"Kunla komandan pasukan gajah."
"Blue komandan pasukan burung."
"Speedy pasukan rubah pengintai."
"Uza pemimpin pasukan rawa."
"Bi si lebah penyengat."
"Monki sang monyet berayun."
"Pangorin bola bergulung."
__ADS_1
Semua pemimpin hewan memperkenalkan diri satu persatu, Arnius hanya mendengar dan mencoba mengingat mereka semua. Dari suara serta bentuk tubuh mereka Arnius menyadari semuanya adalah pejantan. Telinga Arnius hampir berdengung saat ia mendengar suara lembut yang begitu merdu di dekat telinganya.
"Luna peri keindahan."
Seorang wanita bertubuh kecil sedang berdiri di samping telinga Arnius.Tubuhnya hanya sebesar jari telunjuknya, memiliki sepasang sayap besar dan indah seperti seekor kupu-kupu.
"Sebut namaku jika tuan memerlukan sesuatu yang harus disiapkan terlebih dahulu, saya adalah pelayanan pribadi tuanku, Luna siap melayani tuanku Arnius."
Suara lembut Luna kembali terdengar ditelinga Arnius, sementara Arnius hanya mengangguk perlahan.
"Luna juga mengatur semua peri yang bekerja menjaga tanaman. Ayo kita melihat kebun, sudah lama aku tidak mengunjungi kebun itu."
Kakek naga putih kembali melayang di ikuti oleh Arnius.
"Ini .."
Mulut Arnius terbuka lebar, dia tidak melanjutkan ucapannya saat matanya memandang lautan tumbuhan di hadapannya.
"Ya .. kebunku memang luas, hasilnya pun melimpah dan satu yang harus selalu kau ingat. Tidak ada satupun makanan atau apapun itu yang bisa busuk di tempat ini. Di sana adalah kebun sayur, kemudian tumbuhan herbal, berbagai jamur dan ginseng. Luna terimakasih kau sudah menjaga tempat ini dengan baik. Di sana ada beberapa pil obat dengan kegunaan yang berbeda-beda, kau bisa mempelajarinya sendiri. Jika kau masih bingung dengan pil yang akan kau ambil, katakan saja pada Luna, dia yang akan memberikannya. Kau hanya perlu berbicara melalui pikiran dengan menyebutkan nama mereka. Mereka semua binatang ilahi seperti halnya naga emas mu itu, hanya saja mereka belum mampu merubah dirinya menjadi manusia. Tidak semua hewan ilahi bisa melakukannya, perlu bakat serta kekuatan yang besar. Aku bertemu dengan para hewan itu saat mereka terluka parah. Aku memberinya air kehidupan. Sementara para peri, mereka jenis ras peri yang hampir punah. Saat bertemu, mereka meminta perlindungan padaku dan akhirnya disinilah mereka."
"Siapa yang meracik obat ini tetua?"
"Para peri, mereka adalah alkemis terhebat yang pernah ada. Seperti salah satu teman mu yang memiliki periuk giok langit, para peri ini juga bisa membuat obat dan racun. Sepertinya sudah cukup lama kita di sini, teman-teman mu mungkin sedang mencari dirimu. Ayo kita kembali, kau bisa kembali ketempat ini setiap saat."
Tubuh kakek naga putih menghilang dan muncul kembali di tempatnya semula, begitupun dengan Arnius.
"Kakak kemana saja? semua cemas mencari dirimu."
Suara lembut Keiko mengejutkan Arnius.
"Aku pergi sebentar bersama kakek naga putih."
"Aku akan membuka gerbang untuk kalian, jadi bersiaplah." Kakek naga putih mulai mengibaskan tangannya dan muncullah sebuah gerbang yang tertutup kabut tebal.
"Masuklah."
Satu persatu anggota classic pearl mulai memasuki gerbang berkabut di hadapannya. Arnius adalah orang terakhir yang memasukinya.
"Terimakasih tetua, apakah saya masih bisa bertemu dengan anda?"
"Tentu saja jika langit mengijinkan, sekarang pergilah."
Arnius mulai berjalan memasuki gerbang dan pada saat ia sampai di sisi lainnya, gerbang itu tidak ada lagi setelah ia menoleh ke belakang.
__ADS_1