
Beberapa prajurit berkuda tampak menggiring sebuah kereta yang cukup besar dan megah. Panglima Akira yang berada pada barisan terdepan, tampak menyibak beberapa kerumunan penduduk yang begitu sibuk dengan aktivitas pagi mereka di pasar kota.
Sebelum kereta itu berangkat, Akira meminta salah satu anak buahnya untuk memberikan laporan cepat ke dalam istana naga akan kedatangan pangeran pertama mereka.
Rombongan yang dipimpin oleh Akira itu terpaksa berhenti sejenak, karena beberapa penduduk yang sedari tadi memperhatikan mulai menunduk hormat. Bahkan ada di antara mereka yang bersimpuh di tengah jalan.
Kabar kembalinya sang naga emas sudah tersebar sejak ia tiba pertama kali di dunia bulan. Semua penduduk kota naga begitu antusias untuk menyambutnya. Saat ini mereka berharap bisa melihat sosok yang begitu mereka agungkan. Sosok penerus dari istana naga.
"Panglima Akira, kami ingin memberi hormat kepada tuan putri ataupun pangeran. Apakah beliau ada bersama dengan anda?"
Seorang pria tua yang telah bersimpuh di tengah jalan berucap pelan. Sejenak Akira menoleh ke arah Arnius dan juga Genta yang tengah duduk di atas punggung kuda masing-masing, untuk meminta jawaban. Arnius hanya mengangguk perlahan serta tersenyum kecil.
"Baiklah, berikan hormat kalian kepada pangeran Ryu kogane dan putri Sinziku yang berada di dalam kereta."
Akira sedikit menjulurkan tangannya untuk memberitahukan keberadaan sang pangeran yang ingin mereka ketahui. Serentak semua orang menoleh ke arah Ryu kogane, kemudian mereka menunduk dan mulai berucap lantang.
"Semoga pangeran dan tuan putri panjang umur."
Setelah melakukan hal yang mereka inginkan, semua orang mulai menyingkir untuk memberikan jalan bagi rombongan tersebut. Sekalipun sedikit merasa risih, namun Genta tetap memasang wajah datarnya serta tanpa berucap sepatah katapun.
Kereta terus melaju bersama dengan seluruh rombongannya. Sementara itu terjadi keributan kecil di istana dalam. Seluruh pengawal semakin bertambah, mereka berbaris rapi untuk menyambut kedatangan sang penerus tahta yang sudah mereka dambakan sejak lama.
Para pelayan istana sibuk berbenah serta menyiapkan beberapa jamuan di ruangan lainnya.
"Masaru, cepat beri perintah untuk menjemput kedua kakakmu. Minta mereka untuk ikut menyambut kakak pertama kalian."
Seorang pria tua nampak memberikan perintah dari singgasana kebesarannya, kepada satu satunya putra yang saat ini bersama dengannya.
"Tenanglah Baginda, Masaru sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Seorang wanita cantik yang duduk tidak jauh dari singgasana besar itu berucap dengan lembut. Sementara Masaru hanya mengangguk singkat dan mulai berucap datar.
"Masaru mohon ijin untuk bergabung bersama pangeran Hitoshi dan pangeran Shoji untuk menyambut kedatangan pangeran Kogane."
"Ya pergilah. Bawa kakak mu kemari."
Masaru melangkah perlahan meninggalkan aula besar yang sudah di penuhi oleh para petinggi istana naga.
"Bagaimana, apa benar gadis itu juga ikut kali ini?"
Shoji menatap wajah pemuda yang baru saja tiba di sampingnya.
"Kakak pertama ke istana naga kali ini pasti karena ingin mengembalikan adik Sin dan berpamitan. Walaupun hanya sebentar bersama dengannya, aku mulai sedikit mengerti akan sifatnya."
__ADS_1
Masaru menjawab pertanyaan kakaknya tanpa ragu sedikitpun.
"Dan pastinya gadis nakal itu tidak mau pulang."
Hitoshi ikut dalam perbincangan mereka. Ketiganya mengangguk serempak, setelah mendengar ucapan kakak kedua mereka.
Ketiga pangeran dari istana naga tampak berdiri tenang di depan pintu masuk istana. Ketiganya ingin memberikan sambutan kepada kakak tertua mereka.
"Bukankah seharusnya tidak butuh waktu lama untuk sampai ke istana jika mereka sudah tiba di perbatasan."
Shoji yang sudah merasa sedikit jenuh, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"Aku menyuruh seseorang untuk menyelidikinya."
Masaru meminta salah satu pengawalnya untuk kembali ke perbatasan dan mencari tahu apa yang telah terjadi.
Sementara itu di dalam kereta yang sudah mulai kembali berjalan perlahan. Dua bocah kecil yang tadinya duduk tenang di bangku mereka, kini mulai berulah saat Sinziku membuka tirai penutup jendela pada kereta yang mereka naiki.
"Waah lezatnya, pasti itu rasanya enak. Kakak aku mau itu."
Kana sedikit merengek kepada Ryota yang duduk di sebelahnya, saat mereka melewati beberapa penjual makanan dan juga gulali.
"Kau tahu aturannya bukan? Kita harus membelinya dengan menggunakan uang. Kita akan memintanya nanti kepada ayah atau paman harimau merah."
"Tapi kereta ini tidak berhenti. Ayolah kak, kita sudah melewatinya."
Kana terus mengguncang bahu kakak lelakinya. Namun akhirnya, gadis kecil itu melompat dari dalam kereta melalui jendela yang masih terbuka di hadapannya.
"Kana."
Ryota berusaha menggapai tubuh adik perempuannya. Namun tangannya hanya menyambar kepulan asap hitam.
"Hentikan keretanya."
Yao Yin berteriak cepat. Dia menarik dan memegang erat tangan Ryota yang tadinya masih terjulur ke luar jendela, kemudian menggeser tubuhnya untuk menjauhi jendela. Sinziku bergegas melesat ke luar dan di susul oleh Keiko, setelah Yao Yin menggeser tubuh Ryota.
Kereta sudah berhenti kembali setelah sang kusir mendengar teriakkan seseorang dari dalam kereta. Arnius menoleh ke belakang, karena merasa ada yang aneh saat kereta itu kembali berhenti.
Pria itu sempat melihat sosok dua orang wanita yang melesat cepat dari dalam kereta. Ia pun ikut melayang dari atas kuda yang dinaikinya. Pandangannya saat ini tertuju kepada seorang gadis kecil yang berdiri di depan penjual makanan dan beberapa gulali.
Arnius ikut mendekati kedua wanita cantik yang saat ini masih direpotkan dengan permintaan seorang anak kecil. Setelah beberapa makanan memenuhi kedua tangan kecilnya, Kana tersenyum puas.
"Kau benar-benar harus diajari tentang cara meminta ijin terlebih dahulu gadis kecil."
__ADS_1
Arnius memberikan tatapan tajam kepada putrinya seraya menggendongnya. Kana tertunduk diam, tubuhnya terasa sedikit bergetar. Arnius merasakan hal itu, putrinya saat ini merasa takut kepadanya. Bahkan beberapa makanan dan juga gulali yang ada dalam genggaman tangan gadis kecil itu nyaris terjatuh.
"Maaf ayah. Aku tadi sudah memperingatkan Kana, untuk menunggu dan memintanya kepada ayah atau paman harimau merah nanti. Tapi sepertinya dia tidak mendengarkan aku."
Ryota kembali tertunduk setelah berusaha menjelaskan apa yang tadi mereka bicarakan. Pria kecil itu tidak lagi sanggup melihat raut wajah ayahnya yang sudah berbeda dari sebelumnya. Ryota memilih mendekati tubuh ibunya dan berusaha mencari perlindungan di sana.
Begitupun Kana yang kini sudah kembali ke dalam kereta. Gadis kecil itu seolah melupakan beberapa makanan serta gulali yang tadinya ada di dalam genggamannya. Ia ikut mencari perlindungan dari ibunya. Sekalipun keduanya sama sekali tidak menangis, namun Yao Yin mengerti bahwa mereka benar-benar ketakutan saat ini.
Kereta kembali berjalan perlahan menuju ke gerbang ke istana. Di luar gerbang istana, terlihat seorang pria berseragam mendekati komandan mereka dengan sedikit berlari.
"Apa yang terjadi, kenapa mereka lama sekali?"
Masaru mulai mengajukan pertanyaan.
"Pangeran. Semua penduduk yang berada di pasar kota, menghentikan kereta mereka untuk sekedar memberikan penghormatan kepada pangeran pertama."
"Hm.. Apa lagi?"
"Seorang anak kecil terlihat keluar dari jendela kereta karena melihat beberapa penjual makanan dan juga gulali."
"Hm.. Baiklah, lanjutkan tugas mu."
"Anak kecil?"
Shoji mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan pengawal mereka.
"Pasti itu keponakan kakak pertama. Anak dari komandan Arnius."
Masaru sedikit mengingatkan.
"Oo... Kau benar, wanita itu. Nona Yin. Anak mereka pasti sudah cukup besar saat ini."
Ketiganya kembali mengangguk serempak.
"Oh.. Kepala pelayan, tolong kau siapkan beberapa gulali ataupun makanan yang disukai oleh anak-anak."
Hitoshi berucap sedikit lebih keras kepada seorang pria yang berdiri di sampingnya. Sementara pria itu hanya mengangguk dan mulai mengatur beberapa bawahannya untuk melakukan hal itu.
"Sepertinya tempat kita akan sedikit ramai nantinya."
Masaru sedikit tersenyum.
"Ramai atau tegang, kau lupa untuk apa kakak pertama datang ke istana ini?"
__ADS_1
Shoji kembali mengingatkan.