Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Tengkorak laba-laba


__ADS_3

Keiko begitu kesal saat melihat Yuki dan juga Zora masih sibuk menghabiskan ayam yang baru saja selesai mereka panggang.


"Jangan dilanjutkan lagi, cepat simpan ayam itu. Kita harus bergegas ke istana bulan sebelum hari kelahiran keponakan ku."


Yuki dan Zora tidak berani menjawab ucapan gadis di hadapannya saat ini. Zora mulai memasukkan semua perbekalan yang sudah ia kumpulkan ke dalam cincin ruang miliknya. Sementara Yuki bergegas mematikan api yang telah mereka buat.


"Yuki, bagaimana perkembangan latihan yang kau lakukan?"


Arnius menyapa rekannya yang baru saja ia temui setelah terpisah karena pelatihan. Yuki baru membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Arnius, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Karena Keiko kembali mendesak mereka.


"Bicaranya dilanjutkan nanti saja, sekarang saatnya kita masuk ke celah itu. Ayo cepatlah."


Keiko bergegas berjalan mendekati celah besar diantara pohon besar tersebut. Namun langkahnya terhalang oleh Genta yang tiba-tiba melesat di hadapannya.


"Seperti biasa aku yang di depan nona cantik. Kau berikutnya."


Genta tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa gadis cantiknya, saat mereka mulai memasuki celah tersebut.


"Kau masuk bersama Eiji dan Wu Ling."


Arnius kembali menggeser tubuh adik perempuannya di urutan berikutnya. Baru saja gadis itu membuka mulutnya hendak mengeluarkan beberapa kalimat, namun Eiji segera menyentuh lengannya.


"Patuhi kakak mu dan tetap bersama ku."


Keiko begitu kesal, karena ke dua kakaknya masih saja mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Namun ia tetap menuruti perintah tersebut.


Seluruh Classic team mulai memasuki celah tersebut satu persatu. Eiji tidak pernah melepaskan genggaman tangan Keiko, sekalipun adik perempuannya itu melangkah terlebih dahulu.


Terik matahari yang begitu menyengat menyambut mereka, setelah melewati celah diantara pohon.


"Padang pasir."


Genta bergumam perlahan seraya memastikan keadaan di sekitarnya. Arnius yang muncul setelahnya segera mengeluarkan beberapa lembar kain dari dalam giok hitam dan menyerahkannya kepada Genta, untuk sekedar melindungi tubuh dan wajah mereka dari badai pasir. Begitupun dengan Keiko yang sudah ia tunggu kemunculannya setelah Wu Ling.


"Tambahkan kain untuk menutupi tubuh serta wajah kalian."


Arnius selalu memperhatikan keselamatan seluruh rekannya.


"Ke mana lagi kita akan melangkah?"


Genta menggaruk kepalanya karena semua yang di lihatnya adalah sama, seluruh tempat itu di kelilingi oleh pasir.


"Bagaimana wujud ataupun aura yang di miliki oleh Kuma ataupun yang lainnya, aku akan mencoba merasakan keberadaan mereka."


"Kuma itu seekor beruang madu, tentu saja ada aroma manis di tubuhnya."


Genta menjawab pertanyaan Kin Raiden.


"Tutup telinga kalian, mungkin ini akan terdengar sedikit keras."


Arnius mengingatkan seluruh rekannya. Sementara Zora, Wu Ling dan Yuki mulai menutup kedua telinganya dengan menggunakan telapak tangan, meskipun mereka sudah memusatkan tenaga mereka untuk menutupi telinga. Namun mereka tidak pernah menyepelekan kekuatan Arnius.


Setelah melihat seluruh rekannya yang sudah menutup ke dua telinganya. Arnius mulai bersiul nyaring, suaranya terdengar di seluruh penjuru padang pasir tersebut.

__ADS_1


"Siulan mu membuatku ingat pada kuda hitam itu. Pasti dia akan segera berlari mencari mu. Tapi ke mana, tempat ini begitu luas."


Genta tersenyum sinis.


"Diam lah, biarkan Kin Raiden merasakan aura mereka. Setidaknya dia tahu bahwa aku ada di tempat ini."


Genta terdiam dan mulai memperhatikan kin Raiden yang sedang memusatkan perhatiannya.


"Jika kita berjalan ke arah sana, kita akan bertemu dengan hutan, namun sepertinya tempat itu tidak dekat. Banyak sekali aura yang muncul di tempat itu."


Kin Raiden berucap sambil menunjuk ke satu arah.


"Ayo Kogane bersiaplah."


Arnius menatap wajah sahabat besarnya. Sementara tanpa menjawab, Genta sudah mulai untuk mengubah tubuhnya. Namun Eiji tiba-tiba mencegahnya.


"Sebaiknya kita naik Classic pearl, tempat ini masih asing bagi kita. Kekuatan mu sangat di perlukan, sepertinya akan banyak monster besar di tempat ini."


"Tapi kita harus cepat."


"Tenanglah Kei, jika kita terus berdebat hanya semakin membuang waktu."


Arnius mulai mengeluarkan Classic pearl dari dalam Giok hitam nya.


"Cepatlah kapten."


"Baiklah.... Melaju tanpa batas."


"Tambahkan bara api di bawah sana, tidak ada angin yang berhembus di atas sini."


Genta bergegas ke bagian pembakaran. Sementara Eiji dan Kin Raiden juga mulai bekerja sama meniupkan udara untuk mempercepat laju Classic pearl.


"Jika kalian tidak bisa membuat kapal ini bergerak cepat, aku bisa melakukannya."


Keiko yang begitu geram sudah mulai bersiap untuk membuat badai salju.


"Tenanglah, Raiden bisa mengatasinya."


Setelah sekian lama melayang di atas Padang pasir, dari kejauhan terlihat beberapa pepohonan.


"Di sana, ayo. cepatlah."


Keiko begitu bersemangat.


"Hemat tenaga mu cantik. Ada sesuatu yang menunggu kita di tempat itu."


Genta tersenyum kecil.


"Dan dia cukup kuat."


Kin Raiden ikut menambahkan.


Zen menghentikan laju Classic pearl sebelum mencapai daerah yang penuh dengan pepohonan. Arnius kembali menyimpan kapal besar tersebut setelah semua rekannya turun.

__ADS_1


Pepohonan aneh menyambut kedatangan mereka. Semuanya memperhatikan setiap lekukan pohon yang ada di hadapan mereka. Mulai dari batang, dahan, ranting hingga daun terlihat begitu asing di mata mereka.


Hampir di setiap sudut tempat itu, di tumbuhi oleh pohon yang sama. Batang pohon tersebut terbilang cukup besar dan bentuknya mirip dengan pepohonan yang sering mereka jumpai, hanya saja ada banyak sekali lubang kecil di seluruh batang pohon tersebut.


Jika biasanya dahan pohon itu selalu menjuntai ke bawah, namun tidak untuk pohon yang satu ini. Setiap dahannya memanjang lurus ke atas. bahkan setiap rantingnya pun ikut tumbuh ke atas. Sementara daunnya yang juga berwarna hijau tua, terlihat berbentuk bulat dan berukuran kecil. Jika di perhatikan dari jauh, gerombolan daun itu lebih terlihat seperti buah-buahan. Namun jika dilihat dari dekat, nampak sekumpulan daun hijau bulat yang berkerumun menjadi satu.


Rombongan Arnius terus bergerak mengikuti Kin Raiden.


"Kalian yakin kita tidak tersesat?"


Ucapan Keiko hanya di balas dengan anggukan oleh kin Raiden, yang kembali melesat cepat mengikuti Genta yang sudah mulai merasakan sesuatu. Keiko segera menyambar tubuh Zora yang berada di dekatnya, karena seperti yang diketahuinya dulu bahwa sensei muda itu tidak bisa bergerak cepat. Sementara Eiji melesat bersama dengan Yuki.


"Berhenti menyeret tubuh ku seperti ini, aku bisa berlari lebih cepat dari mu."


Zora sedikit geram.


"Benarkah.. Aku tidak ingin kita terlalu lama menghabiskan waktu di tempat ini. Jadi biarkan aku membantumu."


"Tidak perlu. Jika hanya untuk bergerak cepat, aku masih bisa."


"Terserah."


Keiko menurunkan tubuh Zora ke tanah, setelah ia melihat Genta dan Kin Raiden berhenti bergerak.


Kini mereka melihat sekumpulan tengkorak yang sedikit mirip dengan tengkorak kepala manusia, namun terlihat sedikit lebih besar. Kumpulan tengkorak tersebut seperti sedang mengelilingi sesuatu. Arnius dan Genta terkejut saat keduanya melihat seekor beruang putih besar berada tepat di puncak pohon.


"Kuma."


Keduanya berucap lirih hampir bersamaan. Tak berselang lama terdengar suara ringkik kuda dari pohon di sebelahnya.


"Kuda hitam."


"Tuan muda, aku mendengar siulan mu. Tapi aku tidak bisa lari dari mereka. Sudah beberapa kali Kuma mencuri makanan mereka, jadi sekarang mereka tidak akan melepaskan kami."


Kuda hitam berbicara dengan sedikit pelan, supaya tidak membangunkan mahkluk kerdil yang ada di bawah mereka.


"Tolong jangan dekati dan ganggu tidur para mahkluk kerdil itu, supaya Kuma dan Kuro bisa segera turun dari pohon itu."


Terdengar suara lirih dari atas pepohonan di belakang mereka. Genta bergegas melesat mendekat ke asal suara.


"Katakan mereka itu mahkluk apa dan apa hubungan mu dengan Kuma?"


Genta mencengkram erat leher seorang pemuda tanggung yang bisa dikatakan cukup tampan.


"A.. Aku akan mengatakannya kakak, tolong lepaskan tanganmu dari leherku."


"Namaku adalah Chio, aku tahu kalian adalah kakak pertama dan kedua. Kita sama-sama murid kakek guru Kitaro, jadi jangan menyakiti ku."


Chio mulai bisa berucap lancar, setelah Genta melepaskan cengkeramannya.


"Aku sudah berusaha keras untuk melepaskan mereka dari para mahkluk kerdil itu. Namun usaha ku hingga saat ini sepertinya sia-sia. Kami menyebut mahkluk itu tengkorak laba-laba. Jika mereka bangun, mereka akan memiliki banyak kaki seperti halnya laba-laba. Kuma selalu saja lapar, jadi dia sering mencuri makanan mereka. Dan akhirnya disinilah mereka. Haah.."


Chio menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


__ADS_2