
Arnius dan Genta masih disibukkan dengan iblis kuat yang baru saja mereka jumpai selama berada di Bunin. Setiap kali ada bagian tubuhnya yang terpotong, akan tumbuh bagian tubuh baru lainnya.
Genta yang sudah merasa begitu kesal, ia mulai menyemburkan api yang besar dari mulutnya, hingga menutup seluruh tubuh lawannya. Ia berpikir tubuh iblis itu akan hancur seperti iblis lainya jika terbakar seutuhnya.
Usaha Genta tidak membuahkan hasil, hanya beberapa bagian tubuh lawannya yang hancur. Kemudian tumbuh lagi bagian tubuh baru lainnya, Genta hanya bisa mendengus kesal.
Setelah membunuh seluruh anak buah iblis yang tersisa, Eiji kembali mendekati portal penghubung dan membawa semua rekannya masuk ke gerbang kedua.
Keiko menghela nafas pelan saat menyaksikan pertarungan Arnius dan Genta melawan sosok iblis yang menurut mereka sangat kuat. Ia kemudian berjalan perlahan mendekati iblis yang masih saja mengeluarkan lendir hitam dari setiap bagian tubuhnya.
"Kei, menyingkir lah."
Arnius sedikit berteriak.
"Sebaiknya kakak saja yang menyingkir, uuhh .. bau sekali tubuhmu. Sudah berapa lama kau tidak mandi monster jelek."
Keiko terus berjalan mendekati iblis yang mulai memperhatikan dirinya.
"Aku akan memandikan tubuhmu, supaya kau mati dalam keadaan yang bersih tanpa bau busuk sedikitpun."
Keiko terus berjalan mendekat.
"Kei ..."
Arnius kembali berteriak.
"Iya kak aku mendengar mu, tenanglah aku bisa mengatasinya."
Keiko melihat sekilas wajah Arnius yang sudah benar-benar merah karena menahan amarahnya.
"Sayuri berikan air mu, ayo kita mandikan monster bau ini."
Keiko mengayunkan tangannya kearah Sayuri.
Sayuri sudah membuat sebuah gelembung air yang cukup besar. Ia tersentak saat tubuhnya melayang bersama dengan gelembung air yang sudah dibuatnya, ketika Keiko mengayunkan tangannya.
"Buat dinding air disekitar tubuhnya."
Sayuri mengangguk mengerti dan mulai mengambil posisinya.
__ADS_1
"Aku mengerti sekarang, air laut mengandung garam. Jika iblis itu sejenis lintah maka air itu akan membunuhnya."
Arnius bergumam pelan.
Iblis itu berusaha keluar dari dinding air yang di buat oleh Keiko dan Sayuri. Namun saat ia mencoba melompati dinding air, Keiko segera membulatkan dinding airnya hingga melingkar sepenuhnya.
"Nikmati mandi terakhirmu tuan monster."
Keiko mulai memadatkan airnya hingga iblis itu tampak mengapung di dalam air, tubuh iblis itu terus bergerak di dalam air.
Keiko bersama Sayuri terus berusaha mempertahankan lingkaran air yang mereka buat. Pergerakan iblis di dalam lingkaran air tersebut, membuat lingkaran tersebut sedikit bergoyang.
"Bertahan Sayuri."
Keiko berucap tanpa menoleh sedikitpun, sementara Sayuri hanya diam dan menambah tenaganya untuk membuat lingkaran air yang mereka buat tetap utuh.
"Kekuatan yang aku miliki pasti tidak akan mampu menahan gelembung air ini sendirian, kau semakin kuat nona."
Sayuri bergumam dalam hati. Saat ini ia merasa begitu kewalahan untuk menahan lingkaran tersebut. Gelembung air yang mereka ciptakan semakin bergoyang karena pergerakan yang dilakukan oleh iblis di dalamnya.
Sabuk emas sudah terlepas dari pinggang Keiko, kini sebuah tongkat jarum berwarna emas melayang tepat di samping ia berdiri. Keiko mengendalikan tongkat emas itu dari pikirannya, tongkat yang semula hanya tegak berdiri kini sudah dalam posisi siap menyerang. Kilatan cahaya emas terus menyelimuti seluruh bagian tongkat yang siap dilepaskan.
Minori yang baru saja keluar dari dalam portal penghubung, menyadari posisi tuannya yang berusaha menahan lingkaran air bersama Sayuri. Ia segera ikut mengerahkan tenaganya untuk membantu Keiko.
Minori berucap pelan, saat melihat keringat yang mulai bercucuran di seluruh wajah Sayuri hingga terlihat sedikit pucat.
Tubuh Keiko sedikit terangkat, ia terlihat melayang beberapa jengkal dari tanah saat Minori mulai mengerahkan kekuatan miliknya.
"Kekuatan ini benar-benar ... "
Keiko tidak melanjutkan ucapannya saat menyadari Minori sudah berdiri di tempat yang semula di tempati oleh Sayuri.
"Aku akan menahan lingkaran air ini nona, bunuh iblis itu secepatnya."
Minori berucap pelan.
Keiko mulai melesatkan tongkat emasnya ke dalam lingkaran air. Saat tongkatnya mulai berusaha menusuk tubuh iblis, tongkat itu sedikit terpental karena serangan balik yang dilakukan sang iblis. Tubuh iblis sudah mulai terlihat lemas, karena sudah terlalu lama di dalam air dan tidak mendapatkan udara. Meskipun begitu ia masih mampu menahan beberapa serangan dari tongkat emas Keiko.
Saat Keiko mengendalikan tongkatnya untuk menyerang dari beberapa sisi secara bergantian, iblis berlendir itu mampu menahan serta menghindar. Namun kini tubuh iblis yang dulunya selalu mengeluarkan lendir berwarna hitam pekat, sudah mulai tampak bersih.
__ADS_1
Keiko menetralisir seluruh lendir yang keluar dengan air yang sedang di kendalikan nya. Ia mengeluarkan lendir hitam tersebut dalam keadaan sudah membeku sepenuhnya. Bongkahan es berwarna hitam pekat mulai keluar satu persatu dari dalam lingkaran air dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Lendir dalam tubuh iblis sudah bersih sepenuhnya, kini terlihat tubuh itu mulai mengkerut di hampir setiap bagian tubuhnya. Serangan tongkat emas mulai melukai beberapa anggota tubuh dan akhirnya melesat menusuk ke dalam organ vital di dalam tubuh tersebut.
Suara teriakan tertahan, karena air yang mulai masuk ke dalam tubuh iblis melalui mulutnya yang terbuka lebar. Pertahanan iblis tersebut sudah mulai berkurang sepenuhnya. Sehingga Keiko mulai mampu memasukkan airnya melalui lubang di setiap tubuh iblis yang mulai dipenuhi kilatan cahaya emas.
"Tahan Minori atau kita akan terkena dampak ledakan air itu."
Keiko berucap pelan, sementara Minori hanya mengangguk perlahan. Kilatan cahaya emas mulai memudar seiring hilangnya tubuh iblis bersama aliran air yang mulai terbuka perlahan.
"Tidak semua iblis mampu kalian habisi dengan api kalian. Lain kali lihat baik-baik iblis apa yang sedang kalian hadapi."
Keiko kembali melilitkan tongkat emas di pinggangnya.
"Senjata yang bagus, apa kau mendapatkan benda itu saat berada di dalam laut kematian?"
Arnius tersenyum kecil dan mengusap kepala adik perempuannya, sementara Keiko hanya mengangguk perlahan.
"Beristirahatlah dahulu sebelum kita kembali melanjutkan perjalanan."
Eiji berjalan mendekat Keiko.
"Aku baik-baik saja kak, ayo kita telusuri tempat ini. Jangan menyia-nyiakan waktu, mereka mungkin juga bisa menemukan portal penghubung seperti kita saat ini."
Keiko mulai melangkah mengikuti jalan setapak diantara pepohonan.
"Kau tetap di barisan tengah. Jangan hanya karena hal kecil tadi, membuatmu besar kepala dan mau menjadi nona sok kuat."
Arnius berjalan mendahului Keiko yang masih menghentakkan kakinya kesal.
"Para monster dan iblis itu harus melangkahi tubuhku terlebih dahulu sebelum berani menyakiti adikku yang cantik ini."
Arnius kembali menoleh kebelakang dan tersenyum kecil.
Keiko berlari kecil dan memeluk tubuh kakak tertuanya dari belakang.
"Terimakasih sudah menjaga diriku."
Keiko berucap pelan.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan menjagamu dengan nyawaku. Ayo kita lanjutkan perjalanan ini."
Keiko kembali mengangguk setelah melepaskan pelukannya.