Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Segel tangan paman Hitoshi


__ADS_3

Genggaman tangan Keiko terkepal erat. Angin berhembus kencang dari berbagai penjuru, musim seolah benar-benar telah berganti di tempat tersebut. Udara dingin semakin menusuk tulang, seiring butiran salju yang semakin membesar. Beberapa gumpalan asap hitam mulai membeku dan akhirnya hancur berkeping-keping.


Beberapa sosok aneh mulai terbentuk dari gumpalan asap hitam yang terkuat, dan telah berulang kali mengeluarkan hawa panas untuk mengusir salju dingin yang telah membekukan beberapa rekannya hingga menjadi butiran debu.


Keiko terus melesatkan serangannya. Namun saat pisau-pisau es itu menyentuh tubuh lawannya, tubuh besar itu berubah menjadi gumpalan asap hitam dengan cepat. Sehingga serangan gadis cantik itu hanya membelah ruang hampa.


Kepalan tangan Keiko semakin erat, gadis itu semakin geram karena semua usahanya hingga saat ini hanyalah sia-sia. Keiko meningkatkan kecepatan serangannya hingga gadis itu mulai melihat kesempatan untuk melukai lawannya walaupun hanya satu detik waktu yang ia dapatkan.


Kembali gadis cantik itu membekukan tempat sekitarnya dan saat itu juga lawannya berhasil mengembalikan kondisi tubuhnya. Secepat kilat Keiko mulai merasakan aliran darah dari dalam tubuh lawannya. Dengan sedikit berteriak, gadis itu menghentakkan tubuhnya dan mengepalkan erat tangannya.


Beberapa tubuh besar lawannya mulai tergeletak lemah, setelah gadis itu mampu menguasai aliran darah dari dalam tubuh lawannya sebelum tubuh tersebut kembali berubah. Keiko bergegas membekukan beberapa tubuh lawannya dan menghancurkannya hingga menjadi kepingan. Hal itu membuat iblis lainnya semakin waspada terhadap wanita pucat yang masih melayang di udara.


Hal yang sama terjadi pada pertarungan Yuki dan juga Zora. Ke dua pemuda itu benar-benar dibuat kesal oleh setiap iblis yang mereka hadapi. Yuki membuat beberapa tanah dan juga bebatuan melayang di udara. Hingga saat ia menyelubungi tubuh lawannya dengan tanah ataupun menggencet tubuh mereka menggunakan bebatuan, tubuh mereka berubah menjadi kepulan asap hitam dan menyebar ke udara.


Saat ini beberapa pasukan Phoenix terbang sudah mulai berjatuhan dari udara. Mereka semua terkena serangan kuat dari para iblis tersebut. Classic pearl telah berguncang keras beberapa kali karena dampak dari serangan para iblis yang telah membuat para Phoenix terbang berjatuhan dari udara.


Yuki kembali membungkus tubuh lawannya dengan tanah. Hingga secepatnya Zora, Kuma dan Zen membidikkan meriam tembak Classic pearl ke tubuh lawan mereka yang masih terbungkus oleh tanah.


Baam..


Ledakan keras berulang kali terdengar. Ketiganya masih terus berusaha secepatnya meluncurkan tembakan hingga membuat tubuh beberapa iblis mulai menjadi kepingan dan berjatuhan dari udara.


Shiro dan Minori berusaha sekuat mungkin untuk menahan setiap serangan dari para iblis dengan menggunakan segel pelindung yang mereka buat mengitari seluruh kapal tua tersebut.


Wu Ling sudah kembali berdiri, kedua matanya memandang sesaat tubuh seorang wanita yang kini sudah duduk mengembalikan energi tubuhnya. Tubuh Wu Ling bergerak cepat menyambar pergelangan tangan Ryota yang berniat melesat keluar dari Classic pearl.


"Kau harus patuh nak. Kami semua bertarung untuk dirimu. Tetap di sini dan jangan biarkan satu iblis pun mendekat ke tempat ini. Kau mengerti?"

__ADS_1


Ryota mengangguk cepat meskipun hatinya begitu kesal karena tidak bisa ikut berjuang bersama dengan para pamannya.


Sejak melesat dari tempatnya semula, Wu Ling merasakan ada yang lain di dalam tubuhnya. Ia merasa begitu mudah untuk bergerak dan bahkan untuk melayang. Sejenak ia kembali melihat tubuh Aina yang masih terduduk. Di dalam pikirannya di penuhi berbagai pertanyaan yang ia pun sudah memperkirakan jawabannya.


Wu Ling mulai membuat tubuhnya sedikit melayang di udara, dan benar saja yang dipikirkannya. Tubuhnya saat ini melayang di udara dan bisa bergerak dengan leluasa. Sesaat ia kembali melihat Aina dan tersenyum kecil, kemudian melesat cepat ke arah gumpalan awan hitam.


Sejenak tubuhnya berhenti di atas ketinggian, kedua tangannya mulai melakukan berbagai gerakan aneh, hingga akhirnya beberapa gumpalan asap hitam yang ada di sekitarnya mulai berhenti bergerak. Secepatnya pria itu meluncurkan petir dari ujung jarinya, hingga membuat semua asap hitam itu benar-benar lenyap tak bersisa.


Zen beserta seluruh rekannya begitu terpana melihat tindakan rekannya yang tersebut, mulut mereka serentak terbuka lebar.


"Itukah kekuatan segel?"


Zora bergumam perlahan.


"Segel paman Ling yang terbaik."


"Aku bahkan tidak memikirkan cara itu, bagaimana bisa pria kecil itu bisa melampaui diriku."


Minori tersenyum bangga meskipun ada sedikit kekesalan karena tidak memikirkan cara tersebut. Namun kuda air itu menyadari bahwa kemampuannya hanya bisa dilakukan jika lawannya berada dalam kumpulan air, bukannya di udara seperti yang dilakukan oleh Wu Ling. Ryota memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh pamannya.


"Ryota kau harus belajar dan selalu menurut pada ucapan semua paman dan bibi kalian."


Yao Yin yang sudah kembali tersadar, mendekati tubuh putranya yang berdiri di anjungan kapal. Ryota mengangguk cepat dan kembali memperhatikan setiap pertarungan yang dilakukan oleh para paman dan juga bibinya. Sesekali pria kecil itu juga mengulangi setiap gerakan yang dilihatnya. Ryota benar-benar belajar dari semua kejadian yang dilihatnya saat ini. Meskipun teriakkan dan erangan terdengar jelas, pria kecil itu sama sekali tidak merasa takut sedikitpun.


Pisau api Ryota melesat cepat, menghalau serangan asap hitam kepada beberapa Phoenix terbang yang masih tersisa. Walaupun api itu belum mampu menghancurkan kepulan asap hitam, setidaknya para Phoenix terbang itu sedikit tertolong dan beberapa kali terhindar dari maut.


"Lihat baik-baik gerakan tangan dan jari-jari ku tuan muda."

__ADS_1


Suara seorang pria terdengar dari belakang tubuh Ryota. Seorang pria tampan yang tengah duduk di atas kursi rodanya mulai menggerakkan tangan serta jari-jarinya perlahan.


"Ini segel tangan. Gerakan ini bisa menghentikan gerakan lawan mu, seperti segel yang dilakukan oleh tuan Wu Ling. Namun semua itu tergantung pada besarnya kekuatan di dalam tubuh mu. Pusatkan energi mu pada tangan yang akan kau gunakan."


Ryota mulai mengulang semua gerakan yang dilakukan oleh pangeran Hitoshi.


"Menakjubkan, hanya dalam sekali lihat kau mampu menghapal gerakan yang lumayan rumit tersebut."


Hitoshi tersenyum kecil.


"Aku juga ingin mencobanya paman."


Suara gadis kecil yang sudah berdiri di samping pangeran Hitoshi terdengar penuh semangat.


"Lakukanlah nona kecil."


Kana mengangguk pasti dan mulai berdiri tidak jauh dari kakak lelakinya. Keduanya mulai mengulangi setiap gerakan yang baru saja mereka pelajari.


"Arahkan tepat pada lawan mu, jangan sampai kalian salah sasaran."


Hitoshi sedikit memperingatkan, mengingat yang yang ada di hadapannya saat ini adalah dua orang bocah kecil yang mungkin saja melakukan kesalahan dalam mengarahkan segel tersebut.


Gerakan tangan sudah dilakukan, energi pun sudah di pusatkan. Kini keduanya bersiap mengunci pergerakan lawan mereka.


"Kau habisi yang ada di sisi kiri kapal. Sebelah kanan bagian ku."


Kana mengangguk mengerti akan ucapan kakaknya. Keduanya mulai melesatkan kesepuluh jari mereka. Hal yang tidak terduga terjadi, sepuluh gumpalan asap hitam mulai berhenti bergerak. Tak berselang lama, Fudo sudah terlihat dalam genggaman tangan Kana. Hanya dalam sekali tebas, kesepuluh asap hitam itu mulai lenyap tak berbekas.

__ADS_1


Sepuluh gumpalan asap di sisi kanan kapal pun mengalami hal serupa. Semuanya lenyap tak tersisa setelah lesatan pisau api Ryota menembusnya.


__ADS_2