
"Tuan Phoenix, bisakah kau bergerak lebih cepat. Kakak ipar terlihat begitu kesakitan, keponakan ku pasti akan segera lahir."
Keiko berteriak keras serta mencengkram erat bulu halus di punggung Kin Raiden. Pekik sang Phoenix kembali terdengar. Kin Raiden berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan sang naga emas yang sudah terlebih dahulu melesat di hadapannya, saat merasakan hawa dingin mulai merasuk ke dalam tubuhnya. Kecepatannya mulai bertambah seiring kilatan petir yang semakin sering menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Bisakah kau sedikit lebih tenang gadis kecil. Petir ku bisa saja menghanguskan gaun mu, jika kau tidak menghentikan udara dingin yang mulai menjalar ke seluruh tubuh ku."
Ucapan Kin Raiden terdengar oleh Eiji dan juga Arnius serta Ryu kogane.
"Kei, tenangkan dirimu."
Eiji berusaha menenangkan adik kecilnya, namun wajah Arnius tetap saja datar tanpa ekspresi. Seolah pikirannya telah terbang entah kemana. Arnius bukannya tidak mendengar ucapan Kin Raiden, namun saat ini dia sedang mencoba berkomunikasi dengan pedang hitamnya.
"Fudo, bisakah kau berikan gambaran tentang tempat di sekitar mu?"
Pedang hitam yang masih melayang dengan cepat, mencoba mengirimkan gambar keadaan di sekitarnya kepada tuannya.
Arnius melihat Jaku terduduk di atas punggung seekor harimau putih yang juga tengah berlari diantara beberapa hewan besar lainnya. Pandangan Arnius kini beralih menatap dua gorila batu yang terlihat begitu beringas. Terlihat pula seekor Phoenix biru yang tengah melayang tepat di hadapan kedua gorila besar tersebut.
"Kedua gorila batu itu memiliki pengasuh."
Ucapan pelan Arnius terdengar jelas oleh kedua adiknya serta Kin Raiden dan juga Ryu kogane.
"Kau membuat ku semakin penasaran dengan mahkluk itu."
Geraman sang naga emas terdengar jelas.
"Kalian bisa melihatnya dengan jelas nanti."
Gerakan Fudo semakin melambat, saat ia mulai mendekati benteng pertahanan bangsawan Yama. Selain lebatnya pepohonan pinus serta hamparan salju tebal yang menutupi seluruh permukaan dinding benteng yang cukup tinggi, terdapat perisai pelindung yang sulit untuk di tembus di sekitar tempat tersebut.
Pedang hitam Arnius mulai melayang mengitari tembok tinggi yang hampir tertutup salju seutuhnya. Ia mencoba mencari celah terlemah dari segel perisai tersebut. Jung Nara dan yang lainnya pun mulai ikut mencari titik terlemah dari segel perisai di sekitar benteng pertahanan Yama.
"Serang bersamaan di satu titik, itu akan lebih mudah untuk melemahkan segel perisai ini."
__ADS_1
Suara lantang seorang pria yang duduk di atas punggung naga biru terdengar jelas. Hitoshi memberikan arahan untuk menyerang di tempat yang sama, supaya segel perisai tersebut bisa melemah hingga menghilang pada akhirnya.
Semuanya mulai menyerang setelah Masaru sang naga biru, mulai menyemburkan lidah petir ke satu titik. Begitupun api hitam pangeran Shoji, serta semburan es dari Sinziku sang naga putih. Kilat beku sang Phoenix biru pun ikut mencoba menghancurkan segel perisai.
Dentuman keras mulai terdengar menggema di seluruh penjuru lereng. Beberapa puncak salju mulai terlihat longsor, karena terkena guncangan hebat dari serangan gabungan tersebut. Panas dari pedang hitam Arnius pun cukup membuat dinding tembok yang tadinya tertutup salju tebal, kini terlihat seutuhnya.
Arnius masih terus memperhatikan gambaran yang di perlihatkan oleh pedang hitamnya. Gerakan seluruh hewan dan bahkan pergerakan sang naga terlihat jelas olehnya.
Setelah menyerang sekian lama, segel perisai mulai mengalami keretakan. Hingga akhirnya mulai terbuka sebagian. Doulu dan Dielu mulai menghantam dinding tembok. Keduanya merasakan hawa kehadiran gadis kecil mereka di dalam kediaman Yama.
Perhatian Arnius beralih pada seseorang yang berdiri di atas pundak gorila batu yang baru saja tiba di tempat tersebut. Seorang wanita setengah baya, tampak melayang di antara beberapa sulur tanaman. Hanya dengan satu hentakan kakinya. Segel perisai yang masih menutupi seluruh benteng, seketika menghilang dalam sekejap.
"Kekuatan yang luar biasa."
Arnius bergumam perlahan, saat melihat kekuatan sang ratu peri rumput biru perak.
"Apa yang kau lihat?"
Ryu kogane penasaran, saat mendengar ucapan dari sahabatnya.
"Apa yang kau katakan, anak mu pasti baik-baik saja. Kau sendiri yang harus membawanya pergi."
"Kogane, dengarkan aku. Mereka begitu kuat, kau harus membawa pergi semuanya."
"Kau yang harus mendengarkan aku Nius. Tidak ada yang akan menyentuh mu, sebelum mereka melangkahi mayat ku. Kau yang harus membawa mereka pergi. Masukkan mereka ke dalam giok hitam, ingat baik-baik ucapan ku tuan muda."
Eiji, Keiko dan juga Kin Raiden hanya diam, saat mendengar perdebatan antara Arnius dengan naga emasnya. Ketiganya hanya menelan ludahnya kasar, saat mencerna arti dari perdebatan sesaat tersebut.
Sementara di dalam sebuah ruangan, di salah satu bangunan yang berada di dalam kediaman Yama. Minori terus berusaha menjaga tubuh Yao Yin yang selalu bercucuran keringat. Ia membiarkan para pelayan melakukan tugasnya.
Meskipun tubuh Yao Yin selalu di kelilingi oleh air, namun para pelayan tersebut tetap mampu melakukan tugasnya tanpa basah sedikitpun. Ai Sato yang sudah mulai membaik pun menyadari, bahwa ada kekuatan lain yang kini tengah menjaga tubuh wanita yang kini terbaring menahan sakit.
"Ada kekuatan lain yang selalu bersamanya selain api dari black diamond, sungguh wanita yang luar biasa."
__ADS_1
Ai Sato bergumam dalam hati.
"Nona Ai, ku harap kau mau menyelamatkan putra dari nona kami. Jika mereka mencoba memisahkannya dari ibunya. Aku akan tetap berusaha menjaga tubuh nona Yin."
Sebuah suara seorang wanita terdengar di dalam kepala Ai Sato, saat ia menyentuh gelembung air yang menutupi tubuh Yao Yin.
"Siapapun kau, aku akan berusaha menyelamatkan putra kakak Yin. Aku tidak akan membiarkan mereka merebutnya."
"Pedang hitam itu yang akan membimbing mu dan akan selalu menjagamu. Kau akan tahu kepada siapa bayi itu harus di serahkan."
"Aku mengerti, kau tenang saja."
Yao Yin menatap wajah Ai Sato serta tersenyum penuh harap.
"Kakak Yin tenanglah, kau dan putra mu pasti selamat. Mereka sudah ada di luar."
Yao Yin hanya mengangguk perlahan setelah mendengar ucapan Ai Sato.
Suara dentuman keras terdengar semakin memekakkan telinga. Ai Sato semakin memancarkan aura miliknya, supaya bisa dirasakan oleh Doulu dan Dielu serta Seina ataupun yang lainnya.
"Apakah masih belum saatnya?"
Ai Sato menatap wajah salah satu pelayan yang sedari tadi sibuk merawat tubuh Yao Yin.
"Belum nona."
"Tapi kakak Yin sudah begitu kesakitan."
"Memang seperti inilah perjuangan seorang ibu yang akan melahirkan anaknya ke dunia."
"Kakak Yin, bertahanlah."
Ai Sato menggenggam erat tangan Yao Yin yang terus mengepal menahan sakit yang luar biasa. Wajah cantik Yao Yin sudah mulai memucat, meskipun masih tertutup cadar tipis. Namun Ai Sato menyadari semua itu.
__ADS_1
"Tenanglah Ai, aku pasti bisa melahirkan putra ku ke dunia."
Yao Yin mencoba tersenyum meskipun tidak terlihat oleh Ai Sato yang begitu mencemaskan keadaan dirinya.