
Di saat Arnius dan yang lainnya memulai latihannya di dalam dimensi yang di buat oleh Kitaro, Yao Yin pun memulai perjalanannya menuju ke istana bersama dengan putri dan para pangeran.
Sebuah kereta kuda terlihat melaju perlahan diantara keramaian kota naga. Di dalam kereta Yao Yin hanya terdiam dan selalu memperhatikan jalan, bangunan serta para penduduk yang berpapasan dengan mereka.
Yao Yin sebenarnya sangat ingin bertanya kepada Ai Sato, tentang kakak tertua Sinziku. Namun hingga saat ini belum ada kesempatan untuk berbincang berdua dengannya, bahkan saat ini Sinziku juga bersama dengan mereka di dalam kereta.
"Aku hanya memiliki satu sisik naga emas yang terkelupas saat penyerangan malam itu, apakah benda ini bisa aku gunakan."
Yao Yin hanya berkata di dalam hati. Pada malam penyerangan kediaman Tamura, sebuah serangan sempat mengenai kulit tubuh naga besar tersebut hingga tanpa ia sadari ada satu sisiknya yang terkelupas. Yao Yin sempat melihat hal itu dan segera mengambil sisik emas tersebut.
Sebuah sisik selebar telapak tangan, berwarna emas dan terlihat begitu indah berkilau. Saat Yao Yin memegang sisik tersebut, benda tersebut terasa sedikit berat untuk ukuran sebuah sisik. Namun jika membayangkan tubuh naga emas yang begitu besar, maka sangat wajar jika satu sisiknya begitu besar, berat dan kuat.
"Kakak cantik, apa kau baik-baik saja. wajah mu terlihat sedikit pucat."
Ucapan Ai Sato membuyarkan lamunan Yao Yin.
"Hanya sedikit lelah, aku tidak apa-apa nona Ai."
Yao Yin hanya tersenyum kecil melihat perhatian yang begitu besar dari seorang putri komandan the Beast.
"Maaf jika saya lancang, tapi sepertinya kakak Yin sedang hamil. Apakah benar?"
Sinziku memperhatikan tubuh Yao Yin yang mulai berisi.
"Benar tuan putri, maaf jika hal ini mengganggu kenyamanan tuan putri."
"Jadi maksud kedatangan kakak Yin ke istana naga adalah untuk mencari perlindungan?"
"Tuan putri sangat pintar menebak, jika keinginan ku sudah di ketahui oleh anda. Apakah anda memperbolehkan saya untuk tinggal bersama dengan tuan putri nantinya?"
Yao Yin berusaha untuk berkata selembut mungkin.
"Putri Sin, kakak Yin benar. Jika kakak Yin tetap berada di istana bulan, maka pangeran Arashi pasti tidak akan melepaskannya. Aku pun akan bersama dengan kakak Yin di sini, bolehkan putri Sin?"
Ai Sato ikut mendukung keputusan Yao Yin.
"Anak dari seorang putri giok bagaikan sebuah benda berharga yang nantinya bisa saja diperebutkan. Aku tidak mampu jika harus melindungi kakak Yin seorang diri, sepertinya kita harus meminta dukungan ketiga kakak ku."
Ucapan Sinziku di balas anggukan oleh Ai Sato dan juga Yao Yin.
"Kita sudah sampai, mari kita turun."
Sinziku membantu Yao Yin turun dari dalam kereta.
Masaru menghentikan kereta tepat di halaman paviliun tamu. Pangeran ke empat dari kerajaan naga itu memang tidak berniat untuk membawa tamunya ke istana utama. Apalagi alasan mereka saat ini hanyalah untuk berkunjung sesaat tanpa harus bertemu dengan raja.
Paviliun tamu terletak pada bagian terluar dari istana naga, sedangkan istana utama berada lebih jauh dari tempat mereka berhenti sekarang ini.
"Kakak bisakah aku membawa kakak Yin untuk tinggal di istana dalam?"
Sinziku memberanikan diri untuk bertanya kepada kakak lelakinya.
"Kau tahukan aturannya. Mengapa kau tidak meminta hal itu kepada Masaru, dia yang bisa mengatur semua itu."
__ADS_1
Pangeran Shoji mengalihkan pandangannya dan tersenyum kecil kepada adik lelakinya.
"Kenapa kau meminta hal itu?"
Masaru mengerti arti dari tatapan adik serta kakaknya.
"Sebenarnya ada hal lain yang harus aku beritahukan kepada kalian."
Ketiganya saling mendekat, seolah ada pembicaraan penting yang harus mereka bicarakan saat ini juga tanpa memperdulikan para tamu yang ikut bersama dengan mereka.
"Sebaiknya kita bahas hal ini nanti, saat ini sebaiknya kita antar para tamu ke kamarnya untuk beristirahat."
Sinziku dan Shoji mengangguk hampir bersamaan.
Setelah meninggalkan kamar Yao Yin, Sinziku berjalan menuju ke taman yang berada tidak jauh dari tempat tersebut. Terlihat Shoji duduk di atas kursi batu diantara kolam dan pepohonan. Sementara Masaru begitu menikmati teh dan juga makanan yang tersedia di atas meja.
Seorang pangeran tampan juga terlihat duduk di atas sebuah kursi beroda, sambil melihat ikan yang berenang di dalam kolam.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan."
Hitoshi menyambut kedatangan adik perempuannya dengan senyum ramah.
Sinziku tersenyum kecil saat melihat ke tiga kakaknya begitu akur seperti saat ini. Memang hanya Sinziku yang mampu membuat seluruh saudaranya berkumpul bersama tanpa ada perdebatan ataupun perkelahian seperti saat ini.
Masing-masing tangan Sinziku menyentuh lengan kedua kakaknya. Ketiganya saling berpandangan dan terdiam. Sinziku menyampaikan maksud dari permintaan yang pernah ia ajukan sebelumnya dengan menggunakan bahasa naga. Hanya sesama kaum naga yang bisa melakukan pembicaraan seperti itu.
"Sebenarnya kedatangan kakak Yin ke istana naga adalah untuk meminta perlindungan. Saat ini dia sedang mengandung. Sebelum aku keluar dari dalam kamarnya, ia menunjukkan sesuatu yang hampir membuat jantung ku berhenti berdetak."
"Sebuah sisik naga emas."
Ketiga kakak lelaki Sinziku terdiam setelah mendengarkan penjelasan adik perempuan mereka. Tangan ketiganya sudah tidak lagi saling bersentuhan.
"Kalian sudah mengetahui cerita tentang kakak pertama tentunya, mustahil jika dia masih hidup hingga saat ini."
Hitoshi mulai membuka pembicaraan.
"Bisa saja dia diselamatkan oleh seseorang, dan masih hidup hingga saat ini."
Sinziku mengutarakan pendapatnya.
"Dari cerita yang pernah disampaikan oleh ibu. Pada saat terjadi keributan, paman membawa kakak pertama hingga melintas ke dimensi lain. Ibu dan juga ayah menyaksikan sendiri semua kejadian itu. Mereka beranggapan bahwa bayi yang baru saja lahir tidak akan mungkin bisa selamat dari ganasnya aura dimensi perpindahan waktu. Kemudian setelah kejadian itu, ayah dan ibu masih tetap berusaha mencari keberadaannya, namun tidak pernah mendapatkan titik terang."
Masaru mengulang kembali sebuah kisah yang pernah ibu mereka ceritakan.
"Jika memang dia selamat, lalu siapakah wanita itu. Apakah dia istrinya?"
Ucapan Shoji membuat ke empatnya serentak saling berpandangan.
"Aku bukan istrinya."
Ke empat saudara itu melihat Yao Yin yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
"Maaf jika kedatangan ku mengganggu pembicaraan kalian."
__ADS_1
Yao Yin berjalan mendekati ke empat bersaudara itu.
"Sebenarnya aku hanya ingin mencari tempat berlindung untuk bayiku nantinya. Aku takut jika seseorang mencoba untuk merebutnya dariku, termasuk pangeran Arashi. Karena dialah penyebab diriku berada di tempat ini."
Yao Yin meletakkan sisik naga emas di atas meja batu. Ke tiga kakak lelaki Sinziku memperhatikan sisik naga emas tersebut.
"Aku tidak ingin mengungkit masa lalu kalian, namun hal ini sedikit menggangguku. Aku pernah berjuang hidup dan mati bersama sang naga emas dan seluruh rekanku. Hingga pada saat pangeran Arashi menyerang kami, naga emas masih berusaha menyelamatkan kami semua."
"Jadi dia benar-benar ada?"
Hitoshi memotong cerita Yang disampaikan oleh Yao Yin. Sementara istri Arnius tersebut hanya mengangguk perlahan.
"Boleh aku tahu marga kalian?"
Yao Yin kembali mengambil sisik naga emas dan menyimpannya.
"Perkenalkan kakak, aku Ryu Sinziku. Putri ke lima istana naga."
"Ryu Hitoshi, putra kedua."
"Aku tidak perlu memperkenalkan diri ku bukan. Kau sudah mengetahui marga kami, lalu siapa nama sang naga emas itu?"
Shoji semakin terlihat penasaran.
"Ryu kogane."
Ucapan Yao Yin bagaikan petir yang menyambar. Tubuh Sinziku seketika jatuh terduduk setelah mendengar nama yang disebutkan oleh wanita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Kakak pertama masih hidup."
Air mata terlihat menggenang di pelupuk mata gadis kecil yang masih sangat muda tersebut. Yao Yin mengusap pelan rambut panjang Sinziku.
"Ada seorang gadis cantik yang usianya sedikit lebih tua darimu yang saat ini begitu di jaga dan di sayangi olehnya."
"Benarkah, lalu apa hubungan mu dengan kakak pertama kami?"
Sinziku menatap Yao Yin dengan air mata yang mulai menetes dari mata indahnya.
"Kogane adalah sahabat suamiku, keduanya terikat perjanjian darah hingga saat ini. Sementara gadis beruntung itu adalah adik ipar ku."
Sinziku memeluk erat tubuh Yao Yin yang masih berdiri di hadapannya.
"Aku akan segera membawamu ke istana dalam dan tinggal di sana hingga kami bisa menemukan cara untuk membawamu kembali ke bumi."
Masaru bergegas meninggalkan tempat tersebut.
"Aku akan menjagamu dari pangeran rubah itu."
Shoji bergegas melesat dan menapakkan kakinya di tengah jalan menuju ke taman, saat pendengarannya menangkap teriakan ketakutan dari seorang wanita yang belum pernah di dengarnya.
"Nyonya muda, tuan Arashi mencari mu."
Jaku mencoba mengatur kembali nafasnya yang memburu, setelah berlari dari kejaran pangeran Arashi.
__ADS_1