Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Batu api neraka


__ADS_3

"Apa ada perangkap atau semacamnya?"


Arnius memperhatikan dinding batu yang mengelilingi tempat tersebut.


"Biarkan peralatan milikku yang akan membantumu."


Zora berniat menembakkan sebuah besi yang selalu melingkar di pergelangan tangannya, namun Kin Raiden melarangnya.


"Berikan benda itu, aku yang akan melakukannya. Kalian tetap berdiri di belakang ku. Wu Ling, kau bersiap jika ada ledakan pada dinding. Yuki, ku harap kau bisa menggerakkan salah satu batu itu jika terjadi sesuatu. Ji ji kau pastikan tekanan udaranya."


"Hm."


Semua mengangguk serempak dan langsung memasang posisi masing-masing. Kin Raiden mulai menembakkan beberapa rantai secara acak dan menyilang. Enam rantai telah terulur dari kedua lengan sang Phoenix merah, setiap ujung rantai kini telah menancap pada dinding batu.


Arnius mulai melayang, Eiji pun berusaha menekan panas dari kolam lahar yang telah benar-benar mendidih tersebut. Pada saat tubuh Arnius tepat berada di atas kolam lahar, ia merasakan ada sesuatu yang menarik tubuhnya ke bawah. Kin Raiden pun merasakan rantai yang dipegangnya ikut tertarik ke bawah.


"Bertahanlah Ar. Kolam itu seolah tidak mengijinkan ada sesuatu yang lewat di atasnya."


Kin Raiden menggenggam erat rantai yang masih terikat di pergelangan tangannya, Phoenix merah itu berusaha menahan rantai supaya tidak sampai tertarik ke bawah.


"Bertahan."


Wu Ling sedikit berteriak. Seluruh rekannya pun mulai menempatkan diri. Kuma memeluk erat tubuh Kin Raiden, kemudian Zora mulai mengeluarkan enam lengan laba-laba ungu dan menancapkan setiap ujungnya pada dinding batu di belakang mereka, kedua tangannya pun kini mencoba memeluk tubuh besar Kuma. Mereka berdua berusaha membantu Phoenix merah tersebut supaya tetap bertahan dan tidak ikut tertarik ke dalam kolam.


Yuki melesatkan beberapa batu untuk membantu Arnius berpijak walaupun sejenak. Puluhan batu yang Yuki Lesatkan hanya mampu bertahan beberapa detik, sebelum akhirnya terjatuh ke dalam kolam lahar panas. Semua usaha yang dilakukan oleh rekannya, berhasil membuat tubuh Arnius tetap bertahan di atas kolam meskipun susah payah.

__ADS_1


Pria itu masih terus berusaha untuk maju. Namun saat ia hampir tiba di tengah, air kolam yang berwarna merah tersebut mulai bergejolak hingga terpercik ke berbagai arah. Arnius terus melompat ke berbagai arah untuk menghindari percikan air yang semakin menggila.


Yuki semakin sering melempar bebatuan, untuk memastikan kaki komandannya memiliki tempat berpijak. Tak hanya Arnius yang hampir terkena percikan air panas, namun kini seluruh tempat tersebut terkena cipratan air lahar yang benar-benar bisa membuat kulit dan bahkan dagingnya juga bisa ikut terkelupas.


"Chio."


Chio hanya membalas dengan anggukan saat pemuda remaja itu menoleh ke arah Shiro yang tadi telah memanggilnya. Chio mulai mengibaskan cambuk ekornya hingga melilit pada sebuah tameng putih berkilauan, lebih tepatnya tempurung milik Shiro sang penyu laut.


Gadis cantik itu mulai memusatkan perhatian serta tenaganya pada tempurungnya yang kini sudah melayang di hadapannya. Chio menggerakkan cambuk ekornya untuk membantu menggerakkan tempurung tersebut guna menangkis setiap cipratan air lahar yang akan menyentuh tubuh Arnius. Dengan kerjasama keduanya, Shiro tidak cepat kehilangan seluruh kekuatannya. Gadis kecil itu hanya perlu memusatkan kekuatannya untuk menangkis setiap serangan, sedangkan Chio yang menggerakkannya.


Wu Ling pun tidak tinggal diam, pemuda itu melindungi setiap cipratan air lahar yang tertuju kepada Kin Raiden dan lainnya. Wu Ling memasang segel pelindung terbaiknya.


Arnius terus menapakkan kakinya pada rantai ataupun batu yang dilesatkan oleh Yuki. Tubuh pria itu sudah dipenuhi oleh keringat. Jika Eiji tidak mampu mengurangi tekanan udara panas dari kolam lahar tersebut, mungkin pria itu tidak lagi mampu melanjutkan langkahnya karena tubuhnya hanya akan terbakar ataupun meleleh di dalam kolam lahar tersebut.


Arnius sudah berdiri tidak jauh dari batu hitam yang berdiri kokoh di tengah kolam. Dia berusaha mengambil dua batu yang berada di puncak gundukan batu besar tersebut. Dua buah batu yang memiliki warna berbeda serta bentuk yang juga berbeda.


Arnius menyambar kedua benda itu dengan cepat, ia tidak ingin terkena senjata rahasia ataupun perangkap lainnya yang mungkin saja ada.


"Aku mendapatkannya."


Arnius bergegas melakukan salto kebelakang secara berulang-ulang, saat beberapa sinar api mulai melesat dari seluruh dinding batu di sekitar tempat tersebut. Arnius terus berusaha menghindar, bahkan jika lesatan sinar api tersebut tidak dihalangi oleh tempurung Shiro yang masih selalu digerakkan oleh Chio. Mungkin saat ini tubuhnya sudah benar-benar jatuh dan tenggelam di dalam kolam lahar panas di bawahnya.


"Cepatlah Kak, tempat ini akan runtuh."


Eiji sudah terlihat begitu kelelahan, namun ia masih berusaha menekan udara panas di sekitar tubuh kakak lelakinya.

__ADS_1


Seluruh dinding dan juga lantai di tempat itu terasa bergetar. Beberapa batu sudah mulai berjatuhan satu persatu. Kedua kaki Arnius sudah kembali menapak di samping tubuh Eiji. Kin Raiden pun melepaskan rantai yang masih di pegangannya hingga masuk kembali ke dalam besi yang masih melekat pada kedua pergelangan tangannya.


"Merapat."


Seluruh Classic team berusaha saling mendekatkan tubuh mereka sesuai perintah Eiji. Seperti yang sudah mereka latih di dunia bulan sebelumnya, jika dalam keadaan yang begitu mendesak Eiji akan membawa mereka semua dengan menggunakan segel pemindah yang sudah ia kuasai sepenuhnya. Namun untuk menggunakan segel tersebut, Eiji harus menggunakan seluruh tenaganya.


Kilauan cahaya mulai menyelimuti tubuh mereka semua, tanpa terasa mereka semua sudah berpindah tempat.


"Aduh.."


Kuma mengusap-usap pantatnya yang mendarat kasar di atas tanah kering. Yuki dan yang lainnya masih mampu menguasai kaki mereka hingga mampu berdiri dengan sempurna.


Sekalipun Shiro juga masih mampu berdiri, namun saat ini gadis kecil itu mulai terduduk lemas di atas tanah kering. Kekuatannya seolah benar-benar habis, karena ia terus menahan semua serangan lahar panas dengan menggunakan tempurungnya.


Zora mendekati tubuh gadis kecil itu dan memasukkan sebuah pil ke dalam mulutnya. Sensei muda tersebut memintanya untuk segera menelan pil pemberiannya.


Mereka semua mulai menyadari bahwa saat ini mereka berada di luar lorong goa yang telah mereka lewati sebelumnya.


"Energi ku sudah menipis, aku tidak bisa membawa kalian lebih jauh lagi."


Eiji berbicara dengan sedikit tersengal-sengal. Pria itu menahan sesak di dalam dadanya. Sementara getaran dan guncangan masih begitu terasa, tempat itu seolah-olah akan benar-benar hancur.


"Aku akan membawa kalian, ayo cepat naik."


Kin Raiden mulai membentangkan sayapnya. Setelah memastikan semuanya naik ke punggungnya, Phoenix merah itupun melesat ke udara. Energi yang di miliki oleh Kin Raiden pun mulai melemah, Phoenix merah itu terus melayang hingga tiba di satu tempat dan bergegas menapakkan kakinya di sana.

__ADS_1


Satu-satunya tempat yang ada di dalam pikirannya adalah oasis yang tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Tempat yang pernah mereka gunakan untuk beristirahat sebelumnya.


__ADS_2