Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Aku melakukan kesalahan.


__ADS_3

Arnius dan Genta yang masih berusaha memasuki air laut, kini mereka di kejutkan oleh munculnya beberapa binatang besar keatas permukaan laut.


"Siapkan busur kalian."


Naoki mulai memberi perintah.


Busur-busur yang dilemparkan dari atas Classic pearl menghujam tepat ke tubuh ikan-ikan besar.


"Cari jalan untuk memasuki lautan, aku bersama mereka akan mengurus semuanya disini."


Kin Raiden sedikit berteriak, setelah menebas tubuh seekor ikan besar dengan pisau petir.


Eiji pun masih terlihat disibukkan dengan seekor gurita yang berukuran cukup besar. Setiap ia memotong salah satu bagian tubuh gurita, pasti akan tumbuh lagi bagian tubuh yang baru. Belum lagi ia harus menghindari tinta beracun yang selalu di semburkan oleh gurita besar itu.


"Kin, bakar dia."


Eiji berteriak setelah menendang gurita besar itu hingga melayang di atas lautan. Kin Raiden dan Genta menoleh secara bersamaan saat mendengar teriakkan Eiji, semburan api dan kilatan petir menyambar tubuh gurita secara bersamaan hingga terbakar tanpa sisa.


Arnius yang sudah hampir putus asa karena tidak kunjung bisa menyelam ke dasar laut, meluapkan amarahnya dengan membantai dan membakar hampir seluruh mahkluk laut yang berada di sekitarnya.


**


Keiko benar-benar memperhatikan setiap langkah kakinya, ia mengamati setiap sudut ruangan untuk memastikan tidak ada hal berbahaya yang bisa mengancam dirinya. Seperti kisah yang terjadi pada beberapa buku cerita yang sudah dibacanya.


Keiko kembali melangkahkan kakinya mendekati meja batu yang lebih mirip disebut sebagai altar pemujaan. Ia kembali memperhatikan setiap lekuk meja batu tersebut serta mencari beberapa petunjuk yang mungkin ada.


Saat Keiko kembali mempersempit jarak dengan altar, sebuah aura aneh muncul disertai cahaya terang yang menyelimuti mutiara emas. Tubuh Keiko tidak mampu melawan saat aura aneh yang muncul terus saja berusaha menarik kesadarannya.


Keiko berusaha keras untuk kembali menguasai tubuhnya dan menjauhi mutiara tersebut. Tubuhnya sudah menempel pada dinding batu setelah menjauhkan diri dari mutiara emas yang berada di atas altar. Keiko mengatur kembali nafasnya yang sudah tidak beraturan.


Belum selesai keterkejutannya dari hal yang baru saja dialaminya, kini mutiara emas itu melayang dari tempatnya semula. Mutiara itu terbang menuju kearahnya, Keiko bergegas berpindah dari satu sudut ke sudut yang lain. Hingga ia memutuskan untuk keluar dari dalam ruangan tersebut dan beralih ke ruangan lainnya, namun mutiara itu masih juga mengikuti kemanapun ia bergerak.


Keiko baru menyadari, saat itu ia telah memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, terdapat beberapa tombak serta pedang yang sudah menua. Dan bahkan ada beberapa yang sudah berkarat.


"Ini seperti tempat latihan."


Keiko bergumam dalam hati saat masih terbang berputar-putar menghindari mutiara emas yang masih mengejarnya.


Keiko kembali mengamati setiap goresan yang ada di dinding. Mencoba merangkai setiap kata dan memperhatikan setiap gambar yang terlukis setelahnya.

__ADS_1


"Ini sebuah gerakan tentang mengendalikan air .. tidak .. lebih tepatnya lautan."


Sambil terus melayang, ia memperagakan setiap gerakan yang dilihatnya dan menghafal setiap mantra yang harus di ucapkan. Saat Keiko mulai paham urutan yang benar dan sudah mulai menghafalkan semuanya, ia terus berlatih dengan terus bergerak menjauhi mutiara emas yang masih mengejarnya.


Setelah sekian lama ia bergerak, kini Keiko mulai berfikir untuk menghancurkan mutiara tersebut. Tubuh Keiko kini mulai bergerak menyerang mutiara yang sejak tadi mengejarnya dengan ilmu yang baru saja di kuasainya.


Keiko juga mengucapkan beberapa mantra namun tidak terjadi apapun di sekitarnya. Hingga saat ia mencoba merapalkan mantra terakhir yang tertulis sebagai penyempurna, sesuatu terjadi pada mutiara emas itu.


Mutiara itu terbang mengitari tubuh Keiko dan berubah menjadi cahaya emas kemudian masuk kedalam tubuhnya secepat kilat, sehingga Keiko tidak mampu menghindar lagi.


Keiko merasa begitu banyak air yang mengalir kedalam tubuhnya, ia merasakan sensasi dingin dan juga segar yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Keiko kembali tersadar dan mendapati tubuhnya tergeletak di atas lantai goa. Ia duduk dan kembali mengatur nafasnya kemudian memperhatikan tubuhnya, memeriksa apakah ada yang berbeda setelah kejadian tadi.


Setelah memastikan tidak ada yang aneh dengan tubuhnya, ia mulai berdiri dan melangkah keluar dari dalam goa tersebut. Saat tiba di luar goa, ia dikejutkan dengan keadaan disekitarnya yang telah rusak dan berantakan tidak seperti sebelumnya.


"Aku melakukan kesalahan."


Keiko bergumam pelan.


Ternyata setiap mantra yang diucapkannya telah berdampak pada lingkungan disekitar goa atau bahkan mungkin lebih. Setelah menyadari hal itu, Keiko kembali merapalkan mantra pemulih. Setelah mengibaskan tangannya, daerah itu kini terlihat seperti sedia kala. Keiko sedikit tersenyum lega.


Keiko masih bertanya dalam hati.


**


Arnius dan kawan-kawan dikejutkan dengan munculnya gelombang laut yang tinggi serta berbagai jenis hewan laut yang muncul kepermukaan. Munculnya gelombang laut yang besar disertai angin mengakibatkan Classic pearl sedikit terhempas, namun Zen dan Wu Ling berhasil mengendalikan bak mandi besar itu kembali.


"Apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja?"


Naoki berkeliling melihat keadaan setiap anggotanya.


Genta dan Kin berhasil menangkap tubuh kedua tuannya yang terhempas karena gelombang besar yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung beberapa saat. Mereka membawa tubuh Arnius dan Eiji kembali keatas Classic pearl.


"Apa yang terjadi?"


Naoki masih terheran-heran melihat lautan yang tadinya bergelombang besar serta munculnya berbagai jenis mahkluk keatas permukaan kini tenang dan damai seperti sebelumnya.


"Kalian tidak apa-apa?"

__ADS_1


Naoki beralih melihat dua saudara kembar beserta dua pengikut setianya.


"Kami baik-baik saja pangeran."


Arnius menjawab singkat.


Ketenangan sementara itu kembali terusik saat pusaran air kembali tercipta ditengah lautan. Arnius bergegas meluncur mendekati pusaran air tersebut, berharap pusaran itu bisa membawanya masuk dan menemukan kembali adik perempuannya.


Sebelum tubuh Arnius mencapai permukaan laut, ia dikejutkan oleh munculnya kilatan cahaya emas disertai tubuh seseorang yang begitu dikenalinya.


"Kei ..."


Ucapan Arnius tertahan dan segera menyambar tubuh Keiko hingga membawanya menjauh dari pusaran air.


"Kau baik-baik saja?"


Arnius memeriksa setiap jengkal tubuh mungil Keiko, untuk memastikan ia benar-benar dalam keadaan baik.


"Aku tidak apa-apa kak, maaf telah membuat kalian khawatir."


Keiko berucap pelan dan disertai senyum manis di wajahnya.


Semua menghela nafas lega setelah mendengar dan melihat gadis kecil itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Keadaan sudah kembali tenang, mari kita lanjutkan kembali perjalanan ini. Laut ini tidak akan mengganggu kita lagi."


Keiko berucap penuh keyakinan.


"Ayo Zen jalankan kapal."


Arnius merebahkan tubuhnya di lantai kapal begitupun Eiji saat sudah merasakan tubuhnya lelah karena kejadian yang baru saja mereka lalui.


"Apa yang kau lakukan di sana tadi kei?"


Azumi mendekati Keiko yang mematung menatap lautan.


"Tidak begitu penting tuan putri, bagaimana kalau kita membuat sup sirip ikan hiu."


Keiko tersenyum kecil dan menjulurkan tangannya ke lautan, kemudian potongan sirip ikan nampak terbang kearahnya. Azumi hanya menggeleng dan tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Azumi mengerti bahwa teman masa kecilnya itu, belum mau menceritakan tentang sesuatu yang baru saja dialaminya.

__ADS_1


__ADS_2