Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Istana kecil


__ADS_3

"Bagaimana dengan Yin Yin cucuku, anak muda?"


Wajah kakek Yao terlihat begitu cemas.


"Temanku akan mengobati nona Yin kakek, tenanglah. Bagaimana nona Yin tidak tahu perihal alergi tubuhnya kek?"


"Anak itu sejak kecil tidak pernah berperilaku seperti halnya seorang gadis pada umumnya. Jika para sepupu perempuannya begitu mengagumi kupu-kupu ataupun taman dan keindahan lainnya. Yin Yin tidak sedikitpun tertarik dengan semua itu. Apalagi sejak dia mulai mengetahui bahwa ibunya terbakar karena berusaha menenangkan dirinya, dia tidak pernah dekat dengan seseorang. Dia bahkan selalu menjaga jarak dengan ayahnya serta diriku. Pada saat dia berkunjung ke makam ibunya, bukan seikat bunga yang dibawanya melainkan menunjukkan perkakas yang berhasil di buatnya."


Kakek Yao menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan langkahnya.


Wajah Genta benar-benar terlihat tegang, setiap bunga yang mereka lewati sangat peka terhadap sedikit gerakan ataupun suara. Tangkai bunga akan melengkung ke bawah sesuai dengan gerakan atau suara yang dirasakannya. Genta hampir menahan nafasnya saat kuncup bunga terbuka dan menunjukan gigi tajam yang ada di dalamnya.


"Benar-benar bunga yang mengerikan."


Zen bergumam pelan, saat ia juga melihat gigi tajam yang terdapat di dalam kuncup bunga.


Minori yang selalu setia berjalan di samping Keiko masih kurang percaya dengan serbuk bunga yang di berikan oleh Arnius. Kedua tangannya kini memegang dua buah bunga yang cukup besar, yang ia gunakan sebagai payung di atas kepala Keiko serta dirinya. Ia memotong bunga tersebut dari tangkainya, sebelum berjalan melewati para bunga pemangsa.


Tindakannya itu diikuti oleh Azumi, Sayuri serta Zora dan Haruka. Sementara Naoki bersiaga dengan pedang yang selalu ada dalam genggamannya begitupun Zen. Mereka terus berjalan perlahan melewati kumpulan bunga pemangsa tersebut, sesekali mereka berhenti saat beberapa tangkai bunga melengkung kebawah karena merasakan pergerakan mereka.


"Dasar para bunga menyebalkan, aku akan lebih memilih untuk membakar seluruh jenis kalian hingga tidak bersisa daripada harus berjalan seperti ini."


Genta menggerutu kesal.


"Bersabarlah kawan, mereka juga berhak hidup di dunia. Karena para dewa yang menciptakan mereka, dan tentunya ada alasan mengapa ada juga bunga seperti mereka ini."


Zen sedikit menunduk dan menahan nafasnya saat tangkai bunga tiba-tiba bergerak mendekati dirinya.


"Sebaiknya kalian segera mempercepat langkah kalian, supaya aku bisa segera membakar semua bunga monster ini."


Genta semakin geram.


"Kau hanya akan menyebabkan kekacauan, patuhi ucapan tuan mu naga besar."


Kin Raiden ikut berkomentar.


"Diam dan bantu aku burung besar."


Seketika Genta merubah dirinya menjadi seekor naga besar dan langsung terbang menyambar seluruh tubuh rekannya hingga semua terduduk di atas punggung panjangnya termasuk Arnius yang kini sedang menahan amarahnya melihat kelakuan naga emasnya.


Arnius nampak berdiri tepat di belakang kepala sang naga besar dengan pedang api di tangannya. Sementara Minori hanya tetap memegangi tubuh Keiko saat duduk di atas punggung naga besar tersebut tanpa memperdulikan rekan lainnya. Eiji membantu Sayuri, kakek Yao serta Zen untuk tetap duduk tenang di atas punggung naga yang bergerak sangat cepat tersebut.


Sesuai aba-aba dari Ryu kogane, Kin Raiden juga merubah tubuhnya menjadi Phoenix yang mulai terbang di atas sang naga emas sambil terus membabat habis bunga pemangsa yang berada di dalam jangkauan kedua sayapnya. Dengan kecepatan yang luar biasa, kedua binatang ilahi itu membawa seluruh rekannya keluar dari kebun bunga pemangsa yang cukup luas.


Ryu kogane menurunkan seluruh rekannya, setelah cukup jauh dari kebun tersebut. Sebuah padang rumput yang cukup luas dan terlihat tanah lapang yang hanya di tumbuhi rumput halus setinggi mata kaki.


"Aku dan Raiden bisa membawa kalian melewati tempat ini dengan lebih cepat jika kau mengijinkannya."


Genta kembali ke wujudnya semula dan segera mendekati Arnius yang wajahnya sudah terlihat merah menahan amarahnya.


"Selama hal itu tidak mengancam keselamatan semuanya aku pasti mengijinkan."

__ADS_1


Ucapan Arnius terhenti saat tubuh Genta membeku seketika dan hanya kepalanya yang tidak tertutup es tebal.


"Kau harus berhati-hati dengan tindakan mu naga besar, tidak semua orang bisa bertahan saat duduk di atas punggungmu. Mereka bisa terjatuh dan hal itu bisa membahayakan nyawa mereka semua."


Ketebalan es yang menutupi tubuh Genta semakin bertambah saat jari telunjuk Keiko menempel tepat di depan dada bidang sang naga emas.


"Ma .. Maafkan aku permaisuri ku, aku tidak akan mengulanginya."


Genta sedikit tergagap karena hawa dingin yang tiba-tiba menusuk hampir di seluruh kulit tubuhnya hingga hampir masuk ke dalam setiap tulangnya jika ia tidak segera mengeluarkan hawa panas tubuhnya.


"Aku akan menuruti semua perintah mu permaisuri ku, maafkan aku."


Genta memasang wajah memelas dan segera berlutut di hadapan Keiko setelah es yang menutupi seluruh tubuhnya mencair terkena hawa panas dari dalam tubuhnya.


"Kau harus lebih berhati-hati dengan semua tindakan mu jika tidak es abadiku benar-benar akan membekukan tubuh mu."


Keiko bergegas pergi dari hadapan Genta sebelum amarahnya kembali memuncak.


"Sepertinya gadis kecilku lebih pantas menjadi tuan mu dari pada diriku."


Arnius melipat kedua tangannya serta tersenyum kecil saat melihat ekspresi wajah Genta yang begitu ketakutan.


"Lebih baik jika kau yang memarahi diriku dari pada calon permaisuri ku yang marah."


Genta tertunduk lesu.


"Sepertinya kau akan kesulitan membujuknya dalam beberapa hari ini."


"Selamat, kali ini kau benar-benar membuat tuan putri marah."


Minori menunjukkan dua jempol tangannya kemudian berlalu menyusul Keiko.


"Nona sepertinya tempat ini cukup luas jika nona ingin mengeluarkan classic pearl dan memindahkannya ke dalam giok hitam tuan tampan. Sehingga nona bisa membuat taman bunga yang indah sesuai keinginan anda nona."


Minori mensejajarkan langkahnya di samping Keiko.


"Benar cantik aku akan membantumu mengatur taman yang akan kau buat, kosongkan saja cincin ruang milikmu supaya taman yang kau buat bisa lebih luas."


Genta bergegas menyusul Keiko.


"Diam kau naga besar, hanya Minori yang akan membantuku."


Keiko mengibaskan tangannya dan mengeluarkan classic pearl.


"Oh sayangku, aku merindukanmu."


Zen berlari memeluk badan kapal classic pearl yang begitu besar.


Arnius segera mengibaskan tangannya dan classic pearl berpindah ke dalam giok hitam, seketika itu pula tubuh Zen tersungkur ke tanah.


"Ar tolong biarkan aku melepas rinduku kepada belahan jiwaku sebentar saja."

__ADS_1


Zen tertunduk lesu.


"Baiklah, sebaiknya kau periksa kapal itu dan perbaiki setiap kerusakan supaya saat kita pulang nanti, kita bisa menggunakannya kembali. Para kera dan yang lainnya akan membantumu."


Arnius kembali mengayunkan lengannya untuk memasukkan Zen ke dalam giok hitam.


**


Di dalam giok hitam begitu riuh, saat mereka melihat kilatan cahaya yang kembali terlihat dan memunculkan seorang gadis cantik di atas tempat tidur utama.


Luna bergegas memberikan pil obat untuk menyadarkan Yao Yin, serta menghilangkan gatal di seluruh tubuhnya dengan di bantu Memei yang terlihat begitu mengagumi bentuk tubuh serta wajah Yao Yin yang tertutup topeng kayu.


"Nona muda benar-benar cantik, pantas saja tuan muda begitu terpesona."


Memei bergumam pelan.


Meimei melangkah keluar setelah melihat Yao Yin sudah mulai membaik, dia mendekati Jung Bao yang masih serius memperhatikan mutiara putih yang menampakkan segala sesuatu yang terjadi di dunia luar.


"Tuan Jung Bao, sebaiknya kita mulai membangun istana untuk nona muda kita nantinya. Tidak mungkin dia harus tidur tanpa dinding ataupun sekat lainnya."


"Baiklah, kau urus itu bersama yang lainnya. Ah... Lihatlah tuan muda begitu marah dengan tindakan panglima naga, namun sepertinya kemarahan nona kecil lebih mengerikan."


Jung Bao terus memperhatikan mutiara putih.


Memei melangkah meninggalkan Jung Bao dan mulai membawa banyak hewan lainnya untuk segera membangun istana yang diinginkannya.


Para hewan besar bergegas membantu membuat dinding sesuai dengan arahan para burung, dinding yang terbuat dari berbagai batu berharga yang sudah diatur sedemikian rupa oleh para burung hingga membentuk dinding yang kokoh dan indah.


Sekat ruangan mulai di buat dan ditata rapi, berbagai jenis batu yang memiliki warna serta bentuk yang seragam menambah keindahan istana kecil yang dibuat oleh para bintang. Ruang makan, ruang tidur dan bahkan kamar mandi sudah di tata rapi sesuai keinginan Memei. Bersamaan dengan para burung yang telah menyelesaikan atap istana, Meimei mulai mengatur dekorasi ruangan.


Bagi para hewan besar rumah yang mereka bangun hanyalah istana kecil karena tubuh mereka yang besar serta saat memasuki pintu rumah hanya muat untuk dilewati satu binatang saja. Namun bagi seorang manusia rumah itu merupakan sebuah istana yang besar dan megah karena bahan yang mereka gunakan tidaklah berasal dari bangunan kebanyakan, serta ukurannya yang sangatlah besar.


Tidak butuh waktu lama untuk membangun sebuah istana kecil bagi mereka, karena puluhan hewan yang ada di dalam giok hitam saling bekerja sama.


Taman bunga mulai dibuat untuk menghiasi sekitar istana, tak lupa kolam ikan ataupun air terjun kecil menghiasi sudut halaman istana. Memei mulai memindahkan tubuh Yao Yin yang masih tidak sadarkan diri ke dalam kamar di istana yang baru saja mereka selesaikan, setelah Jaku selesai membuat tempat tidur yang besar dan begitu nyaman dari bulu-bulu halus para domba yang ada di peternakan mereka.


Seekor burung merak berbulu hijau kebiruan nampak berdiri di samping Memei yang tidak pernah bosan memandang wajah Yao Yin yang tertutup topeng kayu.


"Jaku kau yang bertanggung jawab untuk menjaga istana kecil ini tetap bersih, pilihlah beberapa angsa atau siapapun yang bisa membantumu melakukan tugas di sini."


Memei menatap Jaku sekilas.


"Aku akan berusaha melakukan tugas ku dengan baik nyonya Mei, terimakasih sudah mempercayai ku."


Suara lembut Jaku terdengar begitu lirih.


"Ku dengar kau sudah menyelesaikan latihan serta pertapaan panjang mu, hingga kau mampu berubah menjadi manusia jika ada seseorang yang mau memberikan setetes darahnya dengan suka rela untukmu."


"Benar nyonya Mei, namun aku ragu akankah ada seorang gadis yang rela memberikan setetes darahnya untuk merak yang buruk rupa ini."


"Aku akan membantumu untuk mengatakan semua keinginan mu kepada panglima naga, beliau pasti bisa membantumu."

__ADS_1


"Terimakasih nyonya."


__ADS_2