
Setelah bercengkrama sesaat bersama kedua gorila batu, Ai Sato dan Yao Yin kembali berjalan-jalan di sekitar hutan. Keduanya terlihat begitu akrab layaknya seorang adik dan kakak. Menurut Yao Yin sifat Ai Sato lebih dewasa dan juga tidak pernah bergelayut manja seperti halnya Keiko, adik iparnya yang begitu dirindukannya.
Seina dan Jaku hanya memperhatikan keduanya dari kejauhan, mereka merasa tidak ada aura jahat di sekitar tempat tersebut. Sehingga membiarkan kedua perempuan itu berjalan berdua. Begitupun Akira, harimau merah itu hanya melihat sekilas saat mendengar tawa serta perbincangan kedua wanita yang selalu menjadi pusat perhatiannya akhir-akhir ini.
"Kakak sebaiknya kita kembali, jangan terlalu jauh. Aku takut jika tuan muda tampan ini nantinya kelelahan. Bukankah sudah waktunya ia lahir?"
Ai Sato mengusap perut besar Yao Yin.
"Sembilan bulan hampir berlalu, itu artinya bayi ini akan segera lahir. Semoga ia segera menemukan cara untuk ke pergi ke negri ini."
"Itu pasti, suami kakak pasti bisa menemukan cara ke tempat ini. Tapi... Butuh waktu yang cukup lama dan juga keahlian khusus untuk mempelajari segel pemindah. Apalagi rentan waktu antara bumi dan negri ini, sangatlah jauh berbeda. Ibu pernah berkata, jika satu hari di negri bulan ini sama dengan satu jam di bumi. Jadi, kakak ipar hanya memiliki waktu delapan hingga sembilan hari di bumi."
Yao Yin hanya menunduk seraya mengusap perut besarnya.
Seorang pemuda tersenyum licik dari balik topeng hitamnya. Sudah lama ia duduk di atas sebuah pohon besar yang tidak jauh dari tempat dua orang wanita yang sedang berjalan perlahan.
"Akhirnya kau keluar dari sarang naga."
Aura pemuda itu hampir tidak dirasakan oleh Yao Yin maupun Ai Sato. Hingga sebuah jarum panjang menancap di punggung ke dua wanita itu.
"Minori.."
Yao Yin sempat mengusap gelang bening yang selalu melingkar di tangannya, sebelum tubuhnya terkulai lemas di tanah dan tidak sadarkan diri. Begitupun tubuh Ai Sato yang langsung terjatuh di atas rerumputan.
Fudo yang tadinya hendak mengalirkan api ke tubuh Yao Yin, mendadak terhenti. Karena ia merasakan tubuh wanita itu tidak lagi kuat untuk menerima energinya.
"Segel pemindah. Pergi dan temukan merak hijau itu, dia tahu apa yang harus dilakukan. Aku akan menjaga nona Yin."
Seolah pedang hitam Arnius tersebut memiliki nyawa dan mengerti ucapan seseorang. Fudo yang sudah membara melesat setelah mendengar ucapan Minori. Sementara tubuh Yao Yin dan juga Ai Sato sudah menghilang dari tempatnya semula.
__ADS_1
Kekuatan black diamond yang sudah membara dapat dirasakan oleh semuanya. Jaku dan Seina bergegas melesat untuk mencari keberadaan kedua nona mereka.
"Fudo.."
Jaku menatap pedang hitam tuan mudanya yang sudah membara, tanpa terlihat tubuh Yao Yin di sekitar tempat tersebut. Seina pun tidak melihat keberadaan nona kecilnya.
"Nara.."
Jaku kembali berteriak setelah menyadari semuanya. Seekor harimau putih berlari mendekat dan menyambar tubuhnya.
"Pegangan yang kuat, aku akan mengikutinya."
Jung Nara mengaum keras dan segera melesat mengikuti Fudo yang sudah terlebih dahulu melesat. Jaku memeluk erat tubuh besar Jung Nara, supaya tubuhnya tidak terjatuh dari punggung harimau putih tersebut.
Pekik Phoenix terdengar di udara. Kali ini bukan burung biru kecil yang melayang, melainkan seekor Phoenix biru membentangkan sayapnya di angkasa. Tanah mulai berguncang, batang dan ranting pohon mulai berhamburan saat Doulu dan Dielu berlari setelah mendengar pekikan Phoenix biru yang kini melayang cepat di hadapan mereka dan terlihat jelas oleh kedua mata gorila batu tersebut.
Akira, Jung Nara dan beberapa hewan lainnya Yang telah merasakan aura black diamond, ikut berlari mengikuti Fudo. Mereka terus berlari dengan menghindari setiap batang pohon dan juga batu yang ikut terlempar karena langkah kaki gorila besar yang terlihat begitu geram.
Jaku mengguratkan jarinya di atas lengan kirinya yang masih mencengkram erat tubuh Jung Nara.
Keiko yang masih terduduk di atas punggung Naru, sempat melihat cahaya keluar dari cermin batu yang terselip di pinggangnya. Ia bergegas mengambilnya dan mulai membaca pesan yang tertulis.
Sementara di istana naga, Sinziku terlihat begitu kesal karena tidak bisa menemukan Yao Yin dan juga Jaku. Ke tiga kakaknya sudah ia kumpulkan untuk membantunya mencari Yao Yin yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya.
"Aura ini..."
Hitoshi bergumam perlahan, saat ia merasakan aura black diamond yang begitu besar. Tanpa di komando tubuh ke empat naga tersebut melesat cepat mengikuti aura yang begitu dikenalnya.
Terlihat pepohonan yang tumbang, serta batu dan tanah yang berserakan, pekik Phoenix biru kembali terdengar. Ke empat naga semakin mempercepat laju terbang mereka dan segera menyusul semua yang sudah terlebih dulu melesat di depannya. Fudo yang sudah terbakar hebat, terus melesat mencari keberadaan istri tuan mudanya.
__ADS_1
Beberapa sulur tanaman rumput biru perak terlihat merambat cepat memasuki kediaman para the Beast, setelah Seina mengirimkan pesan melalui beberapa rumput biru yang tumbuh hampir di sepanjang tempat tersebut.
"Putri ku..."
Makaira melesat keluar dari kediamannya, setelah mengirimkan pesan kepada suami serta adik iparnya.
"Siapa lagi yang berulah kali ini?"
Zuraya terlihat begitu geram, dengan cepat ia melesat bersama dengan Boulu. Gorila batu terkuat yang selalu menjadi rekannya di medan pertempuran. Tanpa goyah sedikitpun, Zuraya berdiri dengan tegak di atas pundak Boulu. Sebuah pedang besar terselip di punggungnya. Pedang yang panjangnya hampir sama dengan tinggi tubuhnya.
"Akan ku bunuh siapapun yang berani menyentuh gadis kecilku."
Grrrrr...
Geraman keras menyahut ucapan Zuraya yang masih berdiri dengan tenang di atas bahu Boulu yang selalu terguncang.
"Aura ini menuju ke lereng Oyo."
Jung Nara bergumam perlahan.
"Tempat yang pernah kau sebutkan dalam laporan penyelidikan mu kepada nyonya muda?"
"Benar. Pangeran bulan itu benar-benar bernyali besar, hingga ia berani menculik nyonya muda bersama dengan putri peri rumput biru perak."
Jung Nara telah menyelediki bahwa orang yang telah membantu pangeran Arashi menemukan keberadaan Yao Yin adalah bangsawan Yama. Sebuah keluarga bangsawan yang telah menghuni lereng Oyo selama ratusan tahun, hingga mencapai puluhan generasi.
Keluarga bangsawan Yama begitu terkenal akan perdagangannya, termasuk perdagangan manusia. Dari hasil penyelidikan Jung Nara, mereka juga memiliki peternakan manusia. Hal itulah yang membuat Yao Yin begitu geram, setelah mendengar laporan penyelidikan dari harimau putih tersebut.
Manusia merupakan barang berharga bagi para kaum iblis dan bahkan binatang ilahi. Selain dagingnya, menyerap daya hidup seorang manusia merupakan sesuatu yang bisa menambah kekuatan bagi iblis maupun seekor binatang ilahi yang ingin bertubuh manusia tanpa harus melalui pelatihan yang panjang.
__ADS_1
Daya tahan tubuh setiap manusia berbeda, sehingga bagi manusia yang berhasil hidup melewati lintas waktu antara bumi dan negri bulan yang begitu besar, mereka terhitung manusia yang kuat. Para wanita yang bisa bertahan hidup di tempat itu, di haruskan untuk melahirkan hingga membesarkan anak mereka hanya untuk diperjual belikan.
Dan jika kondisi tubuh mereka sudah melemah, maka daya hidup mereka akan di jual dengan harga yang pantas. Pada akhirnya, manusia hanyalah barang dagangan di tempat tersebut.