
"Kogane, sebaiknya kita mengunjungi orang tua mu sebelum kembali ke bumi."
Genta hanya membuang muka saat mendengar ucapan sahabatnya.
"Dimana nona Sin, kenapa aku belum melihatnya?"
Arnius kembali berucap.
"Mungkin bersembunyi di lubang semut."
Genta masih terlihat tidak perduli.
"Kenapa, apa kau sudah membuatnya kesal?"
"Haah.. Gadis itu benar-benar menolak untuk dipulangkan."
Genta menghembuskan nafas kasar.
"Sekalipun dia ingin mengikuti mu, kau harus memberitahukan kepada orang tua mu dan juga saudara mu yang lain. Baiklah, ayo kita pergi ke istana naga sekarang. Kau yang akan membawaku, lakukan dengan cepat. Tapi sebelumnya kita harus menemukan adik perempuan mu itu dan membawanya serta."
Arnius memperhatikan satu persatu beberapa perempuan yang masih berdiri di tepi sungai. Pria itu mengamati satu persatu wajah-wajah cantik yang selalu bersama dengannya.
Senyum kecil tersungging di wajahnya, saat ia menemukan seseorang yang sedang dicarinya. Seorang gadis cantik berdiri di samping adik perempuannya. Gadis itu seolah ingin menyembunyikan tubuhnya supaya tidak terlihat oleh seseorang.
Sinziku berusaha berlindung di antara tubuh Keiko, Yao Yin, Jaku dan juga Minori. Gadis itu tahu bahwa sejak kemarin kakak tertuanya selalu mencarinya dan berusaha membujuk untuk kembali ke istana naga.
"Aku sudah menemukannya."
Arnius tersenyum kecil.
"Mana, di mana gadis itu? aku tidak melihatnya sejak kemarin."
"Akan aku pastikan adik mu akan ikut ke istana naga. Sekarang tunjukkan naga emas ku."
Genta hanya menanggapi ucapan Arnius dengan senyum kecil, sebelum ia melesat ke angkasa dan merubah tubuhnya. Seekor naga emas kini terlihat melayang di atas langit.
"Ayah akan pergi sebentar. Apa kalian akan ikut?"
Arnius memandang dua anaknya yang masih asyik bermain air.
"Tunggu ayah, aku ikut."
Kana dan Ryota bergegas keluar dari dalam air dan berlari mendekati ayah mereka.
"Keringkan tubuh kalian terlebih dahulu."
Kedua bocah kecil itu bergegas memutar tubuhnya seraya mengeluarkan energi masing-masing. Hanya dalam sekejap keduanya sudah tidak lagi memakai pakaian yang basah.
"Waaoooo... Ayah, apakah itu ular terbang?"
__ADS_1
Kana menunjuk sosok naga emas yang saat ini melayang di atas mereka.
"Ular terbang kepalamu, dasar monster kecil."
Genta mengumpat dalam hati, saat mendengar ucapan kedua keponakannya.
"Itu namanya naga."
Yao Yin mengusap lembut rambut putri kecilnya yang terlihat masih sedikit berantakan. Namun gadis kecil itu seolah tidak sabar jika harus menunggu hingga ibunya selesai merapikan rambut serta pakaiannya. Kana berulang kali menggelengkan kepalanya hingga rambut miliknya sudah tertata rapi dan bahkan sempat berubah warna.
"Ayo cepat ayah, aku ingin sekali naik ular itu."
Kana dan Ryota terlihat benar-benar tidak sabar. Selama ini memang mereka tidak pernah melihat sosok lain dari paman mereka yang satu ini. Bahkan sosok sang Phoenix merah pun belum pernah mereka jumpai.
Sinziku berniat pergi meninggalkan tempat itu dengan mengendap-endap perlahan, namun Arnius menyadarinya. Pria itu bergegas mengibaskan lengannya, hingga semua perempuan cantik itu masuk ke dalam giok hitam.
Dengan menggendong tubuh kedua anaknya di lengan kiri dan kanannya. Arnius melesat ke atas untuk mendekati naga emasnya. Kana dan Ryota begitu gembira saat mereka mulai duduk di atas punggung sang naga emas.
"Pegangan yang kuat dan jangan sampai terjatuh."
"Pasti. Ayo terbaaang."
Kana dan Ryota berteriak kegirangan. Ryu kogane benar-benar melesat cepat, membelah lautan awan yang menghiasi angkasa. Semakin cepat pergerakan naga emas itu, maka semakin keras pula teriakkan kedua bocah kecil yang saat ini duduk di atas punggungnya.
"Jangan berteriak terus, tutup mulut kalian jika tidak ingin menelan serangga."
Arnius hanya berusaha memperingatkan kedua anaknya tanpa ingin mencegah apapun yang ingin dilakukan dua bocah kecil itu.
Berulang kali Kana dan Ryota berteriak karena begitu gembira.
"Kemana kita ayah?"
Ryota mulai mengajukan pertanyaan.
"Mengantarkan bibi Sinziku pulang."
"Waah ke istana naga."
Kana semakin kegirangan.
"Kalian mengetahuinya?"
"Tentu saja. Bibi Sin pernah bercerita tentang rumahnya. Di sana juga ada paman harimau merah. Ayo lebih cepat lagi."
Arnius hanya tersenyum kecil saat menanggapi celotehan dari putri kecilnya. Pria itu sedikit terkejut karena kedua anaknya sama sekali tidak terpengaruh, walaupun naga emasnya terbang dengan kecepatan yang luar biasa.
Jika yang duduk di atas punggung naga emas saat ini adalah kapten Zen ataupun Zora, pastilah saat ini mereka sedang memeluk erat tubuh naga emasnya. Namun kedua anaknya ini seolah tidak memiliki rasa takut dan bahkan mereka bisa duduk tenang seraya merentangkan kedua tangannya.
Sementara itu di dalam giok hitam, Sinziku terlihat begitu kesal. Gadis cantik itu berulang kali menghentakkan kakinya serta mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Tuan putri, setidaknya kau harus bertemu dengan orang tua serta semua saudara mu sebelum kau memutuskan untuk ikut kami ke bumi."
Yao Yin berusaha menasehati putri dari istana naga tersebut.
"Mereka pasti tidak akan mengijinkan."
Sinziku semakin kesal.
"Jadi kau ingin membuat kakak tertua mu itu di benci oleh semua saudara mu, karena telah membawa pergi adik perempuan mereka."
"Tentu saja tidak. Tapi mereka pasti akan melarang ku untuk pergi ke bumi bersama dengan kalian."
"Tapi kau adalah putri dari istana naga, dan sudah seharusnya kau tinggal di tempat ini."
"Menyebalkan."
Yao Yin hanya tersenyum kecil saat melihat tingkah adik perempuan Ryu kogane tersebut. Ryu kogane mulai sedikit melambat, setelah ia melihat sebuah istana besar dihadapannya.
Sebuah segel pelindung terlihat menutupi seluruh bagian wilayah istana tersebut bahkan juga di atasnya.
"Kemampuan pria yang hanya duduk di atas kursi beroda itu memang tidak bisa di pandang sebelah mata."
Genta bergumam di dalam hati, kemudian mulai turun dari ketinggian. Arnius mengangkat kedua tubuh anaknya dan meluncur turun dengan perlahan.
"Paman harimau merah."
Arnius sontak menutup kedua telinganya dengan energi dari dalam tubuhnya, saat kedua anaknya berteriak memanggil seseorang yang berada di bawah. Akira melambaikan tangannya setelah mendengar suara yang begitu dikenalinya.
"Pagi tuan muda. Waah kalian terlihat begitu gembira, akhirnya kalian bertemu dengan ayah kalian. Tuan komandan."
Akira sedikit menunduk di hadapan Arnius. Kana dan Ryota tidak lagi memperhatikan Akira, melainkan seseorang yang baru saja mengubah tubuhnya dan meluncur turun dari ketinggian.
"Paman Ryu. Waaoooo keren."
Kedua bocah kecil itu semakin terlonjak setelah melihat perubahan tubuh dari paman mereka tercinta.
"Apa kalian baru mengetahuinya. Paman kalian itu yang terbaik."
Akira mengusap lembut rambut kedua bocah kecil yang masih berada dalam gendongan ayahnya.
"Apakah Aray pelindung di atas istana itu selalu aktif?"
Genta mendekati sosok panglima yang bertugas di perbatasan.
"Benar pangeran. Saya akan menyiapkan kereta untuk anda semua."
"Terimakasih panglima."
Arnius tersenyum kecil sebelum pria yang berada di hadapannya itu berlalu pergi. Arnius mulai mengeluarkan Yao Yin, Keiko, dan juga Sinziku dari dalam giok hitam.
__ADS_1
"Paman kenapa tidak sejak dulu, paman mengajak kami terbang bersama dengan mu. Paman Ryu yang terbaik."
Kana dan Ryota menunjukkan kedua ibu jari mereka ke arah paman mereka.