
Perbaikan Classic pearl mulai dilakukan. Karena memiliki anggota yang kuat dan cekatan, perbaikan tidak membutuhkan waktu yang lama. Semua Classic team terlihat saling bahu membahu, kecuali Chio yang saat ini masih berada di dalam istana naga.
Pria kecil itu terlihat ikut membantu Sinziku dalam mengamankan beberapa orang yang dicurigai sebagai kaki tangan panglima Chisen dan juga Chizan yang masih tersisa.
Ratu Kairi sudah kembali ke istana. Sebelumnya, Takara Kairi sempat meminta komandan Sato dan juga istrinya untuk ikut berkunjung ke dalam istana. Namun keduanya menolak dengan alasan untuk tetap menjaga perbatasan. Pasangan suami istri itu pun berpesan untuk segera menghubungi mereka, jika membutuhkan bantuan.
Takara Kairi pun meminta komandan Sato untuk menunjuk panglima lain yang akan bertugas di perbatasan, tentunya dibawah Akira Daisuke yang saat ini sudah berstatus sebagai menantu kerajaan naga.
Komandan Sato menyetujui hal itu, namun pria tua itu sangatlah mengetahui bagaimana hancurnya perasaan Akira. Jika dia dikeluarkan dari pasukan the beast. Jadi saat ini Akira Daisuke dinobatkan sebagai salah satu komandan pasukan the beast, yang akan tetap bertugas di perbatasan.
Akira hampir bersujud dihadapan Komandan Sato, jika pria tua itu tidak segera menahannya dengan energi spiritual miliknya. Semua pasukan the beast masih berjaga di sekitar perbatasan. Doulu dan Dielu bahkan terlihat duduk diantara pepohonan yang berjarak cukup jauh. Ai Sato terlihat duduk di bawah pohon yang cukup lebat dengan menggendong putri kecilnya, diantara kedua gorila batu tersebut.
Arnius memutuskan untuk memasukkan Ryota dan Kana yang masih sibuk bermain dengan Ryuma ke dalam giok hitam. Begitupun dengan Yao Yin dan juga Keiko. Tersisa semua pria dan juga Aina di atas Classic pearl.
Bahkan saat ini Seina terlihat diantara beberapa pasukan the beast. Istri dari Kin Raiden tersebut sedang berusaha mencari beberapa buah segar untuk diambil sarinya, sebagai makanan bagi nona kecil mereka yang sudah berusia hampir satu tahun.
Kazumi cenderung diam dan lebih sering memperhatikan setiap hal yang dilihatnya. Sifat dari sang ayah begitu melekat padanya. Putri cantik Eiji dan Ai Sato tersebut lebih banyak diam di bandingkan dengan kedua kakak sepupunya. Kazumi terlihat semakin cantik bila gadis kecil itu tersenyum. Namun wajah cantik itu seolah tidak pernah berekspresi. Maka dari itu, Ryota dan Kana begitu senang jika bisa membuat adik kecil mereka sedikit tersenyum dan bahkan lebih sering menangis karena keusilan keduanya.
Usai ikut memperbaiki kerusakan pada Classic pearl, Eiji beralih menuju ke perbatasan. Jika dia telah melihat sang komandan pasukan the beast, pastilah Doulu dan Dielu juga akan ada ditempat itu juga. Nalurinya pun mengatakan jika putri kecilnya ada di antara para binatang besar tersebut, bersama ibunya.
"Sudah ku duga, petir kecilku ada di sini."
Eiji muncul secara tiba-tiba dihadapan Kazumi yang sedang duduk untuk menghabiskan sari buah dalam botol minumnya. Namun secara refleks, gadis kecil itu mengeluarkan petir dari ujung telunjuknya. Hingga tepat mengenai tubuh sang ayah. Eiji pura-pura terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Hu.. Uuu... Ayah.. Maafkan Zumi. Zumi kira kak Ota dan kak Ana. Bangun ayah."
Dengan suara yang masih cadel, Kazumi terus mengguncang tubuh ayahnya. Ai Sato yang melihat kejadian itu, hanya menggeleng perlahan.
"Ayah dan keponakan, ternyata sama saja. Sama-sama usil."
Eiji duduk dan tertawa lepas, hingga membuat Kazumi menghentakkan kakinya berulang kali.
"Tenanglah gadis cantik. Dua kakak mu itu baru saja mendapatkan mainan baru. Jadi mungkin akan jarang mengganggumu."
"Dan mana hadiah untuk ku?"
"Zumi cantik mau hadiah?"
__ADS_1
"Hm."
"Ayah mendapatkan beberapa barang dari cincin ruang milih panglima kembar yang telah di tebas oleh kakak lelakimu. Namun ayah tidak tahu benda apa itu, jadi kita akan menanyakannya kepada nenek ratu. Bagaimana?"
"Ayo cepat ayah. Nenek ratu ada di sana."
Kazumi berusaha menarik tubuh ayahnya yang masih terduduk di rerumputan. Eiji hanya tersenyum dan bergegas melesat ke udara dengan membawa serta tubuh putrinya dan berputar-putar sesaat di udara. Kazumi tertawa lepas, hingga terdengar oleh beberapa orang. Termasuk kakek dan juga neneknya.
"Haah... Lihatlah, pria itu bisa membuat Zumi tertawa lepas. Aku bahkan sering membawanya bersalto di udara. Namun gadis itu tetap saja diam."
Komandan Sato menghela nafas panjang.
"Sudah satu tahun kita bersama dengannya. Mungkin sudah saatnya berpisah. Bagaimana jika aku merindukannya."
Makaira tertunduk sedih.
"Bagaimana jika kita ikut pergi bersama mereka. Ya... Walaupun cuma sebentar. Kan dengan begitu, kita bisa tahu letak keberadaan mereka. Jadi saat kita ingin bertemu lagi, kita sudah menemukan titik keberadaan mereka."
Komandan Sato berucap penuh dengan keyakinan.
"Apa kau lupa dengan tugas mu."
"Hanya untuk sebentar. Zuraya bisa menggantikan aku. Bahkan aku bisa mengambil masa pensiun lebih cepat."
"Kau pikir itu mudah."
Perdebatan dua pasangan yang sudah tidak muda lagi itu, tiba-tiba diam. Saat mengetahui ada seorang gadis kecil yang memperhatikan tingkah mereka.
"Hai Zumi cantik."
Makaira mendekat dan mencium pucuk kepala cucunya.
"Siapa yang akan pergi kakek?"
"Sebentar lagi Zumi akan bertemu dengan kakek dan nenek yang lain. Yaitu ayah serta ibu dari ayah Ji ji dan juga paman Nius."
"Hore. Kakek dan nenek wajib ikut Zumi juga."
__ADS_1
Komandan Sato merasa sedikit berbangga, karena ada yang mendukungnya.
"Kau dengar bukan, semua ucapan cucu cantik ku ini."
Komandan Sato mengangkat tubuh mungil Zumi, kemudian mengayunkannya sesaat.
"Kakek hentikan itu. Aku bahkan bisa berayun sendiri. Ups... Keceplosan."
Kazumi menutup mulutnya seketika.
"Apa ada rahasia di antara kita?"
Komandan Sato melihat cucu mungilnya penuh selidik. Selama ini memang Ai Sato tidak berkata apapun mengenai perkembangan fisik putrinya kepada orang lain, bahkan itu adalah ayahnya sendiri.
Kazumi lebih sering melatih kecepatan dan kelincahan tubuhnya di dalam hutan the beast, bersama dengan kawanan pasukan the beast. Meskipun terlihat seperti bermain, namun Ai Sato mengerti semua pergerakan putri kecilnya.
Bahkan saat Zumi meminta Doulu untuk duduk dan menangkapnya yang terus berlarian di sekujur tubuhnya pun gorila batu tersebut tidak mampu melakukannya.
Di saat tidak terduga, kilatan petir bahkan bisa muncul dari jari-jarinya dan tangannya. Namun saat ini Kazumi belum mampu menguasai dengan baik, bakat turunan yang diperolehnya dari sang ayah. Eiji dan Kin Raiden juga sempat merasa petir yang menyeruak dari tubuh mungil Kazumi, meskipun mereka terpisah jauh.
Melihat tatapan semua mata yang melihatnya penuh selidik, akhirnya Kazumi mulai memperagakan beberapa gerakan cepatnya.
"Yang bisa menangkap ku, akan mendapatkan hadiah dari ku."
Kazumi mengedipkan sebelah matanya, kemudian melesat cepat.
"Haiis... Gadis kecil ini berani menantang orang tua ini rupanya. Baik.. Akan kutangkap kau gadis kecil."
Komandan Sato melesat mengikuti pergerakan lincah Kazumi. Sementara Ai Sato dan Eiji hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil. Mereka berdua memperhatikan setiap pergerakan dari putri kecilnya.
Kazumi terus bergerak di antara para binatang besar yang duduk berjauhan di antara pepohonan. Mereka semua diam saat melihat pergerakan cepat dari cucu komandan mereka. Hampir semua pasukan the beast mengetahui jika gadis kecil itu mulai bergerak cepat, tidak akan ada yang selamat dari pukulan serta tendangannya meskipun tenaganya belum begitu kuat.
Makaira ikut serta dalam permainan yang di buat oleh Kazumi. Perempuan setengah baya tersebut juga ikut mengarahkan sulur peraknya, demi menangkap sang buah hati. Namun kedua kakek nenek itu benar-benar tidak tahu trik yang dimainkan oleh cucu kecil mereka.
Ai Sato bahkan berusaha menahan tawanya begitupun dengan Eiji serta para pasukan the beast. Saat melihat tubuh kedua orang tua tersebut terlilit sulur perak yang sejak tadi telah di permainkan oleh Kazumi.
"Ya dewa. Apakah dia monster baru berikutnya?"
__ADS_1
Komandan Sato mengeluh perlahan, karena saat ini tubuh keduanya menggantung terbalik diantara pepohonan. Makaira mulai mengendalikan sulurnya hingga tubuh mereka terlepas dari lilitan.