
Sebelum kembali melanjutkan perjalanan, Yao yin mengunjungi makam ibunya bersama dengan Arnius. Sekalipun keduanya hanya saling diam, namun berusaha untuk saling berjalan beriringan. Terutama setelah Yao yin berucap di depan makam sang ibu. Bahwa kali ini dia membawa seseorang, yaitu suaminya. Ucapan Yao yin benar-benar membuat Arnius sadar tentang status dirinya saat ini.
"Seharusnya mereka berdua bergandengan tangan. Kau lihat pelabuhan ini begitu ramai, Nona Yin bisa saja tertinggal atau mungkin diculik seseorang."
Yuki yang berdiri di atas anjungan kapal memperhatikan lalu lalang banyak orang di sekitar pelabuhan, termasuk Arnius dan Yao yin yang sedang berjalan perlahan mendekati Classic pearl.
"Setidaknya mereka masih berjalan saling beriringan."
Zora yang juga berdiri tidak jauh dari dirinya ikut berkomentar.
"Aaah yang penting dia sudah menikah, jadi diriku bisa kapan saja menikah dengan permaisuri ku."
Genta yang sedari tadi hanya berbaring serta senyum-senyum sendiri ikut pula dalam pembicaraan mereka.
"Dalam mimpi mu."
Hanya dalam sekejap tubuh Genta di selimuti es tebal, saat Keiko mendengar ucapannya. Namun lapisan es tersebut meleleh secara perlahan, mulai dari kepala Genta.
"Kenapa kau mau marah kei, memangnya siapa permaisuri ku? belum tentu itu dirimu kan?"
Genta menghirup nafas panjang setelah berhasil melepaskan kepalanya dari bongkahan es tebal Keiko.
"Bagus, sekarang kau punya yang lain. Kau ingin aku benar-benar mencincang tubuhmu?"
Suara gemeretak jari-jari tangan Keiko yang di tekuk terdengar keras.
"Tidak cantik ku, aku tidak punya yang lain. Hanya dirimu, sumpah."
Genta mencoba bersimpuh setelah tubuhnya benar-benar terbebas dari bongkahan es tebal.
"Diam kau naga besar. Sekarang berdiri kemudian angkat sebelah kakimu dan pegang kedua daun telinga mu. Ingat jangan pernah bergerak untuk menurunkan sebelah kakimu, atau aku akan memilih untuk menikah dengan orang lain. Minori tutup mulutnya."
Minori mulai menutup mulut Genta dengan kain tebal. Genta hanya mengangguk setelah mendengar ucapan gadis bertubuh mungil tersebut. Keiko mengambil satu bulu dari ayam besar yang baru saja selesai di bersihkan oleh Jaku dan juga Memei untuk makan malam mereka. Kini Genta harus benar-benar bertahan untuk tidak menurunkan tangan ataupun kakinya saat Keiko mulai menggelitik tubuhnya dengan bulu ayam besar.
"Apa yang dia lakukan hingga kau menghukumnya seperti itu?"
Arnius sedikit tertawa melihat wajah Genta yang berjuang menahan geli di sekujur tubuhnya.
"Naga besar mu bilang bahwa dia memiliki permaisuri yang lain."
"Baguslah kalau dia mulai bisa berpindah ke lain hati."
"Kakak, kenapa begitu?"
Keiko sedikit berlari mendekati Arnius yang mulai berjalan menjauh.
"Bukankah kau tidak mau selalu di ganggu oleh Genta?"
"Tapi kakak aku...."
__ADS_1
"Kau kenapa? jangan katakan kau sudah menyukai naga besar ku."
"Kak Eiji, kak nius menyebalkan."
Keiko beralih mendekati Eiji yang hanya tersenyum kecil saat melihat seluruh tingkah adik perempuannya. Sementara Genta terduduk lemas setelah sekian lama menahan geli.
"Kapten, apa kapal siap untuk berangkat?"
"Tentu saja komandan. Naikan jangkar."
Zen mulai memberikan aba-aba untuk kembali melanjutkan perjalanan. Classic pearl kembali melayang di udara, beberapa orang di pelabuhan terlihat melambaikan tangan. Yuki yang masih berdiri di anjungan kapal setelah menaikan jangkar, membalas lambaian tangan mereka.
"Kita ke istana, tugas kita sekarang adalah mengantarkan pangeran beserta Azumi, panglima Haruka dan juga Zora kembali ke istana dengan selamat."
"Siap komandan."
"Bagaimana dengan kau Wu Ling?"
Arnius menatap Wu Ling yang masih sibuk membantu menyiapkan meja makan.
"Entahlah, mungkin aku akan kembali ke perguruan terlebih dahulu untuk melaporkan semuanya."
"Dan kau Yuki?"
"Aku akan melihat keluarga ku yang masih tersisa, aku akan pulang sendiri saja. Kita akan berpisah setelah tiba di pegunungan Nagano."
"Baiklah, terserah kalian saja."
Sayuri menunduk hormat di hadapan semuanya.
"Baiklah, sekarang nikmati perjalanan kalian."
"Jangan melihat ku seperti itu, aku akan mengantarkan kalian semua pulang. Sementara kapal ini adalah rumah ku, jadi aku bisa ke mana saja sesuka hati ku."
Zen menjawab setiap tatapan mata yang terarah kepada dirinya.
"Ar, jika kau ingin kembali bertualang jangan lupa kumpulkan kami semua."
"Pasti."
Arnius tersenyum kecil setelah menjawab ucapan Wu Ling.
"Mungkin kita akan kembali berkumpul di hari per.... ah maksud ku hari kelahiran keponakan tersayang ku."
Kedua alis mata Genta bergerak naik turun berulang kali, disertai senyuman yang menampakkan deretan gigi putih miliknya.
"Kau bisa menebas kepalanya jika kau mau, istirahatlah."
Arnius berjalan mendekati Yao yin yang mukanya terlihat merah setelah mendengar ucapan Genta. Kemudian ia kembali berjalan ke dalam ruang kemudi usai berkata singkat. Sementara Genta menyentuh lehernya yang terasa sedikit nyeri.
__ADS_1
Makan malam berlangsung tenang, tanpa ada keusilan dari Genta dan juga Kin Raiden. Semua kembali mencari tempat favorit masing-masing untuk sekedar beristirahat melepas lelah setelah makan malam usai.
Perjalanan yang tenang kembali terasa, hingga berlangsung selama beberapa hari. Saat panas matahari begitu menyengat, terdengar pekik elang dari kejauhan. Kin Raiden bergegas melayang untuk mencari keberadaan burung tersebut, seolah suara pekik burung itu adalah panggilan untuknya.
Kin Raiden kembali menapakkan kakinya di atas Classic pearl dengan membawa seekor elang yang bertengger di sebelah lengannya.
"Elang pengantar pesan dari eagle rocks."
Haruka berjalan mendekati Kin Raiden yang masih berusaha mengeluarkan sesuatu dari bambu kecil yang terikat pada kaki elang.
"Anakku tolong kirim kabar, tuan Yaza juga mengunjungi istana untuk mencari kabar kalian."
"Mereka mengunjungi istana dengan harapan mendapatkan kabar dari kita semua, sementara kita sama sekali tidak bisa mengirimkan kabar apapun."
Haruka berucap pelan setelah membaca isi dari pesan tersebut.
"Tapi apa burung ini masih bisa mengantarkan pesan balasan kepada mereka? elang ini terlihat begitu lelah."
Naoki membelai lembut sayap burung yang masih sibuk menyantap daging pemberiannya.
"Burung itu sudah sangat lelah untuk segera terbang kembali, dia sudah terbang berkeliling untuk mencari keberadaan diriku. Sekalipun mereka menyuruh elang pengantar pesan terbaik, tetap saja elang ini butuh istirahat untuk kembali ke istana ataupun eagle rocks."
Kin Raiden memasukkan sebuah pil kecil ke dalam mulut elang.
"Tulis pesan bahwa kita baik-baik saja dan akan segera kembali ke istana, kita akan mengirimkannya setelah burung ini siap."
Naoki kembali membelai tubuh burung yang tidak begitu besar tersebut, sementara Haruka mengangguk perlahan dan mulai mempersiapkan alat tulis.
"Keiko san, siapa itu tuan Yaza?"
Yao yin berjalan mendekati Keiko yang masih terlihat kesal
"Ayah Yaza dan ibu Gina adalah kedua orang tua kami, mereka pasti akan sangat senang mendapat menantu secantik kakak Yin."
Sikap Keiko seketika berubah manja ketika mendengar ucapan halus dari sang kakak ipar. Sementara Yao yin hanya mengangguk perlahan.
Malam mulai menggantikan siang, bulan hanya terlihat setengah saat ini. Meskipun begitu, tidak mengurangi keindahannya saat menerangi seluruh langit yang gelap. Seperti biasanya kedua kakak beradik itu tidur beratapkan langit malam.
"Kakak kau sudah memiliki istri, tapi kenapa kau masih saja tidur di sini bersamaku?"
Eiji mendudukkan tubuhnya, serta memandang Arnius yang sudah mulai memejamkan matanya.
"Apa sifat usil Genta menular kepadamu?"
Arnius menjawab tanpa merubah posisinya ataupun membuka kedua matanya.
"Bukannya begitu, setidaknya temani lah kakak Yin. Jangan sampai naga besar itu merebut posisimu."
"Kau ini, cepat tidur dan jangan bicara yang bukan-bukan. Kau tidak dengar dengkuran yang begitu keras dari atas tiang layar itu, kedua binatang itu mendengkur seolah tidak ada orang lain yang mendengarnya."
__ADS_1
Arnius memiringkan tubuhnya untuk mencoba memasuki alam mimpi.