Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kolam lahar panas


__ADS_3

"Ar.. Bagaimana kalau kita tidur sebentar?"


Kuma kembali mengeluh, karena saat ini mereka menuruni ratusan anak tangga yang hanya terbuat dari bebatuan yang bahkan tidak tersusun secara rapi.


"Kau akan tidur jika kita sudah berada di tempat yang lebih aman."


Arnius terus melangkah ke depan. Pria itu menjentikkan ibu jarinya, hingga muncul api kecil di ujung jarinya. Tempat di hadapan mereka ini semakin lama, semakin minim cahaya.


"Jika yang kau cari adalah batu api neraka. Bukankah seharusnya batu itu membara di selimuti oleh api. Tapi kenapa tempat ini malah semakin gelap."


Kin Raiden yang berada di barisan paling akhir ikut berkomentar.


Zora melempar sebuah batu yang tidak begitu besar ke arah Arnius, pria itu menangkapnya dengan baik. Arnius sebelumnya hendak bertanya kepada sensei muda tersebut tentang kegunaan batu yang telah ia lemparkan, namun ia mengurungkan niatnya setelah melihat batu yang ada di dalam genggamannya kini mengeluarkan cahaya hingga mampu menerangi sekitarnya.


Mereka terus berjalan perlahan menyusuri lorong yang memang hanya ada satu. Sejak mereka mulai memasuki tempat tersebut, hanya terdapat satu lorong dan tidak menemukan lorong yang lain.


"Apa ini memang hanya perasaan ku atau kalian juga merasakannya?"


Wu Ling yang sedari tadi selalu mengawasi dinding batu di sekitar mereka mulai mengutarakan apa yang dia rasakan.


"Apa maksud mu? Aku hanya merasakan saat ini kita tidak lagi berjalan menaiki puncak gunung, melainkan menurun."


Zora ikut mengutarakan apa yang ia rasakan.


"Aku sama sekali tidak mengendalikan udara di sekitar ku, karena tempat ini tidak lagi terasa panas seperti sebelumnya."


Wu Ling kembali berucap.


"Benar, tempat ini sama sekali berbeda dengan udara di luar. Dan sepertinya memang saat ini kita tidak lagi berjalan naik, melainkan turun. Meskipun tempat ini datar tanpa adanya anak tangga, tapi kita memang sedang menuruninya."


Eiji ikut membenarkan ucapan Wu Ling dan juga Zora. Kin Raiden yang sejak tadi terlihat diam dan sesekali memejamkan matanya mulai memberikan tanggapan.


"Saat ini kita berada di sisi lain gunung."


Semua rekannya sedikit terkejut saat mendengar ucapan Phoenix merah tersebut. Mereka bahkan serentak berhenti melangkah, namun kini mereka kembali berjalan seperti biasa setelahnya.

__ADS_1


Cahaya dari batu yang di pegang oleh Arnius mulai meredup, karena lorong yang ada di hadapan mereka saat ini sudah tidak lagi gelap seperti sebelumnya. Dinding batu yang berada tidak jauh dari hadapan mereka terlihat berlubang besar sehingga tempat di sekitarnya pun terkena terpaan sinar matahari.


"Berhati-hatilah, bisa saja ada penjaga di tempat itu."


Zora yang berjalan di tengah berbisik perlahan, ia tidak ingin ada sesuatu yang bisa menyakiti rekannya. Eiji mulai memasang segel pelindung, Wu Ling yang berjalan di belakang bersama Kin Raiden pun mulai ikut menyiapkan segel.


Dengan penuh kehati-hatian, Arnius mulai melewati dinding batu yang berlubang besar hingga menyerupai sebuah pintu tersebut. Setelah melihat disekitarnya, pria itu tidak melihat apapun selain jalanan berumput hijau yang kini dipijaknya.


Arnius terus melangkahkan kakinya hingga tiba di sebuah taman yang indah. Suara gemericik air sungai terdengar jelas di telinga, beberapa pepohonan yang berbuah lebat serta bunga-bunga yang bermekaran semakin menambah indahnya tempat tersebut.


Kuma yang melihat semua itu, tidak lagi bisa menahan perut laparnya. Beruang besar itu saat ini sudah berada di atas sebuah dahan pohon, mulutnya seakan tak mau berhenti mengunyah semua buah-buahan segar itu.


Chio dan juga Shiro juga ikut memetik beberapa buah. Wu Ling dan Zora juga melakukannya, namun mereka lebih suka untuk menyimpannya ke dalam cincin ruang yang mereka miliki.


"Jangan lupa untuk menyimpan beberapa, ingatlah saat kau merasa kelaparan dan kehausan."


Zora sedikit mengingatkan. Kuma bergegas mengumpulkan semua buah yang dilihatnya setelah mendengar ucapan sensei muda tersebut. Chio mulai meminta Yuki untuk membuat semua pohon itu menggugurkan buahnya. Sementara Shiro diminta untuk mengisi kembali tempat air mereka yang telah kosong.


Arnius terus berjalan menyusuri setiap sudut dari tempat itu namun tidak ada hal yang terlihat aneh di matanya. Ia kembali melangkah mendekati batu yang berada tepat di tengah taman tersebut.


"Apa kalian sudah selesai?"


Arnius melihat semua rekannya. Tanpa di beri aba-aba, semuanya segera menyelesaikan kegiatannya dan bergegas mendekati komandan mereka.


"Aku akan mencoba untuk menggeser letak batu ini. Apapun yang terjadi, kalian jangan sampai terpisah."


Arnius kembali berucap. Semua rekannya berjalan lebih mendekat, bahkan Kuma tak segan memeluk erat lengan Eiji. Kin Raiden meminta yang lainnya untuk berdiri di belakangnya, sehingga ia bisa tetap menjaga keselamatan semuanya dan juga membantu Arnius.


Suara derik batu yang bergeser terdengar begitu jelas saat Arnius dan Kin Raiden mulai menggeser letak batu besar tersebut. Tanah yang mereka pijak terasa sedikit bergetar. Semua anggota Classic team yang berada di tempat itu spontan bergandengan tangan, setelah mendengar serta merasakan hal yang tidak biasa.


Ketegangan berlangsung sesaat, sebelum akhirnya semua itu berhenti. Kedua mata Arnius menatap tanah yang berada tepat di bawah batu besar itu tiba-tiba runtuh, hingga terlihat sebuah lubang yang cukup besar.


"Ini seperti goa yang lain, batu besar ini menutupi jalan masuk yang lain. Ada beberapa batu yang bisa kita gunakan untuk pijakan. Aku akan masuk terlebih dahulu."


Kin Raiden mulai bersiap untuk menuruni tempat tersebut dengan berpijak pada batu yang terlihat kokoh menurutnya. Satu persatu mereka turun mengikuti langkah Kin Raiden.

__ADS_1


Pada awalnya udara di tempat itu masih terasa sejuk. Lama kelamaan keringat di tubuh mereka kembali menetes, udara di tempat itu terasa semakin panas. Tempat itupun tidak gelap seperti halnya lorong yang mereka lewati sebelumnya.


"Aku benar-benar akan meleleh."


Kuma terduduk lemas, saat ini di hadapan mereka terdapat lubang besar yang berisi lahar merah yang mendidih. Beberapa letupan kecil selalu saja terlihat di atasnya.


"Kakak beruang, kita bisa berendam air hangat di sini."


Chio tersenyum kecil.


"Berendam kepalamu... Kau siap untuk jadi sup iguana?"


Kuma menepuk pantat Chio yang berdiri di sampingnya.


"Boleh... tapi kau juga harus mencicipi kuahnya."


"Dasar berandalan kecil."


Mereka semua berhenti sejenak untuk memperhatikan seluruh tempat tersebut.


"Lihat di sana. Ada dua buah batu yang cukup besar."


Kin Raiden menunjuk tepat di tengah kolam lahar panas tersebut.


"Iya benar, ada sesuatu di sana."


Wu Ling ikut menyipitkan matanya.


"Kakak beruang, ayo bantu komandan untuk mengambil benda itu. Bukankah kau suka berenang, ayo cepatlah."


Chio kembali menggoda Kuma yang masih terduduk di lantai.


"Aku benar-benar akan memelintir telingamu bocah berandalan."


Kuma semakin kesal.

__ADS_1


__ADS_2