
"Hei kalian melupakan aku."
Eiji yang ikut menyusul mereka memasuki gerbang air nampak sedikit kesal, karena sang adik sama sekali tidak memperdulikannya.
"Kakak mampu melewati lorong panjang itu?"
"Kau pikir aku tidak mampu bertahan lama di dalam air, lagi pula kau tidak lihat wajah marah kak Arnius, yang kau tinggal begitu saja."
Eiji berucap pelan sambil mengeringkan tubuhnya dengan menggunakan energi di tubuhnya.
"Dia begitu mengkhawatirkan dirimu, sementara kau lebih suka bertindak sesuka hatimu sendiri."
Eiji kembali mengomel.
"Iya kak maaf."
"Mari kita mulai wisata kita kali ini."
Minori menengahi pertengkaran mereka.
"Tetap waspada."
Eiji kembali mengingatkan.
Mereka mulai berlari perlahan mengikuti jalan setapak yang ada, sesekali mereka berhenti sekedar untuk melihat sesuatu dengan lebih dekat dan jelas.
Minori terus bercerita sepanjang perjalan mereka, menunjukkan tempat dimana ia tidur, berlatih dan juga mencari makan. Hingga mereka tiba di depan sebuah mulut goa yang besar, dan Minori menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti? apa yang ada di dalam sana?"
Keiko bertanya sambil terus melangkahkan kakinya mendekati mulut goa.
"Dahulu kami dilarang memasuki tempat itu, kami menyebutnya goa terlarang. Hanya tetua yang boleh memasukinya itupun jika keadaannya sangat genting dan mendesak."
Minori memberi penjelasan singkat.
"Terlarang untuk kalian dan bukan untuk ku, jadi aku boleh masuk. Kau tunggu disini jangan kemana-mana sampai aku keluar, Sayuri kau mau ikut masuk juga?"
"Tidak nona, aku akan beristirahat disini."
Keiko mengangguk mengerti dan kembali melangkah memasuki goa bersama Eiji. Lorong goa yang mereka masuki tidak begitu panjang, banyak sekali gambar-gambar yang terdapat pada dinding goa. Keiko memeriksa setiap gambar mulai dari awal memasuki goa hingga akhir.
"Gambar ini tentang kisah hidup mereka, mereka tidak sama dengan Minori."
Keiko terus mengamati setiap gambar sambil terus bergumam sendiri. Sementara Eiji selalu waspada untuk segala kemungkinan, walaupun sesekali ia juga melihat gambar yang di tunjuk oleh Keiko.
"Bentuk tubuh mereka hanya seperti kuda pada umumnya, namun mereka memiliki sepasang sayap dan mampu terbang. Warna kulit mereka juga tidak sama, seperti halnya kuda biasa."
"Aneh, mereka tidak memiliki tanduk seperti Minori."
"Lihat di sini Kei, di sini ada gambar kelahiran seekor kuda bertanduk dan diberi warna putih. Persis seperti Minori."
Eiji menunjuk salah satu gambar.
"Mereka seperti melakukan sebuah ritual setelah kelahiran kuda bertanduk ini."
Keiko kembali bergumam.
"Gunung meletus, banjir, kelaparan dan kematian. Mereka percaya jika lahirnya seekor kuda bertanduk adalah sebuah kutukan yang akan menyebabkan semua ini."
"Kei, disini ada sebuah ruangan."
Eiji menunjuk sebuah ruangan yang cukup luas.
__ADS_1
"Kenapa banyak sekali gambar yang penuh dengan coretan? guratannya pun tidak sama."
"Dinding goa disini sedikit retak."
Eiji menemukan dinding goa yang penuh dengan retakan.
"Mereka membicarakan sesuatu di tempat ini, ada perbedaan pendapat diantara mereka. Lihat gambar ini, kuda ini dibakar di atas tumpukan kayu, dihanyutkan, dan banyak lagi gambar yang penuh dengan tanda silang. Intinya mereka ingin melenyapkan kuda bertanduk ini, namun ada juga sebagian dari mereka yang tidak menyetujuinya."
Wajah Keiko terlihat dipenuhi pertanyaan.
"Dan kemungkinan, mereka bertengkar hingga menyebabkan keretakkan pada dinding ini."
Eiji ikut menyimpulkan.
"Di sana masih ada ruangan lainya Kei."
"Gambar ini menunjukkan bahwa mereka memutuskan untuk meninggalkan kuda bertanduk ini di luar wilayah mereka. Jadi benar perkiraan ku, batu yang hilang cuma berjumlah delapan. Sementara Minori bilang mereka berjumlah sembilan. Jadi Minori lah, kuda yang ingin mereka singkirkan. Mereka tidak ingin membunuhnya, jadi mereka memutuskan untuk membuat Minori tetap tinggal di luar tempat ini."
"Lalu dimana mereka sekarang?"
"Kita cari mereka kak."
"Tunggu, Minori bilang tempat ini goa terlarang. Apa yang ada di sini selain gambar-gambar itu?"
Eiji kembali memeriksa dinding goa.
"Dinding ini sedikit berlubang."
Eiji menemukan celah kecil pada dinding.
"Berukuran satu kepalan tangan."
Eiji memasukkan kepalan tangannya.
Keiko memberikan aba-aba. Eiji mulai mendorong kepalan tangannya. Dan benar saja, satu ruangan kembali terbuka. Sebuah dinding goa bergeser perlahan, namun sebelum dinding itu terbuka sempurna, dinding goa berhenti terbuka dan hanya terbuka sebagian.
"Kenapa tidak mau terbuka lagi, ini masih sempit, belum muat."
Eiji mencoba menggeser dinding batu tersebut.
"Tapi ini muat untukku kak."
Keiko yang bertubuh mungil bisa melewati pintu goa yang belum terbuka sempurna.
"Hati-hati Kei."
Eiji kembali mencoba menggeser dinding batu dengan sekuat tenaga.
"Kakak berhenti menggeser, ada sesuatu yang menghalangi dinding itu."
Keiko berucap pelan dari balik dinding goa.
Keiko melepaskan sabuk emasnya, kemudian merubah bentuknya menjadi sebuah tongkat yang bercahaya untuk menerangi ruangan goa yang gelap.
"Tengkorak kuda."
Keiko menggeser beberapa tulang serta sebuah tengkorak kuda yang menghalangi dinding goa, sehingga dinding goa terbuka sepenuhnya.
"Tempat ini adalah sebuah pemakaman tua."
Eiji kembali memeriksa ruangan tersebut.
"Ini adalah makam para kuda yang bertanduk seperti Minori."
__ADS_1
Keiko melihat beberapa gambar yang tertera pada dinding goa.
"Dan tulang kuda ini?"
"Dari gambar di sini, dia memotong tanduknya sendiri. Aku rasa dia salah satu dari tetua disini, namun karena tidak ingin di bunuh, jadi dia menutupinya dengan memotong tanduknya. Dan sepertinya dia tidak bisa bertahan."
Keiko membuat keputusan dari beberapa gambar yang ia lihat.
"Lihat ini tanduknya tinggal setengah."
Eiji menemukan tanduk yang masih menempel pada kepala tengkorak yang berada di hadapannya.
"Tidak ada apa-apa lagi disini, ayo kita keluar."
Eiji dan Keiko berjalan keluar dari dalam goa.
Sesampainya diluar goa, mereka tidak melihat keberadaan Minori maupun Sayuri.
"Kemana mereka berdua?"
Keiko memperhatikan sekelilingnya.
"Kami disini nona."
Terdengar teriakan suara Sayuri dari kejauhan.
"Kawanan itu, mereka dalam bahaya."
Eiji dan Keiko bergegas mendekati Sayuri yang tengah berada di atas punggung Minori dan di kelilingi puluhan kuda.
"Apa yang terjadi Minori? apa yang mereka inginkan?"
Keiko dan Eiji kini sudah menapakkan kakinya di dekat Minori yang di kelilingi puluhan kuda.
"Siapa kalian? kalian harus pergi dari tempat ini atau mati disini."
Salah satu kuda yang paling besar berucap dengan nada penuh amarah.
"Tenang tuan kuda sekalian, kami hanya mampir ke tempat ini dan tidak berniat menyakiti kalian semua. Perkenalkan namaku Eiji, dia adikku, Tuan putri Ochi, dan leluhur kalian Minori. Kita bisa bicara baik-baik bukan?"
Eiji berusaha menghindari perkelahian diantara mereka.
"Gerbang air sudah lama tertutup, bagaimana kalian bisa masuk ketempat ini?"
"Kami bersama leluhur kalian, dan dia yang menunjukkan jalan ke tempat ini."
"Siapa kau? berani sekali mengaku sebagai leluhur kami?"
"Patung batu yang kalian buat itu adalah kakak pertama ku, Ichiro. Kuda hitam yang perkasa."
Minori menunjuk sebuah patung batu yang terletak tidak begitu jauh dari tempat mereka.
"Kami saling mengangkat saudara, aku di urutan ke lima. Dan mungkin adik ke sembilan yang membuat patung batu itu, karena dia begitu mengagumi kakak pertama. Kenken, apakah dia masih hidup?"
"Hormat kami pada leluhur."
Seluruh kuda yang tadinya beringas kini menunduk hormat dihadapan mereka.
"Tetua Kenken masih hidup, namun dia sudah sangat tua dan lemah. Saat ini tetua ingin menghabiskan hidupnya di tepi danau hijau."
Ucap salah satu kuda besar.
"Aku akan menemuinya."
__ADS_1
Minori bergegas berlari ke tempat yang dulu pernah menjadi tempat yang paling ia sukai.