
Setelah keadaan kembali tenang, Maroon keluar dari dalam rumahnya dengan memakai jubahnya, serta menenteng tas tuanya yang telah berisi berbagai barang-barang miliknya. Sementara Arnius dan Genta berada di dalam saku baju troll botak tersebut.
Arnius sengaja memasukkan seluruh rekannya ke dalam giok hitam untuk keamanan serta mempermudah semuanya. Tersisa Genta yang kini ikut berdiri di dalam kantong baju Maroon serta Kin Raiden yang berwujud burung kecil dan bertengger di bahu kiri Maroon.
Maroon mulai berjalan cepat menuju bukit yang telah di datanginya semalam. Sungai kecil yang mengalir ke atas bukit terlihat begitu jernih. Arnius, Genta dan juga Kin Raiden tak berhenti menatap aliran sungai yang aneh tersebut.
"Bagaimana mungkin air sungai itu mengalir ke atas bukit."
Arnius bergumam pelan.
"Hanya air sungai itu yang mengaliri seluruh tanah hijau ini, dan puncak bukit inilah pusat dari pusaran mata air tersebut. Di bawah pohon tua ini."
Maroon menghentikan langkahnya saat berada di depan pohon hijau yang begitu besar, tinggi serta berdaun lebat.
Arnius dan Genta melompat turun dari dalam saku baju Maroon, begitupun Kin Raiden yang sudah kembali ke wujudnya semula. Setelah memastikan keadaan aman, Arnius bergegas mengeluarkan kembali seluruh rekannya dari dalam giok hitam.
"Sekarang katakan di mana gerbang selanjutnya?"
Arnius melayang dan menatap tajam troll botak yang berdiri di sampingnya.
"Kalian lihat bayangan tubuh kalian yang berada di dalam air sungai itu?"
Maroon menunjuk bayangan tubuhnya yang berada di dalam air sungai.
"Pastikan tubuh dan bayangan kalian berada di dalam bayangan pohon hijau ini, seperti tubuh ku saat ini."
Maroon kembali menunjuk bayangan tubuhnya.
"Kemudian jatuhkan tubuh kalian tepat pada bayangan tubuh yang ada di dalam air sungai itu."
Maroon berucap kembali.
"Dari mana kau mengetahui semua itu?"
Arnius kembali menatap tajam Maroon.
"Lihatlah dengan teliti pantulan bayangan pohon hijau ini di dalam air sungai."
Arnius dan yang lainnya mulai memperhatikan pantulan bayangan pohon hijau tersebut. Arnius melayang sedikit lebih tinggi, tepatnya di atas kepala Maroon. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas bayangan pohon hijau tersebut membentuk sebuah gerbang besar.
"Apa kau bisa membaca tulisan yang ada di atas gerbang itu?"
Maroon kembali berkata.
"Masuklah dan kau akan menemukan sebuah dunia tanpa batas."
Arnius bergumam membaca tulisan yang ada di ujung bayangan gerbang.
Lain halnya dengan Keiko, gadis kecil itu lebih memilih berjongkok pada tepian sungai kemudian memasukkan tangannya ke dalam air. Ia mulai memejamkan mata untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu mereka.
"Masuklah dan kau akan menemukan sebuah dunia tanpa batas."
Terdengar suara yang mengalun merdu di dalam pikiran Keiko. Gadis kecil itu memasukkan tangannya lebih dalam lagi untuk mengetahui lebih banyak.
__ADS_1
Minori menyadari pergerakan dari nona mudanya dan segera memegang erat tubuh Keiko sebelum tubuh mungil itu terjatuh ke dalam air.
"Tuan Maroon sepertinya anda akan kesulitan jika ikut pergi ke gerbang selanjutnya."
Keiko bergegas melayang mendekati wajah troll yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kenapa nona kecil?"
Maroon menatap heran Keiko.
"Aku melihat lautan es yang begitu dingin, namun aku tidak mampu lagi untuk melihat lebih jauh."
Keiko berkata pelan.
"Dunia tanpa batas menurut pemikiran ku, kita bisa hidup di dunia tersebut asalkan kita bisa mencari tempat yang tepat untuk tinggal dan hidup di sana. Bukankah dunia tanpa batas itu luas?"
Maroon mengutarakan pendapatnya.
"Terserah kau saja, itu semua adalah keputusanmu. Lagi pula jika kau ingin kembali tempat ini, kau tinggal mencari jalan masuk ke gerbang ini jika memang ada."
Arnius menurunkan tubuhnya hingga berdiri di tepi sungai.
"Siapa yang akan pergi terlebih dahulu?"
Arnius memandang seluruh rekannya.
"Aku akan membawa kakek Yao."
Kin Raiden berkata seraya bersiap menggendong tubuh Kakek tua tersebut.
Semua mengangguk mengerti dan mulai mengambil posisi yang benar.
Genta yang pertama menjatuhkan tubuhnya ke pantulan dirinya di dalam air, di susul Kin Raiden, Eiji kemudian yang lainnya.
"Giliran mu Maroon."
Arnius menatap wajah Maroon yang terlihat sedikit tegang.
"Sebaiknya kau lebih dulu tuan kecil, aku akan menyusul mu kemudian."
Arnius bergegas menempatkan dirinya setelah mendengar jawaban troll botak tersebut, tanpa menunggu lama Arnius langsung menceburkan dirinya seperti rekannya yang lain.
Arnius kembali merasakan kakinya menapak pada sesuatu yang begitu lembut dan dingin.
"Salju."
"Kakak kenakan mantel hangat ini."
Keiko bergegas membantu kakak tertuanya mengenakan baju hangat.
"Bagaimana dengan yang lain, apa semuanya sudah memakai baju hangat?"
Arnius memperhatikan satu persatu seluruh rekannya.
__ADS_1
"Masih banyak baju hangat di dalam kabin classic pearl jika memang diperlukan, tenanglah kakak."
Keiko menepuk pelan dada bidang Arnius sembari membetulkan baju hangat yang belum terpakai dengan benar.
"Dimana Megan botak itu, kenapa dia belum muncul?"
Genta memeriksa sekeliling.
"Entahlah, sebaiknya kita sedikit menjauh dan menunggunya sebentar."
Arnius berkata pelan.
Eiji bergegas diikuti seluruh rekannya meninggalkan tempat tersebut.
"Kei, tolong periksa apakah ada tempat yang sedikit lebih hangat yang bisa kita tuju."
Naoki berucap pelan.
Keiko mengangguk perlahan kemudian melakukan beberapa gerakan untuk memusatkan seluruh indra nya pada gundukan salju tebal yang menutupi seluruh tempat tersebut.
"Aku hanya tahu jika tempat ini masih di penuhi oleh gunungan salju, namun ada beberapa tempat yang memancarkan cahaya aneh dan terasa sedikit hangat."
Keiko kembali membuka kedua matanya dan berkata sambil menunjuk ke beberapa tempat.
Guncangan hebat terasa, hingga membuat beberapa gunungan salju longsor. Kin Raiden bergegas menyambar tubuh Kakek tua Yao yang sudah terpental dan melayang. Arnius dan Eiji membantu yang lainnya untuk segera menjauh. Kejadian yang begitu cepat sangat mengejutkan serta menyulitkan untuk benar-benar terhindar dari longsoran salju.
Saat ini setengah tubuh Zen tertutup tumpukan salju, dan hanya kedua kakinya yang terlihat bergerak di atas gunungan es putih tersebut. Zora bahkan tidak terlihat sedikitpun, Eiji berusaha secepatnya menggali tepat dimana alkemis muda itu terlempar. Sementara Sayuri dan Haruka sedikit beruntung karena terlempar ke atas bukit kecil, hanya perlu berjalan perlahan menuruninya sebelum gundukan salju di atas bukit tersebut ikut longsor.
Setelah memastikan semua anggotanya berkumpul dan baik-baik saja, Arnius mendekati asal guncangan tersebut diikuti oleh Genta.
"Sebaiknya kau bergerak hati-hati Maroon, kau hampir membuat kami semua celaka."
Genta berteriak kencang.
"Maaf maaf aku tidak tahu jika sampai terjatuh seperti ini."
Maroon mengibaskan ujung pakaiannya yang terkena salju.
"Kau memiliki baju tebal?"
Arnius melayang mendekati Megan troll tua tersebut.
"Ya, aku sempat memasukkannya ke dalam tas milikku."
Maroon segera memakai jubah tebal miliknya.
Arnius melayang lebih tinggi untuk memastikan keberadaan mereka, ia mengamati semuanya dari atas serta memastikan tidak ada awan beracun yang bisa membatasi pergerakan mereka.
"Dunia tanpa batas, benar-benar luas."
Arnius bergumam pelan.
***
__ADS_1
Terimakasih bagi pembaca budiman yang sekiranya telah berkenan menyempatkan waktu untuk membaca tulisan saya. Saya sebagai penulis sangat berterima kasih dan mohon dukungan untuk like tiap episode serta kritik dan saran supaya lebih baik kedepannya 🙏