
Suara tangis bayi terdengar jelas hingga menggema di seluruh lereng gunung. Tanah terasa sedikit bergetar, udara panas menyebar dengan cepat seiring suara tangisan bayi yang masih belum juga berhenti.
Hampir seluruh binatang ilahi yang berada di tempat tersebut jatuh terduduk seraya menutup ke dua telinganya. Ada pula yang menjerit histeris serta berguling di tanah, karena tidak mampu menahan suara tangis yang begitu memekakkan telinga.
Seorang bayi laki-laki tampan terlahir dengan selamat serta dalam kondisi tubuh yang sehat dan sempurna. Keiko membutuhkan waktu beberapa saat untuk bisa mengangkat tubuh mungil yang masih benar-benar merah serta memancarkan udara panas yang luar biasa besar.
Sekalipun tubuhnya semakin melemah, Yao Yin mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening putranya yang telah dilahirkannya dengan penuh perjuangan.
Keiko mendekatkan bayi mungil yang kini sudah berada di dalam gendongannya, ke samping tubuh ibu yang telah melahirkannya. Seketika tangis serta udara panas yang keluar dari dalam tubuh bayi mungil tersebut mereda, setelah Yao Yin mengusap lembut kening putranya.
"Aarrgh.."
Teriakkan tertahan kembali terdengar begitu pelan dari mulut Yao Yin.
Seorang bayi mungil kembali terlahir dari dalam rahimnya. Ai Sato mencoba mendekatinya, karena ia melihat tubuh Jaku yang seolah kaku karena melihat sesuatu yang begitu mengerikan.
"Kau kenapa Jaku?"
Ai Sato menggeser tubuh Jaku yang masih diam mematung. Ia segera menggendong kemudian membersihkan tubuh bayi perempuan mungil yang sama sekali tidak bersuara.
"Kenapa kalian semua diam. Ayo lakukan sesuatu, tubuh bayi ini begitu dingin dan dia sama sekali tidak menangis."
Ai Sato sedikit gugup saat mendapati hampir semua pelayan yang berada di dalam ruangan tersebut terdiam dan terlihat begitu ketakutan.
"Cantik, ayo menangislah. Kumohon menangislah."
Ai Sato menepuk pelan pantat bayi mungil tersebut. Gadis itu semakin ketakutan setelah menyadari tubuh bayi mungil tersebut semakin dingin
"Bagaimana ini?"
Ai Sato dan Keiko saling berpandangan. Keduanya begitu cemas.
"Ibuuuuu..."
Ai Sato berteriak sekencang-kencangnya.
Setiap pohon serta tanaman di sekitar tempat tersebut banyak yang layu kemudian mengering dan mati.
Udara panas yang sudah mulai berangsur membaik, berubah kembali menjadi dingin dan begitu mencekam.
Makaira menyadari semua perubahan itu. Ia mengibaskan ke dua lengannya ke udara berulang kali, untuk menghilangkan aura mencekam yang setiap saat bisa mengundang kaum iblis untuk mendatangi tempat tersebut.
__ADS_1
Ratu peri rumput biru perak itu kemudian melesat mendekati bangunan yang telah di jaga oleh ke tiga gorila batu, setelah mendengar teriakkan putrinya.
Jung Nara yang masih berjaga di depan pintu hanya terlihat mematung, saat pintu ruangan itu di buka oleh Makaira.
"Ibu, apa yang terjadi dengan bayi ini. Kumohon tolonglah dia ibu."
Ai Sato mendekatkan tubuh bayi mungil yang berada di dalam gendongannya ke hadapan ratu peri rumput biru perak.
Makaira mengambil bayi yang masih terdiam dan dingin dari gendongan Ai Sato secara perlahan. Bibirnya terlihat bergerak saat mengucapkan beberapa kalimat yang tidak bisa di dengar oleh siapapun. Sebelah tangannya mulai memancarkan sinar perak yang menyilaukan.
Dengan sedikit gerakan tangan. Cahaya perak mulai menutupi seluruh tubuh bayi mungil yang kini berada di dalam gendongannya. Suhu tubuh bayi mungil tersebut berangsur membaik, tangisan kecil mulai terdengar dari bibir kecilnya. Cahaya perak dari sang ratu peri rumput biru perak mulai memudar.
"Berikan madu persik bulan pada ke dua bayi ini. Aku akan mengurus ibunya.'
Makaira kembali menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Ai Sato. Kemudian ia beralih mendekati Yao Yin yang kini terbaring lemah dan hampir tidak sadarkan diri.
Suasana di sekitar tempat tersebut kembali seperti semula. Jaku dan juga yang lainnya sudah kembali tersadar. Makaira mulai membersihkan tubuh Yao Yin serta mengganti pakaiannya yang telah berlumuran darah.
"Panggil kan salah satu penduduk bumi itu. Harus ada seseorang yang menyalurkan tenaganya untuk membuat perempuan ini tetap hidup."
Makaira menatap Jaku yang masih terduduk lemas di atas lantai.
"Ba.. Baik.. Ibu ratu."
"Tu.. Tuan muda. Nyonya muda me..."
Belum sempat Jaku menyelesaikan ucapannya. Arnius sudah terlebih dahulu melesat cepat dengan menyambar tubuhnya untuk kembali ke dalam ruangan Yao Yin.
"Ada apa?"
Arnius melihat seorang wanita tua yang masih terlihat begitu cantik serta begitu anggun berdiri di samping tempat tidur.
"Wanita ini memerlukan tambahan energi untuk bisa bertahan hidup. Apakah kau salah satu penduduk bumi?"
Tanpa menjawab ucapan wanita tersebut, Arnius bergegas mendekati tubuh Yao Yin yang terbaring lemah di atas ranjang. Sebelah tangannya mulai menyalurkan energi ke seluruh tubuh Yao Yin.
Yao Yin mulai membuka ke dua matanya, setelah tubuhnya merasa lebih baik. Air mata bening mulai menetes dari sudut matanya, saat ia melihat wajah seseorang yang begitu ia rindukan.
"Tenanglah, aku disini. Beristirahatlah, anak kita baik-baik saja. Aku akan menjaga kalian."
Arnius mengusap lembut pucuk kepala istrinya, kemudian menghapus air mata yang sempat menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
"Berikan pil ini untuknya, kemudian minta istrimu untuk beristirahat."
Makaira menyerahkan sebutir pil berwarna putih kepada pemuda yang kini duduk di sisi ranjang. Ia mendengar semua ucapan pemuda yang kini berada di hadapannya meskipun perlahan. Makaira mulai yakin bahwa mereka adalah pasangan suami istri.
Arnius sedikit menyibak cadar tipis yang menutupi wajah Yao Yin untuk menyuapkan pil tersebut ke dalam mulutnya.
Yao Yin tersenyum kecil dari balik cadarnya. Setelah menelan pil pemberian dari suaminya. Kemudian ia kembali memejamkan matanya dan mulai tertidur.
***
"Aarrgh..."
Teriakkan keras terdengar dari luar ruangan. Makaira begitu terkejut, karena ia mengenali suara tersebut. Begitupun dengan Ai Sato, gadis itu bergegas menyerahkan bayi yang masih di dalam gendongannya kepada Jaku.
Namun saat ia mulai melangkah untuk keluar dari dalam ruangan tersebut, tubuhnya terpental hingga menabrak tiang penyangga. Suara gemerincing rantai terdengar setelah tubuhnya terjatuh di lantai.
"Ai, putri ku."
Makaira bergegas mendekati tubuh Ai Sato yang tergeletak di lantai. Sebuah ujung rantai putih berkilauan terlihat menjuntai dari tubuhnya. Sementara ujung yang lain terlihat melilit tubuhnya.
Namun saat Makaira akan menolong putrinya, tubuh Ai Sato kembali terpental hingga hampir menabrak dinding ruangan. Arnius yang juga melihat kejadian itu, bergegas mengibaskan tangannya untuk menahan tubuh gadis muda itu yang kembali terpental.
Ujung lain rantai putih yang tadinya tergeletak di lantai, kini menegang dan seolah terlihat telah terikat kembali dengan sesuatu.
"Aarrgh.."
Teriakkan tertahan terdengar dari mulut Ai Sato, sebelum ia tidak sadarkan diri.
"Putri ku."
Makaira memeluk erat tubuh putri semata wayangnya. Rantai putih yang tadinya terlihat begitu berkilauan, kini tidak terlihat lagi. Yang terlihat hanyalah tubuh Ai Sato yang kini berada di dalam pelukan ibunya. Air mata sedikit menetes dari sudut mata Makaira.
Ujung rantai pengikat kehidupan yang tadinya saling mengikat tubuh putrinya dengan lengan kiri sang paman, kini telah berpindah pada tubuh orang lain yang telah berhasil menebas lengan kiri panglima tertinggi pasukan the Beast tersebut.
Komandan Sato yang juga mendengar teriakkan keras saudara lelakinya, bergegas mencari keberadaan putrinya.
"Serahkan putri kita kepadanya, hanya dia yang bisa menyadarkannya."
Makaira menatap suaminya yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah yang sembab.
Komandan Sato mulai mengangkat tubuh putrinya dengan perlahan. Sementara Makaira mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Cepat keluar, tempat ini bisa rubuh kapan saja. Kembali ke Classic pearl."
Arnius melangkah keluar dari dalam ruangan dengan membawa tubuh istrinya yang telah tertidur pulas. Keiko dan juga Jaku mengikutinya dari belakang bersama bayi mungil yang kini berada dalam gendongan keduanya.