Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Ryota kembali tersadar


__ADS_3

Hitoshi mencoba mengaktifkan kembali aray pelindung yang ditanamnya di sekitar tempat tersebut, namun hasilnya nihil. Tidak ada satupun aray yang bisa ia aktifkan.


"Ini sudah di rencanakan. Dia mengetahui beberapa aray milikku yang tertanam. Tapi tidak mungkin, bagaimana bisa? mungkinkah..."


Hitoshi bergumam perlahan. Genta mendengar semua ucapan saudaranya, ia mulai berpikir bahwa saudaranya itu tidak terlibat dengan semua ini. Kemudian ia mulai berjalan mendekati mereka.


"Ku harap kalian tidak terlibat dengan semua ini."


"Tidak kakak, kami sama sekali tidak mengetahuinya. Paman Chisen adalah adik kedua ayahanda setelah paman Chizan, mereka adalah saudara kembar seperti halnya tuan Arnius. Kami bahkan tidak bisa membedakan antara keduanya. Yang jelas salah satu diantara mereka adalah orang yang melakukan kudeta pada ratusan tahun yang lalu, serta orang yang telah merebut dirimu dan membuatmu terpisah dari kami."


Hitoshi berusaha menjelaskan sesingkat mungkin. Genta hanya mengangguk mengerti, kemudian meletakkan tubuh Kana di dalam pangkuan pria yang masih duduk di atas kursi rodanya.


"Jaga dia dengan nyawamu. Aku akan membereskan orang tua itu."


"Baik, kami akan berusaha. Aku akan membuat segel pelindung, tolong bawa nona Yin kemari jika itu memungkinkan."


Genta menggeleng cepat sebelum ia kembali berteriak keras seraya memandang wajah cantik calon permaisurinya.


"Minori."


Genta mendorong kursi beroda milik Hitoshi, hingga sedikit melayang ke arah Keiko. Kumpulan air nampak keluar dari dalam tubuh Keiko dan menghentikan laju kursi beroda tersebut tepat di sebelah Keiko dan juga Yao Yin.


"Hancurkan mereka semua tuan muda. Jangan cemaskan kami."


Minori mulai memasang segel pelindung terbaiknya. Bukan untuk menghindar dari serangan musuh, melainkan melindungi mereka dari dampak serangan yang akan dilakukan oleh sang naga emas.


"Cobalah untuk menghubungi Raiden."


"Hm."


Minori hanya mengangguk cepat, setelah mendengar ucapan Genta. Hitoshi sedikit terkejut akan hadirnya seseorang yang terlihat begitu misterius.


"Kalian semua selamatkan Ryota. Aku akan menyibukkan para iblis itu."


"Hm."


Keiko, Shoji, Masaru dan juga Sinziku mengangguk serentak.


Genta mulai melesatkan api panas dari tubuhnya ke seluruh bayangan hitam yang terlihat oleh matanya. Pria itu benar-benar tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada musuhnya untuk melakukan perlawanan.


Amukan api Ryu kogane membuat pepohonan terbakar. Seluruh taman yang tadinya indah dipandang mata, saat ini menjadi lautan api. Setiap gumpalan asap hitam langsung menguap hilang tak berbekas, saat bersentuhan dengan api miliknya.

__ADS_1


"Mereka hanya iblis tingkat rendah."


Genta bergumam sesaat.


Arnius terus berusaha melawan seorang pria tua yang setengah bagian bawah dari tubuhnya berbentuk ular naga bersisik merah. Sementara tubuh Ryota terlihat masih tidak sadarkan diri di atas bahu pria tua tersebut.


"Bagaimana kalau serangan mu justru mencelakai anak ini ha... Kau hanya akan menangis darah tuan penduduk bumi."


Chisen menggunakan tubuh Ryota untuk menangkis serangan yang dilakukan oleh Arnius, sehingga berulang kali pemilik naga emas itu mengurungkan serangannya.


"Apa kau hanya bisa melakukan hal itu. Letakkan tubuh anak itu dan bertarung lah dengan benar."


Arnius mencoba memprovokasi lawannya.


"Apa kau pikir aku bodoh."


"Lalu kenapa kau hanya terus menghindar."


Arnius yang sedari tadi memperhatikan gestur tubuh dari anak lelakinya, akhirnya dia melihat sedikit pergerakan dari jemari tangan Ryota serta bulu matanya yang sedikit bergerak.


Anak itu mulai tersadar dan telah mendengar banyak suara dalam pertarungan ayahnya. Ryota menyadari bahwa dirinya saat ini berada di atas bahu seseorang yang tidak dikenalnya.


"Turunkan anak itu atau dia akan membakar tubuh mu."


"Aaargh.."


Chisen mengerang keras saat sebagian tubuh serta kepalanya terbakar hebat. Pria tua itu membuang jauh benda yang telah terbakar pada bahunya. Lebih tepatnya tubuh Ryota yang telah membara sepenuhnya.


Karena rasa sakit yang teramat sangat, Chisen melupakan keberadaan Ryota. Hingga pria tua itu hanya bisa menahan geram, saat lawannya justru menangkap benda yang tadi telah dilemparkannya.


Saat Arnius hendak menetralkan api pada tubuh putranya, api itu justru menyala semakin hebat.


"Kau telah menyakiti ibu ku."


Ryota melesat cepat hingga kembali menghantam tubuh tua Chisen. Pria itu kembali terjengkang jauh, namun tidak berselang lama, sebuah tendangan kembali mendarat pada ekornya. Suara erangan kembali terdengar.


Semenjak tersadar, Ryota teringat akan tubuh ibunya yang melesat hingga menghantam pepohonan berulang kali saat berusaha menyelamatkan dirinya dari gumpalan asap hitam.


Arnius tidak lagi berusaha menyerang tubuh Chisen, namun ia justru menyerang beberapa gumpalan asap hitam yang ingin mengacaukan pertarungan pria tua itu melawan putranya. Bersama dengan Masaru dan yang lainnya, Arnius mulai menyerang gumpalan asap hitam yang seolah tiada habisnya. Meskipun ujung matanya masih selalu mengawasi perkembangan pertarungan Ryota.


Hitoshi yang sedari tadi menggerakkan jari jemarinya tampak mulai mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Tidak ada satupun aray yang bisa diaktifkan, apa ini benar-benar..."


Sejenak pemuda yang masih duduk di atas kursi rodanya itu berhenti bergumam, kemudian sedikit berteriak keras.


"Masaru, di mana pasukan mu?"


Di dalam pertarungannya melawan lesatan api serta gumpalan asap hitam dari paman mereka. Masaru mendengar teriakkan kakaknya dan membuatnya terdiam sejenak.


"Sial. Paman memindahkan semua pasukan ku ke perbatasan serta ke seluruh penjuru kota sejak perjamuan itu di mulai, dengan alasan untuk menjaga keamanan pangeran Daisuke. Ini semua sudah direncanakan."


Masaru kembali mengingat setiap kejadian sejak awal mereka menyambut Arnius dan kakak pertama mereka. Sementara itu Hitoshi mulai menyadari ada sesuatu yang salah.


"Shoji."


Hitoshi kembali berteriak keras setelah mendengar ucapan dari Masaru.


"Hm."


Shoji mengangguk dan mulai meluncurkan tembakan api hitam ke angkasa hingga berulang kali. Hitoshi pun melakukan hal yang sama.


"Aku tidak pernah berpikir jika kalian akan melakukan hal itu. Apa kalian ingin menghancurkan tempat tinggal kalian sendiri?"


Chisen sedikit geram dengan apa yang dilakukan oleh keponakannya.


Tubuh Shoji terus membumbung tinggi ke udara, seraya melesatkan tembakan ke udara. Setelah Yao Yin mengambil tubuh Kana dari pangkuannya, Hitoshi pun ikut melayang ke angkasa meninggalkan kursi rodanya. Kedua tangannya mulai bergerak membentuk sinar aneh, hingga terlihat seperti gugusan bintang.


Hitoshi mendorong garis bintang yang telah di buatnya ke udara, Shoji pun meneruskannya semakin ke atas. Hingga terdengar suara ledakan keras.


"Sekali lagi."


Shoji berteriak keras di ketinggian.


Sementara itu Minori masih terus berusaha menghubungi Kin Raiden yang masih berada di wilayah kediaman komandan Sato.


"Sial.. Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan, hingga tidak menggubris panggilan dariku."


Minori merutuk kesal, karena panggilan yang dilakukannya tidak kunjung mendapat jawaban. Sementara itu di dalam hutan the Beast sedang berlangsung sebuah ritual upacara pernikahan sederhana.


Kin Raiden memutuskan untuk menerima apapun keputusan yang diambil oleh kedua orang tuanya asalkan mereka merasa bahagia, termasuk menikahi Seina.


Phoenix merah itu sengaja tidak menunggu kedatangan komandan mereka, karena ia tahu benar bahwa masih banyak urusan yang lebih penting yang harus komandannya itu lakukan. Cukup Eiji, beberapa rekannya yang tersisa serta seluruh penghuni hutan the Beast yang menyaksikan ritual pernikahannya.

__ADS_1


"Ini sudah cukup siang dan bahkan sebentar lagi senja. Namun kenapa mereka belum juga kembali, jika hanya untuk mengantarkan nona Sinziku pulang ke istana naga."


Eiji bergumam perlahan seraya menatap matahari yang sudah mulai bergeser dari tempatnya semula.


__ADS_2