Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Tiba di negri bulan


__ADS_3

"Kei, kendalikan dirimu."


Eiji menyentuh tangan adik perempuannya yang sudah mulai memutih, kemudian mengambil cermin batu yang sudah hampir membeku di sebelah tangannya yang lain.


"Kenapa pedang hitam itu bereaksi, apa yang terjadi?"


Di sela kesibukannya menyeimbangkan tubuh Naru yang masih sedikit kehilangan keseimbangan karena terhisap oleh lorong gelap yang kini mereka lewati, Arnius merasakan api pedang hitamnya membara begitu kuat.


"Jika mereka menyakiti tubuh kakak ku, aku benar-benar akan memusnahkan mereka semua."


Keiko berucap penuh kemarahan.


Eiji terus memperhatikan cermin batu yang ada di tangannya. Terlihat tubuh Yao Yin yang masih tidak sadarkan diri, ia terbaring di dalam sebuah ruangan bersama dengan tubuh seorang gadis lain yang tidak begitu jelas terlihat.


"Apa lorong ini akan membawa kita ke tempat itu?"


"Tenanglah Kei. Persiapkan dirimu, sepertinya tubuh kita akan terhempas setelah keluar dari lorong ini."


Arnius mengerti kegundahan hati adik perempuannya, dan pasti telah terjadi sesuatu dengan wanita yang saat ini mengandung keturunannya.


Eiji masih terus memperhatikan sosok gadis yang selalu bersama dengan kakak iparnya.


"Siapa gadis itu, kenapa dia begitu baik dan selalu menemani serta membantu kakak ipar."


Eiji berkata di dalam pikirannya, dan Kin Raiden mendengar semua itu.


"Sepertinya gadis itu cukup cantik, sekalipun wajah dan tubuhnya selalu tertutup kabut. Haaah... Semoga dia bisa menaklukkan petir mu."


"Diam. Jika kita berhasil melewati lorong ini, aku akan berpindah ke punggung mu. Kemudian cepatlah mencari keberadaan pedang hitam itu."


"Baiklah."


Cahaya di kejauhan mulai terlihat. Semuanya bersiap untuk segala kemungkinan, sekalipun tubuh mereka akan terhempas.


"Kogane."


Lubang hitam mulai lenyap, kini tubuh mereka terhempas ke udara. Arnius mengibaskan tangannya dan mengeluarkan Classic pearl dari dalam giok hitam. Teriakkan nya membuat naga besar menoleh kebelakang. Gerakan Arnius terlihat begitu cepat, saat ia mencoba menangkap seluruh rekannya yang terhempas dari punggung Naru. Eiji serta Keiko pun tidak tinggal diam. Dengan sedikit dorongan, ketiganya mulai melemparkan tubuh setiap rekannya ke atas Classic pearl.


Eiji dan Keiko beralih menaiki punggung Phoenix merah, setelah memastikan seluruh rekannya telah berada di dalam kapal besar tersebut. Kin Raiden bergegas melesat cepat mengikuti aura dari pedang hitam Arnius.


"Tunggu. Eiji, tubuh mu belum kuat untuk kembali bertarung. Gunakan peralatan milikku. Semuanya perhatikan aku."


Zora sedikit berteriak ketika melihat Eiji kembali kehilangan keseimbangan tubuhnya saat ia menolong dirinya. Seraya melemparkan beberapa benda yang dapat di tangkap dengan baik olehnya, Zora mulai memperlihatkan cara kerja beberapa peralatan ciptaannya, semua memperhatikan setiap gerakan tangan sensei muda tersebut saat menekan setiap tombol pada setiap benda. Akhirnya hampir seluruh Classic team menerima beberapa benda aneh yang bisa membantu mereka.


"Kita sudah berada di negri bulan, kami akan mencarinya. Kalian tetaplah saling menjaga."

__ADS_1


Zora hanya mengangguk setelah mendengar ucapan Eiji. Zen bergegas melompat dari atas punggung Ryu Kogane, setelah melihat kapal besarnya.


"Kakak, bisakah kau membawaku sedikit lebih mendekat ke kapal itu. Tubuh ku terlalu besar, aku takut terjatuh. Lagi pula bisa saja aku justru akan menghancurkan kapal itu, saat mendarat di dalamnya."


Kuma mengusap punggung Ryu kogane. Genta hanya mendesah perlahan kemudian lebih mendekatkan tubuhnya ke kapal besar tersebut. Ia menyadari tubuh Kuma memang sangatlah besar, jadi wajar jika lompatannya justru akan menghancurkan Classic pearl.


"Terimakasih kakak, aku akan terus berlatih hingga menguasai ilmu beruang terbang."


Ryu kogane bergegas melesat mendekati Arnius, untuk mencari keberadaan Fudo.


"Naru, tetaplah bersama mereka. Ikuti tanda dari Kin Raiden, tetap menuju ke utara. Sepertinya pedang itu menuju ke tempat itu. Aku harap kalian selalu saling menjaga."


Arnius beralih menatap Keiko dan Eiji yang berada di atas punggung Kin Raiden.


"Kalian bertiga cari keberadaan Yao Yin dan segera selamatkan dia, aku akan membasmi semua yang menghalangi langkah kalian."


Ucapan Arnius hanya di balas dengan anggukan oleh kedua adiknya. Mereka semua bergegas melesat ke arah yang sama.


"Semuanya bersiap untuk bertempur, lakukan tugas masing-masing."


Suara lantang sang kapten kapal terdengar di setiap bagian kapal. Semua bergegas menyiapkan Classic pearl pada posisi tempur terbaiknya. Kuma dan Kuro yang sudah mengubah tubuhnya menjadi sosok pemuda yang menggemaskan, ikut pula menyiapkan semua meriam tembak sesuai dengan arahan Zora.


Robaki mengikuti Yuki menyiapkan semua tenaga pendorong, supaya kapal besar tersebut selalu bisa bergerak cepat. Sementara Chio dan Wu Ling menyiapkan layar kapal. Shiro terlihat sibuk menyentuh beberapa batu mutiara bersama dengan Zen di ruang kemudi.


"Siapkan pertahanan, kau pasanglah segel pelindung kapal ini. Kau mengerti cara kerja semua batu itu bukan?"


Keduanya saling bekerja sama hingga muncul kilatan cahaya yang menyelimuti seluruh kapal. Zen terus memperhatikan gerakan naga emas serta Phoenix merah yang terlihat jauh di depan mereka.


"Naru, apa kau juga bisa merasakan keberadaan pedang itu?"


Zen beralih menatap burung besar yang selalu melayang di sebelah Classic pearl.


"Tenanglah, aku merasakannya. Berusahalah untuk lebih cepat."


"Kekuatan penuh."


Teriakan Zen kembali terdengar, kini Classic pearl mulai bisa bergerak lebih cepat. Setelah semua persiapan selesai. Seluruh rekannya pun telah berkumpul di atas kapal.


"Semuanya menyebar, bersiap untuk bertempur."


Semua bergegas ke berbagai sudut kapal serta bersiap diantara beberapa meriam.


***


Kediaman bangsawan Yama.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak bilang jika perempuan itu memiliki black diamond."


Yama Shita berteriak keras, suaranya menggelegar di dalam sebuah ruangan yang cukup luas.


"Bukankah perjanjian kita cukup jelas, aku mendapatkan wanita itu dan kau akan mendapatkan bayinya."


Arashi tersenyum licik.


"Lalu kenapa kau juga membawa gadis pemilik sepasang gorila batu itu ke tempat ini. Mereka bisa menghancurkan tempat ini."


"Apa kau tega, membiarkan seorang gadis cantik tergeletak di tepi hutan sendirian. Lagi pula benteng Yama terkenal akan prajurit militer yang terlatih dengan sangat baik."


Yama Shita begitu geram, namun pria tua itu hanya bisa menghela nafas panjang.


"Siapkan pertahanan terbaik, luncurkan ikan terbang. Lindungi tempat ini."


Yama Shita menatap satu persatu algojo terbaiknya. Serentak semuanya melesat melaksanakan tugas masing-masing, setelah mendengar ucapan pria tua yang telah membayar mahal hidup mereka.


"Dan kau pangeran, segera bawa pergi putri komandan mu itu. Aku tidak ingin berurusan dengan kaum the Beast."


"Aku harus membawanya ke mana, mereka sudah hampir tiba di kaki gunung."


"Ka... Kau..."


Ucapan Yama Shita terhenti saat seorang pelayan bergegas memasuki ruangan tersebut.


"Tuan ku, perempuan itu merasa kesakitan. Sepertinya dia akan segera melahirkan."


"Rawat dia dengan baik, pastikan bayinya selamat. aku tidak peduli dengan ibunya."


Yama Shita menatap tajam Arashi yang masih berdiri di hadapannya.


"Baik tuan."


Di ruangan lainnya terlihat Yao Yin sudah tersadar dan kini terus memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.


"Ka... Kakak Yin, tenangkan dirimu. Tarik nafas panjang dan hembuskan, aku tahu kakak pasti kuat."


Ai Sato masih mencoba berdiri saat mendengar rintihan Yao Yin. Tubuhnya masih terasa lemas, kepalanya pun masih terasa berputar. Meskipun samar, namun ia masih bisa melihat tubuh Yao Yin yang selalu bergetar menahan sakit yang teramat sangat.


"Kau yang harus tenang Ai, kau begitu gugup dan kacau saat ini. Minta pelayan membawakan air hangat, serta beberapa kain. Sepertinya bayiku akan segera lahir."


Dengan sedikit terhuyung, Ai Sato mencoba berjalan ke arah pintu. Namun baru beberapa langkah, pintu tersebut kini terbuka. Beberapa pelayan masuk dengan membawa berbagai macam peralatan persalinan. Beberapa pelayan di kediaman Yama memang di latih secara khusus untuk menangani proses persalinan.


Ai Sato mulai duduk bersila untuk mengembalikan kondisi tubuhnya, setelah memastikan semua pelayan itu mampu melakukan tugasnya.

__ADS_1


"Aku harus segera pulih, mereka pasti akan memisahkan bayi itu dari ibunya."


Ai Sato berkata dalam hati, seraya menelan beberapa butir pil dari dalam cincin ruang miliknya.


__ADS_2