Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Perbedaan waktu


__ADS_3

Arnius dan lainnya masih terus mengamati setiap hal yang terjadi di dalam cermin batu. Seperti saat ini, Minori membuat tubuh Yao Yin melayang di atas permukaan air hingga membuat ratu Asuka terpana.


"Baru saja gadis ini mengeluarkan api untuk melindungi tubuhnya, dan sekarang tubuhnya melayang di atas air. Sekalipun itu adalah senjata ataupun binatang ilahi, tidak mungkin dua unsur yang berlawanan bisa ia kendalikan dengan mudah."


Ratu Asuka bergumam dalam hati, sambil terus berjalan mengikuti tubuh Yao Yin yang melayang seolah terbawa arus sungai. Ratu bulan tersebut tidak pernah berhenti memandangi wajah gadis bercadar itu hingga memasuki sebuah paviliun.


"Wajahnya masih terlihat pucat, namun kemampuannya mengendalikan air ini tidak berkurang sedikitpun. Benar-benar bakat yang langka. Sungguh beruntung jika dia bersedia menikah dengan Arashi."


Ratu Asuka kembali bergumam di dalam hati.


"Nyonya muda beristirahatlah hari sudah malam, saya akan selalu bersama dengan nyonya di sini."


Jaku menutupi tubuh Yao Yin dengan selimut, setelah membantunya berbaring di atas tempat tidur.


"Jaku... Kenapa kau selalu memanggilnya dengan sebutan nyonya muda, bukankah usianya tidak terpaut jauh darimu?"


Asuka memberanikan diri untuk bertanya.


"Tentu saja karena nyonya muda adalah istri dari tuan muda kami."


"Jadi... Dia sudah bersuami?"


"Iya ibu ratu."


Ratu Asuka terlihat begitu terkejut saat mendengar jawaban dari Jaku. Guratan kekecewaan tergambar jelas di wajahnya.


"Aku akan kembali ke istana, beristirahatlah."


Jaku menunduk hormat sesaat, sebelum kembali berjalan mengantarkan ratu Asuka keluar dari paviliun tersebut.


Hanya Arnius dan Keiko yang masih setia melihat setiap kejadian yang di tunjukkan oleh cermin batu, sementara yang lainnya memilih untuk kembali pada kegiatan mereka sebelumnya.


"Kenapa di tempat itu langit terlihat sudah gelap, seperti halnya malam hari. Sementara di sini, matahari belum begitu tinggi. Hari masih begitu pagi."


Ucapan tersebut keluar begitu saja dari mulut Arnius saat ia menyadari ada perbedaan waktu di antara mereka.


"Hal itulah yang aku takutkan, perbedaan waktu. Bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan berbagai perubahan, tentu semua itu tidak akan berpengaruh terhadap dirinya. Namun bagi manusia biasa yang tidak mampu bertahan, kematian bisa datang kapan saja."


Kin Raiden mencoba menanggapi ucapan Arnius.


"Jelaskan padaku."


Tatapan tajam Arnius seolah membuat jantung Phoenix merah itu berhenti sejenak.

__ADS_1


"Dia baru menatap mu, belum mencincang tubuhmu. Ayo cepat lanjutkan cerita mu."


Genta mencoba merubah suasana yang seketika terlihat begitu tegang.


"Perbedaan waktu yang begitu besar membuat tubuh seseorang mungkin saja tidak akan mampu bertahan di tempat itu. Pil yang di minum oleh nona Yin sepertinya pil penguat jiwa. Setidaknya mereka ingin istrimu tetap bertahan hidup."


Kin Raiden kembali berucap.


"Tenanglah Ar, nona Yin mampu mengendalikan pedang api milikmu dan juga kekuatan air Minori. Adalah suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang saja. Ratu bulan pastinya telah menyadari semua itu."


Genta mencoba menenangkan hati sahabatnya.


"Berapa jarak waktu antara dunia ini dan dunia di istana bulan?"


Keiko mengajukan pertanyaan, setelah sekian lama hanya terdiam dan mendengarkan.


"Satu jam di bumi, mungkin sama dengan satu hari di bulan."


"Apa..."


Jawaban dari Kin Raiden membuat semua orang terkejut, hanya Genta yang terlihat biasa saja. Karena ia memang sudah mengetahui hal itu.


"Jika nona Yin tidak sedang mengandung, mungkin hal itu tidak akan berpengaruh terhadap tubuhnya. Namun saat ini janin yang ada di dalam kandungannya pun mungkin bisa saja tidak mampu bertahan."


Keiko begitu geram atas ucapan Phoenix merah tersebut. Hingga membuat muka kin Raiden berubah pucat, saat lehernya telah di lilit oleh es beku.


"Ten... Tentu saja me... Mereka akan baik-baik saja Kei."


Nafas Kin Raiden tersengal-sengal setelah berhasil melepaskan es yang membelenggu lehernya.


Semua bergegas menjauh dari tempat tersebut dan kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Arnius hanya diam sambil sesekali melihat ke arah cermin batu yang masih dipegangnya.


Sementara jauh di negeri bulan, Yao Yin masih belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya sudah mulai membaik, hingga mampu mengendalikan Fudo serta Minori dengan baik.


"Ratu bulan itu pasti sudah menyadari sesuatu. Aku harus cepat memulihkan kondisi tubuh ku, supaya bisa bertahan di tempat ini. Kau harus selalu baik-baik saja anak ku, ayah mu pasti akan menjemput mu."


Tangan Yao Yin mengusap pelan perutnya yang masih terlihat rata.


"Kau kenapa, apa perutmu sakit? Jaku lakukan sesuatu."


Arnius begitu gugup saat melihat istrinya mengusap pelan perutnya. Cermin batu hanya memperlihatkan gambar tanpa mengeluarkan suara, hal itu membuat Arnius begitu geram.


"Bagaimana cara mengirim pesan kepada mereka?"

__ADS_1


Arnius bergumam pelan. Ia teringat beberapa saat sebelum muncul tulisan di sekitar cermin batu, ia melihat Jaku menggoreskan jari pada lengannya.


"Aku akan mencobanya."


Pemilik naga emas itu mulai menggoreskan jarinya pada lengan kirinya, pikirannya terfokus pada pedang hitam yang sudah menjadi bagian dari tubuhnya.


"Tidurlah, aku pasti datang menjemput kalian."


Fudo mulai bersinar setelah Arnius menyelesaikan tulisannya. Pedang hitam itu melayang ke hadapan Yao Yin dan menunjukkan guratan sinar emas yang tertulis pada bilah pedang.


Yao Yin meraih pedang tersebut setelah membaca setiap tulisan emas yang tertera pada bilah pedang dan meletakkannya di sisi tubuhnya.


"Tidurlah, aku bersamamu."


Guratan emas kembali terlihat, Yao Yin hanya tersenyum kecil seraya memejamkan matanya. Ia percaya bahwa saat ini orang yang begitu dicintainya tengah memperhatikan setiap hal yang dilakukannya.


Jaku hanya diam saat melihat pedang hitam milik tuan mudanya itu bersinar terang. Dengan setia merak besar tersebut duduk bersandar pada tempat tidur Yao Yin. Ia pun mencoba untuk beristirahatlah sejenak.


"Aku percayakan keselamatan kami kepada kalian."


Jaku berucap lirih di sisi Fudo dan juga Minori yang masih berwujud gelang air yang melingkar di tangan nyonya mudanya.


Satu malam mereka lewati tanpa ada yang mengganggu, ratu Asuka menepati janjinya untuk menjaga keselamatan mereka. Matahari mulai menampakkan diri di antara awan, saat Yao Yin mulai terbangun dari tidurnya.


Matanya melihat ke seluruh ruangan, ia tidak menemukan Jaku pelayan setianya. Ia hanya mendapati bulu hijau yang tergeletak di samping Fudo. Menantu dari keluarga Tamura tersebut kembali menyimpan pedang hitam di antara jepit rambutnya, dan menyelipkan bulu hijau di pinggangnya.


"Nona, Jaku berpesan agar nona tidak turun dari ranjang dan tidak terlalu banyak bergerak. Merak besar itu berpikir mungkin kandungan anda akan sedikit bermasalah mulai hari ini."


Suara Minori terdengar di telinga Yao Yin. Tak berselang lama, Yao Yin mulai merasakan sesuatu yang begitu tidak nyaman dengan perutnya.


"Apa yang terjadi dengan bayi ku Minori? perutku terasa panas dan dingin hampir bersamaan."


Wajah Yao Yin terlihat kembali memucat, tangannya membelai lembut perutnya sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar.


"Tenanglah nona, aku akan membantu mengurangi rasa sakitnya."


Minori yang masih berwujud air mulai melingkar di atas perut Yao Yin untuk membuatnya lebih nyaman. Teriakkan kecil hampir keluar dari bibir istri Arnius tersebut. Tubuhnya kembali terbaring di atas ranjang.


Arnius yang melihat istrinya begitu kesakitan, hanya bisa marah-marah tidak jelas. Bangku kecil yang ia duduki terbakar seutuhnya saat tubuhnya mengeluarkan api yang besar.


"Apa yang terjadi dengannya, dimana merak besar itu?"


Suara keras Arnius mengejutkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2