Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Jaku


__ADS_3

"Tuan muda, tuan besar bisa saja meminum pil penyembuh milikku. Namun hal itu tidak akan berlangsung lama, mengingat tubuh tuan besar yang lemah serta umurnya yang sudah tidak muda lagi. Keadaan seperti ini bisa saja terjadi kembali, aku memberi saran untuk mengobati tubuh tuan besar secara bertahap."


Luna memberikan pendapatnya tentang hasil pemeriksaan yang dilakukannya atas tubuh Yaza.


"Kita akan melakukannya, apa langkah pertama kita?"


"Tuan besar akan mengonsumsi beberapa herbal, baik itu di rebus sebagai obat ataupun memakannya sebagai makanan sehari-hari. Selain itu metode pemijatan syaraf akan membuat tubuh tuan besar kembali seperti semula."


"Siapa yang bisa melakukan pemijatan itu?"


"Beruang tua, dia bisa melakukannya. Tapi sepertinya kita memerlukan ruangan yang lebih besar."


"Kita bisa membuatnya, untuk saat ini apa yang bisa kita berikan kepada ayahku?"


"Tuan muda, kita harus memiliki satu pelayan yang khusus bekerja untuk melakukan seluruh pengobatan kepada tuan besar."


"Apa kau memiliki orang tersebut?"


"Kita bisa meminta Jaku untuk selalu berada di sini dan melakukannya."


"Bukankah tubuhnya terlalu besar?"


"Tuan muda, sebenarnya Jaku selalu berlatih untuk bisa menjadi manusia seutuhnya. Saat ini dia hanya membutuhkan satu tetes darah manusia yang akan menjadi tuannya."


"Baiklah, aku akan bertanya kepadanya."


"Jaku, apa kau mendengar ku?"


"Iya tuan muda, Jaku siap menerima perintah."


"Kau sudah mendengar pembicaraan ku dengan Luna tadi bukan? sekarang katakan padaku siapa manusia beruntung yang akan menjadi tuan mu?"


"Jika tuan muda mengijinkan, saya ingin menjadi pelayan nyonya muda. Tentu saja jika nyonya muda menginginkan saya."


"Maksudmu istri ku?"


"Benar tuan muda."


"Baiklah aku akan bertanya kepadanya."


Arnius berjalan keluar dari dalam kamar Yaza, ia menghampiri Yao yin yang sedang berbincang dengan Gina.


"Yin yin, Jaku ingin menjadi pelayan mu. Dia ingin kau menjadi tuannya sepanjang hidupnya. Apa kau mengijinkan?"


"Tapi kenapa dia menginginkan diriku bukankah ada yang lain, Keiko pun bisa."


"Dia menginginkan dirimu yang menjadi tuannya, kita membutuhkannya untuk membantu melayani pengobatan yang akan dilakukan oleh Luna kepada ayahku."


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


"Ikut aku keluar, aku akan mengeluarkan Jaku. Kau bisa berbicara dengannya."


Arnius melangkah keluar dari dalam rumah diikuti oleh Yao yin serta yang lainnya. Setelah Arnius mengibaskan tangannya, muncullah seekor merak hijau berbulu indah yang cukup besar. Gina serta beberapa pelayan yang melihat hal itu begitu terkejut, bahkan ada yang pingsan. Sementara Gina menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jaku benarkah kau ingin aku menjadi tuan mu?"


"Benar nyonya muda, tentu saja jika nyonya mengijinkan."


Gina hampir terjatuh saat mendengar suara lembut yang keluar dari mulut merak tersebut. Sementara Zaka memeluk erat tubuh Sakura yang bergetar karena ketakutan.


"Baiklah, katakan bagaimana caranya?"


"Saya meminta setetes darah nyonya muda."


Yao yin melukai ujung jarinya dan mengulurkan jari yang sudah mengeluarkan darah tersebut kehadapan Jaku. Sayap merak terulur untuk menyentuh ujung jari Yao yin yang sudah dipenuhi darah. Tak berselang lama cahaya hijau menyelimuti tubuh Jaku, setelah bulu sayapnya menyentuh ujung jari Yao yin. Tubuh seorang wanita muda mulai terlihat, saat cahaya hijau mulai menghilang perlahan.


"Jaku siap menerima perintah nyonya muda."


Jaku menunduk hormat di hadapan Yao yin.


"Kau harus membantu proses penyembuhan ayah Yaza, lakukan apapun yang diminta oleh Luna ataupun peri yang lain."


"Baik nyonya muda, sekarang apa yang harus saya lakukan?"


"Beri salam kepada ibu dan juga yang lainnya."


"Nyonya besar, tuan Zaka, nyonya Sakura dan juga yang lainnya. Mohon bimbingannya."


Genta yang sedari tadi hanya diam, kini ikut memberi saran, Jaku mengangguk perlahan seraya menjawab singkat.


"Terimakasih panglima, saya sangat beruntung bisa menjadi pelayan kalian."


"Pergilah ke dalam, suami ku sudah menunggu." Yao yin kembali berucap.


Arnius terlihat menata beberapa herbal di atas meja, saat semua kembali masuk ke dalam rumah.


"Hapalkan ramuan ini, serta kau harus merebusnya untuk di minum oleh ayahku setiap hari sebelum ia tidur. Besok aku akan membuatkan rumah khusus untuk menyimpan beberapa herbal serta tempat untuk beruang tua memijat. Sekarang rebus dan berikan kepada ayahku."


"Baik tuan muda."


Jaku bergegas membawa tanaman herbal ke dapur, bersama seorang pelayan lainnya.


"Ibu istirahatlah, Yin yin tolong kau antar ibu ke ke kamar."


Yao yin hanya mengangguk, kemudian beranjak untuk menuntun Gina kembali ke kamarnya.


"Suamiku, anak kita benar-benar hebat. Nius akan membantumu untuk sembuh seperti sedia kala. Anak itu bahkan mencari pelayan khusus untuk pengobatan mu."


Gina duduk di sisi ranjang suaminya.

__ADS_1


"Iya istriku, aku percaya pada anak kita. Dia pasti menginginkan yang terbaik untuk kita."


"Seekor merak bahkan rela menjadi pelayan untuknya, dia sudah merubah tubuhnya menjadi seorang gadis yang masih sangat muda. Namanya Jaku, sebentar lagi mungkin dia akan mengantarkan sup hangat untuk mu."


"Iya, aku akan menunggunya."


"Permisi tuan besar, nyonya besar. Saya Jaku, saya yang akan membantu melayani pengobatan tuan besar. Setiap malam saya akan membuatkan sup hangat untuk tuan."


"Iya, berikan padaku." Yaza menerima sebuah mangkuk kec berisi ramuan yang sudah di rebus sedemikian rupa oleh Jaku.


"Ini benar-benar sup hangat, aku kira obat."


Setiap kali Gina memberikan obat herbal kepada suaminya, ia selalu mengatakan bahwa ia menyajikan sup hangat. Namun kali ini, lidah Yaza benar-benar merasakan sup hangat yang menyegarkan dan bukan obat yang memiliki rasa pahit.


"Sejak dulu saya sudah belajar dari para peri kecil, tentang bagaimana meramu serta merebus herbal agar tidak terasa pahit. Para peri kecil mengajari saya dengan baik."


"Kerja bagus Jaku, pastikan ayahku nyaman dengan pengobatan yang akan kalian lakukan. Istirahatlah ayah, selamat malam."


Arnius yang masih berada di dalam ruangan itu, memuji kemampuan Jaku.


"Selamat malam tuan dan nyonya, semoga mimpi indah."


Jaku menutup pintu kamar setelah semua orang keluar dari dalam kamar tuan besarnya.


Para pelayan mulai mengantar setiap orang ke kamarnya masing-masing, tak terkecuali Arnius dan juga Yao yin.


"Hei tunggu, kalian menyuruh kami tidur satu kamar?"


Arnius menghentikan langkah para pelayan yang sudah mulai meninggalkan mereka.


"Be... Benar tuan muda, bukankah tuan dan nyonya muda sudah menikah? kami juga sudah mengganti ranjangnya, dengan ranjang yang lebih besar sesuai perintah paman."


Dengan gugup para pelayan menjawab pertanyaan Arnius dan segera bergegas mohon diri untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Masuklah Yin yin, aku akan mencari kamar yang lain."


Yao yin hanya terlihat mengangguk perlahan, saat Arnius berniat meninggalkan tempat itu. Namun suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Apa kau tidak menghargai upacara yang sudah susah payah Kakek Yao lakukan untukmu tuan muda? Kau menikahi cucunya di hadapan semua anggota keluarganya. Dan sekarang, untuk tinggal sekamar dengan istrimu pun kau tidak mau. Sungguh malang sekali nasib mu nona Yin, sebaiknya besok pagi aku kembali mengantar mu pulang. Ayo teman besar kita pergi, tuan muda mu ini memang tidak bisa menghargai orang lain."


Zen menarik lengan Genta tanpa menoleh kembali ke arah Arnius yang masih terdiam di depan pintu kamar. Keduanya melangkah menuju ke balik pepohonan yang sudah di tunggu oleh Eiji, Yuki dan juga Wu Ling. Kelima orang itu kembali mengintip Arnius yang mulai memasuki pintu kamar.


"Kita berhasil teman."


Kelimanya berusaha menahan suaranya, saat melihat Arnius mulai menutup pintu kamar tersebut.


"Apa yang kalian lakukan disini, mengintip?"


Kelimanya sedikit tersentak saat Keiko sudah berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kami hanya ingin menikmati udara malam. Ayo teman kita tidur."


Zen melangkah diikuti oleh keempat rekannya.


__ADS_2