Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Megan troll


__ADS_3

"Dengan di rendam di dalam cairan perekat dari para lebah, sayap ini akan lebih lentur dan kuat. Bisakah paman membantuku membawanya ke tempat mesin penggerak utama?"


Yao Yin menatap Zen sejenak.


"Tentu saja nona Yin."


Dengan dibantu oleh Zen serta para kera, mereka membawa sayap kupu-kupu yang berukuran cukup besar tersebut dengan sangat hati-hati ke dalam ruang penggerak utama.


Yao Yin kembali mengeluarkan para alat perkakas yang mampu bergerak untuk melakukan tugas masing-masing sesuai aba-aba dari Yao Yin. Satu persatu sayap kupu-kupu mulai terpasang di samping kanan dan kiri kapal serta bagian ekor kapal untuk membantu membelokkan arah kapal.


"Sayap ini akan bergerak untuk menghasilkan angin sebagai salah satu sistim gerak kapal. Sementara untuk sistem uap aku mengganti seluruh bahan bakar menjadi batu api, batu-batu itu mampu menyimpan panas api yang cukup besar. Sekarang aku akan memperbaiki layar serta membuat beberapa sekat tambahan. Karena selain terbang serta berlayar mengarungi lautan, classic pearl akan mampu menyelam ke dasar lautan."


Seringai tipis tersungging di bibir Yao Yin yang tidak tertutup topeng.


Zen masih mematung di tempatnya setelah mendengar kapal yang selama ini menemani perjalanan hidupnya akan mampu menyelam ke dasar lautan.


Zen bergegas berlari mengikuti Yao Yin setelah tersadar dari lamunannya. Gadis muda itu terlihat menata berbagai jenis batu mutiara yang di dapatnya dari para kera. Dan tentunya batu tersebut berasal dari gunung harta Arnius.


Ruang kemudi kapal yang sudah diperluas oleh Yao Yin, terlihat lebih lebar dari pada sebelumnya. Hingga mampu menampung dua puluh orang sekaligus. Bagian depan kemudi kapal yang sebelumnya tidak memiliki penutup, kini sudah tertutup kaca seluruhnya. Dan bukan hanya itu saja, sebelumnya tidak ada pintu yang berguna untuk menutupi ruang kemudi, kini terdapat dua lapis pintu yang harus di buka setiap kali masuk ataupun keluar dari ruangan tersebut.


"Paman kemarilah, aku akan menjelaskan sesuatu dan kuharap paman mampu mengingat semuanya."


Yao Yin menoleh sejenak ke arah Zen yang berdiri di depan pintu.


"Aku akan berusaha mengingatnya nona Yin."


Zen mengangguk perlahan.


"Semua batu ini akan berfungsi jika paman mengalirkan sedikit tenaga dalam dan batu ini akan aktif dengan sendirinya. Batu hijau adalah perisai pelindung dari berbagai serangan sekalipun itu mantra sihir. Batu biru adalah perisai udara, batu ini akan sangat berguna jika kapal ada di dalam air. Sementara batu yang aku letakkan di dalam lingkaran dan memiliki jarum penunjuk ini adalah batu apung yang sudah terhubung dengan berbagai jenis penggerak utama, baik itu api, air ataupun angin. Kita akan mencobanya."


Yao Yin mulai mengaktifkan tuas penggerak, beberapa roda yang berukuran kecil hingga sedang terlihat berputar sesuai dengan jalurnya. Sayap kupu-kupu mulai bergerak perlahan, classic pearl mulai bergerak pelan mengelilingi dermaga. Setelah Yao Yin mulai menekan tuas putih, jarum yang terletak di tengah lingkaran mulai bergerak berputar kemudian diam di satu titik. Zen serta Yao Yin dan seluruh kera merasakan kapal mulai naik dan sedikit melayang di atas permukaan air.


"Tarik tuas ini untuk menentukan ketinggian."


Yao Yin sedikit memberi penjelasan.


"Aku tidak tahu seberapa tinggi langit di tempat ini jadi sebaiknya kita berhenti saja."


Yao Yin kembali menarik tuas, kemudian menghentikan kapal setelah benar-benar menyentuh permukaan air.


"Seberapa dalam air ini aku juga tidak tahu jadi sebaiknya kita tidak perlu mencobanya. Sekarang sebaiknya kita meminta tuan muda itu untuk mengeluarkan kita dari tempat ini."


Yao Yin bergegas meninggalkan kapal dan berjalan mendekati Jaku yang masih menunggu di dekat dermaga, begitupun Zen yang dengan setia berjalan di belakang Yao Yin.


"Nona akan keluar dari tempat ini?"

__ADS_1


Jaku memandang wajah Yao Yin yang tertutup topeng.


"Jika aku terlalu lama di sini, itu bisa menjadi beban buat tuan muda mu itu. Bagaimana cara untuk menghubungi dirinya?"


Yao Yin menjawab tanpa menghentikan langkahnya.


"Nona, tuan muda itu berhati baik. Dia tidak pernah menyakiti orang lain, menurut ku tuan muda begitu tampan dan terlihat gagah serta sangat berwibawa. Apa ada yang kurang dari dirinya?"


"Kenapa kau begitu memuji pria itu di hadapan ku. Apa kau menyukainya?"


"Bukan seperti itu nona. Menurut ku nona Yin yang cantik, anggun dan mempesona akan sangat serasi jika berdampingan dengan tuan muda Arnius."


"Berhentilah menjodohkan aku dengannya, aku tidak tertarik."


Yao Yin menghentikan langkahnya setelah tiba di dekat batu mutiara putih yang juga sedang diperhatikan oleh Jung Bao.


"Nona muda, maaf saya tidak menjenguk anda di istana kecil."


Jung Bao sedikit menunduk dihadapan Yao Yin.


"Tidak mengapa tuan, terimakasih atas pertolongan kalian. Sekarang tolong beritahu tuan muda kalian untuk mengeluarkan kami dari tempat ini."


Yao Yin berkata dengan lembut.


"Baik nona."


"Akhirnya aku terbang di atas punggung mu teman kuat."


Zen tersenyum lebar serta memeluk erat tubuh naga emas yang cukup besar tersebut.


"Jangan seperti itu paman, kau bisa saja membuatnya marah. Jangan memeluknya seperti itu."


Yao Yin berusaha melepaskan tangan Zen yang berada di belakangnya.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku nona Yin. Lihatlah tuan muda itu, dia tidak berhenti melirik kearah mu."


Zen melihat kearah Arnius.


"Berhenti bicara paman aku melihat ada pemukiman di depan sana."


Yao Yin menunjuk ke satu arah.


"Kecilkan tubuhmu tuan naga."


Yao Yin kembali berucap serta menepuk pelan punggung Ryu kogane.

__ADS_1


Semua menyadari ada sesuatu di depan sana, tanpa aba-aba seluruh hewan ilahi merubah kembali tubuh mereka. Wu Ling serta Eiji bergegas memadatkan udara supaya seluruh rekan mereka bisa segera mengendalikan tubuh, tanpa harus jatuh dari ketinggian.


Pandangan Yao Yin langsung tertuju kepada kakeknya, saat ini Kin Raiden masih menggendong tubuh tua kakek Yao di belakang punggungnya. Sejak luka yang dideritanya, kakek Yao tidak memiliki banyak tenaga dalam. Sehingga tidak mampu terbang seorang diri.


"Terimakasih tuan Phoenix."


Yao Yin bergegas mendekati Kin Raiden yang sudah menurunkan kakek Yao di balik bebatuan.


"Hm."


"Yin Yin kau baik-baik saja?"


Kakek Yao berucap pelan.


"Iya Kakek, tetaplah di sini."


Yao Yin bergegas keluar dari bebatuan dan berjalan mengendap mendekati sebuah kubangan yang tidak begitu dalam. Tindakan Yao Yin diikuti oleh Arnius.


"Hati-hatilah jika bergerak nona."


Arnius mendekati Yao Yin yang tengah berjongkok.


"Kau lihat ini?"


Yao Yin menunjuk kubangan yang ada di hadapannya.


"Itu jejak kaki."


Arnius mengernyitkan keningnya.


"Megan troll, mereka ada di tempat ini."


Yao Yin sedikit berbisik.


"Sebaiknya kau dibelakang ku nona."


Arnius mulai menyadari ada bahaya yang mendekat, dengan cepat Arnius menarik tubuh Yao Yin kebalik bebatuan besar.


Tanah yang di pijak oleh Arnius dan seluruh rekannya terasa sedikit bergetar, kemudian terdengar perbincangan singkat dengan suara yang begitu keras.


"Grrr .. Dimana kau melihatnya, bodoh?"


"Di tempat ini, sebaiknya kau berhenti memanggilku bodoh. Aku punya nama."


"Para manusia itu tidak mungkin sampai di tempat ini, ayo kita kembali ke pos penjagaan."

__ADS_1


Tanah kembali bergetar saat kedua manusia bertubuh besar itu berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Zora, Zen, Naoki serta yang lainnya menelan ludah hampir bersamaan, setelah melihat manusia yang bertubuh tinggi dan begitu besar.


__ADS_2