
Kin Raiden membawa serta istri dan ayahnya saat ia pergi ke Eagle rock. Kedatangan mereka di sambut baik oleh master Zabuza. Sementara Ciyome begitu senang, karena telah memiliki seorang adik ipar.
Kin Raiden membiarkan mereka saling mengenal dan bercengkerama lebih lama. Phoenix merah tersebut memutuskan untuk kembali terlebih dahulu, karena masih banyak yang harus mereka kerjakan. Sementara Ayah serta istrinya akan menyusul bersama dengan seluruh rombongan dari Eagle rock.
Putri Azumi dan pangeran Naoki berencana untuk berhenti di kota terdekat, sekedar mencari hadiah yang pantas bagi kedua sahabatnya yang sudah dipastikan akan menikah. Karena begitu gembira, keduanya memilih begitu banyak barang hingga mencapai sepuluh peti besar. Putri Azumi memasukkan semuanya ke dalam sebuah cincin penyimpanan dan kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah keluar dari dalam kota, keduanya merasa ada yang sedang mengikuti mereka. Naoki menghentikan kudanya, begitu pula dengan putri Azumi.
"Keluar. Tunjukkan dirimu."
Naoki berucap tegas. Azumi mulai mengendalikan aliran darah seekor burung elang yang kini bertengger di sebuah dahan pohon.
"To.. Tolong hentikan nona. Ka.. Kami diutus oleh tuan muda Arnius."
Elang tersebut berucap dengan terbata-bata, karena kemampuan putri Azumi tidak bisa dipandang rendah. Burung itu kembali berucap, setelah Azumi menghentikan aksinya.
"Tuan muda Arnius meminta kami untuk mengawal siapapun yang hendak pergi menghadiri acara pernikahan nona muda Tamura. Kami tersebar di beberapa kota terdekat."
"Baiklah. Kalau begitu ayo lanjutkan perjalanan."
Pangeran Naoki dan putri Azumi kembali memecut kuda mereka, supaya lebih cepat berlari. Keduanya seolah tidak sabar untuk bertemu seluruh sahabatnya.
Seluruh rombongan bangsawan pun mulai bergerak cepat untuk segera tiba di wilayah klan yang begitu terkenal karena armada tempur mereka yang begitu kuat, serta kecantikan nona muda Tamura yang membuat mereka begitu penasaran.
Karena acara yang terbilang mendesak dan mendadak. Seluruh pelayan sudah berusaha mencari semua kebutuhan untuk perjamuan di beberapa penjuru kota terdekat. Namun sepertinya semua itu masih belum cukup.
Akhirnya Arnius meminta semua pelayan yang ada di dalam giok hitam untuk ikut menyiapkan berbagai jenis masakan. Untuk menghindari kecurigaan yang berlebihan dari para pelayan yang ada di kediamannya, semua barang yang ia keluarkan dari giok hitam, kebanyakan sudah berbentuk potongan dan bahkan ada yang sudah di masak. Semua di lakukan sesuai dengan perintah Yao Yin dan Ai Sato.
Seluruh penduduk bumi akan terkejut, bahkan bisa saja gempar jika mereka melihat seekor ayam yang besarnya hampir menyamai seekor gajah. Belum lagi telurnya yang berukuran cukup besar. Beberapa buah-buahan yang di keluarkan pun sudah terpotong dengan rapi. Jangan sampai mereka semua melihat sebuah apel sebesar gerobak pengangkut barang.
Selain untuk persiapan perjamuan, mereka juga harus menyajikan berbagai makanan untuk para tamu yang sudah datang dan menginap saat ini. Meskipun hanya kerabat dekat yang diperbolehkan untuk masuk ke wilayah dalam, namun jumlah mereka pun tidak sedikit. Sementara tamu undangan lainnya dipersilahkan menginap di wilayah luar.
Dengan adanya Doulu yang berjaga di pintu masuk pada wilayah luar. Membuat mereka yang hendak mengacau, menjadi ciut nyalinya. Beberapa hewan ilahi yang terkadang berkeliling untuk sekedar berpatroli, semakin membuat mereka berpikir dua kali jika ingin menciptakan keributan.
Sementara Dielu yang berjaga di wilayah dalam, saat ini lebih terlihat seperti seorang pengasuh. Meskipun sama sekali tidak bergerak yang berlebihan, namun ia harus memastikan ke tiga monster kecil itu tidak berbuat hal yang aneh hingga menyebabkan keributan. Kehadiran Minori dan juga Yuzar, membuat gorila batu tersebut sedikit lebih tenang.
Seluruh anggota Classic team tidak tinggal diam. Mereka semua membantu demi kelancaran prosesi pernikahan panglima mereka. Untuk memperluas tempat di selenggarakannya pesta, Yuki bahkan diminta untuk memindahkan beberapa taman, tanpa harus merusak keindahan taman tersebut.
Zora bahkan sudah merancang berbagai jenis kembang api untuk melengkapi suasana malam pesta. Meskipun prosesi pernikahan dilakukan pada siang hari, namun pesta akan tetap berlangsung hingga malam hari.
Semua tempat sudah tersusun rapi. Mulai dari altar, hingga kamar tidur pengantin. Genta hanya duduk diam di atas Classic pearl, sambil terus melihat semua orang yang sibuk kesana-kemari untuk melakukan tugasnya. Bukan hanya di wilayah dalam, pesta pernikahan akan berlangsung pula di wilayah luar. Meskipun hanya sekedar menikmati berbagai hidangan dan minuman yang tersedia.
Setelah prosesi pernikahan selesai, tuan besar Tamura juga berencana untuk mengumumkan tentang pernikahan putra keduanya serta memperkenalkan ke tiga cucu kesayangannya termasuk juga Yuzar sebagai salah satu tuan muda Tamura.
Dengan susah payah dan hampir tidak berhenti walaupun sekedar untuk beristirahat, namun ke duanya hanya berhenti untuk membeli beberapa hadiah. Pangeran Naoki dan putri Azumi tiba di wilayah luar klan Tamura. Seekor binatang bertubuh batu yang pertama menyita perhatian ke dua kakak beradik tersebut.
Burung elang yang tadinya mengikuti ke duanya, mulai melayang jauh ke wilayah dalam. Untuk melaporkan kehadiran pangeran serta sang tuan putri. Arnius dan semua Classic team menyambut kedatangan ke duanya di pintu gerbang. Seorang penjaga memberikan laporan bahwa, pangeran serta tuan putri masih mengamati tubuh Doulu.
"Meskipun bertubuh batu, namun binatang tersebut bisa bergerak. Bahkan dia seperti tidak memiliki aliran darah. Bagaimana mungkin."
__ADS_1
Azumi bergumam sendiri. Gadis cantik itu bahkan memberanikan diri untuk menyentuh lutut Doulu yang kebetulan pada saat itu sedang duduk bersila. Naoki sempat melarang tindakan adiknya, dengan menghentikan tangan mungil tersebut untuk tidak menyentuh tubuh monster besar yang ada di hadapan keduanya. Namun perasaan ingin tahu Azumi lebih besar dari pada rasa takutnya.
Doulu mengulurkan telapak tangannya. Azumi menyambut uluran tangan tersebut. Meskipun tubuhnya hanya sebesar satu ruas jari dari monster tersebut. Tangan mungilnya hanya menyentuh ujung telunjuk Doulu.
"Hai.. Aku Azumi."
Azumi berucap seolah berharap, monster besar tersebut mengerti dengan ucapannya.
"Namanya Doulu. Tuan putri."
Zora yang sudah berada di tempat tersebut sedikit menjelaskan, kemudian sedikit membungkuk untuk memberi hormat.
"Selamat datang pangeran dan tuan putri."
Pangeran Naoki tidak menyahut apapun. Namun pria itu bergerak untuk memeluk tubuh sahabatnya serta orang kepercayaannya yang sudah lama tidak dijumpainya.
"Kau semakin kuat Zora."
Keduanya saling tersenyum. Naoki beralih menatap semua sahabatnya dan memeluk mereka satu persatu.
"Kapten Zen."
Naoki menepuk lengan kekar sang kapten yang semakin besar dan berotot. Mereka tidak sempat untuk menunduk hormat di hadapan sang pangeran, karena Naoki terlebih dahulu mengulurkan tangannya serta menepuk bahu setiap sahabatnya. Pria itu tidak lupa mengabsen satu persatu semua sahabatnya.
"Yuki, Wu Ling, Eiji, Arnius sang komandan dan calon pengantin pria kita. Sepertinya anggota kalian bertambah."
"Dimana Kei?"
Azumi beralih menatap semua sahabatnya.
"Tentu saja di kamarnya tuan putri."
Arnius menjawab singkat.
"Lalu Nyonya Minori. Ah lupakan, dia pasti sangat sibuk bersama dengan kakak Yin Yin. Aku akan membantu mereka."
Azumi kembali berucap seraya melenggang pergi menuju ke wilayah dalam, diikuti oleh semuanya. Setibanya di wilayah dalam, Azumi kembali di kejutkan oleh monster besar yang sama dengan yang tadi dilihatnya. Gadis cantik itu berhenti di hadapan Dielu.
"Dia Dielu."
Arnius memperkenalkan Dielu seraya melambai ke pada ke tiga anak kecil yang duduk di ke dua bahu serta lengannya. Ke tiga bocah itu pun turun dan mendekat ke arah Arnius. Namun Yuzar yang telah mengenal ke dua tamu yang baru saja tiba tersebut, segera menunduk untuk memberikan salam.
"Pangeran dan tuan putri, Yuzar memberi hormat."
"Kalian bertiga juga harus memberi hormat."
Arnius berucap pelan. Ke tiganya mulai menunduk hampir bersamaan.
"Hormat kami untuk tuan putri dan pangeran."
__ADS_1
"Cantik sekali. Siapa nama kalian."
Azumi mencubit gemas pipi tembem Kazumi. Dengan sedikit cemberut, putri kecil Eiji tersebut menyebutkan namanya.
"Kazumi Tamura."
"Ryota, tuan putri."
"Kana Tamura."
Rambut Kana yang panjang terhempas angin sesaat. Rambut itupun berubah warna dalam sekejap. Azumi begitu terkesima melihat kejadian tersebut.
"Maafkan tuan putri kecil kami nona Azumi."
Minori sedikit menunduk dan menarik perlahan bahu Kana.
"Bibi Minori. Tidak apa-apa, aku sangat menyukai gadis ini. Dia sangat cantik. Apakah dia putri dari kakak Yin Yin?"
"Benar tuan putri. Dan Ryota adalah kakaknya."
"Kau memiliki dua anak komandan. Ya ampun, kalian begitu mempesona. Lalu kau nona kecil?"
Kazumi melangkah mundur dan sedikit berlari mendekati ayahnya.
"Ayah."
Gadis kecil itu menarik ujung baju sang ayah. Eiji mengangkat tubuh mungil putrinya.
"Maaf tuan putri. Putri ku sedikit pemalu."
"Haaa... Jadi ka.. Kau sudah menikah?"
"Benar tuan putri."
"Tenanglah tuan putri kecil. Aku tidak akan menggigit mu. Ayo ikut aku."
Azumi tersenyum kecil dan berusaha untuk berteman dengan putri kecil Eiji.
"Tuan putri baru saja tiba. Sebaiknya tuan putri beristirahat. Saya yang akan menjaga mereka."
Minori berusaha mencegah ke tiga monster lucunya untuk mengikuti gadis tersebut, karena takut jika mereka kembali membuat keributan. Karena baru saja ke tiganya di minta untuk keluar dari dapur yang hampir saja mereka ledakkan.
"Kalau begitu temani aku beristirahat. Bagaimana?"
Azumi kembali memandang ke tiga bocah kecil yang masih terdiam di hadapannya. Eiji menurunkan putrinya dari gendongannya. Kana, Ryota dan Kazumi mengangguk secara bersamaan.
"Ayo kita ke Classic pearl. Aku ingin melihat wujud dari kapal tua itu."
Azumi beserta ke tiga bocah kecil tersebut mulai berjalan perlahan. Sementara Zen menepuk kepalanya perlahan. Di dalam hati ia berharap, semoga tidak terjadi kerusakan apapun dengan kapal tuanya.
__ADS_1