
Tubuh Wu Ling masih tergeletak di lantai Classic pearl, pemuda itu masih berusaha merasakan gerakan setiap organ tubuhnya. Perlahan ia menggerakkan jari, lengan, kepala kemudian kedua kakinya. Meskipun sedikit, namun ia mulai merasakan anggota tubuhnya masih ada.
"A.. Apa yang kau lakukan nona?"
Dengan terbata Wu Ling mulai berucap saat melihat sosok tubuh wanita yang masih tergeletak tidak jauh darinya, kedua mata gadis itu masih terpejam. Wu Ling berusaha duduk serta menyandarkan punggungnya pada dinding kapal.
"Ternyata kau cukup kuat anak muda."
Benjiro tersenyum kecil saat melihat Wu Ling yang lebih dulu tersadar dari pada Aina putrinya.
"Apa yang putrimu lakukan kepada ku panglima?"
Wu Ling masih berusaha mengajukan pertanyaan yang sama, karena dirinya sama sekali tidak tahu apa yang sudah terjadi pada tubuhnya.
"Beristirahatlah, aku akan segera menikahkan kalian jika semua sudah membaik."
Benjiro kembali tersenyum. Sementara Wu Ling semakin tidak mengerti dengan ucapan pria tua dihadapannya itu.
"Aku bukan anak mu panglima, jadi kau tidak perlu repot untuk menikahkan aku. Lagi pula tidak ada yang mau menikah dengan ku."
Wu Ling mulai duduk dengan benar untuk mengembalikan energi di dalam tubuhnya, namun suara ledakan keras begitu mengganggu pendengarannya. Pria itu ingin melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun diurungkannya, karena rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya.
Di taman belakang istana naga masih terlihat pertarungan yang sengit. Hitoshi kembali membuat garis cahaya dari jari jemarinya, dan kembali meledak di atas langit istana naga. Sebuah lubang terbentuk di atas sana, segel udara di atas istana naga mulai terkikis perlahan. Hitoshi dan juga Shoji masih berusaha membuka segel pelindung udara tempat tinggal mereka.
"Seharusnya mereka semua mendengar ledakan itu."
Nafas kedua saudara itu terlihat semakin memburu, setelah kembali membuat ledakan besar di atas sana.
"Lalu kenapa tidak ada yang datang, benarkah ini semua sudah disetujui oleh Baginda?"
Hitoshi dan Shoji saling berpandangan.
"Jika memang benar, kita harus mengeluarkan kakak pertama dan juga yang lainnya."
"Hm."
Shoji menyetujui ucapan kakak lelakinya.
Sebelumnya.
__ADS_1
Kin Raiden dan Eiji yang sudah tiba di tempat tersebut, saat ini melayang mengelilingi langit istana naga yang masih tertutup segel. Mereka berusaha mencari titik terlemah dari segel tersebut untuk bisa menghancurkannya sebagai jalan masuk ke dalam istana yang seolah benar-benar tertutup.
Sementara itu di kejauhan terlihat Akira yang begitu mencemaskan suatu hal. Harimau merah itu sudah menyadari akan keanehan yang terjadi setelah Ryu kogane dan rombongannya mulai memasuki istana.
Hampir seluruh pasukan khusus yang seharusnya di bawah komando pangeran Masaru, saat ini di ambil alih oleh salah satu pamannya. Panglima Chisen adalah pemegang kendali penuh atas semua pasukan istana naga. Bahkan Akira dan juga pasukannya saat ini dilarang untuk memasuki wilayah istana.
Saat ini panglima penjaga perbatasan itu sedang berada di atas punggung elang hitam. Satu-satunya pasukan terbang yang berjaga di perbatasan. Pasukan yang dipimpinnya memang hanya terdiri dari beberapa mahkluk darat. Jika pun ada pasukan udara, itu hanyalah pembawa pesan.
"Sial... Sial... Apa sebenarnya yang terjadi?"
Akira mengumpat berulang kali, karena tidak satupun anggotanya yang berhasil masuk ke dalam istana. Pandangannya mulai melihat satu sosok yang cukup dikenalnya, Akira bergegas meminta elangnya untuk terbang mendekat.
"Tuan Eiji. Sejak pangeran Kogane masuk ke dalam istana, tidak satupun anggota ku yang diperbolehkan berada di sekitar istana apalagi mencoba untuk masuk. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Sementara panglima Chisen sudah mengambil alih semua pasukan, termasuk pasukan khusus pangeran Masaru."
Meskipun mereka terbang berkeliling, Eiji masih bisa mendengarkan semua perkataan dari panglima penjaga perbatasan yang cukup dikenalnya itu.
"Jadi besar kemungkinannya akan terjadi kudeta."
"Itu bisa saja terjadi."
Keduanya berhenti berbincang saat terdengar suara ledakan keras dari satu tempat. Terlihat garis cahaya yang lenyap di udara, setelah terjadi ledakan besar tersebut.
Akira mengenal garis cahaya yang telah lenyap di udara, serta kilat api hitam pangeran Shoji. Mereka bergegas mendekati tempat tersebut, namun tubuh Akira hampir terhempas dari atas punggung elang yang dinaikinya, saat kembali terjadi ledakan keras. Sementara dari kejauhan mulai terlihat sebuah kapal yang cukup besar serta beberapa pasukan Phoenix terbang.
"Kau hebat Wu Ling."
Eiji bergumam perlahan.
"Wah.. Sepertinya pria itu mengalami banyak kemajuan. Dia juga bisa menggunakan segel pemindah."
Kin Raiden ikut bergumam.
"Dan dia membawa banyak pasukan. Bagaimana keadaan tubuhnya saat ini?"
Eiji tersenyum kecil.
"Pria itu pasti pingsan saat ini."
Kin Raiden menjawab ucapan tuanya.
__ADS_1
"Sudah terbentuk celah kecil, tuan Eiji lihatlah."
Akira menunjuk segel udara yang mulai sedikit berlubang. Eiji bergegas masuk melalui lubang itu setelah memastikan tidak ada lagi ledakan. Kin Raiden mengubah bentuk tubuhnya supaya lebih mudah memasuki celah kecil tersebut.
"Sebaiknya kau sedikit menjauh, aku akan membuat celah ini sedikit lebih lebar, dan beritahukan semuanya kepada para Phoenix itu."
Kin Raiden sempat berbicara kepada Akira, sebelum mulai melesat menyusul Eiji. Akira bergegas mendekati panglima Phoenix yang juga melayang mendekatinya.
"Apa yang terjadi?"
"Panglima Chisen mengambil alih semua pasukan dan sepertinya dia juga mengurung semua pangeran termasuk tuan Arnius dan keluarganya."
"Bagaimana dengan Baginda raja dan permaisurinya?"
"Entahlah panglima."
"Kau pimpinan pasukan mu untuk masuk dari gerbang utama, aku akan bersama denganmu serta beberapa pasukan ku. Ronin.. Kau jaga lubang ini."
Benjiro sedikit berteriak.
"Tapi panglima, mereka tidak mengijinkan ku apalagi pasukan ku untuk melewati gerbang."
"Apa kau bodoh. Lalu untuk apa para panglima Awan itu menunggumu. Jangan kau kira aku tidak mengetahui identitas mu pangeran Daisuke."
Benjiro menatap tajam wajah Akira. Seraya menunjuk beberapa orang berjubah putih yang tengah melayang mendekati mereka.
"Baiklah."
Akira tertunduk lemas dan mulai berjalan mendekati beberapa orang yang baru saja menapakkan kaki mereka di pos penjagaan. Akira bahkan tidak lagi turun menggunakan elang hitam yang tadi dinaikinya. Pria muda itu melayang turun dari ketinggian tanpa kesulitan sedikitpun.
"Panglima."
Beberapa bawahnya terlihat begitu terkejut, saat mereka mengetahui bahwa sang harimau merah bisa menerbangkan tubuhnya tanpa kesulitan.
"Paman."
Akira tertunduk di hadapan seorang pria yang nampak lebih tua darinya.
"Apa kau sudah puas berkelana di dunia bulan ini? sekarang kau harus melakukan tugas mu sebagai seorang pangeran. Cepat ubah penampilan mu, aku tidak mau melihat seorang pangeran negri Awan yang berpenampilan tidak karuan seperti mu."
__ADS_1