
Sekumpulan kelelawar besar mengepakkan kedua sayapnya mendekati beberapa tubuh manusia yang berdiri di atas tebing. Bagi para kelelawar besar dan hewan ganas lainnya, memakan daging manusia rasanya pastilah sangat nikmat.
Matahari belum saatnya terbenam, namun para hewan malam tersebut sudah keluar dari dalam sarangnya. Sepasang mata kelelawar tersebut terlihat memancarkan sinar kemerahan.
"Matahari masih belum sepenuhnya terbenam, namun kenapa hewan ini sudah berkeliaran. Pasti ada yang telah menganggu tidur mereka."
"Kau benar. Pasti ada hewan lain yang telah kelaparan, hingga mengobrak abrik sarang mereka. Jika tidak salah, ada beberapa dari jenis mu yang sangat menyukai daging mereka."
Genta membenarkan ucapan Kin Raiden. Kini keduanya saling berpandangan, namun wajah Kin Raiden terlihat di penuhi dengan kemarahan.
Kilatan tenaga besar kembali menyadarkan keduanya. Sebelah tangan Arnius terkepal, hingga menyebabkan lesatan tenaga besar dan membentuk sebuah tameng besar yang hampir tidak terlihat, saat kedua mata para kelelawar tersebut mengeluarkan sinar merah yang melesat cepat ke tempat mereka.
"Apa yang kalian ributkan?"
Genta dan juga Kin Raiden tidak menjawab pertanyaan Arnius. Keduanya mulai melancarkan serangannya ke arah kumpulan kelelawar tersebut. Api dan petir mulai menyayat satu persatu puluhan tubuh hewan malam yang kini terbang dengan membentuk beberapa kelompok.
"Mereka sudah memulai taktik perburuan mangsa."
Zora bergumam perlahan seraya mengamati pergerakan setiap kelompok hewan besar yang terbang mengelilingi tebing tempat mereka berdiri saat ini.
"Mereka menyerang dengan berkelompok dari berbagai arah. Semuanya bersiap, jangan sampai terlewat."
Kini Zora sedikit berteriak. Tak lupa ia melemparkan sebuah sarang lebah yang masih di penuhi dengan madu ke arah beruang hitam yang bertubuh cukup besar dan tengah terduduk di sampingnya. Kuma menangkap dengan baik sarang lebah tersebut. Wajahnya di penuhi dengan senyuman, saat beruang besar tersebut melahap madu yang kini ada di dalam genggamannya.
"Cepat habiskan dan bersiaplah."
Zora kembali melemparkan beberapa lobak biru ke pada Kuro, Chio, Robaki, Mon Mon, dan juga Shiro.
Sementara Yuki dan Wu Ling bergegas mendekati celah yang di tunjukkan oleh Chio sebelumnya. Keduanya bersiap untuk memastikan tidak ada satu hewan pun yang lolos dan mencoba mendekati celah tersebut.
Wu Ling memasang segel pelindung diantara celah tersebut, sementara Eiji berdiri di samping kapten Classic pearl untuk memastikan keselamatan seluruh rekan mereka yang masih terluka, serta membabat habis beberapa kelelawar di sisi lainnya.
"Cepat selesaikan, atau aku akan membekukan seluruh tempat ini."
Keiko mulai melayang dan melesatkan pisau es miliknya ke beberapa kelelawar yang menyerang dari atas. Sementara Arnius mengatasi puluhan kelelawar yang menyerangnya dengan mengibaskan tangannya yang sudah di penuhi dengan bara api.
Satu persatu para kelelawar tersebut mulai meluncur cepat ke bawah, setelah terkena serangan dari setiap anggota baru Classic team. Setelah menghabiskan makanannya, Kuma dan yang lainnya ikut serta menyerang para kelelawar yang masih berusaha memburu mereka.
Tubuh Eiji dan beberapa rekan lainnya sedikit berguncang, saat terdengar suara dentuman yang diikuti dengan beberapa debu pasir yang berhamburan di udara. Di sisi kanan tebing terlihat seekor elang besar yang sedang mempertahankan tubuhnya dari sayatan dan tusukan duri-duri tajam yang ada pada kaki seekor laba-laba berwajah manusia.
__ADS_1
"Sepertinya mereka berdua yang telah mengganggu tidur para binatang terbang ini."
Zora bergegas mengaktifkan gelang besi yang melingkar di tangannya dan juga menekan sebuah tombol yang melekat pada sebuah besi yang menempel di belakang tubuhnya. Zora bergerak cepat dengan bantuan enam kaki laba-laba yang muncul di punggungnya.
Di tangan kanan Zora kini muncul sebuah cakar besi yang merobek perut seekor kelelawar yang sempat lolos dari serangan petir Eiji. Pedang besar Zen pun sudah berusaha menebasnya, namun masih belum bisa menjangkaunya.
Duaarrr...
Kini muncul sebuah meriam tembak yang berukuran sedang di lengan kirinya. Beberapa tubuh kelelawar meledak setelah terkena lesatan butiran peledak dari lengan kiri Zora. Sensei muda tersebut juga melesatkan peledaknya ke arah laba-laba berwajah manusia yang masih mencoba mengoyak tubuh elang besar yang berada di sisi kanan tebing.
"Eiji jangan ke sana, laba-laba itu menyemburkan asap beracun."
Zora berteriak keras, saat melihat Eiji melesat mendekati tubuh elang besar yang sudah mulai bersimbah darah. Kaki laba-laba yang menempel di belakang tubuhnya, memudahkannya menuruni tebing dan menyusul Eiji.
Adik lelaki Arnius tersebut mendengar rintihan yang sempat keluar dari mulut elang besar yang sudah terkulai tidak berdaya. Sejak batu bulan menyatu dengan tubuhnya, Eiji mampu memahami setiap ucapan dari bangsa burung. Sehingga saat ini bisa dipastikan, dia mengerti rintihan dari elang besar yang ada di hadapannya.
Arnius dan lainnya sontak melihat ke arah Eiji yang sudah melesat mendekati tubuh elang besar yang sudah terkulai tidak berdaya. Pertarungan sengit antara Eiji dan laba-laba berwajah manusia tidak terelakkan lagi.
Berkali-kali asap tebal mengepul dari tubuh ungu sang laba-laba. Eiji pun berkali-kali menguatkan segel udaranya. Namun belum sekalipun serangan petir miliknya berhasil mengenai tubuh hewan besar tersebut.
Setelah menebas sekawanan kelelawar, Kin Raiden bergegas melesat menyusul Eiji. Pekik sang Phoenix menggema hampir di setiap penjuru tebing setelah Kin Raiden merubah tubuhnya dan melesat cepat menyambar tubuh elang yang sudah terluka parah.
Setelah Kin Raiden meletakkan tubuh elang besar tersebut di dekat rekannya yang lain, Phoenix petir itu kembali melesat ke arah tuannya. Sebelum ia sempat menyatukan dirinya dengan tubuh Eiji, terlihat lesatan petir menyambar tepat ke bawah perut sang laba-laba besar. Seketika pula terdengar teriakan tertahan dari mulut adik lelaki Arnius tersebut.
Tubuh Eiji terlempar jauh dan saat ini tidak ada satu pun bagian dari tubuhnya yang terlihat. Seluruh tubuh Eiji terbungkus serat halus dari jaring laba-laba berwajah manusia tersebut. Serat halus yang berwarna keunguan serta memiliki bau yang begitu menyengat.
Sang Phoenix petir berniat menyentuh tubuh tuannya, namun teriakan Zora menghentikan gerakannya.
"Jangan menyentuhnya. Aku yang akan mengurusnya, bunuh binatang itu."
Zora melesat cepat dengan ke dua kaki cepatnya. Ia menuangkan cairan yang ada dalam sebuah guci besar ke seluruh tubuh Eiji yang masih terbungkus serat halus laba-laba.
"Racun yang benar-benar mematikan."
Zora berjongkok di sebelah tubuh rekannya tersebut, setelah serat halus laba-laba benar-benar menghilang dari tubuh Eiji.
"Kogane..."
Zora kembali berteriak setelah ia mendudukkan tubuh Eiji.
__ADS_1
"Hanya Phoenix itu yang bisa menyalurkan energi ke dalam tubuhnya."
Genta melesat menggantikan Kin Raiden yang masih berusaha menebas setiap kaki laba-laba masih mampu bergerak meskipun perutnya hampir terbelah karena terkena pisau petir Eiji sebelumnya.
"Selamatkan tuan mu."
Tanpa menjawab, Kin Raiden kembali melesat mendekati tubuh Eiji setelah bertatapan dengan Genta sesaat.
"Salurkan tenaga mu. Cepat.."
Zora memasukkan sebuah pil yang cukup besar ke dalam mulut Eiji dan memaksanya untuk menelannya. Sensei muda tersebut segera menjauh setelah Kin Raiden mulai menyalurkan energinya ke tubuh tuannya. Kilatan petir terlihat saling bersahutan di sekitar keduanya. Zora semakin menjauhkan dirinya, supaya tidak terkena dampaknya.
Keiko turun dari ketinggian dan mendarat di samping sensei muda tersebut.
"Bagaimana keadaan kakak ku?"
"Sekarang kita hanya bisa berharap supaya para dewa memberikan pertolongan-Nya."
Wajah Zora menunduk lesu saat tangan gadis kecil itu menyentuh pundaknya dan hampir membuat tubuhnya membeku, jika Arnius tidak segera melepaskannya tangan mungil tersebut.
"Tenanglah Kei, Ji ji ku sangat kuat. Dia pasti bisa bertahan."
Arnius berucap dengan tenang, namun tidak dengan raut wajahnya yang begitu menunjukkan kecemasan. Pandangannya beralih menatap Genta yang sudah berada di sampingnya setelah mencincang habis tubuh laba-laba berwajah manusia.
"Apakah ini bisa berguna?"
Genta menyerahkan sebuah permata ungu yang di dapatnya dari dalam perut laba-laba besar tersebut.
"Mungkin saja. Tapi jika dia berhasil melewati masa kritisnya saat ini."
Zora menerima batu ungu pemberian Genta.
"Kau pastikan keamanan tempat ini dan pastikan tidak ada yang mendekati celah itu. Aku akan menjaga mereka."
Genta hanya mengangguk dan kembali melesat setelah mendengar perintah Arnius.
"Kakak ku mohon bertahanlah."
Keiko terduduk lemas di samping Zora. Pandangan keduanya tak pernah lepas dari Eiji dan juga Kin Raiden. Bulir bening mulai menetes dari mata indahnya.
__ADS_1
"Kau pasti mampu bertahan Ji ji."
Arnius bergumam perlahan.