
"Bisakah kau menghangatkan air untuk mandi?"
Suara Yao yin mengejutkan Arnius yang masih terpejam di atas tempat tidur.
"Kau mau mandi? tapi ini masih sangat pagi, matahari juga belum terbit."
"Aku sudah mandi, tapi jika tempat penampungan air yang ada di belakang itu hangat. Tentu semua orang bisa mandi air hangat setiap hari, sehingga tidak terlalu merepotkan para pelayan yang harus memanaskan air untuk mandi."
"Iya nanti aku lakukan, biarkan matahari itu terbit dahulu."
Arnius memiringkan tubuhnya dan kembali mendekap guling yang ada di sampingnya.
"Kalau begitu tolong temani aku berkeliling melihat seluruh tempat di kediaman ini."
"Apa tidak bisa nanti saja? bahkan pohon pun belum terlihat jelas."
Arnius masih belum bergerak dari tempatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku ingin berjalan sendiri. Sebaiknya aku melepaskan saja penutup wajah ini. Lagi pula siapa juga yang akan berani memandang wajah ku terlalu lama, aku bisa saja dianggap buruk rupa."
"Jangan pernah membuka penutup wajah itu depan orang lain."
"Kenapa?"
Yao yin yang sudah meletakkan penutup wajahnya di atas meja terkejut saat Arnius menarik lengannya perlahan.
"Pakai kembali, hanya aku dan orang-orang tertentu saja yang akan melihat wajahmu tanpa penutup itu."
Arnius mengambil kembali penutup wajah yang tergeletak di atas meja. Matanya hampir tidak berkedip saat ia melihat wajah Yao yin tanpa penutup muka. Yao yin menutup mulut Arnius yang sempat terbuka lebar beberapa saat.
"Tutup mulutmu dan ingatlah untuk berkedip saat melihatku. Akhirnya kau bangun juga, sekarang ayo kita berkeliling."
Yao yin mengambil penutup wajahnya yang masih berada di tangan Arnius, kemudian memakainya kembali. Arnius kembali tersadar saat Yao yin menarik lengannya dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar.
Matahari mulai sedikit memancarkan sinarnya saat pasangan itu keluar dari dalam kamar. Para pelayan sudah mulai terlihat melakukan pekerjaannya masing-masing. Semua menunduk saat berpapasan dengan keduanya.
"Kau tadi menyuruh ku untuk memanaskan tempat air, memangnya apa kau tahu rumah ini memiliki tempat penampungan air itu? aku sendiri tidak tahu."
"Saat kita masih melayang di atas Classic pearl, aku sempat memperhatikan setiap bangunan rumah ini. Aku pun melihat ada tempat yang dibuat khusus untuk menampung air."
"Kau tolong berhenti."
Arnius menghentikan seorang pelayan yang sedang berjalan.
"Iya tuan muda, ada yang bisa saya bantu?"
"Dimana letak tempat penampungan air?"
"Di sana tuan, mari saya antar."
Arnius dan juga Yao yin berjalan mengikuti langkah seorang pelayan muda yang baru saja mereka temui.
__ADS_1
"Maki, apa yang kau lakukan disini? apa kau tidak melakukan tugasmu?"
Suara seseorang terdengar dari bawah pohon besar.
"Maaf paman, aku memintanya untuk menunjukkan letak tempat penampungan air."
Arnius yang sudah mengenali suara itu pun menjawab, sekalipun sang paman masih belum terlihat karena tempatnya berdiri tertutup oleh beberapa dahan pohon.
"Lanjutkan pekerjaan mu, aku akan mengantarkannya. Ayo Ar, di sebelah sini. Bagaimana kau tahu ada tempat penampungan air di sini?"
"Yin yin melihatnya saat kita masih melayang di udara."
"Ini dia, apa yang akan kau lakukan? Jika kau mengikuti anak sungai ini, kau akan sampai di tempat ini."
Zaka menunjuk tiga buah tempat penampungan air yang cukup besar. Air terlihat terus mengalir dari beberapa pipa, hingga mengalir ke bawah menjadi anak sungai jika tempat penampungan itu sudah penuh. Arnius mengikuti Yao yin yang sudah mulai melayang, karena tempat itu memang dibangun di atas ketinggian.
"Paman, bisa tolong kau jelaskan jalur air ini?"
Yao yin mulai memeriksa beberapa pipa yang terlihat tidak saling terhubung.
"Penampungan yang pertama adalah untuk kebun dan peternakan, penampungan kedua untuk mandi, mencuci dan lainnya. Sedangkan yang ketiga, di buat khusus dengan beberapa proses penyaringan. Air tersebut di alirkan ke dapur, untuk memasak."
"Kau sudah tahu tugasmu kan suamiku, masukkan beberapa batu api kemudian hangatkan air di penampungan kedua. Semua orang bisa menggunakan air hangat setiap saat, karena tempat ini begitu dingin."
Arnius mulai melakukan permintaan Yao yin, hanya dalam waktu sebentar, air hangat mulai mengalir ke setiap tempat pemandian serta pencucian.
"Paman, beritahukan kepada semua pelayan bahwa air itu akan selalu hangat, jadi tidak perlu memanaskan air untuk mandi."
"Lalu apa itu paman?"
Yao yin menunjuk ke beberapa gundukan tanah dari sisa penggalian.
"Musim kemarau terkadang terlalu panjang, jadi ayah kalian berusaha mencari air tanah untuk mencukupi kebutuhan kita jika air dari pegunungan itu sudah tidak mengalir lagi. Namun kami hanya mengerjakannya jika perkejaan di kebun tidak terlalu repot, makanya sumur itu masih juga belum selesai."
Yao yin mengeluarkan sebuah benda berulir dari dalam kotak kayu kecil yang selalu di bawanya.
"Paman, tolong sedikit menjauh. Kami akan mengerjakan sisanya."
Zaka berpindah dari tempatnya semula, setelah mendengar perintah dari Yao yin. Benda kayu yang berada di tangan Yao yin mulai terlihat membesar, setelah dia menekan satu tombol yang tertempel. Saat Yao yin kembali menekan beberapa tombol, deru mesin mulai terdengar. Uliran kayu yang berujung lancip tersebut mulai berputar cepat. Dengan dibantu oleh Arnius, Yao yin bergegas mengarahkannya ke tempat pembuatan sumur.
Deru mesin mulai berhenti setelah keduanya melihat genangan air yang cukup banyak di dasar sumur. Arnius segera menggendong tubuh Yao yin untuk keluar dari dalam sumur.
"Ci hui.. Pengantin baru, pagi-pagi udah gendong gendongan aja nih."
Genta terlihat berdiri bersama Eiji dan yang lainnya saat Arnius keluar dari dalam sumur dengan menggendong tubuh Yao yin.
"Oh sepertinya kau belum mandi, cepat masuk dan mandi yang bersih."
Arnius hampir menyambar tubuh Genta untuk dilemparkan ke dalam sumur, sebelum ia berkelit dan berlindung di belakang Zaka.
"Kau lihat paman, dia itu kakak yang buruk. Dia selalu saja ingin menyakiti calon keponakan tampan mu ini."
__ADS_1
Zaka tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.
"Terimakasih Ar, kau menyelesaikan satu permasalahan keluarga ini. Aku akan menyuruh beberapa pelayan untuk membuat dinding disekitar sumur itu."
"Tidak perlu, biarkan saja calon keponakan tampan mu itu yang melakukannya. Ayo cepat panglima kerjakan, nanti aku akan mengenalkan Keiko pada salah satu putra petinggi desa ini. Jadi jika kau mau ikut maka cepatlah."
Tanpa menjawab, Genta bergegas menata beberapa batu, kemudian melapisinya dengan beberapa bahan bangunan lainnya yang sudah tersedia di tempat tersebut.
"Kapten, apa kau sudah meminta beberapa bekal untuk perjalanan mu nanti kepada Keiko?"
Arnius bertanya saat melihat Zen juga ada diantara mereka.
"Aku kira tidak perlu Ar, jarak yang akan kami tempuh tidak begitu jauh."
"Baiklah, ku serahkan semua kepada mu. Tolong antar kan teman kita pulang, dan kembalilah ke rumah ini jika kau tidak punya tujuan berikutnya."
"Siap komandan. Bagaimana dengan peti pemberian kaisar itu, harus diletakkan di mana?"
"Simpan satu peti yang berisi koin emas untuk Classic pearl, kalian juga bisa mengambilnya jika memang mau. Sedangkan yang lainnya masukkan saja ke gudang milik paman."
"Baiklah, paman kecil tolong tunjukkan gudang harta milik keluarga ini."
"Kalian mendapatkan harta Karun?"
Zaka terkejut saat Yuki dan Wu Ling membawa sebuah peti besar yang berisi beberapa koin emas serta benda berharga lainnya.
"Ini pemberian dari kaisar paman, aku sudah mencoba menolaknya. Namun mereka tetap bersikeras menyuruh kami membawa semua ini."
Arnius sedikit menjelaskan.
"Baiklah, letakkan saja di kamar tengah. Kami menyimpan semuanya di sana."
Zaka mulai berjalan masuk ke dalam rumah utama diikuti oleh Arnius bersama dengan yang lainnya, sambil mengangkat satu peti besar pada masing-masing orang.
Keiko dan Yao yin yang turun paling akhir dari atas Classic pearl, terlihat membawa beberapa kain sutra yang berharga.
"Sepertinya keluarga ini tidak perlu lagi bekerja, koin-koin ini cukup untuk hidup kita sampai sepuluh hingga dua puluh tahun nanti."
Zaka berguna pelan, saat melihat beberapa peti berisi begitu banyak benda berharga.
"Jika masih kurang aku bisa memberinya lagi, jadi paman tidak perlu berdagang ke berbagai daerah."
Arnius mengeluarkan beberapa koin emas di atas lantai hingga terlihat sedikit menggunung.
"Cukup Ar, sudah cukup. Kalian bisa mendatangkan perampok ke rumah ini."
"Aku tidak akan membiarkan rumah ini di usik oleh siapapun, aku akan menempatkan pengawal yang tangguh dan kuat untuk kalian."
"Kau yang akan menjaga kami kan anak ku?"
Suara Yaza terdengar perlahan di antara perbincangan mereka.
__ADS_1
"Tentu saja ayah, aku akan berusaha menjaga kalian semua."