Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Gelang giok hitam


__ADS_3

Seluruh anggota classic pearl yang terkena serangan dari naga putih langsung duduk bersila dan mengatur kembali nafasnya setelah mendengar perbincangan antara Genta dan kakek berjanggut panjang.


Mereka merasakan ada energi besar yang mengalir dalam tubuh mereka. Terutama bagi Genta dan Kin Raiden, keduanya merasakan seluruh titik meridian didalam tubuh mereka terbuka. Kepekaan Indra mereka bertambah, serta otot-otot pada tubuh mereka mengalami perubahan jenis menjadi lebih sempurna. Tulang-tulang mereka seolah baru saja di bersihkan, bunyi retakan tulang terdengar disertai teriakan tertahan dari keduanya.


"Tenaga ini benar-benar luar biasa."


Kin Raiden bergumam pelan saat masih menahan rasa sakit yang luar biasa dari pembersihan tulangnya.


Karena begitu merasa senang, tanpa ia sadari tubuh Kin Raiden sudah berubah menjadi seekor burung kecil berbulu emas dengan sedikit warna merah yang semakin membuatnya terlihat mengagumkan. Kini Kin Raiden sudah bertengger di atas pundak Eiji dan mengeluarkan suara khas seekor Phoenix.


"Ya aku tahu kau begitu senang dengan perubahan dalam tubuhmu, tapi jangan sampai kau mengotori pakaianku."


Eiji mengusap pelan pucuk kepala burung kecilnya.


Genta masih dalam posisi duduk bersila saat Arnius mendekatinya dan menempelkan telapak tangannya pada punggung naga besarnya itu. Ia menyalurkan energi besar yang di dapatnya dari batu roh, perubahan besar terjadi pada batu suci miliknya yang kini sudah terlihat melingkar di leher pemuda tampan berambut hitam tersebut.


Keduanya kini tertutupi oleh energi panas yang begitu menyengat, membuat seluruh rekannya segera menjauh dari keduanya. Api biru keunguan mulai menutupi seluruh tubuh keduanya selama beberapa saat. Setelah api biru itu meredup kemudian menghilang sepenuhnya yang terlihat hanyalah Arnius yang sudah mulai membuka mata kembali.


"Kemana perginya anak muda itu Ar?"


Wajah Zen terlihat bingung saat mendapati teman kuatnya itu tidak lagi bersama tuannya.


Arnius yang sudah mulai berdiri menunjukkan sebuah lingkaran emas berbentuk naga pada pergelangan tangannya.


"Kau semakin mengagumkan Ar, tapi sebaiknya suruh saja anak muda itu keluar. Aku tidak memiliki teman berdebat sekarang."


Zen memasang wajah penuh kekesalan setelah tidak lagi melihat lawan berdebat nya.


"Biarkan Genta beristirahat sejenak, dia memerlukan hal itu. Lagi pula sekarang dia tidak lagi harus menggendong tubuh besar mu itu kan?"


Arnius tersenyum kecil dan mulai berjalan mendekati kakek naga putih yang masih berdiri di tempatnya semula.


"Terimakasih kakek atas semuanya, jika diperbolehkan saya ingin menanyakan tentang pintu menuju gerbang selanjutnya."


Arnius berkata sesopan mungkin.


"Ya aku akan memberi tahukan hal itu kepada kalian, tapi sebentar aku ingin melihat keadaan tuan putri kecil itu terlebih dahulu."


Kakek naga putih mulai berjalan mendekati Azumi yang masih duduk terpejam.


"Maaf nona sepertinya energi ku terlalu besar untukmu, aku akan sedikit membantumu."


Kakek naga putih mulai meletakkan telapak tangannya di atas kepala Azumi.

__ADS_1


Wajah Azumi yang tadinya terlihat begitu pucat serta menahan rasa sakit yang teramat sangat, kini mulai terlihat cerah kembali. Kakek naga putih sudah tidak lagi berada di dekatnya, kakek itu berjalan mendekati sebuah batu yang cukup besar.


"Hanya aku yang bisa membuka gerbang itu untuk kalian, aku akan membukanya setelah kalian siap. Dan aku minta kepadamu anak muda tolong cegah apapun yang ingin diperbuat pangeran beserta anak buahnya di gerbang selanjutnya, karena aku yakin mereka menginginkan sesuatu dari tempat ini."


"Maksud kakek pangeran Yosi, bagaimana dia bisa melewati anda?"


Naoki terkejut saat mendengar ucapan kakek berjanggut panjang tersebut.


"Mereka tahu aku hanya menyingkirkan orang yang serakah akan tempat ini. Sejak mereka memasuki gerbang kedua ini, tidak ada satupun dari mereka yang menyentuh mutiara roh milikku. Sehingga aku harus segera muncul dan membuka gerbang ketiga untuk mereka. Namun aku tahu mereka adalah orang-orang tamak yang menginginkan sesuatu yang lebih besar dari tempat ini."


"Kakek setahu ku mereka menginginkan Black diamond untuk membuat pasukan iblis."


Naoki kembali berbicara.


"Haaah sudah kuduga."


Kakek naga putih terlihat menghela nafas dan mengusap janggut panjangnya.


"Apa benar mutiara hitam itu berada di gerbang ke empat?"


Arnius mulai mengajukan pertanyaan.


"Iya, jika memang dia mengincar mutiara iblis itu kalian harus menghentikannya, orang itu bisa membuat kekacauan di dunia ini."


"Apa kakek bisa sedikit memberi tahu tentang mutiara itu atau apa yang akan kami hadapi di gerbang berikutnya?"


"Gerbang ketiga atau kalian menyebutnya dengan nama gerbang pasir merah, adalah tempat yang luas. Tidak akan ada lagi segel yang membatasi pergerakan hewan ilahi kalian, karena tempat itu memang sarang dari beberapa hewan ilahi serta para iblis bertubuh besar. Berhati-hatilah karena cuma hal itu yang bisa aku katakan. Dan kau nona cantik, sepertinya mereka akan bergantung padamu dan juga kuda airmu itu."


Kakek naga putih melihat kearah Keiko yang kini memiliki sebuah tanduk kecil berbentuk mutiara bening yang indah di keningnya. Tanduk mutiara kecil itu hanya terlihat jika Minori berada di dalam tubuhnya.


"Aku akan berusaha kakek."


Keiko tersenyum kecil.


"Sebaiknya kalian beristirahat sejenak disini sebelum kembali melanjutkan perjalanan, karena di gerbang selanjutnya kalian tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Para iblis akan mencium hawa keberadaan makanan mereka, sebut namaku jika kalian sudah siap menuju ke tempat itu. Aku akan pergi."


Tubuh kakek tua berjanggut panjang itu sudah tidak lagi terlihat setelah mengatakan semuanya.


"Benar yang dikatakan oleh kakek tua itu, sebaiknya kita beristirahat sejenak. Hari sudah mulai senja kita akan melanjutkan perjalanan esok hari. Sebaiknya kalian tidur sekarang, tidak ada yang akan menyerang kita di tempat ini."


Arnius mulai menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar dan memejamkan kedua matanya. Ia merasa tubuhnya perlu beristirahat sebentar walau sebenarnya tidak tidur pun tidak masalah untuknya.


Wu Ling mulai mengaktifkan segel pelindung dan juga mulai menyusul Arnius masuk ke alam mimpi. Eiji yang sedari tadi sudah terletang di atas tanah, mulai mengeluarkan suara dengkuran halus.

__ADS_1


"Mereka seperti tidak tidur setahun saja, sebaiknya aku melihat persediaan perbekalan."


Keiko bergumam pelan sebelum tubuhnya menghilang masuk ke dalam cincin ruang miliknya.


Zora yang duduk tidak jauh dari Keiko tidak merasa terkejut jika gadis kecil itu tiba-tiba menghilang, dia akan sangat terkejut bila adik perempuan Arnius itu hanya duduk berdiam diri saja.


"Nona ikan apa kau baik-baik saja?"


Zora memandang Sayuri yang hanya diam membisu.


"ah iya tuan Zora saya baik-baik saja, saya hanya merasa tidak berguna dan hanya menjadi beban dalam kelompok ini. Seharusnya saya tidak ikut bersama dengan kalian, tempat ini benar-benar berbahaya. Saya tidak dapat membantu bila ada penyerangan seperti tadi."


Sayuri tertunduk malu.


"Tenanglah nona ikan, yang penting pastikan dirimu dalam keadaan yang aman bila ada serangan seperti tadi. Bersembunyi saja, para jagoan itu pasti bisa menyelesaikannya. Jadi jangan merasa sok kuat, lebih baik pastikan dirimu baik-baik saja. Sehingga kau tidak akan merasa semakin merepotkan untuk mereka."


Zora tersenyum lebar saat memandang wajah Sayuri yang mulai mengangguk mengerti.


"Turuti saja semua perintah kak Arnius, jangan mengambil tindakan apapun tanpa ijin darinya hal itu sudah sangat membantu."


Keiko ikut memberikan penjelasan setelah keluar dari dalam cincin ruangnya.


"iya .. jangan seperti gadis nakal itu yang selalu saja bertindak semaunya."


Zora kembali berucap dan hanya mendapat tatapan mata tajam dari gadis yang dulu sering dijahili olehnya saat masih berada di dalam lingkungan istana kaisar.


Mereka semua tertidur pulas hingga pagi menjelang. Arnius mulai membuka mata, ia merasakan hawa kehadiran seseorang. Dan benar saja kakek naga putih sudah berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Kalian tidur begitu pulas ya, semoga kalian masih bisa tidur di gerbang berikutnya."


Senyum kecil terlihat di sudut bibir kakek tua berjanggut panjang tersebut.


"Aku ingin memberikan beberapa bekal perjalanan untuk kalian, ini terimalah."


Kakek naga putih menyerahkan sebuah gelang giok hitam kepada Arnius.


"Tapi ini apa kek, apa pantas seorang pria memakai perhiasan seperti ini?"


Dengan ragu Arnius menerima gelang pemberian kakek naga putih.


"Kau cukup memakainya kemudian teteskan darahmu dan gelang itu akan menyatu dengan sendirinya dengan tubuhmu. Kau hanya perlu memikirkan apa yang ingin kau keluarkan dengan sedikit mengibaskan tanganmu. Semua temanmu memilikinya tapi kenapa kau sendiri tidak punya?"


"Apa yang harus aku simpan didalam gelang ini kek?"

__ADS_1


"Nirwana .. Kenapa kau menciptakan manusia sepolos ini. Sekarang pakai gelang ini kemudian teteskan darahmu dan berpikirlah untuk masuk kedalamnya dan lihat apa saja yang ada di dalamnya, ingat semua benda itu jadi kau bisa mengeluarkannya dengan mudah saat di butuhkan. Kau mengerti?"


Arnius hanya mengangguk perlahan dan mulai memakai gelang giok hitam kemudian ia meneteskan darah dari ujung jarinya. Gelang itu mulai tampak memudar dan hanya menyisakan garis hitam tipis pada lengan Arnius.


__ADS_2