
Cuaca di pulau itu benar-benar tidak bisa di tebak, setelah panas yang begitu menyengat. Kini hujan turun begitu deras. Rombongan Arnius menghentikan pendakian mereka, kini mereka berharap tidak ada lumpur yang akan menghambat pendakian mereka berikutnya.
Zen benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk mengistirahatkan tubuh tuanya, hujan membuat tidurnya semakin lelap.
"Mereka juga mengalami kesulitan saat mendaki gunung batu ini, tidak sedikit anak buahnya yang jatuh tergelincir. Saat ini mereka sudah berada di balik gunung ini, sebentar lagi mereka mencapai gerbang kedua."
Keiko berucap pelan, saat ia tengah memejamkan mata memusatkan perhatiannya pada air hujan yang menetes di telapak tangannya.
"Ar, kau bisa pergi lebih dulu dan mencapai tempat mereka, kemudian menghancurkan mereka semua dengan bantuan Eiji, Genta serta Kin."
Naoki menyampaikan pendapatnya.
"Aku tidak akan mempertaruhkan keselamatan kalian semua, tempat ini sangat berbahaya. Begitu banyak hal yang muncul di luar perkiraan. Kita akan tetap bersama."
Arnius menatap tetesan hujan yang turun begitu deras.
"Dahulu saat pertama kali aku berada di dunia ini, sangat jarang sekali turun hujan. Apabila datang hujan yang deras seperti ini, akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan."
Minori ikut memandang derasnya air hujan.
"Tapi disaat hujan seperti ini, ada beberapa iblis yang tetap berada di dalam tempat persembunyian mereka."
Saat Minori kembali berucap semua mata melihat kearahnya.
"Lanjutkan."
"Aku pernah melihat ada beberapa iblis yang berlari mencari tempat untuk berteduh dari air hujan. Setelah sekian lama melihat kebiasaan mereka, ada hal yang mulai aku mengerti. Ada beberapa iblis yang tidak bisa terkena air sama sekali, tubuhnya bisa langsung melepuh dan hancur dengan sendirinya. Ada juga iblis yang hanya keluar pada malam hari, karena untuk menghindari sinar matahari. Begitupun sebaliknya, ada iblis yang menghindari sinar rembulan malam yang indah. Karena bentuk tubuh mereka selalu berubah-ubah, aku tidak tahu ciri khusus yang ada pada setiap iblis dan kelemahannya. Jadi jangan menatapku seperti itu, aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya kalian inginkan dari tempat ini."
Minori mendengus kesal saat melihat tatapan mata yang terpusat pada dirinya.
"Dari kabar para pasukan pengintai, rombongan pangeran Yosi menginginkan suatu permata siluman yang mampu menundukkan para iblis untuk di jadikan para pasukannya. Jadi kami disini berusaha mencegah mereka untuk mendapatkan permata tersebut."
Haruka menjelaskan tujuan mereka.
"Black diamond, permata hitam. Kudengar benda itu ada di gerbang ke empat, aku mendengarnya dari perbincangan para iblis. Tapi di mana letak tempat itupun, aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah sekalipun meninggalkan tempat ini, jadi jangan pernah melihat diriku seperti itu lagi. Aku sudah bicara sejujurnya kepada kalian tentang semua hal yang aku ketahui."
Minori kembali mendengus kesal saat semua mata kembali tertuju pada dirinya. Kemudian ia mencari posisi nyaman untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.
"Kapan hujan ini akan berhenti?"
Arnius bergumam pelan.
"Nikmati saja semuanya, ambil hikmahnya saja. Mungkin memang kehendak nirwana kita harus beristirahat sejenak di tempat ini."
Haruka menjawab keluhan Arnius.
__ADS_1
"Sejak memulai pendakian aku melihat beberapa bebatuan aneh, ada yang mengkilap seperti permata ada pula yang bentuknya aneh seperti binatang ataupun benda lainnya."
Eiji berucap pelan, dia selalu memperhatikan sekitarnya sampai dengan hal terkecil sekalipun.
"Aku sudah pernah pernah bilang sebelumnya. Akan ada bebatuan, tumbuhan atau bahkan permata yang akan kalian lihat. Jika kalian memang memiliki keberuntungan untuk melihat dan menemukannya. Tetapi setiap benda yang kau lihat belum tentu memiliki kekuatan yang besar. jadi sebaiknya kalian periksa terlebih dahulu."
Minori berucap tanpa mengubah posisi tidurnya.
"Lalu bagaimana ciri-ciri benda ataupun tumbuhan yang mampu mengobati luka Genta."
Arnius menatap tajam Minori yang sedang dalam posisi tertidur membelakangi dirinya.
"Tuan tampan jangan menatapku seperti itu, kedua matamu itu sungguh mengerikan. Meskipun kau berada dibelakang ku, aku bisa merasakan tatapan mata mu yang seperti busur panah siap untuk dilepaskan. Kau sungguh perhatian terhadap orang-orang yang berada di sekitarmu, apalagi orang yang memiliki hubungan khusus dengan dirimu."
Minori mengubah posisinya, kini ia mulai mendudukkan tubuhnya.
"Aku berkali-kali memiliki kenangan buruk tentang orang-orang yang ada sekitarku, apalagi orang yang aku sayangi. Jangan pernah berbuat macam-macam dengan orang yang aku sayangi, jadi jangan pernah kau biarkan ada yang menyakiti Keiko sekalipun itu seujung rambut, apa kau mengerti?"
Arnius kembali menatap tajam Minori dan menegaskan ucapannya.
"Kakak tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja."
Keiko menangkan Arnius yang mulai tersulut emosinya.
"Tenanglah kak. Sejak perjanjian itu, aku sudah mengetahui semua tentang dirinya. Seperti halnya kau mengetahui semua tentang sosok Ryu kogane."
Semua yang Keiko ucapkan membuat Arnius menganggukkan kepala.
"Aku rasa tuan tampan belum terbiasa bersama para wanita cantik. Hei .. jangan marah, aku akan menjawab pertanyaan mu tadi."
Minori bersiap melompat saat lengan Arnius sudah mulai mengeluarkan api.
"Jika tuan tampan melihat sesuatu yang aneh, periksa dulu sekitarnya. Apa ada yang aneh, atau ada yang mati disekelilingnya. Jika seperti itu berarti benda itu memiliki racun atau sesuatu yang mematikan. Jika tidak ada hal mencurigakan, tuan bisa menyentuhnya dan merasakan kekuatannya. Dengan begitu, tuan pasti akan mengetahui kegunaannya."
Minori kembali berucap dengan penuh kewaspadaan.
"Ji Ji di mana kau?"
Arnius melihat sekelilingnya namun tidak menemukan Eiji.
"Kin, dimana tuan kecil?"
Genta menyenggol tubuh Kin Raiden yang tertidur di dekatnya.
"Bukannya dia tadi masih berada disini?"
__ADS_1
Kin Raiden mendudukkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.
Arnius ikut berlari setelah melihat Kin Raiden yang tiba-tiba berlari setelah membuka kedua matanya.
"Apa yang terjadi? dimana dia?"
Arnius sedikit berteriak saat keduanya mulai berlari mengelilingi bebatuan.
"Tuan kecil dimana kau? jejaknya berakhir di tempat ini. Dimana dia? Aku tidak bisa lagi merasakan keberadaannya."
Kin Raiden mulai gelisah.
"Jika jejaknya berakhir disini, berarti ada sesuatu di sekitar tempat ini. Cepat periksa."
Minori berucap pelan setelah mengikuti langkah keduanya.
Mereka mulai memeriksa setiap bebatuan di tempat itu, namun tidak menemukan sesuatu yang ganjil.
"Tidak ada apapun disini."
Genta yang memeriksa sisi sebaliknya berucap sedikit berteriak.
"Disini juga tidak ada apapun, tuan kecil dimana kau?"
Kin Raiden bertambah gelisah.
"Kakak kau dimana?"
Keiko meraba setiap bebatuan untuk melihat kepingan kejadian di tempat itu.
"Di sini, dia meraba batu ini dan menghilang. Kakak dimana kau?"
Keiko mulai kebingungan.
Arnius mendekati Keiko yang berteriak sambil meraba bebatuan di hadapannya.
"Genta kau tetap berjaga disini, Kei menyingkir lah."
Arnius memberikan perintah.
"Minori, aku melihat cahaya pada batu itu, apa Eiji juga menyentuhnya?"
"Jika itu yang tuan lihat, kemungkinan itu juga yang dilihat oleh tuan tampan kedua. Namun bisa saja bukan, karena setiap orang memiliki penglihatan yang berbeda untuk setiap benda. Aku sendiri tidak melihat ada cahaya pada batu itu tuan tampan."
Minori berucap singkat.
__ADS_1