Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Cincin nirwana


__ADS_3

Elang pembawa pesan yang sudah di terbangkan kembali oleh Kin Raiden, kini telah sampai di depan pintu kamar kaisar. Seorang Shinobi dari eagle rocks yang bertugas di istana mulai membuka gulungan pesan serta membacanya sebelum ia menyerahkannya kepada sang kaisar.


"Kirimkan kabar ini kepada keluarga tuan Yaza, pulau eagle rocks serta perguruan Angin Utara."


"Syukurlah mereka kembali, semoga mereka dalam keadaan yang baik-baik saja."


Sang kaisar bergumam pelan setelah memberikan perintah kepada sang Shinobi.


Gina yang hampir tidak pernah tersenyum setelah kepergian kedua putra serta putri semata wayangnya itu, kini terlihat sibuk membersihkan setiap bagian rumah bersama para pelayan.


"Suamiku mereka akan pulang, anak-anak ku akan pulang. Aku akan menyiapkan berbagai bahan makanan, supaya setiap saat jika mereka sudah tiba, kita tinggal memasaknya. Aku berharap keadaan mereka sehat dan baik-baik saja."


Yaza memeluk tubuh istrinya yang terlihat begitu gembira, setelah menerima pesan dari kaisar bahwa rombongan pangeran akan segera kembali ke istana.


"Iya Gin gin lakukan yang terbaik menurutmu, tetap jaga kesehatan tubuhmu. Jangan sampai kau jatuh sakit karena kecapekan saat mereka tiba."


"Tentu saja suamiku."


Gina kembali bergegas melihat pekerjaan para pelayan rumahnya yang kini sudah bertambah banyak. Sejak kehadiran Zaka, rumah mereka bertambah ramai. Apalagi saat ini bertambah lagi anggota baru keluarga mereka, yaitu putra Zaka yang masih berada di dalam perut ibunya.


Sejak kepergian Arnius dan yang lainnya, Zaka memutuskan untuk menikah dengan putri salah satu penduduk Nagano. Walaupun sedang hamil muda, namun Sakura tetap ikut membantu beberapa pekerjaan ringan sekalipun Gina melarangnya.


"Istirahatlah Sakura san, kau tidak boleh terlalu lelah. Kau harus tetap menjaga kesehatan tubuhmu dan bayimu."


Gina mengajak Sakura untuk duduk di salah satu bangku yang ada di teras.


"Tentu saja kakak, aku akan tetap baik-baik saja. Aku juga senang para keponakan ku akan segera pulang."


"Nyonya seluruh rumah sudah selesai di bersihkan, beberapa bahan makanan sudah mulai disiapkan. Paman Zaka sedang mengurusnya, saya dan yang lainnya akan membantu di kebun."


Seorang lelaki muda memberikan laporan atas pekerjaan yang sudah dilakukannya.


"Terimakasih Maki, jangan lupa kalian juga harus beristirahat."


"Iya nyonya."


Selain berkebun, Zaka juga mengajari beberapa ilmu yang di dapatnya dari para koki serta pelayan lainnya di perguruan Angin Utara. Beberapa pemuda serta wanita mendatangi kediaman Yaza untuk mencari pekerjaan serta tempat tinggal. Setidaknya jika mereka bekerja di tempat itu, mereka bisa makan dan tidur dengan nyaman.


Pemberontakan yang dilakukan oleh pangeran Yosi, menyebabkan hidup mereka tidak nyaman dan dihantui oleh ketakutan. Keributan yang terjadi di berbagai tempat, menyebabkan mereka harus berpindah tempat untuk tetap mempertahankan hidup.


Karena terlalu banyak orang yang ingin bekerja di kediaman Yaza, membuat Zaka harus benar-benar menyeleksi satu persatu. Mulai dari kepribadian hingga kecakapan mereka dalam bekerja.


Zaka yang mengurus semua pekerjaan, terutama dalam berkebun dan berternak. Setiap pemasukan serta pengeluaran di tangani dengan baik oleh Zaka.


Karena keterbatasan gerak tubuh, Yaza hanya membantu beberapa pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sekalipun demikian, Zaka tetap menghormati sak kakak ipar. Semua jenis penghasilan selalu ia laporkan kepada kakak lelakinya tersebut, walaupun Yaza sudah mempercayakan semuanya kepada dirinya.


Nama keluarga besar Yaza pun terkenal di berbagai kalangan, baik itu petani ataupun para saudagar. Mereka lebih mengenal dengan sebutan keluarga Tamura. Berbagai jenis hasil pertanian, peternakan ataupun peralatan yang berasal dari keluarga Tamura di pegunungan Nagano adalah yang terbaik.


Terkadang Zaka membawa serta Yaza dan Gina untuk berdagang di beberapa kota besar. Setiap kali pergi berdagang, Zaka membawa lebih dari lima kereta kuda untuk membawa barang dagangan mereka. Tak jarang istana kaisar memesan khusus beberapa bahan makanan ataupun barang lainnya dari keluarga Tamura. Yaza Tamura, nama yang tidak asing lagi bagi para bangsawan ataupun saudagar.


Karena Yaza berasal dari benua barat dan tidak lagi memiliki orang tua maupun saudara, sehingga ia memilih marga istrinya untuk dijadikan nama belakangnya. Namun nama itu tidak pernah ia sebutkan karena demi keselamatan seluruh anggota keluarga. Namun saat ini tidak ada lagi yang perlu mereka khawatirkan. Nama keluarga Tamura kembali terdengar hingga penjuru daerah.

__ADS_1


Setiap kali Yaza menciptakan berbagai peralatan ataupun barang lainnya, ia selalu mengukir nama Tamura pada salah satu sisinya.


***


Sebuah kapal besar melayang di atas halaman istana, para pengawal istana mulai berdatangan. Bahkan sang kaisar keluar dari dalam ruangannya untuk menyambut rombongan para awak kapal besar tersebut. Yuki sudah menurunkan jangkar, satu persatu para awak kapal mulai turun dari ketinggian.


"Putraku syukurlah kau kembali dengan selamat, maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Yang telah membuat putra putrinya menempuh bahaya."


Bulir air mata terlihat menggenang di pelupuk mata sang kaisar saat memeluk putra dan putrinya secara bergantian.


"Kami baik-baik saja berkat para temanku yang perkasa. Perkenalkan ayah mereka semua temanku."


Naoki memperkenalkan satu persatu anggota Classic pearl.


"Mari anak-anak ku semua kita masuk."


Setelah selesai dengan ramah tamah serta jamuan makan, Arnius mulai berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tak lupa sang kaisar memberikan mereka berbagai hadiah, bahkan mereka di minta untuk memilih serta mengambil sendiri hadiah yang mereka inginkan dari dalam gudang harta istana.


Mereka membantu misi Naoki tanpa mengharap imbalan apapun, namun kini sang kaisar tidak mengijinkan mereka keluar dari dalam gudang harta tanpa membawa apapun.


"Baiklah kali ini kita tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan orang lain, apalagi itu adalah kaisar. Aku akan membawa sebanyak mungkin. Ayo teman kita berburu harta."


Zen begitu bersemangat seolah akan menguras gudang harta yang luasnya hampir seukuran satu kediaman keluarga itu.


"Cepat kembali ke pintu ini sebelum tengah hari."


Arnius mulai mengeluarkan perintahnya. Semua mulai bergegas memasuki beberapa ruangan yang ada di dalam gudang tersebut. Terlihat berbagai jenis barang di kumpulkan dalam satu tempat yang berbeda. Koin emas, perhiasan, berbagai senjata, sutra, tanaman herbal dan banyak lagi barang lainnya yang menghiasi setiap sudut tempat tersebut.


Ketika semuanya bergegas memilih barang yang mereka inginkan, Yao yin dan Arnius hanya berjalan perlahan.


"Bukankah suamiku orang yang kaya, jadi apalagi yang aku inginkan. Tapi karena tuntutan kaisar, jadi aku harus tetap membawa sesuatu. Ayo kemarilah."


Untuk pertama kali Yao yin menarik tangan Arnius, hingga mereka berjalan saling bergandengan. Sementara Arnius hanya terdiam tanpa berkata apapun, serta mengikuti setiap langkah istrinya. Yao yin mulai menyerahkan beberapa barang kepada Arnius, hingga dia kesulitan untuk membawanya.


"Tuan bisa menggunakan kereta kecil ini untuk membawa semuanya."


Seorang penjaga menawarkan sebuah kereta dorong yang berukuran sedang kepada Arnius. Beberapa pakaian sutra, perhiasan, alat rias serta pewangi terlihat memenuhi kereta dorong yang di bawa oleh Arnius.


"Aku sudah selesai, sekarang giliran mu, kau menginginkan apa? ayo kita cari."


"Sudahlah aku tidak butuh barang-barang itu."


"Setidaknya kau harus memilih satu."


"Aku sudah memilih."


"Apa itu?"


"Kau, aku sudah memilih mu."


"Aku bukan barang Ar'gege, sekarang cepat pilih. Tidak sebaiknya aku saja yang pilihkan."

__ADS_1


Yao yin kembali mengelilingi gudang tersebut untuk mencari beberapa barang yang mungkin di sukai oleh suaminya.


"Ayo keluar, aku sudah menemukannya."


Kini Arnius yang menggenggam tangan Yao yin untuk keluar dari tempat itu, sementara tangan yang satunya mendorong kereta barang.


"Anakku, ini semua barang nona Yin. Mana barang yang kau inginkan?"


Kaisar yang masih menunggu untuk memastikan mereka semua keluar dengan membawa barang yang mereka inginkan memeriksa kereta dorong yang di bawa oleh Arnius.


"Ini yang mulia."


Arnius menunjukkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari emas.


"Kau memilih barang yang bagus anakku."


Kaisar tersenyum dan menepuk pelan bahu Arnius.


"Namun kau adalah putra Tamura, aku akan sangat malu jika kau pulang tanpa membawa apapun. Aku akan mempersiapkannya."


Kaisar kembali tersenyum kecil. Arnius tidak begitu mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh kaisar, hingga dia menoleh ke arah Keiko yang terlihat sudah berada di belakangnya.


"Kei, siapa itu putra Tamura?"


"Tentu saja kak Nius dan kak Ji ji."


"Maksud mu?"


"Kakak, nama lengkap kakak itu adalah Arnius Tamura, dan dia Eiji Tamura, sedangkan aku Keiko Tamura. Dan kakak ipar ku yang cantik ini adalah Yin Tamura."


Keiko memeluk manja tubuh Yao yin yang masih berdiri di samping Arnius.


"Tuan muda Tamura, barang anda sudah siap di dekat kapal."


Ucapan penjaga sedikit mengejutkan Arnius yang masih memikirkan ucapan Keiko barusan.


"Memangnya apa yang kakak pilih, hingga kaisar menyiapkan hadiah sendiri untukmu?"


Arnius menunjukkan kotak kecil yang ia bawa.


"Apa isinya?"


Arnius membuka kotak tersebut dan mengeluarkan dua buah cincin emas yang memiliki beberapa ukiran pada bagian tengahnya.


"Waaah cincin pengikat jiwa, ada juga yang menyebutnya cincin pernikahan ataupun cincin nirwana. Sekarang pakaikan satu untuk kakak Yin."


"Bukankah cincin itu terlalu besar untuk jari ku?"


Yao yin melihat ukuran cincin yang keduanya terlihat sama besar.


"Cincin ini akan menyesuaikan jari sang pemakainya, kakak tenang saja."

__ADS_1


Arnius mulai memasangkan satu cincin pada jari manis Yao yin, kemudian memakai satu cincin yang lainnya.


"Cincin itu akan bersinar jika salah satu dari kalian dalam keadaan yang tidak baik."


__ADS_2