Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Penyatuan Aina


__ADS_3

"Ada apa Minori?"


"Akhirnya kau mendengar ku."


Minori mulai bernafas lega, setelah mendengar suara yang cukup dikenalnya.


"Kami dalam masalah. Ada yang membuat keributan di istana ini, Kana dan Ryota terancam. Sementara nona Yin saat ini terluka cukup parah, puluhan iblis menyerang kami saat ini. Cepatlah."


"Baik."


Kin Raiden mengakhiri pembicaraannya dengan kuda air Keiko. Pemuda yang baru saja merayakan pesta pernikahannya itu bergegas melepaskan jubah luarnya, dan memberikannya kepada seorang wanita yang masih duduk mendampinginya.


"Kapten Zen, persiapkan Classic pearl. Kana dan Ryota terancam di dalam istana naga, para iblis menyerang mereka. Aku akan pergi terlebih dahulu."


Tubuh Kin Raiden melesat meninggalkan keramaian para Phoenix yang masih menikmati sisa pesta pernikahannya. Zen sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan dari Phoenix merah tersebut, hingga ia mulai tersadar dari lamunannya dan bergegas melesat cepat menuju ke Classic pearl disusul oleh semua rekannya.


"Eiji.. Istana naga, sekarang."


Kin Raiden sedikit berteriak, saat berbicara melalui pikirannya kepada Eiji yang saat ini sudah tidak lagi bersama dengannya.


"Apa yang terjadi?"


Eiji membalas suara dari Phoenix merah miliknya, meskipun sebelumnya ia sempat meminta kepada istrinya untuk bersiap dengan segala kemungkinan.


"Para iblis kembali menyerang Kana dan Ryota, menurut Minori ada seseorang dari istana itu yang berulah."


Kin Raiden kembali berbicara, setelah merasakan seseorang yang kini sudah terduduk di atas punggungnya.


"Kembali hubungi kuda air itu."


"Tidak bisa, perempuan itu sepertinya sedang sibuk membuat segel pelindung untuk menahan amukan dari Ryu kogane."


"Kalau begitu cepatlah."


"Kenapa kau tidak menggunakan segel pemindah."


"Kau benar, aku akan mencobanya meskipun kekuatan ku akan berkurang nantinya."


Kin Raiden melesat cepat hingga meninggalkan kilat petir di udara. Eiji mulai memusatkan perhatiannya untuk mencari titik lokasi yang tepat, dalam sekejap tubuh keduanya sudah tidak lagi terlihat.


Sementara itu Zen bersama dengan yang lainnya berusaha menjalankan Classic pearl secepatnya. Kapal tua itu terus membelah lautan awan tanpa ada satupun gangguan.


Puluhan Phoenix ikut melayang di udara bersama dengan kapal tua yang masih terlihat begitu kokoh. Sesekali terlihat seorang gadis yang duduk di atas punggung salah satu burung besar itu mengibaskan sebelah tangannya yang berbentuk sayap burung, hingga menyebabkan angin besar yang membuat Classic pearl semakin cepat.


"Perlahan Aina, kau bisa membuat bak mandi besar itu terbalik."

__ADS_1


Suara seorang pria tua terdengar di udara.


"Aku sudah memperhitungkan semuanya ayah."


Adik perempuan Kin Raiden itu menjawab asal ucapan pria tua yang tidak lain adalah ayahnya.


"Bukankah lebih cepat jika mereka tidak menaiki mangkuk besar itu dan hanya duduk di atas punggung para Phoenix."


Aina kembali mengibaskan sebelah sayapnya.


"Kau salah Aina, bak mandi besar itu memiliki armada tempur yang tidak bisa dipandang remeh. Mereka semua sudah terlatih dengan semua peralatan itu."


"Benarkah, akan ku lihat bagaimana sebuah bak mandi besar itu bertempur."


Aina kembali mengibaskan sebelah sayapnya.


"Aku sudah mendapatkan titik lokasi mereka, kalian bersiaplah. Minta kepada beberapa burung itu untuk mendekat, aku ingin meminjam kekuatan mereka."


Wu Ling yang sedari tadi sudah berkonsentrasi untuk membuat segel pemindah mulai memberikan perintah. Chio yang mendengarnya bergegas menuju ke bagian belakang Classic pearl untuk berbicara kepada salah satu burung besar tersebut.


"Kakek panglima, bisakah kau menolong rekan kami untuk meminjamkan sedikit kekuatan kalian guna membuat segel pemindah."


"Dengan senang hati bocah. Aku kagum dengan kemampuan kalian. Namun apa tubuh mu bisa menahan semuanya?"


Benjiro merubah tubuhnya dan melesat ke dalam Classic pearl.


Benjiro mendekati Wu Ling yang masih duduk bersila.


"Entahlah panglima, selama ini Eiji yang selalu menjadi penghubung diantara kami, minta semua Phoenix itu untuk mendekat, supaya mereka juga bisa pergi melalui segel pemindah."


"Baiklah, kita akan mencoba kemampuan tubuh mu. Sampai di mana kau bisa menyerap energi ku. Sebelumnya aku akan membuka beberapa titik di tubuh mu."


Benjiro mulai bersiul nyaring seraya menggerakkan tangannya sebagai isyarat kepada seluruh anak buahnya. Tak berselang lama, sekitar sepuluh orang mulai menapakkan kakinya di atas Classic pearl. Sementara beberapa Phoenix lain masih tetap terbang di sekitar kapal tua itu.


Setelah melihat semua anak buahnya, Benjiro kembali fokus kepada seorang pemuda yang masih duduk diam. Pria tua itu mulai menekan beberapa titik pada tubuh pemuda tersebut. Wajah Wu Ling sedikit meringis, saat ia merasakan nyeri yang luar biasa pada beberapa bagian tubuhnya.


"Kau sepertinya mendapatkan sedikit energi petir putraku."


Benjiro menemukan setitik energi kecil dari putranya.


"Kejadiannya sudah lama panglima. Aku tidak harus menceritakannya saat ini juga kan?"


"Hah... Tidak perlu, namun sepertinya energi yang dikirimkan ke tubuh mu akan meninggalkan bekas. Jadi lebih baik penyaluran energi ini dilakukan oleh seseorang yang sekiranya cocok untuk mu. Aina kemarilah."


Benjiro memanggil putrinya.

__ADS_1


"Sepertinya kau yang lebih cocok untuk menyatukan energi kalian. Di dalam tubuhnya sudah mengalir energi petir Raiden, dan aku sudah membuka semua titik meridian di tubuhnya. Kau bisa lakukan penyatuan energi mu."


"Tidak."


Aina sedikit berjalan menjauh.


"Kenapa, pemuda ini baik dan sepertinya dia juga bisa mengendalikan udara seperti dirimu."


"Tidak ayah, apa kau juga ingin mengikatku dengan pemuda bumi itu."


Aina semakin menjauhkan tubuhnya.


"Saat ini hanya kau yang bisa mengirimkan energi ke tubuhnya untuk melakukan segel pemindah, kita tidak mempunyai banyak waktu. Lagi pula jika kau ingin pergi bersama dengan kakak mu, kau memerlukan ikatan dengan seorang manusia untuk bertahan hidup di bumi dan menurut ku pemuda ini bisa melakukannya. Dia juga cukup tampan, apa ada yang kurang."


Benjiro memperhatikan setiap lekukan tubuh pemuda yang masih duduk diam di hadapannya. Namun Wu Ling justru mengernyitkan keningnya saat melihat kelakuan orang tua di hadapannya ini, sebelum ia kembali berteriak.


"Bisakah kalian sedikit mempercepat perbincangan kalian."


"Kau benar anak muda, Aina ayo cepat lakukan."


Dengan wajah masam Aina mulai berjalan mendekati tubuh pemuda yang masih duduk terdiam.


"Jika tidak salah nama mu Wu Ling bukan?"


Sekian lama bersama di dalam hutan the Beast, Aina sedikit banyak sudah mengenal setiap orang yang selalu bersama dengan kakak lelakinya.


"Benar, apa ini adalah sesi perkenalan?"


"Lupakan. Aku akan menyalurkan energi milikku namun kau harus berjanji akan membawa ku selalu."


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, lakukan saja jika ingin bergegas menuju ke istana naga. Kau pun bisa ke tempat itu bersama dengan ku."


Wu Ling sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh pasangan ayah dan anak itu. Namun ia kembali berkonsentrasi, saat ia merasakan udara segar yang mulai masuk ke setiap inci tubuh dan tulangnya.


"Ini berbeda dengan yang selalu dilakukan oleh Eiji maupun Raiden saat itu."


Wu Ling berkata dalam hati, namun pria itu kembali memfokuskan perhatiannya untuk melakukan segel pemindah. Dalam sekejap Classic pearl menghilang dari tempatnya semula beserta seluruh Phoenix yang sejak tadi melayang bersama dengan mereka.


Wu Ling kembali membuka mata setelah selesai melakukan tugasnya, namun gadis cantik itu masih berdiri di hadapannya dan masih menyalurkan energinya.


"Kita sudah sampai jadi berhentilah."


Wu Ling memandang wajah cantik yang masih berdiri di hadapannya. Sebuah bulu melayang dan menggores telapak tangan pemuda itu hingga mengeluarkan darah segar. Wu Ling semakin heran, karena gadis itu justru semakin memusatkan energinya melalui luka pada telapak tangannya.


Aina menggores ujung jarinya dengan bulu burung yang bagaikan mata pisau, kemudian meneteskan darahnya pada luka pemuda yang ada di hadapannya. Wu Ling merasakan ada energi besar yang seolah membuat tubuhnya terkoyak, setelah tetesan darah gadis itu mulai menyatu dengan luka di telapak tangannya.

__ADS_1


Ia sendiri tidak yakin apakah tubuhnya masih utuh saat ini, karena ia merasakan badai angin yang berhembus kencang di dalam tubuhnya hingga membuat seluruh organ vitalnya seolah berhenti beraktivitas.


__ADS_2