
Di penjara saat ini Mayang dan Sofi baru saja di pindahkan karena mereka sering kali terjebak dalam perkelahian yang cukup sengit.
Mayang dan Sofi sampai terluka luka karena perkelahian itu, apa lagi mereka saling menjambak rambut satu sama lainnya.
Bahkan bekas cakaran terdapat pada lengan kedua wanita paruh baya itu.
"Ibu tolong jangan buat keributan lagi" ucap Polisi wanita yang baru saja memisah kan mereka.
Mayang hanya diam saja dia tidak suka pada tempat itu, apa lagi Mayang merasa kalau dia tidak bersalah.
"Ibu Mayang ada yang mau bertemu dengan mu" sahut Polisi wanita.
Mayang langsung di bawa keluar dari penjara itu, Mayang bertemu dengan seorang pengacara yang dia minta untuk datang ke sana.
"Kalian hanya punya waktu lima menit" ucap Polisi wanita.
"Ya" ucap Mayang.
Mayang langsung duduk di meja yang sudah di persiapkan itu.
"Bantu aku keluar dari sini" ucap Mayang.
"Baik Nyonya aku akan berikan semua bukti yang sudah aku dapatkan" ucap Pengacara itu.
"Ya pokoknya aku hanya mau bebas dari sini" ucap Mayang.
"Anda tenang saja" ucap Pengacara itu.
"Bagai mana keadaan pabrik ku" tanya Mayang.
"Berjalan dengan baik Nyonya, pihak polisi tidak berani menutup pabrik itu karena jika di tutup maka akan banyak orang yang menganggur" ucap pengacara.
"Ya bagus lah" ucap Mayang.
"Tapi Nyonya ada yang aku khawatir kan" ucap Pengacara itu.
"Apa" tanya Mayang.
"Aku takut Tuan Luthfi bersaksi, karena hakim akan percaya pada ucapan yang Tuan Luthfi katakan nantinya" ucapnya.
"Apa harus kah aku singkirkan Luthfi" tanya Mayang.
"Tidak perlu" ucap pengacara itu.
Polisi datang ke sana dan langsung membawa Mayang untuk pergi dari sana.
"Waktu sudah habis" ucap polisi itu.
"Tapi Bu aku mau bicara sebentar" protes Mayang.
"Sudah lima menit Bu" ucap polisi itu.
Mayang kembali lagi ke dalam sel yang tadi dia tempati.
"Aku yakin kalau Luthfi tak akan mungkin bisa memenjarakan aku" gumam Mayang.
**
Namun Mayang berpikir hal yang salah kenyataan nya Luthfi meminta pada Hakim untuk membuat hukuman Mayang di beratkan.
Bahkan Luthfi juga memperlihatkan bukti bukti yang kuat kalau Mayang yang bersalah dalam hal itu, Mayang di jatuhi hukuman seumur hidup penjara.
"Pak hakim aku mau wanita tua itu di hukum dengan setimpal" ucap Luthfi.
"Baiklah karena Ibu Mayang terlibat pada kasus, penculikan, pemaksaan, dan pencurian uang maka Ibu Mayang di jatuhi hukuman seumur hidup" keputusan Hakim.
"Tidak, Luthfi mamah gak salah" sahut Mayang.
"Aku mau dia merasakan apa yang Ayah rasakan dahulu" geram Luthfi.
Mayang di seret paksa oleh beberapa orang polisi yang ada di sana, hingga mereka sampai di penjara yang sangat gelap dan sendirian.
Brugh
Polisi itu mendorong Mayang untuk masuk ke dalam penjara itu, Mayang terjatuh ke lantai.
"Ini tempat yang pantas untuk mu" ucap Polisi itu.
"Tolong aku jangan biarkan aku masuk ke dalam penjara ini, Luthfi maafkan mamah" teriak Mayang memanggil nama putranya.
Namun tak ada yang berniat membantu nya, karena Mayang yang salah.
"Aaaaa" Mayang terbangun dari tidurnya.
Nafas Mayang ngos ngosan dia merasa sangat senang karena itu semua hanyalah mimpi saja.
"Astaga ternyata hanya mimpi saja" gumam Mayang.
Mayang sangat ketakutan dia tidak bisa memikirkan bagaimana nanti nya kalau Luthfi yang memutuskan.
Mayang belum siap untuk di penjara apa lagi banyak yang harus dia lakukan nanti nya.
Sedangkan Sofi saat ini dia sangat kesal karena tidak bisa tidur apa lagi banyak nyamuk juga di sana yang sering menggigiti kulit Sofi.
"Arghh kenapa aku harus seperti ini" geram Sofi.
Sofi menepuk nepuk kulitnya yang terlihat di hinggapi nyamuk, Sofi merasakan gatal pada kulitnya.
"Arghh" kesal Sofi.
"Berisik" geram seorang wanita yang satu sel bersama dengan Sofi.
"Apa" tanya Sofi.
"Kamu sudah tua, nyonya tolong diam lah aku sangat tak bisa tidur karena mu" geramnya.
"Kamu yang berisik, tidur lah" titah Sofi.
"Yang benar saja Narapidana baru tapi songong sekali, nyonya di dalam sini kita sama jadi Jangan banyak bicara" ucap nya.
"Sama? tidak kamu saja yang sama dengan yang lain, aku tidak sama" ucap Sofi.
Wanita itu langsung bangkit, dia langsung mendekat pada Sofi yang sekarang masih duduk di lantai.
"Sebenarnya aku sangat tidak berselera untuk melawan mu tapi kalau kamu seperti ini lagi aku akan menghabisi mu" ucap wanita itu mengancam Sofi.
Sofi yang dahulu pernah ingin membu nuh seseorang tidak takut akan ancaman itu apa lagi Sofi juga siap melenyapkan seseorang.
"Aku gak takut" gumam Sofi.
Polisi datang ke sana dan langsung membuka pintu sel yang di dalamnya ada Sofi.
"Bu Sofi ada yang mau bertemu dengan anda" ucap Polisi itu.
Sofi ikut pada polisi itu, ternyata yang datang ke sana adalah anak buah Sofi yang membawa kabar tak baik untuk Sofi.
"Ada apa" tanya Sofi.
__ADS_1
"Nyonya casino kita di bekukan" ucap Anak buah Sofi.
"Di tutup" tanya Sofi terkejut dia tidak percaya pada hal itu.
"Ya nyonya kita akan sulit untuk membuka nya lagi" ucap Anak buah Sofi.
"Astaga bagaimana ini" gumam Sofi.
"Tapi tenang saja Nyonya kami akan sebisa mungkin menjual sisa sisa minuman yang ada di casino itu" ucap anak buah Sofi.
"Ya terserah kalian saja" ucap Sofi pasrah pada apa yang akan terjadi padanya.
Sofi akan benar benar bangkrut kalau seperti itu.
"Aku harap aku di penjara tidak lama" gumam Sofi.
Sofi ingat pada Herman yang juga sama di penjara, dia ingin bertemu tapi bagaimana mungkin karena akan sangat susah untuk Sofi menemui Herman.
"Nyonya anda baik baik saja" tanya anak buahnya menatap pada luka luka yang ada di kulit Sofi.
"Aku baik baik saja ini karena ulah Mayang" ucap Sofi.
"Nyonya bisnis yang ada di luar negeri masih berkembang apa kita perlu menjual nya untuk membebaskan anda" tanya anak buahnya.
"Tidak perlu" ucap Sofi.
"Kenapa Nyonya" tanya anak buahnya.
"Aku yakin kalau Rena tak akan mungkin membiarkan aku di penjara aku saat ini hanya mengandalkan dia" ucap Sofi.
"Baiklah nyonya aku akan coba kembang kak lagi casino yang itu, tapi Nyonya aku tidak berjanji kalau akan sesukses anda" ucap anak buahnya.
"Ya aku harap tetap ada penghasilan" ucap Sofi.
"Baik Nyonya" ucap anak buahnya.
Saat ini Di pesantren Rena tengah melihat putri kecil dari kakaknya.
Rena tersenyum saat melihat lucunya putri Zia dan Adam.
"Kak aku berharap kalau anak yang sedang aku kandung ini juga perempuan" ucap Rena.
"Ya amin" ucap Zia.
"Tapi kak kalau misal nanti mamah Mayang atau Papah tau kebenaran tentang Faiz apa mungkin mereka akan membawa Faiz" tanya Rena.
"Kenapa" tanya Adam yang ada di sana.
"Ya aku hanya bertanya saja, aku takut kalau mereka mengambil Faiz dari ku" ucap Rena.
"Tidak mungkin Ning, asal jangan beri tau mereka" ucap Adam.
"Ya aku tau tapi aku takut" ucap Rena.
"Tak apa jangan takut kalau memang seharusnya kamu yang asuh Faiz maka Faiz akan bersama dengan kamu, tapi kalau Alloh menginginkan yang lain bisa saja nantinya Faiz lebih bahagia bersama dengan Kakek Nenek nya" ucap Adam.
"Aku lebih percaya pada Gladys dari pada sama Mamah" ucap Rena.
"Kenapa" tanya Zia.
"Ya kak, seburuk buruk nya Seorang ibu, dia tidak akan mungkin menyakiti anak nya sendiri" ucap Rena.
"Sudah jangan berpikir jauh, Ning kamu sedang hamil dan seharusnya kamu menjauhi pikiran negatif, pemikiran kecil pun akan sangat besar jika yang memikirkan nya ibu hamil, dan wajar jika ibu hamil akan gampang cemas tapi plis ya jangan terlalu di pikirkan" ucap Zia.
"Ya kak tapi aku takut" ucap Rena.
"Ya kak" ucap Rena.
Adam menatap pada adiknya itu, dia tau betul tentang ketakutan Rena, apalagi Rena orang yang mengasuh Faiz dari bayi, wajar saja ada ketakutan pada diri Rena karena Rena sudah pasti menganggap Faiz sebagai anaknya sendiri.
Adam keluar dari rumah Abah dia mencari cari Luthfi untuk membicarakan hal itu, Adam tidak mau adiknya stres berlebihan.
"Gus" sahut Adam pada Luthfi.
"Ya ada apa" tanya Luthfi.
"Aku mau bicara" ucap Adam.
"Oh baiklah" ucap Luthfi.
"Jadi begini Gus aku mau bicara kan tentang Ning Rena" ucap Adam.
"Ada apa" tanya Luthfi.
"Dia cemas berlebihan, dia mencemaskan bayi Faiz, ya menurut aku wajar saja tapi sekarang posisi nya sedang tidak baik baik saja apa lagi Ning Rena sedang mengandung, bisa kah kau rahasiakan identitas Faiz dari keluarga mu" tanya Adam.
"Kenapa, padahal aku berpikir akan memberi tau Mamah saat dia akan di penjara nanti" ucap Luthfi.
"Rena cemas memikirkan hal itu, mungkin dia tidak bisa bicara pada mu karena malu, tapi Gus menurut aku rahasia kan saja ya, Rena takut kalau Faiz akan di ambil oleh keluarga mu" ucap Adam.
"Ya aku paham" ucap Luthfi.
"Maaf kalau aku terkesan ikut campur pada kehidupan rumah tangga mu, tapi Gus ini demi kebaikan Rena juga" ucap Adam.
"Ya aku akan rahasia kan, terima kasih Gus sudah memberi tau hal ini, aku tau kalau Rena tak akan bicara pada ku" ucap Luthfi.
"Ya sebagai seorang istri Rena akan lebih memilih diam karena dia takut pada mu" ucap Adam.
"Padahal kalau bicara pun aku tak akan marah" ucap Luthfi.
"Justru Rena menghargai mu" ucap Adam.
"Ya aku tau" ucap Luthfi.
"Kamu harus bahagia mendapatkan Rena, karena dia tak mudah marah seperti Zia" ucap Adam.
"Ya mungkin aku orang yang paling beruntung" ucap Luthfi.
"Baiklah aku akan ke rumah dulu, Zia akan marah kalau aku tinggal lama lama" ucap Adam.
"Ya Gus" ucap Luthfi sambil tersenyum.
Luthfi tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Kenapa Rena harus takut, kan ada aku" gumam Luthfi.
Saat Luthfi akan ke rumah Abah dia melihat ada Gladys yang selalu membuntuti Farid kemana pun Farid pergi.
"Astaghfirullah anak itu" gumam Luthfi.
Luthfi mendekat pada Gladys yang sekarang tengah memantau Farid dari kejauhan.
"Gladys" sahut Luthfi.
"Ya" tanya Gladys.
"Ngapain" tanya Luthfi.
__ADS_1
"Aku lagi melihat lihat para santri" ucap Gladys.
"Melihat Gus Farid lebih tepatnya" ucap Luthfi.
"Tidak" ucap Gladys.
"Gladys aku ga mau kamu menjadi seperti ini, ayolah segera lah sadar Gladys kalau Gus Farid tau siapa kamu dia tidak akan mungkin mau pada mu" ucap Luthfi.
"Kau ja hat sekali" ucap Gladys.
"Bukan ja hat tapi aku mengingat kan, jangan terlalu berharap Gladys Kalian sangat berbeda" ucap Luthfi.
"Tapi saat kamu menikah dengan Rena saat itu juga Rena kan Janda" ucap Gladys.
"Masih mending Rena janda karena sudah pasti kalau dia Janda tapi kamu, apa kamu sudah menikah, belum kan kamu Gladys kamu itu bo doh kalau seperti itu" ucap Luthfi.
"Kamu sangat ja hat" ucap Gladys.
"Aku tidak ja hat tapi jadikan ini sebagai contoh Gladys" ucap Luthfi.
"Kamu sangat tidak menghargai wanita" ucap Gladys yang langsung pergi dari sana.
"Astaghfirullah andai kamu paham apa yang aku bicara kan" gumam Luthfi.
Namun ada beberapa santri putri yang mendengar kan perkataan itu.
"Gus Luthfi sangat ja hat ya" ucap santri Putri.
"Ya aku gak tau kalau dia pandai menghina" ucap yang lain.
"Walaupun adiknya tapi tetap kan dia tidak harus berkata seperti itu" ucap yang lain.
"Mungkin pergaulan kota membuat Gus Luthfi menjadi ja hat" ucapnya.
"Ya ayo kita pergi" ucap santri putri itu yang langsung meninggalkan tempat itu.
Tanpa mereka sadari Rena ada di sana mendengar kan ucapan mereka.
"Mereka salah paham" gumam Rena.
Rena mendekat pada Luthfi yang masih ada di sana.
"Gus ayo pulang kita makan" ucap Rena.
"Oh baiklah" ucap Luthfi.
Mereka menuju ke arah kamar yang mereka tempati, Rena sudah menitipkan Faiz pada Zia, dan sekarang dia bisa makan bersama dengan Luthfi berdua dengan tenang.
"Di mana Faiz" tanya Luthfi.
"Aku titip pada Kak Zia" ucap Rena.
"Apa Faiz tak menangis" tanya Luthfi.
"Tadi dia tidur" ucap Rena.
"Baiklah ayo makan dulu" ucap Luthfi.
"Ayo" ucap Rena.
Mereka makan bersama di kamar mereka yang ada di belakang rumah Abah, jika Faiz menangis sudah pasti akan terdengar ke kamar Rena karena lumayan dekat.
Sedangkan saat ini Adam menatap pada Bayi Faiz.
"Wajah nya sama seperti Abimana" ucap Adam.
"Ya mungkin saat hamil Gladys Sangat benci pada Abimana" ucap Zia.
"Ada ada saja" ucap Adam.
Namun tiba tiba saja Gladys datang ke sana.
"Assalamualaikum kak Zia" ucap Gladys.
"Waalaikum salam Gladys" ucap Zia.
"Aku mau melihat bayi" ucap Gladys yang tak sabar melihat putri Zia.
"Ada lagi tidur" ucap Zia.
Gladys salah paham dia langsung memangku Faiz yang saat ini di tidur kan di kasur punya Shabia Putri Zia.
"Shabia" ucap Gladys menciumi bayi Faiz.
"Gladys kamu salah itu Faiz" ucap Rena.
Gladys langsung terkejut tanpa dia sadar dia langsung mengeletakan Faiz pada kasur dengan kasar.
Sehingga membuat Faiz menangis mungkin karena terkejut.
Gladys seperti melempar Faiz ke atas kasur layaknya sebuah boneka yang sering anak perempuan mainkan.
Adam yang melihat hal itu langsung menggendong Faiz.
"Maafkan aku" ucap Gladys tanpa merasa bersalah.
Gladys langsung pergi dari sana meninggalkan rumah Abah.
Zia hanya mengusap dadanya dia tidak tau kalau Gladys akan melakukan hal itu pada anaknya sendiri.
Rasa ketakutan itu timbul pada diri Zia dia takut kalau Gladys akan melakukan hal itu pada Shabia juga.
"Astaghfirullah" gumam Zia.
"Aku tak sangka dia sebenci itu pada anaknya sendiri" ucap Adam.
"Aku juga gak tau" ucap Zia.
Sedangkan Faiz saat ini masih menangis karena terkejut, bayi akan gampang terkejut apa lagi setelah dia bisa mendengar.
Rena yang mendengar hal itu langsung datang bersama dengan Luthfi.
"Ada apa" tanya Rena.
"Ning tadi ada Gladys datang ke sini dia melempar Faiz ke atas kasur" ucap Zia.
"Astaghfirullah" ucap Rena.
Rena langsung mengambil Faiz dari gendongan Adam.
Rena memberikan asi pada Faiz berharap akan dia tenang.
"Shut ada Umi" ucap Rena memenangkan Faiz.
"Maaf aku tidak tau kalau Gladys akan melakukan hal itu" ucap Adam.
"Tidak apa" ucap Luthfi.
__ADS_1