
Luthfi menahan kantuk nya dia sangat mengantuk tapi dia tak mungkin tidur sedang kan Rena tertidur pulas di atas sofa yang di ruang tamu.
Luthfi menidurkan Faiz di sofa dia sangat lelah sekarang, Luthfi paham kenapa banyak para istri yang mengeluh karena dia mengeluh karena kecapean.
"Bayi jangan pernah buat Rena ku kecapean, kau tau aku sangat susah untuk mendapatkan nya, kalau kamu berani menyakiti nya maka aku tak akan segan segan menghukum mu" ucap Luthfi pada bayi kecil itu.
Luthfi yang dahulu nya adalah kulkas seribu pintu, sekarang es batu itu mulai meleleh.
Luthfi sekarang sudah mulai banyak bercanda dan bahkan sering bertanya juga pada orang lain yang ada di sekitar nya berbeda dengan dahulu yang sangat ketus pada semua orang.
Jika di pesantren mungkin sikap seperti itu sangat di maklumi karena memang para santri putra tak semua nya memiliki sifat friendly apa lagi mereka lebih banyak menghindari berkomunikasi dengan wanita.
Luthfi adalah salah satunya dia sangat dingin ketus dan sangat kasar, Bahkan Luthfi beberapa menghukum santri putra atau pun Putri karena sudah melanggar aturan pesantren.
Tanpa ampun Luthfi menghukum mereka.
Namun laki laki itu sekarang sudah berubah dia tunduk pada istri nya.
Bukan berarti dia lemah hanya saja cinta Rena mampu mengubah sikap Luthfi yang awalnya datar sekarang menjadi banyak bicara.
Luthfi menatap pada ruang tamu rumah nya itu, terlihat sangat biasa saja Luthfi baru tau kalau rumah nya itu sangat membosankan.
Luthfi mengambil hpnya yang ada di kamarnya, dia melihat lihat gambar desain rumah yang cukup indah tapi dengan barang seadanya.
Luthfi memperhatikan tata letak dari berbagai sudut rumah nya itu.
"Ya aku tau ada yang kurang" gumam Luthfi yang langsung menghubungi Dimas untuk meminta nya mencucikan foto.
Di rumah itu tak ada Foto pernikahan mereka karena selama ini Luthfi tidak terlalu perduli pada rumah nya itu.
Luthfi memberesi satu persatu meja yang ada di sana, dia menaruh beberapa bunga kertas di sana.
Luthfi tak lupa dia membersihkan foto besar yang ada di sana.
Foto itu adalah Foto Luthfi saat kecil bersama papahnya saat di kota Mekkah.
Foto itu dahulu nya bertiga hanya saja Luthfi gunting pas bagian Mamahnya dia juga memperbaiki nya pada orang yang sering mengedit foto.
"Hanya ini kenangan yang tersisa" gumam Luthfi.
Luthfi hanya tersenyum dia tak bisa menahan air mata nya, hanya saja Luthfi akan langsung memejamkan matanya saat dia akan menangis.
__ADS_1
Sebenarnya hal yang paling Luthfi sedih kan itu adalah saat dia menikah tapi tak ada wali yang bisa Luthfi andalkan, tak ada sosok papahnya yang akan menjadi wali nikah nya.
Hanya itu yang Luthfi sedihkan yang lainnya Luthfi merasa terserah.
Dengan telaten Luthfi membereskan meja yang ada di sana hingga menata ulang perabotan yang ada di sana.
"Assalamualaikum" ucap Dimas yang baru saja datang ke rumah Luthfi.
"Waalaikum salam" ucap Luthfi sambil menaruh telunjuk nya di bibirnya, guna mengkode Dimas untuk tak berisik.
"Tuan ini foto yang anda pesan" ucap Dimas yang langsung memberikan hasil foto pada Luthfi.
"Cepat sekali" tanya Luthfi.
"Sengaja tuan aku buat cepat" ucap Dimas.
"Ya terima kasih" ucap Luthfi.
"Baiklah tuan saya permisi" ucap Dimas yang langsung pergi dari sana.
"Ya" ucap Luthfi.
Luthfi mengantungkan Foto itu di sana, dia ingin tamu yang datang tau kalau rumah itu bukan Rumah Luthfi lagi tapi rumah Rena juga, bahkan Luthfi juga sudah mencuci foto Faiz yang baru saja lahir.
"Selesai" gumam Luthfi.
Luthfi melihat pada jam dinding yang sekarang sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
"Astagfirullah aku pikir masih jam delapan" gumam Luthfi.
Oekkk
Oekk
Luthfi melihat Faiz yang menangis dia langsung sigap menggendong bayi itu, dan mencoba menenangkan nya tanpa menganggu Rena.
Namun sepertinya pendengaran Rena sangat tajam dia langsung bangun dan melihat pada Faiz yang menangis.
"Ada apa" tanya Rena.
"Tidak ada kamu tidur lagi saja" ucap Luthfi.
__ADS_1
Rena melihat pada jam yang sekarang menunjukkan pukul sembilan.
"Astaghfirullah sudah jam sembilan, Gus kenapa tak di bangun kan" tanya Rena.
"Aku tak mau mengganggu kamu" ucap Luthfi.
"Kamu ini" gumam Rena.
Rena mencium Faiz yang sekarang sedang ada di gendongan Luthfi, Faiz sedang menyusu jadi sekarang Faiz tak menangis lagi.
"Hanya Faiz saja, Abi nya tidak" tanya Luthfi.
Rena tersenyum dia bukan nya tak mau hanya saja dia malu kalau ada yang melihat nya, berduaan dengan suami nya itu, sejatinya kemesraan itu tak baik jika di umbar di mana mana.
Rena melihat ke arah sekitar dia melihat lihat siapa tau ada orang, tapi ternyata tidak ada orang di sana.
Luthfi menurunkan tubuhnya mensejajarkan dengan Rena yang sekarang akan menciumnya.
Cup
Rena mengecup pipi Luthfi, rasanya sangat rindu sekali Luthfi pada sentuhan Rena tapi sayang sekarang bukan waktu nya untuk melakukan hal itu.
Mereka sibuk sekarang apa lagi tak mungkin Luthfi meminta apa lagi ada Faiz saat ini.
"Cepatlah besar dan jadilah orang yang berguna" gumam Luthfi.
Rena yang saat ini tengah membereskan bantal di atas sofa langsung terkejut saat melihat kalau rumah itu sangat rapih dan bagus.
"Ini Bi Cici yang bantu bereskan" tanya Rena.
"Ini semua aku yang bereskan" ucap Luthfi.
"Wah kamu hebat kamu pandai mendesain Gus" ucap Rena menatap pada foto pernikahan mereka.
"kamu suka" tanya Luthfi.
"Suka" ucap Rena.
Sedangkan di sisi lain saat ini Mayang tengah memikirkan cara untuk memanfaatkan Sofi dia akan menjadi kan Sofi sebagai mata mata untuk Luthfi dan Mayang juga berpikir untuk membujuk Luthfi supaya mengijinkan Mayang bekerja.
"Tidak jangan aku yang bekerja tapi Sofi yang bekerja dan aku yang akan gunakan Sofi untuk memoroti harta Luthfi" Gumam Mayang.
__ADS_1
Namun Mayang tak tau harus melakukan apa karena kalau dia langsung datang ke perusahaan Luthfi nanti akan menjadi berabe.
Yang mayang takutkan adalah Luthfi tak akan menerima apa lagi Sofi bukan orang sembarangan.