
Di gudang yang cukup besar itu Rena baru saja terbangun dia membuka matanya kesan pertama yang dia lihat adalah orang orang yang tak dia kenal itu.
"Hah siapa kalian" tanya Rena tak percaya kalau ada orang orang di sana.
Namun ada orang yang Rena kenal yaitu Herman Ayahnya Luthfi yang tak lain adalah mertuanya.
"Yah tolong aku" pinta Rena.
"Hahahaha" Herman tertawa mendengar hal itu dia bangun dari kursi yang dia duduki itu.
Herman mendekat ke arah Rena yang di ikat di kursi.
"Aku kasihan pada mu sampai saat ini suami mu tak datang untuk membebaskan mu, apa mungkin dia sudah tak mau pada mu ya" ucap Herman.
"Yah" ucap Rena yang menatap sendu pada Herman yang ternyata adalah orang yang menculik nya.
"Tenang saja aku tak akan melakukan apa pun pada mu" ucap Herman.
Seorang anak buah Herman datang ke sana dia langsung membisikan sesuatu pada Herman yang ada di sana.
Herman tersenyum dia langsung mengambil hpnya dan mencoba menghubungi seseorang, telpon nya berdering tapi tak ada jawaban dari Luthfi.
Tutt
Panggilan tak di angkat oleh Luthfi, namun Herman tak menyerah dia mencoba menghubungi Luthfi lagi tapi tetap tak ada jawaban dan setelah Panggilan ketiga akhirnya ada jawaban juga dari Luthfi.
๐๐
"Pak Ustadz apa anda lupa dengan istri cantik mu ini" ucap Herman sambil tertawa menelpon Luthfi.
Tak ada jawaban dari Luthfi namun panggilan masih terus berlangsung.
"Pak Ustadz datang lah dengan beberapa surat surat berharga kita akan melakukan barter sekarang" ucap Herman lagi.
Tuutt.
๐๐
Sambungan telepon terputus Revan yang sekarang memegang hp Luthfi pun seketika hanya diam saja dia tak bisa melakukan apa apa, karena Luthfi sekarang ada di kediaman Nagita.
"Bismillah" gumam Revan.
Dia ingin menolong Luthfi sekarang dia tau betul apa yang baru saja dia lakukan itu, dan tentu saja Revan harus bertanggung jawab pada kesalahan nya itu.
Revan melihat pada Faiz yang sekarang ada di rumah sakit, tujuan dia datang ke sana karena akan membawa bi Cici pulang dia akan memperbaiki semuanya.
Dan sekarang Revan akan memulainya dengan mengantarkan Bi Cici sampai ke rumah dengan selamat.
"Bi apa dokter memperbolehkan bibi pulang" tanya Revan.
"Ya baru saja Bibi akan pulang" ucap Bi Cici.
"Aku akan antar kan Bibi dan bayi ini untuk pulang" ucap Revan.
"Baiklah ayo kasihan bayi ini kalau harus terus berada di sini" ucap Bi Cici.
Revan menyewa taksi untuk membawa Bi Cici dan Faiz serta beberapa koper yang Luthfi bawa kemarin.
Revan mengawal taksi itu sampai ke rumah Luthfi dia tak mau ada yang mencelakai anak itu.
Setelah memastikan kalau Bi Cici aman sekarang Revan akan membantu membebaskan Luthfi terlebih dahulu karena dia tak mungkin menyelamatkan Rena sendirian.
Revan cukup berani untuk melawan orang orang di kediaman Nagita tapi kalau tuan Herman dia tak mungkin akan sanggup mengalahkan nya.
Sedangkan di gudang itu Rena tengah menangis dia tak bisa berbuat apa apa sekarang.
"Sudah jangan menangis, sebenarnya Luthfi itu menginginkan apa dari kamu ini hah, kamu gak cantik lebih ke gendut dan kamu itu kampungan Rena tak ada yang mau bersama dengan mu" ucap Herman.
"Setidaknya mata Luthfi ku tidak sama seperti mata kalian" ucap Rena.
"Apa dasar sombong bagaimana mungkin ada seorang wanita kampung yang bisa bersanding dengan raja, kalian itu layaknya seorang pembantu dan majikan" ucap Herman.
"Jaga bicara kamu" ucap Rena.
"CK kamu ini tak sopan pada mertua" ucap Herman.
Herman duduk di sana dia menatap pada Rena yang sekarang tengah di ikat.
Rena hanya bisa menangis saja dia berusaha untuk berusaha kuat di hadapan orang orang itu.
Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii syaโnii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata โainin abadan.
Artinya:ย โ Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Maha Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.
Hanya itu doa yang Rena panjatkan dia berharap kalau Doa nya itu di Kabul kan oleh Alloh SWT, "Kun fayakun".
Rena baru saja ingat dia tadi membawa Faiz dan sekarang tidak ada Faiz di sana.
"Di mana Faiz" tanya Rena.
"Faiz? siapa?" tanya Herman.
"Bayi ku di mana Dia" tanya Rena.
"Oh bayi yang berisik itu, aku sudah buang dia" ucap Herman.
"Apa buang, Ayah apa kalian sudah gi la itu anak ku dan harus nya itu adalah cucu mu" ucap Rena.
"Tapi aku gak punya cucu, itu bukan anak kamu kan jadi cucu dari mana nya" ucap Herman.
"Itu adalah anak dari Gladys" jelas Rena.
Herman terkejut dia langsung terperanjat mendengar hal itu.
"Dia adalah cucu mu karena bayi itu turunan dari Gladys dan Gladys adalah anak mu" ucap Rena.
"Hahahaha" Herman tertawa terbahak bahak dia menganggap kalau Rena sedang bercanda dan dia tak percaya hal itu apa lagi Gladys belum punya suami.
"Jangan berbohong Rena jangan membohongi aku, aku sangat tak suka itu mana mungkin Gladys punya anak sedang kan dia baru saja keluar dari sekolah dan kalian membawanya ke pesantren" ucap Herman.
"Tapi aku bicara nyata, menurut mu apa dia mau pergi ke pesantren kalau tak ada masalah, apa dia mau datang ke rumah suami aku kalau dia tak punya kepentingan" ucap Rena.
"Jangan ngawur" ucap Herman.
__ADS_1
"Aku gak ngawur kalau gak percaya tanya saja pada Gladys" ucap Rena mencoba melawan dia sengaja berbuat seperti itu supaya dia tidak di anggap lemah oleh orang orang itu.
"Aku bilang apa jangan berbohong karena aku gak suka kalau ada yang berbohong" ucap Herman.
"Terserah karena aku sangat tak sibuk jika untuk berbohong" ucap Rena.
Herman malah merasa terpojok dia tak percaya pada ucapan Rena namun tatapan matanya sangat tenang seperti Rena tak berbohong dan tak ketakutan.
Herman langsung duduk dia mencoba untuk tidak percaya pada ucapan Rena, Herman menganggap itu adalah mustahil karena Gladys tak akan mungkin melakukan itu.
"Di mana Faiz" tanya Rena.
"Aku simpan di mobil mungkin bayi itu terbakar" ucap Herman.
"Apa tega sekali kamu membu nuh cucu sendiri" ucap Rena.
"Cucu? sudah aku tekan kan kalau itu bukan cucu ku dan aku percaya kalau Gladys belum punya anak jangan berbohong Rena kalau ucapan mu sampai terdengar orang luar mereka akan menyebar kan gosip dan mereka akan merendahkan Gladys" ucap Herman.
"Tapi itu kenyataan nya" ucap Rena.
"Diam lah" geram Herman.
"Lepaskan aku tidak ada gunanya juga menyekap aku, Gus Luthfi juga tak akan datang" ucap Rena.
"Kenapa kau yakin kalau suami mu tak akan datang" tanya Herman.
"Karena dia cukup pintar untuk membalas orang seperti diri mu" ucap Rena.
"Budi tutup mulut wanita gi la ini aku gak mau dia bicara lagi aku sangat muak mendengar ucapannya" titah Herman.
Anak buahnya yang bernama Budi pun langsung mengikuti ucapan tuannya itu dia langsung menutup mulut Rena dengan kain.
Rena tak berbuat apa apa dia hanya diam saja tanpa melawan karena kaki dan tangan nya juga di ikat pada kursi yang ada di sana.
Herman merasa seperti sudah mengenal Rena sejak lama bahkan Herman juga merasakan ada ikatan sesuatu dengan Rena apa lagi ucapan Rena membuat nya seakan menjadi orang yang sangat bersalah se dunia.
Namun niat Herman awalnya bukan menculik Rena karena dia ingin menculik Luthfi dan meminta tebusan pada Rena, dia berpikir kalau Rena bo doh jadi dia pasti akan mengirim kan harta Luthfi untuk keselamatan Luthfi.
Tapi sayang di dalam mobil hanya ada Rena jadi dia terpaksa membawa Rena untuk dia culik dan minta tebusan pada Luthfi.
namun sampai sekarang belum ada tanda tanda Luthfi datang ke sana.
Herman merasa sia sia saja dia berpikir kalau Rena tak berharga di mata Luthfi apa lagi sejak tadi pagi tak ada tanda tanda Luthfi untuk mencoba menghubungi nya.
Sedangkan di kediaman Nagita saat ini Mayang akan pulang tapi sayang mobil nya terpaksa berhenti saat ada Sofi datang ke sana dengan sikap yang kurang mengenakkan.
"Hey Mayang dasar wanita tak berguna keluar kau Mayang aku sangat tak suka pada mu Mayang keluar lah" geram Sofi yang datang ke sana.
Mayang turun dari mobil nya tanpa dia sangka Sofi langsung menjambak rambut Mayang yang di ikat itu, Mayang merasakan kesakitan karena Ulah Sofi.
"Lepaskan aku mucikari" geram Mayang.
"Mayang ini semua karena mu aku jadi kena masalah karena mu dan yang paling aku benci pada mu kau menculik Rena, argh Mayang kau sembunyikan di mana Putri ku" geram Sofi.
"Aaaaaa lepaskan aku dasar ja lang" gerak Mayang.
"Ja lang berani sekali kau berkata begitu Mayang apa kau lupa siapa aku, hah aku membantu mu untuk mendapatkan harta Luthfi aku juga yang membantu mu untuk menenangkan diri mu, dasar tak tau malu kau sangat picik" geram Sofi.
"Argh kau merusak rambut ku Sofi" geram Mayang.
"Ini gara gara kau yang sudah melakukan itu dan membawa bawa casino ku jadi aku di suruh berhenti beroperasi oleh para polisi itu" geram Sofi.
"Itu salah mu karena membuka Casino di tempat umum tanpa ijin juga" ucap Mayang.
"Masih mending aku punya sedangkan kamu, kamu punya apa" tanya Sofi.
"Sombong sekali setidaknya aku punya anak yang kaya raya sedang kan kamu anak dari kampung saja bangga" ucap Mayang.
"Oh ya aku terkejut mendengar nya, kamu bilang punya anak kaya ingat ya menantu bahkan tak menanggap kamu adalah mamahnya" ucap Sofi.
"Terserah" ucap Mayang.
"Kembalikan Rena ku aku akan membuat dia bercerai dengan anak mu itu" ucap Sofi.
"Sudah aku tekan kan aku gak tau, aku gak melakukan apa pun pada anak mu aku gak Sudi melakukan nya hahaha aku tak serendah itu untuk menculik Rena" geram Mayang.
Nagita yang mendengarkan keributan itu langsung datang ke sana dia melihat Mayang bertengkar dengan Sofi mamahnya Rena.
Nagita sangat tak suka pada mereka apa lagi mereka sangat bar bar dan berisik.
"Diam" bentak Nagita yang marah pada mereka berdua.
"Gita lihat orang gi la ini" ucap Mayang yang langsung mendekat pada calon menantu nya itu.
"Kalian ini ada apa" tanya Nagita.
"Dia menjambak rambut aku Nagita, dia mengalahkan aku" sahut Mayang.
"Tante pulang lah apa kau tak malu berbuat rusuh di rumah orang" tanya Nagita.
"Aku gak malu" ucap Sofi yang langsung mendekat pada Nagita dan mendorong Nagita sampai terduduk di lantai.
"Arghh Tante kau sangat kasar" geram Nagita.
"Kalau aku kasar bagaimana apa kamu akan marah pada ku" tanya Sofi.
"Kamu sangat tak berpendidikan kamu sangat bar bar, ish pantas anak dan ibu sama saja" ucap Nagita.
"Berani sekali kau membicarakan putri ku" geram Sofi.
"Pergilah" sahut Nagita.
"Hahah aku tau kau pasti membenci putri ku kan karena Putri ku mendapatkan anak nya si Mayang ini sedang kan kamu cuman di anggap sebagai teman" ucap Sofi meledek Nagita.
"What" ucap Nagita.
"Hahaha kasihan sekali makan nya kalau mau cari lawan itu pasti kan lawannya tak berpengaruh, Ya aku akui Rena tak secantik kamu tapi Luthfi sangat terg ila gi la padanya" ucap Sofi tertawa.
"Jaga mulut mu" geram Nagita tapi di tahan oleh Mayang.
"Biarkan orang tak waras ini di sini" ucap Mayang yang langsung membawa Nagita masuk ke dalam rumah Nagita.
"Hahaha dasar tak mampu cantik tapi murahan" Teriak Sofi sambil mentertawakan Nagita.
__ADS_1
Sedangkan di perjalanan Revan tak tau arah dia akan menemui Rena terlebih dahulu karena dia takut kalau Rena akan mengalami musibah karena orang orang itu.
Revan lebih mengkhawatirkan Rena dari pada Luthfi, tentu saja karena Rena adalah seorang wanita dan tak mungkin kalau Rena bisa melawan para laki laki itu.
Sedangkan Luthfi dia sedikit sedikit pasti bisa melawan apa lagi dia juga pandai bela diri, Revan berharap kalau nantinya tak akan ada masalah lagi.
"Sudah cukup aku menyesal karena perbuatan kemarin sekarang aku gak mau menyesal lagi" gumam Revan.
Flash back onn
Revan malam itu baru saja berkelahi dengan teman nya, padahal masalahnya sepele, masalahnya saat itu laki laki itu menghina wanita yang Revan sangat sukai.
Mungkin bisa di sebut sebagai kekasih Revan, hal itu tentu saja membuat Revan marah karena dia sangat menyukai nya.
Namun Revan sudah sangat sangat marah hingga dia tak sadar kalau dia sudah memukuli temannya itu.
Reva menyesal dia tak tau harus berbuat apa karena dia tau kalau dia juga salah karena telah memukuli temannya itu.
Herman yang memanfaatkan situasi itu langsung turun dari mobil nya.
prokk
prokk
Herman bertepuk tangan sambil mendekat pada Revan.
"Keberanian mu sangat besar juga" ucap Herman.
"Tuan besar" ucap Revan.
"Ya Revan kamu sudah melakukan kesalahan aku saksi mata di sini aku bisa mengeblos kan kamu ke penjara" ucap Herman.
"Maaf tuan ampuni saya tuan saya tidak mau di penjara" ucap Revan.
"Tapi kamu sudah salah kamu bisa masuk penjara karena sudah memukuli seseorang" ucap Herman.
"maaf tuan tolong maafkan saya" ucap Revan.
"Bagaimana ya" ucap Herman.
"Tolong saya tuan" ucap Revan memohon.
"Baiklah aku akan bantu kamu, aku akan urus orang itu dan kamu harus mau menjadi mata mata untuk ku" ucap Herman.
"Maksud nya" tanya Revan.
"Kamu hanya perlu melaporkan apa pun yang Luthfi lakukan pada ku itu saja" ucap Herman.
"Tapi untuk apa" tanya Revan.
"lakukan saja atau kamu mau di penjara" ucap Herman.
"Aku akan lakukan hal ini tuan tapi tolong jangan laporkan aku ke polisi aku gak salah dia yang memulai duluan" ucap Revan.
"Tenang saja aku yang akan mengurus orang ini" ucap Herman menunjuk pada teman Revan yang tergeletak di tanah.
"Bagus kesempatan dalam kesempitan" gumam Herman.
Flash back off
Revan menyesali malam itu dia merasa sangat bo doh jika mengingat hal itu, dia rela memukuli teman nya hanya untuk bisa membela seorang wanita yang dia sukai.
Revan harusnya lebih bijak tidak mengedepankan perkelahian di antara masalah itu karena sekarang hal itu menjadi Boomerang bagi dirinya sendiri.
"Astaga aku sangat menyesal" gumam Revan yang tak henti hentinya mengucap kan penyesalan nya itu.
Ya tentu saja dia akan menyesal karena sudah membuat tuan nya terjebak dalam masalah besar karena dirinya.
Revan menghentikan motor nya di penginapan tengah hutan itu, dia tau kalau anak buah Luthfi pasti sedang memantau nya.
Namun sekarang Revan memilih untuk tidak memperdulikan hal itu dia lebih memilih untuk menyelamatkan Rena terlebih dahulu dia akan berkata jujur nantinya setelah masalah ini selesai.
Revan masuk ke dalam gudang itu, semua mata menuju pada nya.
Herman yang melihat anak buah nya itu langsung tersenyum dia menyambut kedatangan Revan ke sana.
"Di mana tuan mu itu" tanya Herman.
"Tuan Luthfi tak bisa datang" ucap Revan.
Rena langsung tersenyum saat mendengar ada suara Revan di sana dia menatap pada orang itu dan ternyata benar ada Revan di sana.
"Syukurlah ya alloh" batin Rena bahagia.
Namun Rena merasa heran karena Herman bicara dengan Revan sangat nyambung, Rena tau kalau Revan tak punya hubungan apa apa dengan Herman apa lagi mereka belum bertemu.
"Kamu Heran Rena" tanya Herman.
Hahahaha
Suara tawa terdengar dari mulut Herman.
"Revan ini adalah anak buah ku dia mata mata yang aku kirim kan untuk menata matai keluarga mu" ucap Herman.
Rena sangat terkejut dia menatap pada Revan yang sekarang ada di hadapannya.
Rena sangat kecewa pada Revan apa lagi dia sudah percaya pada Revan sepenuhnya tapi Revan malah mengkhianati nya.
"Aku tak menyangka kalau Revan akan melakukan hal itu" batin Rena.
Revan hanya melihat pada Rena dia tak bisa bicara apa apa lagi karena dia merasa kalau dia salah dan Revan juga yakin kalau Rena pasti sangat marah padanya.
"Aku harap kau tak marah Nona" batin Revan.
"Kerja kamu bagus Revan tapi sayang aku tak membutuhkan kamu lagi" ucap Herman.
"apa maksudmu" tanya Revan.
Bughh
Bughh
apa itu???
__ADS_1