Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 22 pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan


Rena saat ini tengah di hiasi layaknya seorang pengantin sungguhan, semua keluarganya sangat bahagia apa lagi Umi dan Abahnya yang sangat bahagia akan pernikahan itu.


Rena ingat pada perkataan ibu ibu tetangganya yang sangat membantu Rena sakit hati.


flash back kemarin.


Rena saat itu tengah menghadiri acara pengajian di Mesjid RW sebelah Rena seperti biasa berceramah walaupun tak ada yang datang ke sana.


hingga selesai pengajian Rena pulang di perjalanan dia melihat ada beberapa ibu ibu yang tengah memilih sayuran.


"Ning Rena katanya kamu mau nikah" tanya Ibu itu.


"ya" jawab Rena walaupun ada rasa malas pada diri Rena untuk membalasnya.


sebisa mungkin Rena tetap tersenyum menanggapi ucapan ibu ibu itu.


"tumben mau nikah bukannya laki laki idaman kamu yang kaya ya" tanya Ibu itu meledek Rena.


"laki laki ini pilihan Abah" ucap Rena.


"oh ya Abah benar melakukan ini karena menunggu kau setuju pasti akan lama" ucap ibu yang lain.


"aku doakan semoga laki laki itu tak akan menyesal menikah dengan mu Ning" ucap ibu yang lain.


"aku pasti kan dia tak akan menyesal" ucap Rena pasti.


"oh ya masa sih ada bujang yang mau menikah dengan janda muda seperti mu" ucap ibu itu.


"kalau sudah jodoh mau bagaimana lagi" ucap Rena.


"jangan terlalu yakin Ning bahkan laki laki tak akan suka pada wanita ketus seperti mu" ucap Ibu itu.


"lebih baik ketus dan so jual mahal dari pada Friendly tapi murahan" ucap Rena.


"laga mu Ning" ucap yang lain sinis.


"maaf saya sibuk saya permisi Assalamualaikum" ucap Rena yang langsung pergi dari sana meninggalkan ibu ibu yang masih membicarakan keburukan Rena itu.


"luaskan rasa sabar ku ini Ya Alloh orang orang melihat ku dengan sebelah mata" gumam Rena.


belum juga sampai ke pesantren Rena di hadang teman laki laki nya saat Rena masih di bangku sekolah dasar.


"ada janda" ucapnya.


kedua teman Rena itu memang tak pernah akur dengan Rena apa lagi Rena tak terlalu suka berteman dengan laki laki.


"katanya mau menikah" ucap Riko temannya.


"baguslah cepatlah menikah bukan kah seorang wanita akan mulia saat menikah" ucap Rivan.


"oh ya seorang wanita akan mulia saat dia menikah" tanya Rena.


"ya tentu saja biar kamu tak menjadi janda" ucap Riko.


"benarkah apa yang kau katakan, lalu kalau itu benar bagaimana dengan Maryam bin Imran yang tak menikah dan suci sampai akhir hayat, jika seorang wanita mulia karena suaminya lalu bagaimana Asiyah yang menjadi istri dari Firaun yang kejam, jika seorang Wanita mulia karena anak anaknya lalu bagaimana dengan Aisyah bin abu bakar yang tak punya putra, kalau mulianya seorang wanita dari harta yang dia punya lalu bagai mana Fatimah binti Muhammad yang bersahaja dalam kesederhanaannya, kalian berpikir terlalu pendek kalian hanya bisa membuli orang tanpa kalian sadar kalau semua wanita itu mulia hanya saja kalian tak melihatnya karena mata kalian di penuhi rasa benci dan jahil pada orang" ucap Rena yang langsung pergi dari sana meninggalkan teman SD nya dahulu.


seperti biasa setelah melakukan perdebatan itu Rena akan menangis dia akan menangisi masa lalunya dan hanya Luthfi yang akan Rena salahkan nantinya.


Rena mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya.


Zia datang ke sana karena di suruh abah untuk membawa Rena datang ke rumah.


"Ning ada apa" tanya Zia yang sadar kalau Rena sedang menangis.


"tak ada" ucap Rena.


"karena hinaan ibu ibu itu kan" tanya Zia yang tak di jawab oleh Rena.


Zia paham kalau Rena sakit hati karena ucapan ibu ibu yang asbun itu.


"Ning jangan di pikirkan mereka hanya asal bunyi saja tanpa mereka tau yang sebenarnya" ucap Zia.


"tapi kak mereka bilang aku....." ucap Rena tak melanjutkannya.


"sudah jangan di pikirkan, kamu tau pikiran itu bisa menjadi pelayan yang sangat baik tapi pikiran juga bisa menjadi majikan yang sangat kejam" ucap Zia.


"ya aku tau kak yang membuat hidup susah itu adalah pemikiran kita sendiri" ucap Rena.


"ya makannya ayo ke rumah Abah biar kita bisa mengobrol" ucap Zia.


"baiklah" ucap Rena.


Flash back off


Rena menatap pada orang orang yang sudah bersiap menyambut kedatangan pengantin pria yang akan menikahi Rena.


sampai detik ini Rena belum tau laki laki yang akan menikahinya.


"semoga saja tak mengecewakan" gumam Rena.


Gita datang juga ke sana dia melihat temannya yang akan menikah, sekarang Gita sekolah di kota jadi dia tak sekolah lagi di pesantren itu.


rombongan pengantin laki laki datang Gita juga melihat calon suami temannya itu.


"Gus" gumam Gita.


Zia melihat pada Gita.


"jika Ning Rena tanya siapa calon suaminya kamu Jawab gak tau ya" ucap Zia.


"oh baiklah" ucap Gita mematuhi mantan guru Inggrisnya itu.


Rena yang menunggu di dalam pun hanya bisa penasaran saja pada calon suaminya itu.


"ya Alloh jika suami ku tak setampan Ali bin Abi Thalib, tak sesantun Abu bakar Ash-Shiddiq, dan tak sedermawan Utsman bin Affan, maka aku meminta suami ku yang seperti Umar bin Khattab yang orang lihat sebagai sosok yang keras dan tegas tapi yang di kenal istrinya adalah dia sosok pendiam bila sedang di marahi, jangan kan memukul, membentak pun dia tak berani, amin ya Alloh" gumam Rena berdoa.


Untung saja Rena melihat Gita yang datang ke sana.


"Gita bagai mana calon suami ku" tanya Rena penuh harap pada Gita.


"tampan, idaman semua perempuan" ucap Gita menjelaskan.


"benarkah, apa dia tinggal di kampung sini" tanya Rena.


Gita terlihat berpikir padahal dia tau kalau calon suaminya Rena tinggal di mana.

__ADS_1


"kayanya sih dari kota karena aku tak pernah melihatnya di kampung" ucap Gita.


"oh ya bagaimana tubuhnya" tanya Rena.


"tinggi, tampan, kulitnya putih, dan pokoknya enak di pandang deh" ucap Gita.


"kamu kira dia bihun apa" tanya Rena.


Gita tersenyum melihat temannya yang kesal itu.


"kamu gak akan menyesal menikah dengannya yakin lah pada ku Ning" ucap Gita.


"ingat ya kalau kamu menikah bilang padaku" ucap Rena.


"ya" ucap Gita tersenyum.


Rena sangat penasaran pada calon suaminya itu padahal calon nya itu sudah datang tapi tak ada yang memperbolehkan Rena keluar untuk melihatnya.


Abah sekeluarga sangat pandai menyembunyikan calon suaminya Rena dan hal itu membuat Rena sangat penasaran.


"kapan aku keluar" Gumam Rena.


sedangkan di luar Abah mempersilahkan para tamu untuk masuk ke dalam, banyak para santri yang membantu Abah mengurus para tamu yang datang.


"umi panggilkan Ning Rena" sahut Abah.


"ya Abah" ucap Umi.


namun Zia menghentikan langkah mamah mertuanya itu.


"umi biar aku saja yang panggilkan" ucap Zia.


"hati hati ya Neng" ucap Umi.


"ya Umi" ucap Zia.


Zia langsung masuk ke dalam melihat Rena yang sekarang bersama dengan Gita.


"Ayo kita keluar" ucap Zia.


"sekarang" tanya Rena.


"ya" ucap Zia.


Rena membayangkan Suaminya itu sendiri oppa oppa Korea minimal seperti Lee min ho atau seperti Lee Jong suk walaupun sudah tua tapi mereka sangat tampan.


definisi sugar Daddy tapi Rena suka yang tua tua.


Rena berjalan dengan sumbringah menuju ke luar, namun dia melihat calon suaminya ternyata calon suaminya itu adalah..


"kak kenapa suami aku Gus Luthfi" tanya Rena.


"memang dia yang Abah pilih kan" ucap Zia.


"aku pikir orang lain" ucap Rena.


"kamu memikirkan siapa hah" tanya Zia.


"Lee Jong suk" ucap Rena.


"pertanyaannya Lee Jong suk mau gak sama kamu" ucap Zia.


Rena langsung duduk di sana acara langsung di mulai Luthfi mengucapkan ijab qobul secara lantang di hadapan semua orang.


jantung Rena berdetak sangat kencang karena sekarang adalah waktunya Rena mengalami tangan Luthfi.


dengan mata yang terpejam Rena mengambil tangan suaminya itu.


Rena menciumnya dengan takzim walaupun dengan matanya yang tertutup, pipi Rena panas karena malu saat akan di cium oleh Luthfi.


replek saja Rena menghentikan Luthfi yang akan menciumnya dengan mendorong dada bidang Luthfi untuk menjauh dari sana.


"Ning ada apa" tanya Fotografer yang tak lain adalah Ustadz Wildan guru juga di sana.


"apa sebaiknya ciumannya di lewat saja" ucap Rena.


"oh mau nya di kamar ya" sahut tamu undangan yang membuat Rena semakin tersipu malu.


Luthfi tersenyum melihat istrinya itu.


"penolakan mu bagus Ning" bisik Luthfi.


"kita lakukan nanti saja" ucap Rena.


semua orang tertawa karena Rena dan Luthfi yang sangat lucu itu.


mereka duduk di pelaminan walaupun sudah bersuami istri tapi mereka seperti menjaga jarak satu sama lain.


"bisa lebih dekat" ucap Ustadz Wildan yang akan memotret kedua mempelai itu.


Luthfi mendekat pada Rena, namun tak sengaja Luthfi menduduki kerudung Rena yang panjang sehingga membuat Rena tak nyaman.


Rena langsung mendorong Luthfi untuk menjauh darinya.


hal itu pun di lihat oleh semua orang yang ada di sana.


"kau menduduki kerudung aku" ucap Rena.


"maaf" ucap Luthfi.


semua orang memaklumi karena di hari yang berbahagia itu wajar kalau para pengantin saling berdebat tentang hal yang kecil.


Gita naik ke atas pelaminan karena ingin di foto bersama.


"selamat ya Ning" ucap Gita.


"bagus ya aku di bohongi katanya bukan orang sini" ucap Rena.


"memang bukan kan karena Gus Luthfi dari kota" ucap Gita.


"kamu ini bisa saja" ucap Rena.


"selamat ya" ucap Gita.


"Terima kasih" ucap Luthfi.


acara berjalan cukup lancar namun ada mamahnya Luthfi di sana yang menatap benci pada Rena yang sekarang sedang bersanding itu.

__ADS_1


"awas kau aku akan buat perhitungan pada mu" gumam Mayang.


sore harinya para tamu sudah berpamitan akan pulang hanya menyisakan Luthfi saja yang sekarang sudah menjadi suami Rena karena rombongannya sudah pulang.


Luthfi tak bertemu dengan mamahnya padahal kata pamannya mamahnya itu datang ke sana tapi Luthfi tak melihat mamahnya berfoto dengannya.


"Gus Luthfi ayo makan" sahut Abah dari dalam rumah.


Luthfi langsung masuk ke dalam rumah Abah.


"ya Abah" ucap Luthfi.


"Ning sajikan makanan untuk Gus Luthfi" sahut Abah.


"ya Abah" ucap Rena malas sekali.


Rena mengambilkan makanan untuk Luthfi lengkap dengan airnya.


"terima kasih" ucap Luthfi.


"ya" ucap Rena yang sekarang sudah berganti pakaian.


umi datang ke sana dia akan bicara pada Luthfi tapi sayangnya Luthfi tengah makan jadi Umi menundanya.


"Ning kamu tak makan" tanya Umi.


"tidak umi" ucap Rena.


"baiklah kalau lapar makan" ucap Umi.


"ya Umi" ucap Rena.


malam semakin larut setelah selesai sholat Maghrib dan isya di Mesjid kedua pengantin itu akan pulang ke kamar mereka masing masing.


"tunggu" ucap Abah yang melihat kalau Luthfi dan Rena berbeda arah.


"ya Abah" tanya Luthfi.


"kamu mau tidur di mana" tanya Abah.


"di kamar aku Abah" ucap Luthfi.


"kalian kan sudah menikah kenapa tak tidur di satu kamar saja" tanya Abah.


"ya Abah kita akan tidur di kamar aku" ucap Luthfi.


"tidak kita tidur di kamar aku aja" ucap Rena.


"baiklah ayo" ucap Luthfi.


Rena berjalan lebih dahulu, dia melihat kakaknya yang baru keluar dari mesjid.


"kak" rengek Rena.


"sudahlah nikmati saja" ucap Zia.


"ish kakak" ucap Rena cemberut.


Luthfi melihat Rena yang sudah pergi duluan.


"Abah aku permisi" ucap Luthfi.


"ya jaga Ning Rena ya" ucap Abah.


"ya Abah" ucap Luthfi.


saat ini mereka masuk ke dalam kamar Rena yang tanpa Rena sadari kalau kamar itu sudah di hiasi oleh bunga bunga.


Luthfi kagum dengan kamar itu dia berpikir kalau Rena yang membuatnya.


"kamu yang buat" tanya Luthfi.


"bukan pasti kak Zia" geram Rena.


"oh" ucap Luthfi yang langsung mendudukkan tubuhnya di pingir ranjang.


"apa ranjang itu cukup untuk dua orang" tanya Luthfi.


"ga akan cukup tapi kalau hanya untuk satu orang cukup" ucap Rena.


"lalu bagaimana kita bisa tidur" tanya Luthfi.


"caranya mudah kau hanya perlu menutup mata supaya kau bisa tidur dengan nyenyak" ucap Rena tersenyum namun suaranya ketus.


"bukan maksud aku bagaimana kita tidur kalau ranjang saja hanya cukup untuk satu orang" ucap Luthfi.


"setidaknya ranjang ini sangat nyaman dari pada ranjang di kamarmu" ucap Rena.


"ya sih" ucap Luthfi.


Rena menggelar tikar yang cukup tipis di bawah ranjang itu, Rena mengambil Bandal dan selimut untuk tidur.


"baiklah kamu mau di atas atau di bawah" tanya Rena.


"sepertinya di bawah juga enak" ucap Luthfi yang langsung tersenyum.


Rena merebahkan tubuhnya di ranjang atas karena Luthfi mau di bawah.


"kau di atas Ning" ucap Luthfi yang heran melihat Rena yang merebahkan tubuhnya.


"ya aku di atas kan" ucap Rena.


"lalu aku" tanya Luthfi.


"kau mau di bawah kan" ucap Rena sambil menunjuk tikar yang ada di bawah.


"CK aku pikir" ucap Luthfi kecewa.


"kamu gak mau di bawah Yasudah aku yang di bawah, kau naiklah" ucap Rena.


"beneran" tanya Luthfi.


"ya" ucap Rena yang langsung turun ke bawah karena akan tidur di atas tikar.


"kalau tidur berdua di ranjang memang ada apa" gumam Luthfi yang sudah berpikir hal yang jauh.


berbeda dengan Rena yang tak paham apa yang harus di lakukan di malam pertama pernikahannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2