Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 116 Faiz penipu


__ADS_3

Pagi ini Faiz datang ke kediaman Mayang, hari masih sangat pagi tapi Faiz baru sampai ke kota dia tidak mungkin ke rumah Rena karena dia malu.


Dan sekarang dia berniat akan mendatangi Nenek Mayang yang sangat sayang padanya, bahkan Nenek Mayang sangat memanjakan Faiz walaupun Faiz tak terlalu dekat dengan nya.


"Assalamualaikum" ucap Faiz yang ada di ambang pintu rumah itu.


Sekarang masih sangat pagi mungkin orang rumah belum terbangun, tetapi Faiz merasa sangat lelah dia memutuskan untuk datang ke sana.


"Mas mungkin tak ada orang di sini" ucap Nanda.


"Ada aku yakin ada" ucap Faiz yang tidak melepaskan tangannya dari Bel yang ada di sana.


Gladys membuka kan pintu karena merasa ada tamu yang datang, Saat Gladys membukakan pintu dia terkejut saat melihat kalau putra nya akan datang ke sana.


"Faiz" ucap Gladys yang langsung memeluk putra nya itu.


Faiz hanya diam saja tanpa berkata apa apa bahkan sekarang Faiz mulai membalas pelukan dari Gladys.


"Akhirnya kau datang" gumam Gladys.


Gladys melepaskan pelukannya.


"Ayo masuk ke dalam" ucap Gladys.


"Terima kasih Bi" ucap Faiz.


"Ini Nanda kan istri kamu" tanya Gladys.


"Ya" ucap Nanda.


Gladys langsung memeluk Nanda yang sekarang ada di hadapannya, dia sangat suka pada putra dan menantunya itu.


"Cepat lah beri kami momongan" ucap Gladys.


"Ya Bi" ucap Faiz.


Gladys menatap pada pembantu yang ada di sana.


"Bawa kan makanan dan minuman hangat" ucap Gladys.


"Baik Nona" ucap pembantu itu.


Gladys tersenyum karena baru kali ini dia bisa melihat putranya lagi.


"Aku sangat merindukan Kalian" ucap Gladys.


"Ya kami juga" ucap Faiz.


"Siapa yang datang" tanya Farid yang baru saja keluar dari kamar nya.


"Ini Mas ada Faiz dan istri nya" ucap Gladys.


"Oh ya" tanya Farid.


"Ya" ucap Gladys.


"Istri ku sangat rindu pada kalian" ucap Farid.


"Ya paman kami juga rindu sudah berapa tahun kita tidak bertemu" ucap Faiz.


"Lumayan lama ya" ucap Farid.


"Ya" ucap Faiz.


Mayang datang ke sana karena mendengar seperti ada suara tamu.


"Faiz" ucap Mayang pada cucunya.


"Nenek" sahut Faiz yang langsung memeluk Nenek nya itu.


Nanda hanya diam saja di tempat sambil menikmati cemilan yang baru di bawakan oleh pembantu.


Nanda sangat tak tau malu namun keluarga hanya memaklumi nya saja.


Mereka langsung berbincang bincang, namun Faiz merasa kalau sekarang adalah waktu yang pas untuk Faiz bicara pada Neneknya itu.


"Nek sebenarnya ada yang mau aku bicara kan" ucap Faiz.


"Bicara apa" tanya Mayang.


"Aku mau liburan di sini, tadinya aku mau menginap di rumah Umi tapi di sana ramai dan aku sangat terpukul pada kepergian kakek jadi aku memutuskan untuk datang ke sini dan menginap di sini apa nenek mengijinkan" tanya Faiz.


"Boleh tentu saja boleh" ucap Gladys yang langsung memutuskan tanpa meminta persetujuan dari mamahnya terlebih dahulu.


"Alhamdulillah terima kasih" ucap Faiz.


"Tak apa anggap saja rumah sendiri" ucap Gladys.


Farid sangat senang karena istri nya itu sangat sayang pada putra nya walau pun dahulu pernah ada rumor kalau Gladys itu Pernah melempar Faiz saat bayi dan Faiz adalah bayi Gladys.


Namun sekarang berbeda nyata nya Gladys sangat sayang pada Faiz apa lagi terlihat dari tatapan mata dan senyuman nya yang menggambarkan kalau Gladys sangat sangat sayang pada Faiz.


"Kamar kalian ada di sana, ayo segera lah istirahat aku tau kalian sangat cape" ucap Gladys.


"Terima kasih Bi" ucap Faiz yang langsung mengantar kan kedua pasangan itu menuju ke arah kamar tamu.


"Kalian istirahat hal kalau butuh sesuatu panggil aku saja ya" ucap Gladys.


"Baik Bi" ucap Faiz.


"Tunggu satu hal lagi, jangan pernah lewat kan sholat subuh" ucap Gladys yang langsung pergi dari sana meninggal kan kedua pasangan itu.


Gladys mendekat pada suami dan Mamahnya.


"Kamu sangat sayang padanya" tanya Mayang.


"Ya mah" ucap Gladys, sekarang Gladys menatap pada suaminya yang ada di sana, tadinya mereka berencana akan pulang terlebih dahulu karena ada urusan mendadak tapi setelah ada Faiz di sana Gladys jadi urung untuk pulang ke pesantren.


"Abi kita pulangnya Minggu depan saja ya" ucap Gladys.


"Ya tak apa" ucap Farid yang paham pada Gladys.


Nanda menatap pada suami nya sekarang.


"Mas aku senang tinggal di sini" ucap Nanda yang sekarang sudah rebahan di atas ranjang.


"Ya mereka sangat baik" ucap Faiz.


"Aku lebih baik di sini saja mas dari pada di sana banyak godaan" ucap Nanda.


"Tapi Nanda jangan mencuri lagi ya, karena mencuri itu gak baik" ucap Faiz.


"Ya aku gak akan melakukan hal itu" ucap Nanda.


"Ya kamu tau gak ada dalam Quran surat Al Baqarah ayat 188.


yang Artinya: Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.


Jadi di sana tertulis kalau mencuri itu tidak baik dan hukum nya akan di potong tangannya.


Ada juga jumlah nisab yang dapat digunakan sebagai syarat potong tangan yaitu sebesar 3 dirham atau ¼ dinar. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aisyah ra:


"Tidak boleh dipotong tangan seorang pencuri, kecuali sebesar seperempat dinar atau lebih." (HR. Bukhari dan Muslim)


paham ya" ucap Faiz.


"Ya mas aku paham" ucap Gladys.


"Baiklah ayo kita tidur semalaman di perjalanan aku sangat mengantuk" ucap Faiz.


"Ya mas" ucap Nanda.


Pagi hari di kediaman Rena saat ini tengah sibuk menyiapkan makanan di dapur, namun saat ini Sofi mereka sangat sedih dia ingat pada suaminya yang baru kemarin meninggal kan nya.


"Mah ayo makan" ucap Rena.


"Ya" ucap Sofi.


"Jangan melamun terus mah" ucap Rena.


"Ya gak aku gak melamun" ucap Sofi.


Mereka makan bersama tetapi Rena baru saja mendapatkan pesan dari Gladys yang tak lain adalah Kakaknya.


{Faiz dan istrinya ada di rumah} pesan dari Gladys.


Rena sangat terkejut melihat pesan itu.

__ADS_1


"Faiz datang ke sana ada apa dia" gumam Rena.


{Syukurlah} pesan Rena.


Rena tak tau harus apa karena saat ini Faiz lah yang salah karena telah mencuri perhiasan Rena, Rena sangat tak menyangka kalau putra yang dia besar kan akan menjadi seperti itu, padahal banyak yang menganggap Faiz itu putra kandung Rena karena sangat sopan dan murah senyum.


Tetapi sopan saja tidak akan membuktikan orang itu baik, bukti nya Faiz juga melakukan hal itu pada Uminya sendiri.


"Jika kamu datang ke sini dan meminta maaf aku janji akan memaafkan mu" gumam Rena.


Sedangkan sekarang Arsala melihat Uminya yang seperti bersedih saat dia melihat ponsel nya karena ada pesan masuk.


"Umi" sahut Arsala.


"Ya nak ada apa" tanya Rena.


"Umi ada apa" tanya Arsala.


"Tak ada sayang umi baik baik saja, umi sangat baik" ucap Rena.


"Baiklah Umi sekarang aku akan berangkat" ucap Arsala.


"Ke mana" tanya Rena.


"Aku akan bekerja umi menjadi guru di dalam satu sekolah" ucap Arsala.


"Yang bener" tanya Rena.


"Ya Umi" ucap Arsala.


Rena senang karena putranya menjadi guru, setidaknya nya pekerjaan guru tidak akan terlalu berat untuk pemula seperti Arsala.


Rena memeluk putranya itu, tapi sayang hanya sebentar karena Arsala melepas kan pelukannya.


"Umi jangan di peluk aku sudah besar" ucap Arsala.


"Astaga Umi lupa" ucap Rena.


"Baiklah umi aku berangkat, Assalamualaikum" ucap Arsala.


"Waalaikum salam" ucap Rena.


Adiba hanya menatap pada Arsala saat arsala akan pergi, Adiba tidak tau harus apa dia merasa sangat sayang pada Arsala namun Adiba ingat pada janjinya yang tidak boleh membuat Umi kepikiran.


Sampai sekarang Adiba memikirkan hal itu, apa lagi perasaan itu tidak pernah mau hilang dari hati maupun pikiran Adiba.


Padahal Adiba sudah sekuat tenaga untuk melupakan nya.


"Adiba" sahut Yadna.


"Ya Kak" tanya Adiba.


"Mau buat lamaran sekarang" tanya Yadna.


"Oh baiklah ayo" ucap Adiba.


Mereka langsung pergi ke kamar Yadna untuk membuat surat lamaran bersama Adiba sangat berharap agar dia bisa bekerja dan jauh dari Arsala.


Karena semakin dekat mereka maka akan semakin besar pula perasaan itu.


Adiba mengambil balpoin dan kertas Hvs untuk membuat surat lamaran itu.


Yadna hanya mengarah kan Adiba untuk menulis ini dan itu, dan Adiba hanya melakukan apa pun yang Yadna katakan.


Rena menatap pada suaminya yang sekarang tengah makan bersama dengan Sofi di ruang makan.


"Abi sekarang akan ke perusahaan" tanya Rena.


"Ya sebentar saja aku ke sana buat mengontrol" ucap Luthfi.


"Baiklah" ucap Rena.


Di kediaman Mayang saat ini Nanda sedang di ratu kan oleh Gladys apa pun yang Nanda inginkan sudah pasti akan Gladys turuti.


"Bibi aku sangat haus" ucap Nanda.


Gladys yang peka pun langsung mengambil kan nya minuman bersama dengan makanan yang sengaja Gladys bawa karena takut menantunya itu akan kelaparan.


Gladys sangat sayang pada Faiz hingga apa pun akan Gladys lakukan untuk putra nya.


Namun saat ini Faiz datang ke kamar Mayang karena ada yang akan Faiz bicarakan.


Faiz masuk ke dalam kamar Mayang untung nya saat Faiz masuk pintu nya tidak terkunci jadi Gladys bisa mendengar kan dari luar.


"Nenek" ucap Faiz.


"Ada apa nak" tanya Mayang.


"Nek aku sedang butuh uang bisa kah Nenek pinjamkan aku uang" tanya Faiz.


"Buat apa" tanya Mayang.


"Nek aku mau merenovasi rumah sakit, aku juga mau mengembangkan rumah sakit aku itu menjadi rumah sakit yang paling lengkap dengan peralatan nya, aku ingin seperti itu apa Nenek bisa membantu aku untuk mengabulkan keinginan aku itu" tanya Faiz.


"Berapa uang yang kamu inginkan" tanya Mayang.


"Lima milyar" ucap Faiz.


"Faiz uang sebanyak itu aku gak akan punya" ucap Mayang.


"Ayolah Nek kalau ada uangnya aku akan ganti nanti" ucap Faiz.


"Tapi aku gak punya uang sebanyak itu" ucap Mayang.


"Berapa yang Nenek punya" tanya Faiz.


"Nenek hanya punya sepuluh juta, nenek gak punya uang sebanyak itu" ucap Mayang.


"Tapi Nek uang sepuluh juta akan cukup untuk apa" tanya Faiz.


"Ya setidaknya bisa menambah uang modal nya" ucap Mayang.


Gladys yang mendengar hal itu dia langsung merasa sedih karena Faiz punya keinginan tapi belum ada uang, Gladys ingat pada uang tabungan nya.


Gladys langsung pergi dari sana menuju ke arah kamarnya yang tak jauh dari sana.


"Apa aku ambil saja uang yang ini ya" gumam Gladys.


"Gladys untuk apa uang itu" tanya Farid menatap pada Gladys yang sedang menghitung uang.


"Abi aku sangat kasihan pada Faiz dia ingin merenovasi rumah sakit bahkan dia juga punya keinginan untuk mengembangkan rumah sakit nya tapi sayang dia belum punya modal" ucap Gladys.


"Lalu" tanya Farid.


"Aku akan berikan uang ini" ucap Gladys.


"Jangan semuanya ingat anak kita juga sebenarnya lagi mau menikah dan kita butuh biaya yang sangat besar" ucap Farid.


"Ya Abi" ucap Gladys menghitung uang yang ada di tangannya itu.


"Bagaimana kalau dua puluh juta" tanya Gladys.


"Ya terserah kamu saja" ucap Farid.


"Baiklah terima kasih Abi" ucap Gladys yang sangat bahagia karena bisa memberikan uang pada putranya yang sekarang mempunyai cita cita yang sangat mulia.


Tapi sayang Gladys tengah di tipu sebenarnya Faiz tidak berniat akan merenovasi tapi dia berniat akan menebus rumah sakit dan Faiz akan memiliki rumah sakit itu lagi.


Gladys datang ke sana menemui putranya itu.


"Faiz" ucap Gladys yang langsung menyodorkan uang pada putranya itu.


"Uang untuk apa Bi" tanya Faiz kebingungan.


"Aku dengar percakapan kamu dengan Nenek aku pinjam kan kamu uang segini lumayan untuk tambah tambah" ucap Gladys.


"Terima kasih Bi" ucap Faiz.


"Simpan lah aku berharap cita cita mulia mu itu bisa terkabul kan" ucap Gladys.


"Amin" ucap Faiz terharu padahal dalam hati Faiz merasa sangat bersalah karena telah berbohong pada semua orang, karena kalau tidak seperti itu maka tak akan ada yang mau membantu Faiz meminjamkan uang.


Nanda langsung tergiur dengan uang yang ada pada suami nya itu, Nanda ingin mengambil uang itu dan segera membelanjakan uang itu.


Namun Uang itu di simpan oleh Faiz karena Faiz tau kalau Nanda yang simpan sudah pasti akan habis.


Faiz mencoba mengumpulkan lebih banyak lagi uang karena baru segitu saja tidak kan cukup untuk mengambil rumah sakit lagi.

__ADS_1


Faiz sekarang sudah sangat berdosa, banyak sekali kebohongan bahkan penipuan yang Faiz lakukan hanya karena dia ingin kaya dan tidak mau menjadi miskin.


Bahkan masalah perhiasan Rena saja belum selesai sekarang Faiz malah akan meminjam uang pada bank dengan mengadaikan surat tanah yang ada di perkampungan itu.


Namun Faiz berpikir jangan dahulu karena takutnya Nanda akan mengambil uang secata sembunyi sembunyi kalau tau Faiz punya banyak uang.


Faiz sangat tidak rela jika istri nya mengambil lagi uangnya, padahal dahulu juga banyak uang Faiz yang di raup oleh Nanda bahkan Nanda paling banyak memberikan uang nya itu pada orang tuanya yang ada di kampung.


Tapi sekarang orang tuanya itu tidak mau menampung Faiz dan Nanda dengan alasan kalau dia juga butuh uang dan banyak tanggungan.


"Seharusnya dahulu kamu tidak terlalu baik pada orangtua mu" ucap Faiz.


"Kenapa" tanya Nanda.


"Pikir saja sendiri" ucap Faiz.


Gladys senang dia bisa mengangkat putra nya walaupun hanya bisa membantu dalam jumlah kecil tetapi Gladys senang karena akhirnya uangnya itu berguna juga untuk putra dia yang lain.


Sebagai seorang ibu, Gladys juga menginginkan anak anaknya bahagia, bahkan Gladys juga ingin anak anaknya sukses.


Tapi sayang kalau saja Gladys tau apa yang Faiz lakukan mungkin dia akan marah pada Faiz, dan kemungkinan Gladys tak akan mungkin meminjamkan uang itu pada Faiz.


Hanya saja Rena terlalu baik dia menyembunyikan kesalahan Faiz yang sudah jelas jelas terjadi beberapa kali itu bahkan Rena juga sebenarnya sudah ingin menyerah mengurus Faiz tetapi bagaimana mungkin Rena tidak mungkin memberikan Faiz pada Gladys lagi.


Bahkan jika mau bisa saja Rena memberikan Faiz pada Abimana yang sudah jelas adalah ayah kandung nya.


Tetapi Rena sampai saat ini bertahan karena dia yakin kalau Faiz putranya akan bertanggung jawab pada semua itu.


Waffi menelpon Rena karena ada masalah.


Rena lupa membawa ponsel nya jadi saat Waffi menelpon Rena tidak tau.


Namun saat Rena masuk ke dalam kamar nya Rena melihat ponsel nya berdering.


Rena langsung mengangkat telpon dari putra bungsu nya itu.


📞📞


"Ya nak ada apa" tanya Rena.


"Umi bisa datang ke sekolah aku ada masalah sedikit" ucap Waffi.


"Masalah apa" tanya Rena.


"Ada Umi kalau bisa kita bicara di sini saja bagaimana" tanya Waffi.


"Ya baiklah Umi akan datang" ucap Rena.


📞📞


Rena langsung bersiap dia akan datang ke sekolah Waffi karena katanya Waffi punya masalah, baru kali ini Waffi terkena masalah padahal kemarin kemarin belum pernah.


Rena berangkat dengan supir, pesantren Waffi lumayan dekat dengan rumah Rena, jadi Rena bisa datang ke sana bersama dengan supir.


Sesampainya di sana Rena langsung masuk ke dalam ternyata benar Waffi sudah menunggu nya,


"Ada apa Waffi" tanya Rena.


"Umi aku terlibat masalah mata Bu guru aku harus memanggil umi" ucap Waffi.


"Di mana gurunya" tanya Rena.


"Ayo" ucap Waffi.


Mereka menunju ke arah ruang guru yang ada di barisan paling ujung, sudah ada beberapa orang tua di sana yang seperti nya sedang marah pada guru.


"Itu anak yang na kal itu" tunjuk salah seorang ibu ibu pada Waffi.


"Ibu ada apa ini" tanya Rena saat melihat ada seorang ibu yang menunjuk ke arah Waffi.


"Ibu ada masalah besar sebaiknya bicara kan di dalam" ucap Guru yang mengajar di sana.


Rena dan ibu ibu yang lain masuk ke dalam ruangan guru itu, di sana guru baru mulai menjelaskan masalah itu.


"Begini ibu ibu aku mendapat kan kabar kalau seorang santri wanita telah di lecehkan, dan pelakunya adalah Waffi" ucap Ibu guru.


"Waffi, ibu guru tolong saring dahulu ucapan ibu sebelum berbicara kalau anak saya itu melakukan apa yang ibu katakan" ucap Rena yang tidak terima dengan ucapan guru itu.


"Ya saya mendengar dari beberapa santri yang ada di sini, mereka sampai mau mengeroyok Waffi" ucap Bu Guru.


"Gak heran walau pun orang tuanya Alim tapi anaknya na kal" bisik ibu ibu itu yang masih terdengar oleh Rena.


"Kamu melakukan nya" tanya Rena.


"Aku tidak melakukan nya Umi" ucap Waffi.


"Lalu apa yang di katakan oleh orang orang ini" tanya Rena.


"Mereka salah paham Umi" ucap Waffi.


"Bu guru aku mau bukti dari ucapan yang sudah anda lontarkan tadi" ucap Rena.


Bu guru itu mengambil ponsel nya yang ada di dalam tasnya.


"Ini" ucap Bu guru memperlihatkan rekaman cctv saat Waffi di pukuli dan di keroyok.


Rena menutup mulut dengan tangannya, Rena tak percaya kalau putra nya di pukuli orang dua orang santri yang seperti nya satu kelas bersama dengan nya.


"Lalu mana bukti anak ku melecehkan wanita itu" tanya Rena.


Seorang santri Wanita datang ke sana, dia langsung duduk saat Bu guru meminta nya untuk duduk.


"Apa benar anak ku melecehkan mu" tanya Rena.


Sorot mata Rena tajam bahkan santri wanita itu tidak berani melihat Rena.


"Jawab aku jujur" tanya Rena.


Santri wanita itu menganggu kan kepala nya, dia tidak menatap pada Rena sedikit pun.


"Tuh Umi Waffi jangan menutupi kesalahan anak, sudah jelas jelas anak itu mengakui nya" ucap ibu yang ada di sana.


"Jawab jujur apa benar anak ku yang melakukan nya" tanya Rena.


Wanita itu menganggu tetapi matanya masih tak berani menatap pada Rena.


"Tangan gemetar, kepala menunduk, aku yakin kamu bohong" ucap Rena.


Namun Rena dia tidak mau berdebat dia hanya diam saja saat ibu guru itu masih tetap menuduh Waffi pelakunya.


"Umi aku bersumpah tidak pernah melakukan nya" ucap Waffi.


"Lalu kenapa kamu menjadi tersangka" tanya Rena.


"Saat anaknya kedua ibu itu melecehkan wanita itu, aku menolong nya tapi entah kenapa malah aku yang menjadi tersangka" ucap Waffi.


"Ibu dengar sendiri kan anak saya bilang apa, saya tidak terima dengan hal ini, mulai sekarang saya akan pindah kan anak saya dari sini" ucap Rena.


"Silahkan" ucap Ibu guru.


"Saya pasti kan kalau setelah ini pesantren ini akan jarang di datangi oleh siapa pun" ucap Rena yang langsung pergi dari sana membawa Waffi.


"Ayo bereskan pakaian mu" ucap Rena.


Saat Waffi ke dalam kamarnya Rena menunggu di luar.


Sedangkan di ruangan tadi santri wanita itu bangkit.


"Bu sebenarnya yang melecehkan aku itu kedua anak dari ibu ini" ucap santri wanita itu yang tadinya diam karena di ancam.


"Jaga mulut kamu ya" geram ibu ibu itu.


Santri wanita itu langsung berlari keluar untuk menemui Waffi dan Rena, tapi santri itu hanya menemukan Rena saja yang masih menunggu di sana.


"Nyonya" ucap santri wanita itu.


Rena menatap pada wanita itu.


"Ada apa" tanya Rena.


"Maafkan aku karena sudah melakukan ini aku ngaku aku salah, tapi Nyonya aku di ancam oleh orang orang itu" ucap santri wanita itu.


"Tidak perlu minta maaf lagi pula apa gunanya, nama Waffi sudah kotor dan aku akan membersihkan nama putra ku dari orang orang seperti mereka" kesal Rena.


"Maafkan saya" ucapnya.


"Tidak perlu cukup menjauh lain dari putra ku, karena niat baik putra ku tidak di anggap oleh mu" ucap Rena.

__ADS_1


Saat Waffi datang ke sana, Rena langsung membawa Waffi pergi dari sana meninggalkan wanita itu.


Rena saat ini sedang marah apalagi masalah kehidupan nya, dan hal itu semakin membuat Rena pusing saja memikirkan nya.


__ADS_2