
Mereka masih bingung dengan lukisan itu, padahal selama ini tak ada yang berani menyentuh lukisan itu.
"Tapi aku yakin kalau pelaku nya adalah Nanda" ucap Sofi.
Rena menatap pada Luthfi, dia tau betul betapa berharganya lukisan itu bagi Luthfi apa lagi dengan susah payah Luthfi dahulu membawa nya ke rumah itu.
Rena berdiri dari duduknya dia menuju ke kamar Nanda yang ada di lantai bawah.
"Nanda" ucap Rena sambil mengetuk pintu kamar Nanda.
klek
Pintu itu terbuka dan menampakan wajah Nanda yang sangat kesal.
"Ada apa" tanya Nanda.
"Aku mau melihat lukisan yang kamu beli" tanya Rena.
"Tidak ada aku sudah jual" ucap Nanda.
"Oh ya" tanya Rena.
"Gak percaya gak papa" ucap Nanda.
"Kamu kan yang menukar lukisan itu" tanya Rena mengintimidasi Nanda.
"Tidak" jawab Nanda.
"Jangan bohong Nanda aku tau kamu seperti apa, tolong kembali kan lukisan itu aku tidak mau sampai ada ucapan yang tak mengenakan lagi di rumah ini" ucap Rena.
"Lalu" tanya Nanda.
"Kembalikan sekarang juga" ucap Rena.
"Tidak" ucap Nanda.
"Kamu simpan di mana Nanda" tanya Rena.
"Aku jual lukisan yang aku beli itu, aku gak suka lukisan" ucap Nanda sedikit meninggi kan suaranya.
"Ayolah Nanda jujur saja" ucap Rena.
Nanda hendak menutup pintu nya namun dengan cepat Rena masuk ke dalam kamar Nanda dan melihat lihat ada apa saja di dalam kamar nya itu.
Sayangnya kamar Nanda bukan selayak nya kamar tapi lebih mirip dengan gudang, banyak sekali sampah bekas makanan ringan yang berserakan di mana mana.
Bahkan cucian kotor pun sudah menumpuk di keranjang di sudut kamar itu.
Namun Rena tidak mau membahas itu dia hanya ingin mencari lukisan itu.
"Di mana kamu menyimpan nya" tanya Rena.
Luthfi datang ke sana melihat istrinya yang sekarang masuk ke dalam kamarnya itu.
"Aku tidak tau" geram Nanda.
"Umi sudahlah" ucap Luthfi.
"Tapi Abi aku yakin kalau Nanda yang mengambil nya" ucap Rena.
"Tak apa kita cari tau nanti saja, jangan ganggu dia Umi" ucap Luthfi.
Rena yang mendengar hal itu pun langsung keluar dari kamar Nanda yang kotor itu.
Rena sangat marah namun dia tidak bisa berbuat banyak apa lagi dia takut ikut campur pada kehidupan anak anaknya.
Rena merasa kasihan pada suaminya yang baru saja kehilangan lukisan yang paling Luthfi sukai itu.
Sebenarnya lukisan itu hanya lah lukisan pemandangan yang di lukis oleh pelukis terkenal.
Namun hanya karena ada coretan itu Luthfi jadi sangat suka pada lukisan itu, bahkan Luthfi tidak ingin menjual nya walaupun di tawar dengan harga mahal oleh rekan kerja nya.
Sedangkan sekarang kabar kematian Fathir sudah tersebar luas, apa lagi Fathir adalah seorang pengusaha ternama jadi wajar saja kalau kematian nya menjadi berita besar.
Pihak keluarga berjanji untuk memenjarakan orang yang menabrak Fathir, namun sayangnya Kathir tidak menyalahkan sepenuh nya orang yang menabrak kakaknya itu karena jelas jelas kalau Fathir yang langsung berlari ke arah jalan dan kebetulan mobil itu sedang melaju kencang.
Sekarang yang Kathir khawatir kan itu justru adalah Yadna yang pasti sangat sedih, Kathir langsung pergi dari sana dengan alasan ingin mengembalikan ponsel Yadna yang ada pada dirinya.
__ADS_1
Hubungan Kathir dan Fathir itu tidak terlalu dekat apa lagi mereka bukan saudara kandung, Kathir dan Fathir hanya lah saudara tiri, saat ibu Amta menikah dengan Pak Amta saat itu Ibu Amta sudah punya Fathir dari orang lain.
Hanya berbeda satu tahunan saja Kathir lahir ke dunia dan mereka menjadi kan Kathir dan Fathir sebagai adik kakak kandung padahal mereka hanya lah saudara tiri.
Hingga mereka besar hubungan mereka tidak berlangsung baik apa lagi ibunya juga lebih banyak mementingkan Fathir dari pada Kathir.
Bahkan apa pun yang Kathir lakukan selalu salah berbeda dengan Fathir yang terkesan selalu benar dan selalu di bela.
Kathir menuju ke kediaman Yadna yang tak lain adalah kediaman Luthfi, Namun sayangnya saat Kathir datang ke sana tak ada Yadna di sana karena katanya Yadna ada di rumah nenek nya.
"Masuk lah dulu nak" ucap Luthfi yang membukakan pintu.
"Tidak usah pak, Sekarang Kak Fathir baru saja meninggal" ucap Kathir.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un" gumam Luthfi tidak menyangka mendengar hal itu.
"Fathir kakak anda" tanya Luthfi.
"Ya pak" ucap Kathir.
"Astaghfirullah aku akan datang ke sana" ucap Luthfi.
"Ya aku akan menemui Adna dahulu" ucap Kathir.
"Nak kenapa repot repot lagi pula kamu sedang berduka sekarang kan" ucap Luthfi.
"Tidak apa pak aku hanya ingin mengembalikan ini, sambil melihat kondisi Adna katanya dia sakit" ucap Kathir.
"Oh baiklah" ucap Luthfi.
"Baik lah pak saya permisi" ucap Kathir langsung menuju ke alamat yang tadi di berikan oleh Luthfi.
Kathir sangat takut kalau Yadna kenapa kenapa, dari yang Kathir lihat seperti nya orang tua Yadna tidak tau karena mereka terlihat santai saja.
Kathir merasa sangat lega, sekarang yang paling dia pikirkan adalah bagaimana caranya dia melamar Yadna pada orang tuanya.
Kathir takut pihak keluarga tak ada yang setuju mengingat bahwa ibu Kathir tidak suka pada Yadna.
Apa lagi jika Ibunya itu tau kalau Fathir kecelakaan itu karena di kejar Arsala.
Tok
Tok
"Assalamualaikum" ucap Kathir.
"Waalaikum salam" ucap pembantu di rumah Mayang.
"Apa Adna ada" tanya Kathir.
"Nona ada di dalam kamarnya katanya dia sedang tidak baik baik saja" ucap pembantu.
"Aku bosnya bisa aku melihat nya" pinta Kathir.
"Silahkan tuan" ucap pembantu itu.
Kathir langsung menuju ke arah kamar Yadna yang ada di lantai bawah.
"Adna" sahut Kathir dari ambang pintu kamar Yadna.
Yadna langsung membuka kan pintu kamar nya itu.
"Pak" ucap Yadna.
Kathir masuk ke dalam kamar Yadna, dengan cepat Kathir menutup pintu kamar Yadna karena dia akan bicara kan hal penting pada Yadna.
"Kamu baik baik saja kan" tanya Kathir.
"Ya aku baik" ucap Yadna pura pura tersenyum padahal hatinya sangat sedih.
Kathir mendekat pada Yadna dia langsung memeluk Yadna yang sekarang pasti sangat rapuh itu.
"Besok aku akan datang ke rumah keluarga mu" ucap Kathir.
"Tidak usah pak" ucap Yadna.
"Kenapa" tanya Kathir.
__ADS_1
"Aku tidak mau merepotkan kamu, aku akan hidup seperti ini selamanya, pak aku tidak meminta kamu bertanggung jawab karena ini bukan salah kamu" ucap Yadna.
"Tapi aku yang akan tanggung jawab" ucap Kathir.
"Tidak usah kalau pun ya seharusnya tuan Fathir yang bertanggung jawab, aku tau berat bagi kamu untuk melakukan hal ini" ucap Yadna.
"Tapi kakak sudah meninggal sekarang" ucap Kathir.
"Benarkah" tanya Yadna terkejut dia tidak tau kalau kecelakaan itu merenggut nyawa Fathir.
"Dia sudah menanggung karma nya Adna" ucap Kathir.
"Aku yang salah" ucap Yadna.
"Adna sadarkan diri mu, kamu tidak salah" ucap Kathir yang bisa melihat jelas kalau Yadna sekarang sangat ketakutan bahkan dia juga yakin kalau sekarang Yadna tengah hancur karena kejadian itu.
Kathir mendudukkan Yadna di sisi ranjangnya.
"Aku berjanji akan bertanggung jawab, apa pun yang terjadi nantinya kita akan hadapi bersama" ucap Kathir.
"Masa depan mu masih panjang pak, jangan sia siakan kehidupan mu hanya untuk aku yang tidak berguna ini" ucap Yadna.
"Jangan begitu Adna aku sangat sayang pada mu" ucap Kathir.
"Benarkah itu, atau kamu hanya berbohong karena tidak mau aku sedih lagi" ucap Yadna.
"Sumpah demi tuhan aku tidak akan berbohong" ucap Kathir.
"Aku senang tapi apa kah kita bisa hidup bersama nanti nya, mengingat ibu mu tak suka pada ku" ucap Yadna.
"Apa pun yang ibu lakukan nanti nya aku akan tetap mendukung dan ada di sisi kamu" ucap Kathir.
"Arsala benar aku harus melakukan ini, karena menjadi Janda dari mengakhiri pernikahan lebih baik dari pada menjadi janda tanpa melakukan pernikahan, namun apa aku ja hat jika melakukan ini, Ya Alloh kenapa harus aku yang bernasib seperti ini" batin Yadna.
Yadna menahan tangisannya dia sebenarnya sangat rapuh hanya saja Yadna bisa menahan air mata nya agar tidak jatuh lagi.
Sudah banyak masalah yang Yadna tangisi hingga dia tidak sadar kalau masalah ini hanya lah masalah sepele, berbeda dengan masalah dahulu yang pernah menimpa pada Yadna.
Terkadang manusia menangisi masalah yang baru datang, padahal mereka dulunya juga punya masalah yang lebih berat tapi dia bisa menghadapi nya.
Di kediaman Luthfi..
Saat ini di dalam rumah hanya ada Nanda dan Sofi saja karena Rena dan Luthfi pergi ke kediaman Fathir yang katanya sekarang Fathir meninggal dunia.
Sofi menatap pada Nanda yang sekarang ada di sana bersama dengan nya.
"Kamu kan yang mencuri lukisan itu, kamu berani melakukan hal itu" ucap Sofi.
"Kamu kan yang minta" ucap Nanda.
"Dasar cucu laknat" gumam Sofi.
Nanda hanya diam saja mendengar umpatan itu.
Faiz baru saja datang dia datang ke sana karena akan memberikan uang untuk Nanda.
Faiz sekarang punya uang banyak namun dia bayarkan pada hutang hutang nya karena tidak mau hutang nya semakin menumpuk.
"Aku pulang" ucap Faiz.
"Mas" ucap Nanda.
"Kamu pulang Faiz" tanya Sofi.
"Ya Nek" ucap Faiz.
"Segera lah bereskan kamarmu Nanda takutnya Faiz tidak suka melihat kamar mu yang seperti kapal pecah itu" ucap Sofi.
"Ada apa" tanya Faiz.
"Tidak ada" ucap Sofi yang langsung masuk ke dalam kamar nya.
Sedangkan Faiz dia masuk ke dalam kamar nya, dia ingin tau apa yang di bicarakan oleh Neneknya itu.
Namun saat Faiz masuk betapa terkejutnya dia saat melihat kamar yang sangat berantakan itu.
Faiz tidak bisa marah dia mencoba untuk diam saja sambil membereskan sampah yang berserakan itu.
__ADS_1