Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 150 Waffi pulang


__ADS_3

Arsala melihat ponsel dirinya ternyata ada pesan dari Mita yang baru saja masuk.


"Ada apa lagi orang ini" gumam Arsala.


{Bagaimana sudah menghapusnya} pesan dari Mita yang sangat membuat Arsala kesal.


"Terserah Nyonya aku tidak peduli" ucap Arsala yang langsung masuk ke dalam kamar nya dan tidur karena sudah malam.


Sedangkan Mita saat ini di kediamannya hanya diam saja di ruang tamu rumah nya itu, Mita sangat suka melakukan hal itu pada Arsala dan Yadna.


Mita hanya bisa mengancam saja padahal dalam hatinya dia tidak punya nyali yang besar untuk melawan.


"Aku yakin mereka pasti kapok karena tidak mendengar kan aku" gumam Mita.


Sebenarnya Pak Amta justru merasa sangat heran pada istri nya itu dia melihat Mita yang seperti nya sangat asik pada ponsel sejak beberapa hari kemarin.


Namun pak Amta tidak berani bertanya karena Mita pasti tak akan menjawab, kalau pun menjawab dia tidak mau terjadi cekcok lagi di antara mereka.


Namun pak Amta berpikir bahwa tidak wajar saja seorang ibu melakukan hal itu padahal anaknya baru saja meninggal.


"Di rumah ini tak ada yang perduli pada Fathir, bukti nya orang orang di sini melakukan apa pun yang mereka inginkan tanpa persetujuan dari ku" gumam pak Amta.


Pak amta merasa kalau keluarga nya itu tengah ada masalah besar namun sayangnya pak Amta tidak bisa menebak masalah apa yang sedang terjadi itu.


Pagi hari nya..


Adiba sudah bersiap karena akan bekerja dia malu kalau lama lama harus mengambil cuti, namun Adiba tidak melihat kakaknya yang sudah bersiap untuk bekerja.


Adiba yakin kalau kakaknya juga harus nya bekerja tapi saat Adiba melihat kakaknya, Yadna hanya sibuk saja pada aktivitas nya yang sekarang tengah membaca koran dan minum teh manis.


"Kak mau kerja gak" tanya Adiba.


"Oh gak, kakak ambil cuti" ucap Yadna.


"Kenapa ambil cuti terlalu lama Kak bukannya kita sudah terlalu lama untuk libur lagi" tanya Adiba.


"Kalau kamu mau masuk kerja tak apa, tapi aku merasa gak enak badan" ucap Yadna.


"Oh baiklah" ucap Adiba.


Adiba menatap pada Arsala yang saat ini sudah bersiap karena akan bekerja mengajar lagi di sekolah menengah pertama.


Arsala menyodorkan ponsel Umi nya itu.


"Ada apa" tanya Luthfi.


"Tidak ada Abi, oh ya kalau ada orang yang mengirim kan pesan pasti kan blokir nomor nya" ucap Arsala.


"Ya baiklah" ucap Luthfi.


Arsala sekarang akan berangkat ke sekolah karena dia harus mengajar di salah satu sekolah menengah pertama.


"Arsa mau ke mana" tanya Rena yang heran karena putra nya itu sangat murung.


"Aku mau berangkat sekarang Umi, aku akan usaha kan untuk pulang sebelum ashar" sahut Arsala yang langsung berangkat naik motor.


Rena merasakan keanehan pada anak anaknya dia tidak menyangka kalau selama dia berduka kemarin ada masalah yang tidak dia ketahui tentang anak anaknya.


"Ada apa dengan Arsala" gumam Rena.


"Sudah Umi jangan khawatir kan dia lagi pula dia sudah besar kan" ucap Luthfi.


"Ya Abi aku tau padahal aku tak bertegur sapa selama beberapa hari dengan anak anak tapi mereka seperti mempunyai masalah yang sangat besar" ucap Rena.


"Itu hanya piling kamu saja Umi, bukti nya anak anak baik baik saja" ucap Luthfi.


"Ya tapi aku merasa mereka seperti menyembunyikan sesuatu dari kita" ucap Rena.


"Tak ada" ucap Luthfi.


Sedangkan di kediaman Mita saat ini mereka kedatangan tamu yang tak lain adalah sisi mantan istri Fathir yang baru saja meninggal itu.


Sisi datang karena mendapat kan kabar kalau Mita tau alasan Fathir meninggal bukan hanya karena kecelakaan.


"Ada apa Mah" tanya Sisi.


"Sisi lihat video ini ada pelaku lain selain supir mobil yang menabrak Fathir" sahut Mita.


"Oh ya" tanya Sisi yang penasaran dengan kabar itu, hingga Sisi lupa kalau sebelum Fathir meninggal Mita selalu menyakiti hati dan perasaan nya, bahkan hal itu menjadi trauma bagi Sisi karena tidak mau bertemu dengan Mita.


Namun sekarang rasa itu seperti nya hilang seketika apa lagi rasa penasaran sisi tentang kebenaran suaminya mampu mengalahkan rasa trauma itu.


"Mamah dapat ini dari mana" tanya Sisi menatap pada Mita yang sekarang tengah menikmati teh hangat.


"Aku punya banyak informasi ini dari hotel itu, aku juga kurang tau kenapa Fathir ke hotel hanya saja aku punya rekaman saat Fathir di Pukuli saja" ucap Mita.


"Itu di sana ada Kathir kan" ucap Sisi menunjuk pada Kathir yang hanya berdiri saja saat Fathir di pukuli oleh Arsala.


"Ya mereka bersekongkol" ucap Mita yang sangat ja hat itu memutar balikkan fakta yang ada.


"Astaghfirullah aku tidak menyangka mereka melakukan hal ini pada Mas Fathir padahal apa yang mas Fathir lakukan pada mereka" ucap Sisi menangis karena masih tak menyangka.


Seolah tak bersalah Mita hanya tersenyum saja karena rencana dia baru saja akan berjalan dengan lancar.


Mita bahkan tak merasakan sedih karena di tinggal putra nya.


Mita hanya berambisi untuk membenci Yadna karena status Yadna yang sekarang seorang sekertaris.


"Aku menahan dendam ini pada Adna sudah lama dan baru sekarang aku bisa menghancurkan kehidupan nya dengan sekejap mata" batin Mita.


Mita adalah seorang pecundang apa lagi dia hanya akan melampiaskan dendam nya itu pada orang lain bukan pada musuh dia, Tak di sangka Mita ternyata sangat penakut dia juga merasa kalah dari musuh nya.

__ADS_1


Hingga dari itu Mita melampiaskannya pada orang yang berprofesi atau bersikap sama seperti musuhnya.


Bukan suatu penyakit tapi Mita memang mengalami masalah itu.


Dan sampai sekarang Mita belum bisa mengendalikan diri nya supaya tidak melakukan hal itu.


Kathir mendapatkan kabar dari Arsala kalau semalam mamahnya mengirim kan pesan pada orang tua Yadna.


Kathir sangat marah tapi tidak bisa marah dan kembali pada rumah orang tuanya.


Karena besok dia akan menikah dengan Yadna, sangat susah bagi Kathir untuk menahan amarahnya itu apa lagi dengan keadaan kalau hubungan mereka sangat tidak baik baik saja.


"Mamah maafkan aku kalau saja suatu saat nanti aku tidak akan bisa memaafkan mu, kamu harus menanggung semua dosa dosa mu ini" gumam Kathir.


Kathir menatap foto Keluarga yang ada di ruangan perusahaan nya itu, terlihat bahagia di dalam foto itu.


Ada dirinya kakaknya dan mamah serta papahnya mereka terlihat sangat bahagia.


"Sayang di kehidupan nyata ini kita tidak sebahagia itu" gumam Kathir menyentuh foto yang sengaja dia bingkai itu.


Namun karena benci dia menurunkan foto itu dan menyimpan nya di sudut, hanya saja mau bagaimana pun Kathir sudah menganggap Mita adalah mamahnya dia juga sangat sayang pada mamahnya itu walaupun mamahnya sangat acuh padanya.


Kathir menyimpan foto itu dengan segera dia langsung mengambil wudhu di kamar mandi yang ada di perusahaan itu.


Kathir mengelar sejadah yang dia bawa di atas lantai yang bersih itu.


Kathir melaksanakan sholat Dzuhur nya dia akan mengadukan semua nya pada sang pencipta dunia, Bagi Kathir tak ada yang bisa menolong dia kecuali Alloh SWT.


"Ya Alloh, maafkan semua dosa perdosaan yang pernah aku lakukan, sadar dengan kekurangan ini aku mohon agar semua orang di ampuni dosanya, Kak Fathir yang sudah ada di sisi mu Ya Alloh tolong ampuni semua dosa dosa dia, Aminn, Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzabannar" ucap Kathir sambil menengadahkan tangannya ke atas.


Tak lupa Kathir juga selalu memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya.


"Rabbighfir li, wa li walidayya, warham huma kama rabbayani shaghira. Amin" gumam Kathir.


Air mata tak bisa dia bendung lagi karena selama ini dia tidak punya orang yang bisa dia ajak bicara atau dia anggap sebagai keluarga karena nyatanya keluarga nya sangat sibuk mencari kekayaan dan ketenaran dari orang lain.


Kathir berharap kalau Yadna bisa menjadi orang yang bisa dia andalkan dan bisa menyayangi Kathir layaknya suami nya.


Saat ini Kathir sangat butuh seseorang yang bisa dia ajak sebagai orang yang bisa di ajak susah mau pun senang.


Bahkan Kathir juga ingin sekali bahagia bersama dengan Yadna suatu saat nanti karena yang paling penting sekarang Kathir sangat butuh orang yang bisa memahami dia.


"Yadna semoga kamu jodoh aku" gumam Kathir.


Tokk


Tokk


Kathir melihat pintu yang baru saja terbuka sedikit.


"Masuk" sahut Kathir.


Adiba masuk dia melihat Bosnya itu yang sekarang ada di sana tengah melaksanakan sholat Dzuhur.


"Ya baik lah simpan saja di atas meja" titah Kathir.


"Baik pak" ucap Adiba.


"Bagaimana kakak mu kapan mau masuk bekerja lagi" tanya Kathir.


"Katanya nanti kalau dia sudah baik baik, aku heran pada kakak dia sering melamun bahkan dia juga menangis tengah malam mungkin dia bermimpi karena semalam terbangun, aku bahkan merasa bingung pada dia" ucap Adiba.


"Ya mungkin dia sedang merasa Lelah saja" ucap Kathir.


"Mungkin tapi aku sangat ingin tau ada masalah apa hanya saja aku tidak berani bertanya" ucap Adiba.


"Mungkin dia sedang lelah saja kamu percaya saja kalau kakak mu bisa melewati ini semua" ucap Kathir.


"Ya amin, oh ya maafkan aku jadi membicarakan kak Yadna, oh ya terima kasih pak" ucap Adiba yang langsung pergi dari sana menuju ke meja nya lagi.


Kathir merasa sedih saat mendengar kalau Yadna sangat sedih sedalam itu apalagi sampai menangis seperti itu, tak bisa dia bayangkan oleh Kathir bagaimana keadaan yang Yadna lewati beberapa hari ini.


"Aku menyesal atas nama kakak ku Adna" gumam Kathir.


Sedangkan sekarang Yadna tengah mempersiapkan acara yang akan dia lakukan esok hari, Yadna menggantung gaun pernikahan nya itu di dalam lemari.


Yadna susah sangat siap untuk menjadi istri Kathir dan segera membalas kan dendam nya itu pada mamahnya Kathir.


"Lancarkan hajat aku ya Alloh" gumam Yadna.


Rena tentu saja merasa sangat aneh pada Yadna dia langsung mengintip di balik pintu yang sedikit terbuka itu.


Rena heran karena Yadna terlihat biasa biasa saja.


Hanya saja Rena melihat kalau di atas ranjang nya ada beberapa perhiasan yang sangat banyak bahkan seperti ada mahkota yang biasa di pakai oleh pengantin saat melangsungkan pernikahan nya.


"Ada apa dengan Yadna" gumam Rena.


Namun Waffi yang baru saja pulang dari pesantren datang ke sana dia melihat uminya yang ada di ambang pintu kamar kakaknya itu.


"Umi ada apa" tanya Waffi yang langsung melihat pada Uminya yang saat ini sangat aneh.


"Waffi kapan pulang" tanya Rena yang langsung memeluk putra bungsu nya itu.


"Barusan Umi" ucap Waffi.


"Syukur lah" ucap Rena.


"Aku baru saja datang karena aku ada ujian Umi maaf aku tak datang saat Nenek meninggal" ucap Waffi.


"Tak apa nak doa nya saja sudah cukup" ucap Rena.

__ADS_1


"Ya umi pasti" ucap Waffi.


"Ayo kita makan sekarang Umi sudah masak makanan yang sangat enak buat kamu ayo makan" ucap Rena.


"Yey akhirnya aku bisa makan enak" ucap Waffi bahagia mengingat saat di pesantren dia hanya makan tahu tempe dan beberapa lalaban atau sayuran serta sambel.


Namun Waffi merasa sangat kecewa saat melihat ternyata hanya ada sayuran saja di atas meja makan itu.


"Umi katanya mau makan enak" tanya Waffi.


"Umi lupa kamu sedang di pesantren" ucap Rena.


"Kenapa begitu" tanya Waffi.


"Dulu Abah pernah berkata pada Umi, katanya begini jangan manja kan seorang anak karena takutnya dia akan melunjak, jika dia di ajarkan tentang rasa sakit maka jangan pernah buat diri kita merasa kasihan dengan melihat hal itu, buat hati kita lapang dan biarkan anak kita menghadapi masalah nya sendiri, dulu umi malah lebih parah umi di pesantren makan dengan makanan yang cukup enak, sedang kan di rumah, Umi hanya di berikan makanan nasi sama telor ceplok, bayangkan itu" ucap Rena.


"Ya umi aku paham" ucap Waffi yang langsung makan dengan apa yang ada di atas meja itu.


Waffi merasa sangat tersiksa di pesantren apa lagi dia tidak di biarkan untuk istirahat lama, Waffi ingin istirahat dengan baik dan benar supaya tubuh nya tidak merasa mengantuk.


"Jangan pernah berpikir kalau di rumah kamu bisa bebas, kamu hanya bisa memegang ponsel sekitar setengah jam saja" ucap Rena.


"Tapi Umi apa tak bisa di lebih kan" tanya Waffi.


"Boleh setengah jam lima menit" sahut Rena.


"Umi" protes Waffi.


"Bersyukur saja, di pesantren gak boleh main ponsel kan dan di rumah boleh bersyukur saja" ucap Rena.


"Ya Umi Alhamdulillah aku masih di berikan ponsel untuk melihat pac ar aku yang sangat cantik itu" ucap waffi.


"Apa kamu paca ran" tanya Rena yang saat ini sangat marah karena mendengar Waffi paca ran.


"Tidak Umi aku bercanda hanya bercanda Umi" ucap Waffi ketakutan karena di tatap tajam oleh Rena yang saat ini marah.


"Beraninya pac aran" geram Rena.


"Sudah Umi jangan khawatir Waffi itu pac arnya wanita fiksi" ucap Luthfi.


"Fiksi" tanya Rena.


"Ya dia dekat sama gambar yang tidak nyata itu" ucap Luthfi.


"Anime Abi" ucap Waffi.


"Terserah" ucap Luthfi.


Beberapa satpam masuk ke dalam rumah.


"Nona ini makanan yang anda minta" ucap satpam itu sambil menjinjing beberapa kantong plastik yang isinya makanan mentah.


"Terima kasih pak taruh saja di sini" titah Rena.


"Oh ya Nona" ucap satpam itu yang langsung menyimpan beberapa kantong kresek itu di sana.


"Umi belanja sebanyak ini" tanya Waffi.


"Ya umi akan masak apa salah" tanya Rena.


"Tidak hanya saja terlihat aneh saja ini sangat banyak dan tahlilan Nenek kan dua hari lagi tujuh hari nya" ucap Waffi.


"Ya apa salah" tanya Rena.


"Tidak salah hanya saja tidak wajar" ucap Waffi.


"Stop berkomentar Waffi" sahut Luthfi.


"Ya Abi" ucap Waffi.


Saat ini Yadna turun dari kamarnya dia akan membantu Uminya itu untuk memasak.


"Ada apa Umi mau masak apa" tanya Yadna.


"Umi mau masak makanan yang banyak untuk membuat nasi kotak" ucap Rena.


"Oh baiklah aku akan membantu" ucap Yadna.


"Alhamdulillah terima kasih sudah mau membantu umi padahal aku tau kamu sangat sedih sekarang" ucap Rena.


"Umi aku tidak mungkin tidak membantu" ucap Yadna.


"Ya karena kamu putri yang sangat baik dan pertahan kan itu Nak" ucap Luthfi.


"Ck besar kepala gak tuh" sindir Waffi.


"Kamu ini sibuk saja pada urusan ku" ucap Yadna yang langsung mengusap rambut adik nya itu.


"Kak bagaimana dengan laki laki yang waktu itu kakak sebut kabir itu" tanya Waffi.


"Tidak bagaimana bagaimana dia baik baik saja" ucap Yadna.


"Kapan Kalian akan menikah" tanya Waffi yang senang menggoda kakaknya itu.


"Entah lah kalau jodoh nya pasti menikah kalau tidak ya gak papa" ucap Yadna.


"Cie kakak sangat baperan" gumam Waffi.


"Sudah diam lah" ucap Yadna yang langsung membantu uminya memasak.


Tak ada rasa curiga sedikit pun dalam diri Yadna untuk apa mamahnya itu memasak sebanyak itu.

__ADS_1


Yadna hanya berpikir kalau Uminya itu akan sungguh sungguh membuat nasi kotak.


__ADS_2