
"Ah mana ada" ucap Yadna.
"Aku iri loh sama kamu dahulu pak Kathir sangat dingin pada ku tapi pada mu dia sangat hangat bahkan dia berani bersujud di hadapan mu" ucap Rini.
"Entah tapi aku kesal padanya bisa bisanya dia meminta aku sujud" ucap Yadna kesal.
"Kamu wanita yang paling penting berarti" ucap Rini.
"Ah mana ada" ucap Yadna.
Kathir datang ke sana sambil tersenyum menatap pada Yadna yang sekarang sedang bekerja.
"Adna bisa aku bicara" ucap Kathir.
"Bicara? silahkan bicara saja" ucap Yadna.
"Tapi aku mau di tempat lain" ucap kathir.
"Baiklah ayo" ucap Yadna mengiyakan keinginan Kathir.
Kathir jalan terlebih dahulu sedang kan Yadna mengikuti dari arah belakang.
"Kita akan ke mana" tanya Yadna menatap pada Kathir yang sengaja membuat Yadna masuk ke salah satu ruangan tempat karyawan yang lain menyimpan data data.
"Masuklah" ucap Kathir.
Yadna merasa sangat takut apa lagi di dalam sana hanya akan ada Yadna dan Kathir saja.
"Gak kamu mau apa pak" tanya Yadna.
"Adna aku hanya mau bicara" ucap Kathir.
"Apa" tanya Yadna.
Kathir memaksa Yadna untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Walaupun Yadna terlihat berontak tapi Kathir tidak mau melepaskan nya.
"Pak" sahut Yadna.
"Aku gak akan melakukan apa apa" ucap Kathir.
"Tapi untuk apa kita datang ke sini" tanya Yadna.
"Di dalam ada data dari perusahaan cabang aku tadinya akan meminta bantuan pada orang lain tapi aku malu jadi aku meminta mu untuk membantu aku, ayolah Adna jangan berpikir yang macam macam aku bahkan tak akan melakukan apa apa pada mu" ucap Kathir.
"Pak anda ini menyebalkan" ucap Yadna yang langsung masuk ke dalam ruangan itu.
Yadna mencari data yang di butuhkan Kathir tapi sayang di sana banyak sekali berkas berkas yang tidak terpakai.
Kathir sebenarnya sangat ketakutan dia phobia pada tikus jadi Kathir tak akan berani jika datang ke sana sendirian.
"Astaga kenapa lama" ucap Kathir yang sekarang masih berada di ambang pintu masuk karena takut.
"Benar pak aku cari dulu" ketus Yadna.
Yadna membuka kardus yang ada di sana, ternyata tak ada yang aneh hanya saja Yadna memegang sesuatu yang berbulu.
Yadna menarik tangannya yang barusan masuk ke dalam kardus yang cukup besar itu.
Yadna terkejut saat melihat kalau dia memegang tikus hitam yang masih kecil.
Repleks saja Yadna melempar kan tikus itu ke arah Kathir yang masih ada di ambang pintu
"Arghh geli nya" sahut Yadna menatap pada tangan nya.
Tapi sekarang Kathir tengah diam dengan kaki yang bergemetar.
Tikus itu ada di kakinya Kathir, bahkan tikus itu akan naik pada celana kathir.
"Aaaaaaa" Teriak Kathir yang langsung berlari ke arah Yadna.
__ADS_1
Kathir memeluk Yadna karena ketakutan, terlihat dari raut wajah nya yang sangat sangat ketakutan.
"Astaghfirullah pak kau memelukku dengan erat, bagaimana kalau aku meninggal" ucap Yadna.
"Tikus" ucap Kathir.
"Tidak ada sudah pergi karena kau berlari mungkin dia ketakutan karena melihat mu" ucap Yadna.
"Kau ja hat" ucap Kathir.
"Sekarang lepas kan pelukan mu" geram Yadna mendorong Kathir yang sangat dekat dengan nya.
"Aku takut" ucap Kathir yang masih gemetar.
"Aish kau ini, kau laki laki tuan jadi kenapa harus takut" geram Yadna.
"Aku phobia tikus" ucap Kathir.
"Aish hanya tikus" ucap Yadna.
"Kamu juga teriak tadi" ucap Kathir.
"Aku hanya geli" ucap Yadna.
"Ya sudah lah, sekarang bantu aku mencari data itu kita langsung pergi dari sini" ucap Kathir.
"Ya ayo" ucap Yadna menatap pada Kathir tapi sayang Yadna melihat bahwa Kathir menangis ada air mata di pipinya Kathir.
"Pak anda menangis" tanya Yadna.
Kathir langsung tersadar dia langsung menghapus air mata nya.
"Aku sangat ketakutan" ucap Kathir.
Yadna merasa aneh namun dia merasa kasihan pada Kathir yang sangat ketakutan itu, padahal itu hanya lah tikus yang menurut Yadna tidak akan berbuat apa apa.
Yadna langsung mencari data data itu hingga dia menemukan nya.
"Pak, tuan besar Amta sudah pulang katanya dia menginginkan data itu nanti saat di rumah" ucap Rini yang ada di mejanya.
"Ya" ucap Kathir yang langsung masuk ke dalam ruangan nya.
Yadna langsung duduk di sana samping Rini, tapi Yadna malah ingat pada ketakutan Kathir tadi, Yadna memutus kan untuk mengambil minuman untuk Kathir supaya Kathir merasa tenang.
Sedangkan di kediaman Mayang saat ini Nanda tengah di hamiki oleh Gladys karena Nanda tertangkap basah tengah mencuri di kamarnya Gladys.
Gladys merasa sangat marah apa lagi Nanda sangat berani jika harus mencuri di kamar Gladys.
"Berapa uang yang kamu ambil" tanya Gladys.
"Tak ada" jawab Nanda.
"Jangan bohong" geram Gladys.
"Bibi maafkan Nanda" ucap Faiz yang membela istri nya.
"Faiz kau sudah gi la, kau membela istri mu yang salah itu" geram Gladys.
"Bibi bukan begitu tapi Nanda tidak pernah melakukan nya" ucap Faiz.
"Faiz buka mata mu dengan lebar lihat istri mu, dia harus nya kau nasihati bukan malah di bela begitu, aku tau kamu sayang padanya tapi tidak seperti itu juga Faiz, jika kamu membelanya dia akan malah semakin keras kepala" ucap Gladys.
"Bibi tolong jangan bahas ini lagi aku akan ganti semua nya" ucap Faiz.
"Aku tidak butuh ganti rugi aku hanya butuh istri mu untuk mengaku dan merasa bersalah" ucap Gladys.
"Bibi jangan pernah berdebat aku gak mau masalah ini semakin besar, aku ingin tenang bi" ucap Faiz.
"Cuih kalau aku punya tanggung jawab besar atas mu sudah aku hukum kau" geram Gladys.
"Ya maka dari itu kau sampai sekarang mandul karena kau sangat Ja hat, bahkan aku tau kalau anak yang ada di pesantren itu bukan anak bibi kan" geram Faiz.
__ADS_1
"Kau bilang apa" tanya Gladys.
Hati ibu yang mana yang akan rela saat seorang anak menghina nya dan lebih membela pasangan nya.
Gladys benar benar hancur dia tidak tau harus berbuat apa.
Namun Gladys sangat marah dia bahkan tak yakin kalau sikap itu adalah ajaran dari Rena dan Luthfi.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Faiz, saat ini Gladys sangat marah namun dia tak kuasa, justru dia malah merasa bersalah karena sudah memukul Faiz dengan tangannya.
"Sudah ceramah nya, ayo Nanda kita pergi" ucap Faiz yang langsung menarik tangan Nanda untuk pergi dari sana.
Mayang menatap pada putrinya yang sedang bersedih.
"Faiz berdosa sekali kamu meninggalkan Gladys dengan seperti itu, aku tak sangka seorang dokter seperti mu ternyata sangat ja hat dan tidak sopan" ucap Mayang.
"Nenek sudahlah" geram Faiz.
"Durhaka kamu Faiz jika melakukan itu pada ibumu sendiri, aku sumpahi kau mandul dan bisa punya anak" ucap Mayang.
"Mah" ucap Gladys menghentikan ucapan mamahnya itu.
"Gladys jangan bela anak seperti itu" ucap Mayang.
Faiz tak mendengar kan dia langsung pergi dari sana bersama dengan Nanda yang saat ini hanya diam saja tanpa merasa bersalah.
Farid suami nya Gladys datang ke sana dia melihat istrinya yang sekarang terduduk di lantai dan menangis.
"Gladys" ucap Farid yang langsung mendekat dan langsung memeluk istrinya itu.
"Ada apa" tanya Farid.
"Tadi Faiz menghina Gladys katanya Gladys wanita mandul" ucap Mayang.
"Apa" tanya Farid terkejut dengan hal itu.
Farid mengeratkan pelukannya pada istri nya itu.
"Mas aku baru saja menampar anak ku sendiri, hak apa yang aku punya untuk menampar dia Mas, aku sangat malu" ucap Gladys sambil menangis.
"Kamu gak salah" ucap Farid.
"Aku hanya ingin Nanda merasa bersalah dan meminta maaf tapi kenapa aku malah mendengar kan hal pahit seperti itu" ucap Gladys.
"Sudah tak apa" ucap Farid.
"Aku tidak mandul Mas, kau lihat sendiri kan kalau Hasna itu lahir dari rahim ku" ucap Gladys.
"Ya aku tau aku bahkan menyaksikan nya" ucap Farid.
"Tapi kenapa orang lain menganggap ntansi mandul mas" ucap Gladys menangis sesenggukan.
"Bahkan Wiran juga aku yang melahirkan nya" ucap Gladys.
"Ya aku tau" ucap Farid.
Ya, dahulu saat Gladys hamil tak ada yang tau karena Gladys sangat menutupi kehamilan nya, namun semua orang tau kalau Gladys langsung membawa bayi dari rumah sakit.
Mereka berasumsi kalau Gladys mengadopsi anak dari rumah sakit.
Padahal Gladys sengaja menutupi kehamilan nya itu karena dahulu dia pernah hamil dan dia wawarkan pada semua orang.
Tapi sayang anak itu harus keguguran di dalam rahim Gladys karena saat itu kandungan Gladys yang lemah, hingga saat itu Gladys memutus kan untuk menutupi kehamilan nya.
Hanya dia dan suaminya saja yang tau, namun Gladys juga sering mengadakan acara empat bulan atau tujuh bulan bayi yang ada di dalam kandungan nya.
Tetapi mereka hanya melihat Gladys dari sisi buruknya saja, bahkan mereka tidak mau bertanya itu bayi dari mana karena mereka sibuk menilai kalau Gladys wanita yang mandul.
"Sabar Alloh tau kalau kamu benar" gumam Farid.
__ADS_1
"Ya Mas" ucap Gladys.