
Hari ini Luthfi akan mengantarkan Gladys ke pesantren, Rena juga ikut mengantarkan sekalian juga menitipkan Gladys pada Abah dan Umi di sana.
Rena yakin kalau Gladys bisa berubah di pesantren, karena dahulu juga tak ada yang gagal untuk belajar di pesantren.
Selagi anak itu mau belajar dan berniat bersungguh sungguh untuk menjadi lebih baik lagi, maka insha Alloh hidayah akan cepat dia dapat.
Apa lagi dia juga seperti menjemput hidayah itu untuk datang padanya, sebenarnya hidayah itu tak datang dengan sendirinya.
Tapi dengan keinginan dan keyakinan untuk berubah maka Insha Alloh semuanya pasti akan sangat mudah.
Bayi Faiz sekarang sudah dekat dengan Rena bahkan semalam pun dia tertidur nyenyak, dia seperti mendukung keinginan Ibu kandungnya untuk belajar agama.
"Kamu sudah bawa persiapan Faiz" tanya Luthfi menatap pada Rena.
"Sudah siap" ucap Rena.
"Susunya" tanya Luthfi.
"Ada" ucap Rena.
"Baiklah ayo berangkat" ucap Luthfi.
Saat ini Luthfi memakai supir dia akan membantu Rena menggendong Faiz jika Rena merasa pegal menggendong bayi itu.
Apa lagi perjalanan cukup jauh dan Faiz baru saja berusia beberapa hari.
Menurut orang tua dahulu, Bayi yang baru saja berusia beberapa hari sebaiknya jangan dibawa jalan jalan dulu namun sekarang sudah berbeda jaman.
Bahkan Luthfi tak mempercayai hal itu.
"Faiz sini sama Abi" ucap Luthfi.
Sebenarnya Luthfi masih aneh saat memanggil dirinya Abi untuk putra dari Adiknya itu.
Yang harus nya menjadi paman namun harus menjadi Abi.
Luthfi bersyukur karena Rena mau menganggap anak itu sebagai anak mereka, kalau Rena wanita yang egois entah apa yang akan dia lakukan pada anak itu.
Bahkan Rena juga sigap mengasuh Faiz walau pun malam hari.
"Gladys aku harap kesalahan ini tak akan terjadi lagi" ucap Luthfi.
"Ya aku janji" ucap Gladys.
"Jika ada laki laki yang mendekati mu aku saran kan cerita kan semua masa lalu mu, tapi ingat jangan ceritakan pada laki laki yang suka menyebar kan berita itu, kau pasti bisa kan membedakan mana yang baik dan mana yang tidak" tanya Luthfi.
"Ya" ketus Gladys.
Luthfi cukup yakin pada Gladys dia pasti bisa mengatasi itu semua.
"Gladys juga bukan gadis yang Bo doh, lagi pula aku yakin laki laki di pesantren tak akan ada yang menyebar kan berita itu, yang paling penting laki laki di pesantren itu sangat pandai dalam memilih pasangan, mereka juga akan melihat siapa wanita yang akan mereka nikahi, Ya Alloh bukan doa aku untuk tidak memberikan Gladys jodoh tapi aku harap Gladys tak menikah saja supaya aib ini tak tersebar luas" batin Luthfi.
Itu hanya ucapan Luthfi sedang kan takdir seseorang itu tak ada yang tau, jodoh, Rezeki, maut itu tak ada yang tau kita hanya menjalani kehidupan selebihnya biar Alloh yang menentukan.
Manusia bisa meminta lewat doa namun tetap kehidupan akan berjalan sesuai takdir, kita hanya bisa menerima kenyataan dengan pasrah karena itu lah garis tangan yang harus kita jalani.
Luthfi mengambil bayi itu dari gendongan Rena ke gendongan nya.
Bayi itu sangat berat kalau terus di gendong, untung saja Luthfi membawa troli bayi.
__ADS_1
Luthfi menidurkan bayi itu di troli bayi.
"Kak, Mamah telpon" ucap Gladys yang sejarah duduk di samping pak supir.
"Angkat saja" titah Luthfi.
📞📞
"Ya mah ada apa" tanya Gladys.
"Aku ingin bicara dengan Luthfi" geram Mayang.
Gladys memberikan hpnya pada kakaknya itu.
"Assalamualaikum mah" ucap Luthfi.
"Luthfi berani sekali kamu membawa Gladys tanpa persetujuan aku" geram Mayang.
"Bukan nya mamah juga mengijinkan nya" tanya Luthfi.
"Kapan? hah? kapan aku mengijinkan nya" Tanya Mayang marah.
"Kemarin, Mah dukung saja Gladys dia akan belajar dan menurut aku bagus belajar di pesantren" ucap Luthfi.
"Pulang kan Gladys sekarang" Teriak Mayang di telpon.
"Mah aku gak bisa, Waalaikum salam" ucap Luthfi yang langsung menutup ponselnya.
📞📞
"Ada apa Gus" tanya Rena.
"Mamah minta Gladys untuk pulang" jawab Luthfi.
"Aku gak akan memulangkan Gladys kalau dia belum tau caranya menghargai orang lain, dan caranya berguna bagi orang banyak" ucap Luthfi.
"Gus jangan terlalu menuntut kita tak bisa menuntut seseorang untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan" ucap Rena.
"Ya aku tau" ucap Luthfi.
"Lalu tadi apa" tanya Rena.
"Ya minimal dia tau lah rasanya bersyukur" ucap Luthfi.
Sedang kan di kediaman Mayang saat ini Mayang tengah marah dia baru saja melempar hp nya itu.
"Arghh anak itu membuat aku geram saja" Ucap Mayang marah marah.
"Ada apa ini salah kamu juga kan" tanya Herman yang tak setuju pada keinginan Gladys itu.
"Ini salah kamu juga kenapa kamu tidak kaya kenapa kamu tidak bekerja, hah dasar tak berguna" geram Mayang.
"Kamu menuntut pada ku jangan salah kamu sendiri kan yang meminta aku untuk menjadi suami mu" ucap Herman.
"Argh kau membuat aku semakin geram" teriak Mayang yang langsung pergi dari sana.
Herman sangat marah dia benar benar marah, pasal nya dia sangat sayang pada Gladys dia tak mau terpisah lagi dengan anak nya.
Herman menyesali perbuatannya yang terdahulu karena sudah membuang bayi yang baru lahir dari rahim mantan istri nya.
__ADS_1
Hingga kejadian itu lah Herman sadar kalau dia sangat ingin punya bayi perempuan hingga dia mendapat kan Gladys dan sayang padanya.
Tapi sekarang Herman menyalah kan Luthfi karena sudah memisahkan Gladys dari nya.
"Tunggu tanggal mainnya Luthfi" gumam Herman.
Mayang maupun Herman mereka sangat ja hat beda nya Mayang menampakan wujud asli nya sedang kan Herman dia sembunyikan sikap asli nya itu di balik wajah nya yang lugu.
Herman menerima pesan pada hpnya dia langsung melihat ada pesan apa.
{Tuan Saya melihat kalau Luthfi membawa bayi} pesan dari orang itu.
Herman berpikir keras dia tak tau kalau Luthfi punya bayi, bahkan tak ada tau kalau Rena hamil.
"Bayi siapa ini" gumam Herman.
{Cari tau bayi siapa itu} pesan dari Herman.
{Seperti nya bayi dari rumah sakit karena beberapa hari kemarin tuan Luthfi sering ke rumah sakit} balasnya.
"Bagus ternyata Luthfi mengasuh anak, tunggu ada apa ini, apa Rena tak bisa memberikan anak" gumam Herman.
Herman sangat bo doh dia mempercayai putri nya yang salah itu, se na kal apa pun Gladys tetap saja di pandangan Herman, Gladys adalah gadis yang pendiam, pemalu dan gadis kecil yang ceria.
Tanpa Herman tau kalau gadis kecil itu sudah merusak kehidupan nya sendiri.
"Kasihan Gladys harus masuk pesantren mendekam di sana layaknya tahanan" gumam Herman.
Sedangkan Mayang saat ini dia menuju ke arah kediaman Luthfi dia rencana nya akan mengacak acak rumah Luthfi, saking kesalnya Mayang pada putranya itu.
"Arghh aku menyesal melahirkan kamu Luthfi" geram Mayang.
Mayang sampai kediaman Luthfi namun yang dia fokuskan sekarang adalah Bi Cici tengah menjemur pakaian bayi.
"Bayi" gumam Mayang.
Mayang mendekat pada Bi Cici yang sedang menjemur di halaman rumah.
"BI bayi siapa ini" tanya Mayang.
"Bayi Nona Rena" ucap Bi Cici.
"Jangan bohong bi" ucap Mayang marah.
"Benar Nyonya ini putranya Nona" ucap Bi cici.
"Kapan Rena punya anak" tanya Mayang.
"Tidak Nyonya, Nona muda mengadopsi anak" ucap Bi Cici.
"kenapa bisa" tanya Mayang.
"Entah tapi katanya bayinya sangat tampan apa lagi orang tuanya juga tak ada" ucap Bi Cici.
"Apa anak itu hasil dari hubungan gelap" tanya Mayang.
"Saya kurang tau Nyonya" ucap Bi Cici.
"Aku yakin bayi itu pasti dari hasil hubungan, mana mungkin seorang ibu membuang bayinya, kasihan sekali Luthfi mengurus dosa orang lain" gumam Mayang.
__ADS_1
Sebenarnya Mayang juga dahulu seperti itu dia punya Gladys adalah hasil dari hubungan gelap nya bersama dengan Herman saat Mayang masih bersama dengan Tuan Yasir.
Ucapan Mayang sekarang lebih cocok untuk diri nya sendiri, mungkin kesalahan Gladys juga bukan karena murni kesalahan Gladys saja tapi ada campur tangan masa lalu mamahnya.