
Rena berjalan ke arah kamar santri putra tapi sayang Fadly ada di sana sedang berjaga Rena tak akan mungkin bisa masuk ke dalam sana.
"Bagaimana ini" gumam Rena.
Fadly mendekat pada Rena yang tengah kebingungan, Fadly tau kalau Rena akan ke kamar suaminya yang ada di barisan kamar santri putra.
"Mau aku antar" ucapnya ketus.
"Terima kasih" ucap Rena yang langsung mengikuti Fadly di belakang nya.
Tak ada percakapan mereka hanya diam saja sambil berjalan menuju ke arah kamar Luthfi.
"Maaf aku gak tau kalau kau putri Abah" ucap Fadly namun dingin pandangan nya mengarah ke depan.
"Tak masalah lagi pula aku juga bukan putri aslinya" ucap Rena.
"Maaf aku gak tertarik pada kehidupan orang lain" ucap Fadly dingin.
"Oh oke" ucap Rena.
Mereka sampai di depan kamar Luthfi, Rena berterima kasih pada Fadly karena sudah mau mengantar kan nya sampai ke depan kamar.
"Terima kasih" ucap Rena.
"Jangan berterima kasih ini tugas ku" ucap Fadly.
"Ya" ucap Rena yang langsung masuk ke dalam kamar suaminya itu.
Namun Rena terkejut saat melihat suaminya yang sudah tergeletak di lantai sambil merasakan kesakitan pada perut nya.
"Astaghfirullah Gus" ucap Rena yang langsung mendekat ke arah suaminya.
"Gus kenapa" tanya Rena memeluk suaminya itu.
"Perut aku sakit lagi aku lupa membeli obat" ucap Luthfi tersenyum manis padahal saat ini dia tengah merasakan kesakitan.
"Kan aku bilang juga apa jangan terlalu banyak minum kopi jadi begini kan" ucap Rena marah.
"Tolong marahnya nanti ya aku sangat kesakitan sekarang" ucap Luthfi.
"Baiklah ayo aku bantu berbaring" ucap Rena.
Rena membantu Luthfi untuk bangun namun karena Luthfi sangat berat Rena harus sekuat tenaga mengangkat suaminya itu.
Wajah mereka sangat dekat Luthfi menci um pipi Rena yang sangat gemoy itu.
"Gus kamu ini" ucap Rena menepuk pelan tangan Luthfi.
"Awss sakit" ucap Luthfi merasakan perutnya yang seperti di lilit tali.
"Jangan bercanda Gus, ayo aku bantu" ucap Rena membaringkan tubuh Luthfi di atas ranjang di kamar itu.
Rena mengambil minyak kayu putih untuk dia balurkan pada perut Luthfi.
"Ayo buka baju mu" ucap Rena panik saat ini dia sangat cemas pada keadaan suaminya.
"Rena aku sangat kesakitan aku gak bisa melayani mu saat ini" ucap Luthfi.
"Gus aku cubit nih, kalau kamu bercanda lagi aku cubit loh" ucap Rena.
"Ya sayang" ucap Luthfi.
Rena tersenyum dia tak sangka kalau suaminya itu sangat menggemaskan walaupun dia sangat kesakitan.
Rena membalurkan minyak kayu putih itu pada perut Luthfi, Rena berharap kalau Luthfi akan mendingan saat di balur minyak itu, terlihat kalau dia sangat kesakitan.
__ADS_1
"Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un" gumam Luthfi yang masih terdengar oleh Rena.
Rena membalur semua perut Luthfi sampai perutnya cukup panas akibat minyak itu.
"Mau aku ambil kan obat" tanya Rena.
"Gak usah aku akan sembuh" ucap Luthfi.
"Ish Gus jangan nak al biar aku yang ambilkan, kamu tunggu di sini ya aku hanya sebentar kok" ucap Rena yang langsung pergi dari sana untuk mengambil obat untuk Luthfi.
Rena tak memikirkan Fadly yang menatap nya dari kejauhan, Fadly sangat tegas dia sama hal nya seperti Luthfi, tak ada toleransi jika ada seorang wanita masuk ke kamar santri putra.
Begitu lah menjadi seorang penjaga keamanan, tanggung jawab nya sangat besar apa lagi mereka juga sudah di sumpah untuk tak membeda beda kan orang lain.
Misalkan ada yang datang ke sana tanpa alasan yang jelas mau Ustadzah sekali pun mereka tak boleh mengijinkan mereka masuk dan yang masuk tanpa ijin akan mendapatkan hukuman.
Berbeda dengan para santri putri yang kamar mereka ada di dalam gerbang pesantren jadi cukup aman hanya beberapa orang laki laki saja yang masuk ke sana.
Bahkan Abah juga menyewa penjaga untuk menjaga malam di sana.
Pernah dulu ada sebuah kejadian yang mengakibatkan nama pesantren kurang baik.
Dahulu preman yang ada di kampung sebelah berbuat ulah mereka bertransaksi dengan menggunakan pakaian khas dari pesantren Al Zakaria.
Hingga pihak pesantren lah yang di rugikan karena hal itu membuat para orang tua santri meminta untuk pihak pesantren agar di tutup.
Bahkan para orang tua santri juga membawa paksa anak anak mereka dari pesantren itu dan memindahkan nya ke pesantren lain.
Untung saja banyak yang percaya kalau mereka tak melakukan nya, hingga kasus nya selesai dan para santri di bebaskan dari kasus itu.
Masih banyak lagi Kepahitan yang Abah telan dia masih bisa bertahan karena dukungan dari para santri nya, jika saja Abah sudah tak kuat mungkin dia akan menyerah dan menutup pesantren itu.
Namun tak pernah Abah lakukan selagi itu ada di jalan kebenaran Abah rela mengorbankan semua yang dia punya untuk bangkit nya pesantren itu.
Tak heran kalau para santri juga seolah enggan untuk pulang dari sana, apa lagi dengan biaya yang tak terlalu menc ekik para orang tua santri membuat para orang tua santri tenang tak harus pusing dengan biaya sekolah.
Jika uang makan dengan makanan nya lengkap Abah sanggup membiayai nya, untung nya banyak yang mendonasi ke pesantren itu jadi bisa membantu bantu perekonomian pesantren.
Rena berjalan ke arah UKS dia hendak mengambil obat lambung untuk suaminya itu, namun pertama tama Rena mengambil dulu nasi untuk Luthfi makan sebelum meminum obat.
Rena terburu buru mengambil nasi dan obat dia langsung pergi lagi menuju ke kamar Luthfi tapi sayang Fadly mengikuti nya dari belakang takut nya Putri Abah itu kenapa kenapa.
"Kenapa dia terburu buru" gumam Fadly.
"Gus jangan ikuti Ning Rena dia sudah punya Gus Luthfi nanti Gus Luthfi marah" ucap santri putra yang ada di sana.
"Siapa yang mengikuti Ning Rena aku hanya menjaga nya" ucap Fadly.
"Tetap saja gak boleh nanti Gus Luthfi marah baru tau rasa" ucap santri putra.
"Gak ada niat buat aku mengikuti Ning Rena" ucap Fadly yang langsung pergi dari sana menuju ke arah tempatnya.
Sedangkan Rena saat ini dia tengah masuk ke dalam kamarnya dia langsung menyuapi Suaminya itu.
"ayo Gus makan" ucap Rena.
"Terima kasih" ucap Luthfi.
Rena menyuapi Luthfi dengan perlahan dia takut suaminya itu kesakitan, Rena bingung dia tak bisa berbuat apa apa.
apa lagi Rena gak bisa mengobati orang karena Rena bukan dokter.
Rena menyodorkan air dalam gelas pada Suaminya itu.
"Minumlah Gus" ucap Rena membantu Luthfi untuk meminum air itu.
__ADS_1
"Rena aku kenyang aku mau minum obat saja" ucap Luthfi yang langsung meminum obat dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Cepat sembuh lah aku gak mau melihat kamu menderita" ucap Rena.
"Ya sayang tenang saja" ucap Luthfi.
"Pokoknya setelah sembuh aku akan mengatur semua pola makanan mu aku gak mau kamu sakit lagi" ucap Rena.
"Ya sayang aku akan ingat itu" ucap Luthfi.
Luthfi memegang tangan Rena sangat erat dia tak mau melepaskan istrinya itu.
"Ada jadwal lain sekarang" tanya Luthfi.
"Kayanya gak ada hanya saja aku punya acara untuk membuat rujak dengan kak Zia" ucap Rena.
"Tidurlah bersama dengan ku, aku ingin di peluk oleh mu" ucap Luthfi.
"Baiklah" ucap Rena yang langsung membaringkan tubuhnya di samping Luthfi.
Rena sangat nyaman seperti itu apa lagi Rena masih tak menyangka kalau Luthfi akan menjadi miliknya, dengan semua hal yang telah di lewati oleh Rena dia tak menyangka kalau dia akan hidup bersama dengan orang yang sangat dia sayangi itu.
"Gus terima kasih" bisik Rena.
"Tak masalah sayang aku paham" ucap Luthfi mengigau dia bahkan tak tau Rena berterima kasih untuk apa.
Sedangkan di kota saat ini Mayang masih menunggu kedatangan Putranya, Mayang berpikir kalau setelah berita itu Viral maka Luthfi akan pulang tapi apa Luthfi belum pulang juga.
"Benar dia tak memikirkan perusahaan itu" geram Mayang.
Wanita paruh baya itu mengambil pas bunga mawar palsu yang ada di dekat meja rias nya, dia melempar pas itu ke lantai hingga hancur berkeping keping.
prakk
Mayang mengambil bunga mawar palsu itu.
"Mas kau salah memberikan harta, kau memberikan harta mu pada anak yang tak bisa mengelola nya, kenapa tak kau berikan itu pada ku mas biar aku yang mengelolanya aku yakin aku bisa mengembang kan perusahaan itu, kau hanya memberikan aku sebuah pabrik yang kecil mas, hanya itu kah harga untuk melahirkan Luthfi anak yang tak bisa membahagiakan orang tua nya" gumam Mayang.
Mayang terlihat sangat cantik dia tak pernah lepas dari riasan tebalnya, dahulu tuan Yasir sangat tergil a gil a pada nya karena Mayang yang baik dan sopan santun.
Tapi sayang gadis desa yang dulunya lugu saat di bawa ke kota jadi banyak tingkah, tuan Yasir di duakan oleh mayang namun tuan Yasir berusaha untuk percaya.
Namun kebenaran tetap lah benar perselingkuhan Mayang terbongkar hingga mengakibatkan Tuan Yasir meninggal karena banyak pikiran.
"Ada apa sayang" tanya Herman saat melihat Istrinya yang tengah duduk tapi di bawah nya terdapat pecahan pas bunga.
"Tak ada hanya kesal saja pada anak ku" ucap Mayang.
"Oh sabarlah" ucap Herman.
"Oh ya mas apa dulu anak mu meninggal" tanya Mayang menanyakan masa lalu Herman suaminya itu.
"Ya dia sudah meninggal aku sendiri yang menenggelamkan nya" ucap Herman.
"Baguslah setidaknya aku tak akan di hantui oleh tingkah anak yang tak berguna" ucap Mayang.
"Tenang saja kalau pun anak ku masih ada dia tak akan tau aku ayahnya karena kan aku juga tak pernah lagi bertemu dengan wanita itu" ucap Herman.
"Aku berharap kalau Gladys tak seperti itu" ucap Mayang.
Gladys adalah anaknya Mayang dari Herman dia sekarang sudah berusia lima belas tahun hanya saja dia di luar negeri jadi tak bersama dengan Mayang.
Mayang menatap pada suaminya itu, sebenarnya jika di pikirkan Herman adalah benalu di kehidupan nya karena Herman tak pernah bekerja dia hanya mengandalkan uang dari Mayang saja.
Semenjak menikah Herman tak pernah mau bekerja dia hanya diam di rumah mengurus Mayang.
__ADS_1
Namun karena rasa cinta nya Mayang pada Herman sangat besar jadi dia tetap menerima Herman sebagai suaminya.