
Di meja makan saat ini Mita tengah melihat putra nya itu yang tengah bersama dengan Yadna.
"Sumpek sekali aku melihat wajah Yadna" gumam Mita.
Namun saat ini Kathir melihat kalau mamahnya tengah memperhatikannya, bahkan mamahnya seperti mengumpat saat melihat mereka.
Kathir mengambil semangka yang sudah di potong kecil kecil di atas meja itu.
Kathir menyuapi Yadna yang sekarang ada di samping nya, padahal Yadna tidak tau kalau di sana ada mertua nya.
Sekarang Yadna memakan buah itu seperti tidak terjadi apa apa, Yadna berpikir kalau itu adalah sebuah perhatian kecil yang Kathir lakukan padanya.
"Bagaimana enak" tanya Kathir.
"Enak hanya saja seperti tidak terlalu manis ya" ucap Yadna.
"Ya kan manisnya ada di kamu" ucap Kathir.
"Ishh kenapa begitu, bapak ini bisa saja" ucap Yadna menyenggol pelan lengan Kathir.
"Sudah lah ayo berangkat kita harus segera sampai ke sana, setelah itu kita akan berpidato panjang lebar" ucap Kathir terlihat sangat manis dan hangat.
Padahal hal itu hanya akan Kathir lakukan jika ada Mamahnya saja, setelah itu Kathir bersikap seperti semula, diam dan beranggapan tidak terjadi apa apa.
Yadna langsung mengambil tas Kathir yang isinya laptop dengan beberapa berkas di dalam nya.
"Sekarang kita tidak akan pergi menggunakan Supir" ucap Kathir.
"Kenapa" tanya Yadna.
"Aku yang akan menjadi supir mu" ucap Kathir.
"Ya tanpa di minta pun kau akan jadi Supir pak, supir dari keluarga mu" ucap Yadna.
"Ya" ucap Kathir.
Mereka berangkat ke acara itu, sedangkan sekarang Mita tengah mengumpat.
"Semoga saja Kathir bosan pada Yadna dan dia langsung menceraikan istrinya itu" gumam Mita.
"Ada apa mah" tanya Pak Amta yang merasa heran pada istri nya itu.
"Tidak ada" sahut Mita yang langsung pergi dari sana meninggal kan suaminya yang saat ini ada di sana.
Di acara besar itu sekarang Yadna berdiri bersama dengan suaminya menemui orang orang yang paling kaya di negeri itu.
__ADS_1
"Siapa dia pak Kathir" tanya seorang laki laki tampan yang baru saja mendekat pada Kathir.
"Dia istri saya pak" ucap Kathir tersenyum pada laki laki itu.
"Istri, wah selamat ya saya tidak tau kalau anda sudah menikah" ucap laki laki itu.
"Ya pak acaranya sangat mendadak kemarin" ucap Kathir.
"Siapa namanya" tanya Laki laki itu.
"Adna namanya Yadna Afdhal Yasir mungkin sekarang ganti ya Sayang" ucap Kathir merangkul pundak Yadna.
"Oh Senang bertemu dengan Anda Nona Adna" ucap laki laki itu.
"Ya senang juga bertemu pak" ucap Yadna.
"Namanya Rasya, Rasya Manasta" ucap Kathir.
"Salam kenal Adna, aku Rasya" ucap Rasya laki laki tampan itu menatap pada Yadna sambil menyodorkan tangannya.
"Salam kenal juga pak Rasya" ucap Yadna menempel kan kedua telapak tangan nya.
Rasya yang sadar pun langsung menarik lagi tangannya yang sudah menyodor.
"So alim sekali wanita ini" batin Rasya.
"Oh ya Pak Kathir selamat ya atas kerjasama ini, aku tidak sangka anda bisa bergabung dengan perusahaan Widirdja perusahaan yang sangat besar" ucap Rasya.
"Ya terimakasih pak Rasya" ucap Kathir.
Yadna masih menatap Rasya yang sekarang pergi dari sana, sebenarnya ada hal yang Yadna takutkan jika berkumpul dengan orang orang itu.
Yadna takut kalau berita diri nya itu sudah tersebar di kalangan para pengusaha yang cukup aktif bersosial media.
Mau bagaimana pun Yadna takut kalau berita itu membuat Kathir malu dan di permalukan oleh orang lain.
"Apa mungkin mereka tau berita aku" gumam Yadna.
"Ada apa Adna, kamu sepertinya sangat gugup" tanya Kathir.
"Pak aku takut kalau orang orang yang ada di sini melihat video aku yang tersebar" ucap Yadna.
"Gak mungkin aku akan melindungi kamu" ucap Kathir.
"Terima kasih pak" ucap Yadna.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain saat ini Rena tengah menghubungi Arsala dia sejak tadi berusaha menghubungi Arsala untuk menanyakan kabar Arsala Sekarang namun sayangnya saat ini tak ada kabar yang jelas tentang Arsala mau pun Yadna.
"Umi, sekarang Abi akan ke perusahaan sebentar katanya ada kabar yang kurang mengenakan di sana, oh ya Umi mau nitip apa" tanya Luthfi.
"Aku mau Arsala" ucap Rena.
"Astaghfirullah Umi, nanti juga Arsala pulang" ucap Luthfi.
"Kapan Abi, kapan, hah, kapan Abi, bahkan sampai sekarang saja tak ada kabar dari Yadna tentang Arsala aku yakin kalau sekarang Arsala itu sedang tidak baik baik saja" ucap Rena.
"Umi aku paham kalau sekarang Umi takut atau khawatir, tapi Umi aku yakin kalau Arsala baik baik saja hanya saja dia tengah bersembunyi karena masalah ini, Umi aku bosan dengan kabar ini setiap hari setiap waktu kita membicarakan ini" ucap Luthfi.
"Mereka anak anak ku Abi, Ibu yang mana yang akan diam saja saat anak anaknya dalam bahaya" ucap Rena yang selalu marah karena ingat pada masalah anak anaknya.
"Umi tenang lah, mereka sudah besar" ucap Luthfi.
"Jika Abi ingin bekerja maka berangkat saja, aku akan terus menghubungi Arsala atau Yadna untuk meminta kabar pada mereka" ucap Rena menatap pada suaminya itu.
Luthfi hanya bisa menghela nafas nya kasar, saat mereka membahas hal ini sudah jelas kalau akhirnya mereka akan bertengkar seperti yang sudah sudah.
Waffi datang ke sana karena dia belum pergi lagi ke pesantren.
"Ada apa" tanya Waffi yang sekarang berusia 13 tahunan itu.
Rena hanya menatap sekilas pada Waffi, Rena sekarang hanya bisa berharap pada Adiba dan Waffi agar mereka berdua tidak pernah berbuat sesuatu yang akan membuat Rena khawatir dan cemas.
Faiz, Yadna, dan Arsala membuat masalah yang cukup berat hingga membuat Rena, khawatir, malu, bahkan emosi karena hal itu.
"Waffi masuk lah ke kamar" ucap Rena menundukkan kepalanya.
"Tapi Umi aku bisa mendengar kalian bertengkar, aku paham sekarang ada masalah apa tapi kenapa harus di ributkan mereka sudah tua" ucap Waffi.
"Anak muda seperti dirimu tidak akan paham" ucap Rena dingin tak ada ekspresi yang Rena tunjukan selain menunduk.
"Nak masuk lah ke dalam kamar" titah Luthfi tersenyum pada putranya itu.
"Tapi Abi" ucap Waffi.
"Jangan banyak alasan" ucap Luthfi.
Dengan cepat Waffi langsung pergi dari sana menuju ke kamar nya, Waffi hanya akan mengurung diri di dalam kamar dengan banyak sekali buku buku yang harus dia pelajari.
Buku buku yang telah usang karena terlalu lama di simpan di lemari, buku itu mempunyai ilmu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan.
Karena di sana di jelaskan arti bersyukur, cara menghargai, dan yang paling penting banyak buku yang di tulis sendiri oleh Luthfi.
__ADS_1
"Mereka hanya bertengkar dan bertengkar" gumam Waffi.