Aku Seorang Janda Ustadz

Aku Seorang Janda Ustadz
bab 105 penyesalan Gladys


__ADS_3

Walau pun begitu Luthfi tetap marah pada Gladys, saat ini Luthfi tengah berpikir kalau bisa bisanya Gladys melakukan hal itu apa lagi Faiz adalah anak kandung nya.


Setelah Faiz baik baik saja Luthfi merasa sangat tenang, bukan karena apa apa tapi Faiz masih sangat bayi dan tubuh nya masih sangat rentan, takutnya akan terjadi apa apa pada Faiz.


"Aku akan bicara pada Gladys" ucap Luthfi yang langsung keluar dari rumah Abah dan mencari cari Gladys.


Saat ini para santri sedang istirahat jadi para santri banyak yang berlalu lalang di sana.


Namun mata Luthfi fokus pada Gladys yang tidak ada di halaman Pesantren.


Luthfi menatap pada ruang UKS di sana ada tempat menyimpan air galon, dan terlihat kalau Gladys ada di sana.


Luthfi dengan kemarahannya berjalan ke arah Gladys.


"Gladys" Sahut Luthfi dengan marah.


"Apa" tanya Gladys yang langsung bangkit dari duduknya.


Plakk


Luthfi menampar pipi Gladys, Luthfi merasa sangat geram apa lagi Faiz anak Gladys dan harusnya sebagai seorang ibu Gladys harusnya menjaga Faiz.


"Kak apa ada" tanya Gladys memegang pipi nya yang terasa sangat perih Karena tamparan yang keras dari Luthfi.


Perlakuan Luthfi pun tak luput dari perhatian para santri putri, pikiran ja hat mereka semakin yakin kalau Luthfi memang bukan laki laki yang baik.


Padahal Luthfi hanya mau mengajari Gladys tentang adab dan etika.


"Kamu menggendong Faiz" tanya Luthfi.


"Ya" jawab Gladys.


"Kenapa kau harus menggendong nya, kalau kau tidak mau menggendong nya maka jangan tidak perlu melempar bayi yang tak bersalah itu" ucap Luthfi geram sambil meninggikan suara nya.


"Aku pikir itu Shabia" ucap Gladys membela diri.


"Apa? Shabia? Gladys kamu pasti bisa membedakan bayi laki laki dan bayi perempuan, kamu sangat senang menggendong bayi Zia tapi kamu malah melempar bayi kamu sendiri" geram Luthfi.


"Kak aku muak melihat dia" geram Gladys.


Plak


Luthfi menampar lagi Gladys tapi dengan perlahan, karena dia tidak mau membuat Gladys kesakitan.


"Aku tau Gladys kalau kamu gak suka pada Faiz, tapi Gladys kamu ibunya bagaimana kalau Faiz tau ternyata ibunya tak menginginkan dia ada" tanya Luthfi yang merasa sedih jika di posisi Faiz.


"Kak kalau emang kamu tidak mau mengasuh bayi sialan itu aku akan bawa dia jauh dari kalian" ucap Gladys.


"Kau akan membuang nya? Gladys kau lupa kalau bayi itu bayi yang kau kandung selama sembilan bulan, apa kamu lupa" tanya Luthfi.


"Kak aku tidak mau lagi membahas bayi itu, ya aku tau aku salah tapi kamu tidak berhak melakukan hal ini" ucap Gladys.


"Kamu monster Gladys, jika kau menyesal karena sudah menelantarkan Faiz maka janji aku, aku tak akan membiarkan kamu bertemu dengan Faiz, aku akan menjauhkan Faiz dari mu, aku akan anggap kalau Ibu kandung Faiz sudah tiada, mulai sekarang kamu bukan lagi adik ku" ucap Luthfi yang langsung pergi dari sana meninggal kan Gladys.


Gladys hanya bisa menangis dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, Gladys terduduk di tanah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


Sedangkan para santri putri saat ini sedang menggosipkan Luthfi, mereka banyak yang simpati pada Gladys padahal mereka tidak tau cerita awalnya bagaimana.


"Kasian ya".


"Gus Luthfi ja hat aku gak sangka dia seperti itu"


"Mungkin Gus Luthfi juga kasar pada Ning Rena"


"Kasihan ya Ning Rena kalau benar".


"Dari dulu juga sudah terlihat jelas kalau Gus Luthfi itu terlihat sangat kasar dan ketus".


"Ya jadi tak aneh ya kalau dia melakukan hal ini".


"Makannya jangan terlalu percaya pada laki laki".


"Sudah ayo kita pergi".


Ucap para santri putri itu membicarakan Luthfi, saat ini Luthfi menjadi buah bibir para santri putri di pesantren itu.


Hingga berita itu sampai pada telinga Abah yang selalu dapat informasi dari Fadly orang yang Abah tugaskan untuk menjaga keamanan pesantren.


Bahkan Fadly juga selalu tau informasi terkini pesantren itu, kebanyakan para santri banyak yang mengirim surat melalui Fadly.


Namun Fadly sangat sangat jahil, jika ada santri putra atau putri yang meminta Fadly memberikan surat pada kekasih nya.


Maka Fadly akan membacakan pesan itu di hadapan teman temannya.


Atau jika Fadly sedang tidak mau di ganggu dia sering membaca surat itu dan langsung membuang nya, namun tetap Fadly akan menyampaikan pesan dari surat itu pada si penerima.


Hanya saja caranya yang membuat santri kapok menitipkan pesan pada Fadly.


"Yang benar" tanya Abah.


"Benar Abah, aku baru denger" ucap Fadly.


"Fadly kamu tau gak" tanya Abah.


"Apa Abah" tanya Fadly.


"Abah jika bersama dengan mu terus maka seperti nya Abah akan menjadi bapak bapak yang suka bergosip" ucap Abah tertawa.


Abah menepuk pundak Fadly.


"Pekerjaan mu sangat bagus terima kasih, hal ini akan Abah sampai kan pada para santri" ucap Abah.

__ADS_1


"Baik Abah" ucap Fadly.


"Pantau terus" ucap Abah.


"Siap Abah" ucap Fadly.


Fadly hanya tersenyum mendengar hal itu, dia juga berpikir begitu setelah dia tau banyak informasi Fadly merasa seperti emak emak yang sedang bergosip.


Namun Fadly tidak akan pernah bosan dengan pekerjaan itu, apalagi Fadly sangat suka dengan pekerjaan nya.


Abah mendekat pada para santri putri yang ada di sana.


"Sesuai apa yang kalian lihat atau dengar, Abah tau semua nya tapi tolong jangan menyebar luaskan berita ini" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Para santri yang ada di sana.


"Jangan bergosip ya" ucap Abah.


"Tapi Abah kami tidak bergosip kami hanya membicarakan apa yang kami lihat" ucap Para santri.


"Kalian tau tidak Ghibah itu termasuk dosa yang sangat besar melebihi Zina, Ada Hadist riwayat at Tabrani.


"Ghibah itu lebih berat dari Zina"


Seorang sahabat bertanya pada Rasulallah Saw, "Bagaimana bisa ya Rasulullah" tanya dia, lalu Rasulullah menjelaskan, "Seorang laki laki yang berzina akan langsung Alloh terima taubat nya, Namun pelaku ghibah tidak akan di ampuni sebelum di maafkan oleh orang yang dia ghibahi".


"Begitulah kata Rasulullah apa kalian tidak takut" tanya Abah.


"Takut Abah" ucap para santri.


"Lain kali jangan ya" ucap Abah.


"Ya Abah" ucap Para santri.


Abah langsung pergi dari sana, dia juga sebenarnya terkejut akan sikap Luthfi namun kakak yang mana yang tidak akan marah saat tau adiknya hamil anak laki laki yang tidak bertanggung jawab.


Abah juga menyalahkan Gladys karena Gladys lah yang menimbulkan masalah ini, tetapi dengan begitu juga Abah tidak membenarkan Luthfi, apa lagi Luthfi sampai menampar Gladys itu perbuatan yang salah.


Apa lagi sudah selayaknya seorang laki laki menjaga perempuan, Sudah tugas laki laki menghormati wanita.


"Aku tau kamu marah Gus, tapi tidak seperti ini" gumam Abah.


Abah masuk ke dalam rumah nya.


"Bagaimana apa bayi sudah tidur" tanya Abah.


"Sudah Abah" ucap Zia.


"Gus Luthfi, aku tau masalahmu tapi semarah apa pun kamu jangan pernah menampar wanita ya" ucap Abah.


Luthfi merasa sangat salah jika ingat hal itu.


"Tak apa Gus aku tau rasanya jadi kamu" ucap Adam.


"Apa" tanya Zia.


"Ya saat Ning Rena bersama dengan Abimana aku juga marah, tapi aku berusaha untuk menahan nya, kamu tau gak rasanya seperti apa ingin sekali aku cakar muka Abimana itu" ucap Adam.


"Ya Gus Adam aku sangat kesal pada Gladys bagaimana mungkin seorang ibu melakukan hal itu pada anaknya" ucap Luthfi.


"Ya Abah paham" ucap Abah.


"Ya Abah aku sangat menyesal melakukan hal ini tapi bagaimana bisa aku diam saja, aku takut Faiz celaka" ucap Luthfi.


"Tak apa, oh ya di mana Rena" tanya Abah.


"Katanya dia ingin melihat Gladys" ucap Luthfi.


"Ya itu lebih baik" ucap Abah.


"Mungkin yang sekarang Gladys punya adalah adiknya yaitu Rena" ucap Luthfi.


Ketiga orang de wasa yang ada di sana pun tak paham pada ucapan Luthfi karena harusnya Gladys itu adik ipar nya Rena.


"Apa maksudnya" tanya Zia.


"Ya Gladys kakaknya Rena, kakak tiri maksud nya" ucap Luthfi.


"Kenapa bisa" tanya Adam.


"Ayah Herman yaitu papah kandung Rena selingkuh dengan mamah Mayang, mungkin saja saat Mamah Sofi dan Ayah Herman masih berumah tangga, saat itu Mamah mengandung Gladys saat papah Yasir ada di luar kota selama beberapa bulan, namun dokter mengatakan kalau kandungan mamah baru saja tiga Minggu saat itu Papah sudah dua bulan di luar kota, aku ingat betul pada kejadian itu mungkin aku berusia delapan tahun, saat itu mamah membawa aku bertemu dengan seorang pria yaitu adalah Ayah Herman, dari hal itu banyak kebohongan kebohongan mamah yang aku rahasia kan dari papah" ucap Luthfi.


"Jadi kalau begitu Herman sudah punya anak dari wanita lain sebelum dia punya Rena" tanya Abah.


"Ya aku juga tidak tau kalau Ayah Herman ayah kandung Rena" ucap Luthfi.


"Benar benar si Herman" geram Abah.


"Tapi sepertinya Mamah Sofi dan Ayah Herman akan kembali lagi" ucap Luthfi.


"Kenapa" tanya Abah.


"Kemarin saat polisi tanya alasan mamah Sofi mengambil uang karena dia ingin menebus Ayah Herman yang saat itu tengah di sekap oleh Mamah Mayang" ucap Luthfi.


"Cinta sejati" ucap Zia.


"Entah tapi aneh saja rasanya, kalau aku ikut pada kemauan orang tua, aku dan Rena adalah adik kakak tiri, dan pernah Mamah Sofi tidak menyetujui pernikahan ku" ucap Luthfi.


"Kalau seperti itu sah sah saja karena kan kamu anak tiri dari Herman dan Rena anak kandung Herman, kalian tidak punya ikatan darah bahkan kalian juga tidak sepersusuan" ucap Abah.


"Ya abah" ucap Luthfi.

__ADS_1


"Aku tak tau kalau kehidupan mu sangat berat Gus" ucap Adam.


"Ya makannya" ucap Luthfi.


"Sabar saja ya karena setelah badai pasti akan ada pelangi" ucap Adam.


"Ya" ucap Luthfi.


"Anggap saja ini sebagai bumbu cinta agar hubungan kalian semakin erat dan penuh keharmonisan" ucap Abah.


"Ya Abah amin" ucap Luthfi.


Sedangkan di kamar Gladys saat ini Rena datang ke sana.


"Kak" ucap Rena.


"Jangan bicara pada ku" ucap Gladys.


"Aku minta maaf atas sikap Gus Luthfi" ucap Rena.


"Sudah aku bilang aku tidak mau bicara dengan mu" ucap Gladys.


"Ya aku tau tapi aku hanya datang untuk minta maaf" ucap Rena.


"Tidak perlu Kak Luthfi yang salah" ucap Gladys.


"Kamu kakak ku sekarang bisa aku panggil kakak" tanya Rena.


"boleh" ucap Gladys.


"Wah terima kasih" ucap Rena.


Gladys menatap pada Rena yang saat ini duduk di samping nya.


"Maafkan aku, aku sangat tidak sadar kalau aku melakukan hal itu pada bayi itu" ucap Gladys.


"Tak apa tapi lain kali jangan ya" ucap Rena.


"Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi" ucap Gladys.


"Ya itu bagus" ucap Rena.


"Aku benar benar ga tau" ucap Gladys.


"Sudah tak apa" ucap Rena.


Sedangkan di kota saat ini Revan baru saja pulang dari kuliahnya dia langsung bekerja di salah satu restoran yang ada di kota itu.


Revan bertugas untuk melayani para tamu yang datang ke sana.


Revan membawa kan buku menu pada sekumpulan wanita yang memakai jas putih.


"Silahkan" ucap Revan.


Namun mata Revan menatap pada Nagita yang ada di sana juga.


"Wah pelayan nya tampan" ucap teman Nagita.


"Apaan sih alay" ucap Nagita yang menatap pada Revan.


Revan hanya tersenyum pada Nagita tapi dia tak berani menyapa karena malu jika Nagita di tertawa kan oleh teman temannya.


"Mau pesan apa" tanya Revan yang sudah siap akan mencatat makanan yang di pesan teman teman Nagita.


"Aku mau ini sama yang ini, buat kan masing masing lima ya" ucap dokter itu.


"Ya" ucap Revan.


Namun saat Revan akan pergi dari sana salah datu dokter itu menahan Revan dengan memegang tangan Revan.


"Siapa nama kamu" tanyanya.


"Revan" ucap Revan.


"Oh Revan, bisa minta no hp nya" tanyanya.


"082120982836" ucap Revan.


Nagita bingung bahkan dia yang menjadi istri nya saja tak punya nomor Revan tapi teman temannya dengan mudah meminta nomor Revan.


"Terima kasih" ucap teman Nagita.


"alay sekali" ucap Nagita.


"Tak apa lah siapa tau saja jodoh" ucapnya.


Nagita kesal melihat hal itu dia langsung melihat lihat media sosial yang ada di hpnya.


Nagita sangat ingin juga mempunyai nomor Revan tapi dia tidak mungkin meminta langsung.


"Memikirkan hal ini hanya akan membuat aku kesal saja" gumam Nagita


Revan saat ini tengah membereskan beberapa meja yang ada di sana.


"Oh jadi ini tempat bekerja Revan, tapi apa urusan aku lagi pula aku tidak peduli juga" batin Nagita.


Namun Nagita ingat pada ucapan papahnya yang meminta Nagita untuk mempertahankan hubungan itu sampai akhir hayat.


Karena kalau Nagita melanggar maka hukumannya adalah Nagita akan jadi miskin karena papahnya akan mengambil semua yang Nagira miliki


"Ribet sekali sih" geram Nagita menatap sinis pada Revan yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2