
Rena pulang ke rumah bersama dengan Waffi.
"Mulai besok Umi akan bawa kamu ke pesantren punya Abah" ucap Rena.
"Aku akan ke sana" tanya Waffi.
"Ya" ucap Rena.
Waffi mengeluarkan koper yang ada di dalam tasnya, dia tidak mungkin bisa membantah uminya itu, sebenarnya bukan tidak mau hanya saja Waffi kurang suka dengan perkampungan.
Namun sekarang dia akan terbiasa melakukan kegiatan di pesantren baru.
Rena sangat pusing dia langsung masuk dan duduk di ruang tamu yang sekarang sangat sepi.
Rena melihat ke lantai atas ternyata kedua putrinya ada di lantai atas tengah bercanda.
Yadna keluar dari kamar nya dia melihat Uminya yang ada di sofa.
"Umi dari mana" tanya Yadna.
"Pesantren Waffi" ucap Rena.
Yadna mengambil kan uminya itu minum.
"Kenapa umi ada apa" tanya Yadna.
"Waffi ada masalah" ucap Rena.
"Masalah" tanya Yadna.
"ya" ucap Rena.
Yadna tidak bertanya lagi dia tau kalau uminya itu sangat lelah.
"Ini umi" ucap Yadna memberikan satu gelas air putih pada Uminya itu.
Rena langsung masuk ke dalam kamarnya karena dia sangat pusing saat ini.
Yadna menatap pada adiknya yang sangat menyebal kan itu.
"Apa yang kamu lakukan" tanya Yadna.
"Aku tidak melakukan apa apa" ucap Waffi membela diri nya.
"Lalu kenapa Umi sampai harus ke pesantren" tanya Yadna.
"Begini kak aku ini seorang penyelamat tapi orang lain malah menyalahkan aku katanya aku sudah melecehkan seseorang, padahal demi Alloh aku tidak pernah melakukan hal itu" ucap Waffi.
"Benarkah" tanya Yadna.
"Benar kak aku tidak akan berani berbohong apa lagi pada perawatan tua seperti mu" ucap Waffi yang langsung berlari dari sana.
Yadna langsung berlari mengejar Adiknya yang sangat menyebalkan itu, Waffi sampai tertawa terbahak bahak karena mentertawakan kakaknya itu.
Tapi sayang saat Yadna akan mengejar Waffi di sela sela kursi, namun kakinya tersangkut pada kursi yang ada di sana.
"Aaa" teriak Yadna saat akan terjatuh ke lantai namun Untung saja ada seorang laki laki yang menahan badannya sehingga tidak membuat Yadna terjatuh ke lantai.
Yadna terbangun dia melihat laki laki itu, namun dia tidak mengenal laki laki itu.
"Siapa kamu" tanya Yadna.
"Yadna kenalkan dia Kathir orang yang akan bekerja sama dengan Abi" ucap Luthfi.
Yadna menatap pada laki laki tampan dan gagah itu.
"Selamat siang Kathir" ucap Yadna menundukkan kepalanya.
"Siang" ketus laki laki itu sambil berjalan ke arah sofa yang ada di sana.
"Rumah anda bagus Pak Luthfi" ucap Kathir.
"Alhamdulillah istri saya yang memilih desain seperti ini" ucap Luthfi.
"Sangat menarik" ucap Kathir.
"Yadna siapkan minuman untuk Kathir" ucap Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna yang langsung berjalan ke arah dapur.
"Maaf Yadna memang begitu" ucap Luthfi.
"Dia menarik" ucap Kathir.
"Nak Kathir sebenarnya Yadna juga bekerja di perusahaan anda" ucap Luthfi.
"Oh ya" tanya Kathir.
"Ya di bawah kepemimpinan Pak Amta" ucap Luthfi.
"Apa dia sekertaris Adna" tanya Kathir.
"Ya mungkin saja" ucap Luthfi.
"Papah banyak menceritakan sekertaris nya itu, kata Papah dia sangat pintar dan cekatan dia sangat suka Adna itu, bahkan ku penasaran pada wanita seperti itu dan ternyata dia orangnya" ucap Kathir.
"Ya mungkin Yadna terlihat menyebalkan dia juga galak, tapi dia tidak suka di bentak" ucap Luthfi.
"Oh ya pak bisa Rahasia kan ini dari Adna, aku mau dia mengetahui aku pengganti papah saat dia masuk bekerja saja" ucap Kathir.
"Ya baiklah" ucap Luthfi tersenyum.
Yadna datang ke sana membawakan dua gelas teh dan cemilan yang cukup banyak.
"Silahkan" ucap Yadna.
Kathir mengambil gelas itu dia akan meminum nya tapi sayang tangannya kram dia menumpahkan teh panas yang ada di dalam gelas itu hingga mengenai baju yang dia pakai.
"Awws" ringis Kathir.
"Kenapa nak penyakit kamu kambuh lagi" tanya Luthfi yang mengetahui kalau Kathir mempunyai penyakit bawaan dari lahir, Kathir selalu merasakan kram di bagian tangan atau kakinya.
"Ya pak" ucap Kathir mengerak gerakan tangannya supaya tidak kram lagi.
"Penyakit ini sangat sering terjadi sekarang" ucap Kathir.
"Baju kamu basah, ganti saja ada baju milik Arsala yang mungkin cukup untuk kamu" ucap Luthfi.
"Tidak usah pak aku jadi merepotkan" ucap Kathir.
__ADS_1
"Tidak kamu harus di ganti takut nya teh itu mengenai perut mu" ucap Luthfi.
Luthfi menatap pada Yadna yang hanya berdiri saja di sana.
"Yadna tolong Nak Kathir" pinta Luthfi.
"Ya Abi" ucap Yadna kesal.
Yadna meminta Kathir untuk mengikuti nya, Yadna membawa Kathir ke kamar nya, Untung nya saat ini Adiba pisah kamar jadi Yadna tidak akan segan memasukan laki laki itu ke kamarnya.
Karena selama di rumah Adiba lebih sering mengunci diri di kamar.
"Silahkan masuk, saya akan mengambil kan tisu dan baju Arsala" ucap Yadna.
Yadna masuk ke kamar Arsala untuk meminjam pakaian Arsala, tetapi Yadna tak yakin kalau Kemeja Arsala akan cukup di tubuh Kathir yang lebih besar dari Arsala.
Yadna mengambil beberapa pakaian Arsala dia juga mengambil tisu yang baru saja dia beli.
"Maaf tapi aku gak tau baju yang mana yang akan cukup" ucap Yadna.
"Biar aku coba" ucap Kathir.
"Ini" ucap Yadna.
Kathir menempel baju itu pada tubuh nya tapi sayang tak ada yang besar.
"Gak cukup" ucap Kathir.
"Tapi itu yang paling besar, bagaimana kalau kamu pakai baju aku saja" ucap Yadna.
"Gamis" tanya Kathir.
Yadna memutar bola matanya malas, dia langsung mengambil kaos polos ukuran besar yang sempat Yadna beli di aplikasi online.
Yadna belum sempat memakai nya karena selama di rumah dia lebih sering memakai baju tidur panjang.
"Cobalah" ucap Yadna.
"Apa tak ada yang lebih lucu dari ini" tanya Kathir.
"Ada warna pink" ucap Yadna.
"Tidak yang ini saja" ucap Kathir yang hendak membuka kemeja nya di hadapan Yadna.
"Astaghfirullah anda tidak tau malu sekali, kita itu bukan makhrom" ucap Yadna.
"Lantas kenapa kamu tidak keluar" tanya Kathir.
Yadna menelan ludah nya, ada benarnya juga ucapan Kathir itu.
"Baiklah aku akan ke luar" ucap Yadna yang langsung keluar dan menutup pintu kamar nya.
Luthfi menatap pada putri nya yang menunggu di depan pintu kamar nya.
Luthfi hanya bisa tersenyum saja melihat pada putrinya yang saat ini sangat galak dan terkesan ketus pada laki laki lain.
"Sudah" Sahut Yadna.
"Sudah" Sahut Kathir yang sekarang sedang melihat ke arah foto yang menempel di dinding.
"Mana jas kamu, aku akan lap" ucap Yadna.
"Kamu lucu saat masih kecil, tapi sayang setelah kau besar kau menjadi ketus" ucap Kathir.
"Aish" kesal Yadna.
"Ibarat yang ini kucing dan yang ini singa" ucap Kathir menatap pada Foto lalu pada Yadna yang sekarang ada di hadapannya.
Yadna mengambil bantal dan langsung memukul kan nya pada Kathir.
"Berani sekali kamu bicara begitu" geram Yadna.
"Kamu kasar" ketus Kathir yang langsung pergi meninggalkan Yadna sendirian di sana.
Yadna sangat sangat marah apa lagi baru kali ini ada yang bilang seperti itu padanya.
"Kalau saja itu bukan rekan kerja Abi mungkin sudah aku habisi dia di sini" geram Yadna.
Yadna turun ke bawah setelah selesai mengelap jas milik Kathir yang ada di kamarnya.
"Kathir ini" ucap Yadna memberikan jas itu walaupun dia masih sangat kesal pada Kathir.
"Terima kasih pak Luthfi aku jadi merepotkan" ucap Kathir.
"Tidak Nak" ucap Luthfi.
Mereka membicarakan tentang pekerjaan sedang kan Yadna saat ini tengah mengutak atik ponsel nya karena tengah memainkan permainan yang ada di ponsel nya.
Waffi datang ke sana karena ingin meminta bantuan pada kakaknya itu.
"Kak tolong bantu aku" sahut Waffi.
"Ganggu saja" kesal Yadna.
"Bantu aku kak aku gak bisa ayo lah kakak ku yang baik" ucap Waffi.
"Baiklah mana yang harus aku bantu" tanya Yadna.
"Aku ingin mengerjakan matematika ini tapi aku gak bisa ini sangat susah" sahut Waffi.
"Bukan soal yang susah tapi kamu saja yang tidak mau berusaha" ucap Yadna.
"Ya kemungkinan begitu" ucap Waffi.
"Aish" kesal Yadna.
Yadna mencontoh kan pada Waffi tentang caranya mengerjakan matematika itu, tetapi seperti nya Kathir tidak bisa fokus karena melihat Yadna yang sangat menarik di penglihatan nya.
"Kak orang itu melihat mu terus" bisik Waffi pada Kakaknya.
"Sudah lah biarkan saja, dia sebut aku singa" ucap Yadna.
"Hahah benarkah" tanya Waffi.
"Ya" ucap Yadna.
"Tapi memang dia benar" ucap Waffi.
"Malas lah aku membantu kamu" kesal Yadna pada adiknya yang sangat menyebalkan itu.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Waffi.
"Oh ya apa Adiba ada di kamarnya" tanya Yadna.
"Ada dia sedang mengerjakan sesuatu" ucap Waffi.
"Apa" tanya Yadna.
"Kakak ini kepo sekali itu privasi kak" ucap Waffi.
"Aku hanya tanya" ucap Yadna.
Setelah sekian lamanya akhirnya Kathir pulang juga dengan memakai baju milik Yadna yang masih baru karena belum sempat dia pakai.
"Yad di mana Umi kamu" tanya Luthfi.
"Abi saat ini Umi ada di kamar mungkin dia sedang istirahat, Umi banyak pikiran Abi apa lagi baru saja tuan muda ini berbuat masalah di sekolah nya" ucap Yadna.
"Masalah apa" tanya Luthfi.
"Dia melecehkan seorang wanita" ucap Yadna.
"Itu bohong abi" ucap Waffi.
"Berani sekali kamu" geram Luthfi.
"Aku di fitnah Abi lagi pula Umi akan memindahkan aku ke pesantren di kampung" ucap Waffi.
Luthfi tak bicara lagi dia langsung menuju ke arah kamarnya yang seperti nya Rena ada di sana,
Waffi menatap kesal pada Kakaknya itu.
"Kak kalau bicara yang benar saja" ucap Waffi.
"Aku benar" ucap Yadna.
"Diam lah ini gara gara kamu" ucap Waffi.
Yadna hanya tersenyum tipis melihat hal itu tapi dia marah pada Waffi padahal mereka sudah berjanji tak akan membuat Rena atau pun Luthfi memikirkan masalah lagi.
"Gara gara Waffi, umi pasti kepikiran" gumam Yadna.
Yadna melihat Sofi yang baru saja keluar dari kamar nya dengan menggunakan kursi roda.
"Nenek ada apa" tanya Yadna.
"Aku ingin makan" ucap Sofi.
"Aku akan buatkan bubur" ucap Yadna.
"Terima kasih cucu ku yang baik" ucap Sofi.
"Nenek di dalam kamar dengan siapa" tanya Yadna.
"Ada Adiba yang menemani aku, kasihan dia seperti nya ada pemikiran, dia ada suka pada seorang laki laki tapi katanya banyak sekali halangan nya, aku jadi kasihan padanya, sekarang dia tidur di kamar ku" ucap Sofi.
"Oh ya, Adiba suka pada seseorang bahkan aku saja yang sudah seperti ini belum punya pasangan" ucap Yadna.
"Kamu terlalu galak Yadna jadi laki laki akan menjauhi kamu" ucap Sofi.
"Nenek aku sangat jaga perasaan, aku gak akan mungkin dekat dengan laki laki yang bukan mahram aku" ucap Yadna.
"Ya terserah kamu saja" ucap Sofi.
"Baiklah Nenek ini makanannya, silahkan makan Nenek ku yang paling baik" ucap Yadna.
"Ya terima kasih Yadna yang cantik" ucap Sofi.
Sedangkan di dalam kamar saat ini Luthfi tengah menatap pada sang istri yang sedang tertidur pulas, dia sangat tau kalau Rena baru saja menangis apa lagi matanya bengkak.
"Rena maaf semua ini terjadi hanya pada mu" gumam Luthfi.
Luthfi merasa sangat gagal menjadi seorang Ayah jika mendengar anak anaknya ada masalah, apa lagi saat ini Rena tengah banyak pikiran karena baru saja di tinggal kan Papahnya.
Luthfi lupa tidak menyiapkan makanan untuk orang yang akan datang menghadiri tahlil itu,
Luthfi memesan catering untuk acara itu bahkan Luthfi juga memesan dalam porsi banyak.
Luthfi mengusap air mata yang masih ada di pipi istri nya itu.
"Tidur lah" gumam Luthfi.
Sedangkan sekarang di kediaman Mayang, saat ini Nanda sangat menikmati kehidupan nya apa lagi dia sangat di ratukan di sana.
Gladys bahkan rela membuat kan makanan yang Faiz suka.
"Mas aku sangat suka tinggal di sini" ucap Nanda.
"Ya Bibi sangat baik tidak seperti yang aku pikirkan" ucap Faiz.
"Kamu memikirkan apa" tanya Nanda.
"aku pikir bibi itu ja hat apa lagi dia sering marah pada anak anaknya" ucap Faiz.
"Aku minta uang" ucap Nanda.
"Untuk apa" tanya Faiz.
"Aku ingin membeli makanan yang enak" ucap Nanda.
"Tidak, makanan sudah di siapkan di sini jadi untuk apa beli lagi" tanya Faiz.
"CK kamu sangat pelit aku mau makan di luar" ucap Nanda.
"Tidak ada" ucap Faiz.
"Pelit" ucap Nanda.
Faiz tak mendengar kan ucapan istri nya lagi, dia sudah sangat pusing dan sekarang dia ingin tenang di sana untuk beberapa hari saja tanpa memikirkan masalah apa pun.
"Kata Bibi dia mau ke rumah Orang tua mu" ucap Nanda.
"Kau akan ikut" tanya Faiz.
"Tidak aku sangat tidak mau datang ke sana, aku sangat benci pada orang tua mu" ucap Nanda.
"Jaga ucapan mu" ucap Faiz yang sudah tersulut emosi.
"Kenapa memang kenyataannya begitu kan" ucap Nanda.
__ADS_1
"Dasar muna fik" geram Faiz namun hanya dalam hati saja.