
Dokter menyatakan kalau Herman meninggal karena serangan jantung, Bahkan sekarang Herman sudah di kremasi dan akan di kubur kan.
Semua keluarga sudah ada di pemakaman umum, dan sekarang Luthfi, Arsala, dan Waffi membantu mengubur kan jenazah Herman.
Rena sangat sedih dia benar benar sedih apa lagi dengan kenyataan yang pahit ini, Rena kehilangan orang yang sudah menyayangi nya.
Rena Sangat hancur tapi dia mencoba kuat untuk Mamah Sofi yang sekarang ikut juga ke sana, Sofi terlihat sangat sedih apa lagi Sofi dan Herman sangat mencintai.
Rena sekali kali mengusap air mata nya yang keluar, karena dia tidak mau terlihat lemah di depan Sofi.
Karena kalau Rena lemah siapa yang akan menyemangati Sofi.
"Mah ayo pulang" ucap Rena.
"Mamah mau di sini temani papah kamu" ucap Sofi menatap pada makam yang sekarang masih sangat basah itu.
"Mah jangan begini, ayo pulang Papah sudah tenang di sana" ucap Rena.
"Ya tapi Kasihan papah kamu Rena kalau di tinggal kan sendirian" ucap Sofi.
"Ayo kita doakan papah" ucap Rena yang langsung mendorong kursi roda yang saat ini Sofi duduki.
Yadna mengambil alih posisi Uminya yang sekarang mendorong kursi roda.
Rena tidak bisa menahan air mata nya dia langsung meluapkan kesedihan itu dengan menutupi wajahnya dengan telapak tangan nya.
Adiba memeluk Uminya itu.
"Kuat Umi" ucap Adiba.
"Ya Nak" ucap Rena.
Rena menguatkan diri nya sendiri, Rena sangat lemah jika kehilangan orang yang dia sayang.
Rena masuk ke dalam mobil bersama dengan Mamahnya.
"Mah berdoa nya kita adakan di rumah aku saja ya, Dan sekarang mamah juga tinggal di sana" ucap Rena.
"Tapi Rena papah kamu akan sendirian di rumah" ucap Sofi.
"Mah ikhlas kan papah ya" ucap Rena.
"Papah mu tak akan bisa makan kalau tak ada aku yang akan menyuapi nya" ucap Sofi.
"Tidak mah ayo kita istirahat di rumah ku" ucap Rena.
Sesampainya di kediaman Rena, saat ini Rena langsung menuju ke kamar tamu untuk mengistirahatkan Mamahnya yang sekarang sangat sedih.
Rena menyelimuti tubuh Mamahnya itu, Rena tau kalau mereka saling mencintai, jadi tak heran kalau Sofi akan begitu terpukul pada musibah ini.
Namun pikiran Rena malah memikirkan bagaimana nanti kalau dia di tinggal kan Luthfi, apa lagi umur mereka yang setiap tahun nya berkurang.
Tetapi Rena menjauhkan pikiran itu, dia tidak akan sanggup jika kehilangan Luthfi yang sangat dia sayangi itu.
Apa lagi selama ini hanya Luthfi lah yang setia berada di samping Rena.
Rena menatap pada mamahnya yang sudah tertidur, Rena langsung keluar dari kamar itu, Namun sebagai seorang istri Rena tak lupa membuatkan makanan untuk suaminya.
Karena selama ini Rena yang melayani Luthfi jadi Rena sudah terbiasa untuk membuat kan makanan untuk suaminya.
Namun saat Rena ke dapur dia melihat ada Adiba yang tengah membereskan dapur.
"Ada apa Adiba" tanya Rena.
"Umi ini ada yang lupa matikan kompor" ucap Adiba.
"Siapa" tanya Rena.
"Aku gak tau tapi lihat Umi teplon ini terbakar dan di dalam nya aku pikir ada mie instan yang gosong, Untung saja gas nya habis umi jadi mungkin pas teplon ini akan terbakar gas nya habis langsung mati" ucap Adiba.
"Astaghfirullah siapa yang lupa mematikan kompor" tanya Rena.
"Aku gak tau karena seingat aku tadi aku tidak masak, kak Yadna juga tidak lalu siapa" Adiba bertanya tanya.
"Apa mungkin Faiz" tanya Rena.
"Ya mungkin saja Umi, karena tadi saat di rumah sakit aku dengar mereka akan pulang, dan lihat makanan ini berserakan di lantai" ucap Adiba menunjuk pada makanan yang sedang Adiba sapu.
"Astaghfirullah kenapa banyak makanan yang berserakan apa ada maling" tanya Rena.
"Tidak Umi, aku juga tidak tau" ucap Adiba yang langsung membereskan semua nya.
Rena hanya duduk di meja makan tetapi saat dia duduk di sana Kursi yang ada di meja makan itu basah.
Rena berdiri dia langsung mengendus kursi itu.
"Adiba lihat kursi ini basah dan sangat lengket" ucap Rena.
Adiba mendekat ke arah Uminya itu.
"Apa mungkin ini air gula" tanya Adiba.
__ADS_1
Rena langsung ingat pada air gula yang sengaja dia simpan untuk di buat manisan.
Rena langsung membuka pintu kulkas yang ada di sana.
"Ya itu Air gula yang sudah umi cairkan, padahal umi simpan sengaja untuk di jadikan manisan buah" ucap Rena.
"Kenapa" tanya Adiba.
"Umi sengaja simpan karena Mangga muda nya ga ada" ucap Rena.
"Tapi umi siapa yang melakukan ini" tanya Adiba.
"Umi gak tau" ucap Rena.
"Aku akan cuci kursi itu setelah membereskan ini" ucap Adiba.
"Jangan nak kamu pasti cape duduk saja ya" ucap Rena.
"Tidak Umi, aku akan beres kan ini" ucap Adiba.
"Umi" Teriak Luthfi dari dalam kamarnya.
Adiba menatap pada Uminya.
"Seperti nya suara Abi" ucap Adiba.
"Ayo kita lihat" ucap Rena.
Rena dan Adiba langsung masuk ke dalam kamar yang ada di lantai atas.
"Ada apa Abi" tanya Rena.
"Umi lihat kamar kita" ucap Luthfi.
"Astaghfirullah" ucap Rena dan Adiba saat melihat kamar itu berangkat bahkan baju baju Rena yang ada di dalam lemari nya berantakan di atas lantai.
"Siapa yang melakukan hal ini" tanya Rena tak percaya.
"Apa mungkin ada maling" tanya Adiba.
Yadna yang tadi mendengar teriakan Abi
nya langsung datang ke sana.
"Astaghfirullah ada apa ini" tanya Yadna.
"Seperti nya ada maling" ucap Adiba.
"Apa saja yang hilang" tanya Yadna.
"Kita lapor polisi saja ya" ucap Yadna yang akan menelpon polisi.
"Jangan" Titah Rena.
"Kenapa Umi" tanya Luthfi heran pada keputusan istri nya itu.
"Aku tau siapa pelakunya, tapi jangan lapor kan ke polisi, bantu saja umi membereskan semua ini dan tolong jangan bilang pada Arsala tentang hal ini" ucap Rena.
Luthfi hanya bisa menggeleng geleng kan kepalanya saat Rena hanya diam saja dan masih sabar ketika ada orang yang jelas jelas mencuri di kamar nya.
Yadna dan Adiba membantu membereskan semua yang berserakan, Rena menatap pada perhiasan yang ada di dalam lemari nya.
"Ada yang hilang umi" tanya Yadna.
"Tidak ada" ucap Rena berbohong padahal perhiasan nya ada yang hilang hingga beberapa biji.
Rena menyembunyikan hal itu karena tak mau Faiz kena marah oleh Luthfi, Rena tau kalau Faiz salah tapi Rena juga sangat merasa kasihan pada anaknya itu.
"Sampai kapan umi" tanya Luthfi.
Rena menatap pada suaminya itu.
"Apa" tanya Rena.
"Sampai kapan kamu akan menutupi kesalahan Faiz, Umi dia sangat salah dia bahkan berani mencuri perhiasan mu, yang kamu sengaja simpan untuk kamu berikan pada Yadna saat nanti Yadna menikah" ucap Luthfi.
"Abi hanya perhiasan kan, nanti saat Yadna sudah menikah Umi bisa beli lagi" ucap Rena.
"Umi adil lah pada anak anak mu yang lain, Faiz sudah banyak merasakan kebaikan kamu, dan sekarang biarkan yang lain juga merasa kan nya" ucap Luthfi.
"Abi kasihan Faiz dia sedang kesusahan sekarang" ucap Rena.
"Umi itu karena salah dia yang tidak bersyukur pada apa yang Alloh berikan, lihat istri nya bahkan selalu merasa kurang dan kurang" ucap Luthfi.
"Abi sudahlah" ucap Rena.
Luthfi hanya duduk di sana tanpa bicara lagi, dia sangat marah pada Faiz yang sekarang semakin berani pada nya.
Rena mendekat pada Yadna yang ada di sana bersama dengan Adiba.
"Maafkan Umi ya, nanti Umi janji akan Umi akan belikan lagi yang baru" ucap Rena.
__ADS_1
"Tak apa Umi" ucap Yadna tersenyum pada Uminya itu.
Bahkan Rena juga tersenyum Adiba karena dia juga ada di sana.
Rena mengusap kepala kedua putri nya itu.
"Tolong rahasia kan ini dari Arsala dan Waffi ya" ucap Rena.
"Ya Umi" ucap Yadna dan Adiba.
Rena yang saat ini masih dalam suasana berkabung, dia bahkan tak terlalu memikirkan perhiasan yang hilang itu sekarang yang dia pikirkan adalah Mamahnya yang saat ini tengah sakit sakitan.
Malam ini Rena mengadakan acara pengukuran tanah, karena begitu lah ajaran yang Rena dapatkan di pesantren, orang meninggal harus di tahlil kan.
Dan malam ini adalah pengukuran tanah, atau sama dengan pembagian warisan untuk anak anaknya atau istri yang di tinggalkan nya.
Rena memasak seadanya karena hanya dari mesjid saja yang akan datang ke sana sekarang.
Para tamu akan melakukan doa bersama.
Dan mulai esok Rena akan mengadakan tahlilan untuk Papahnya itu.
Malam ini acara berjalan lancar banyak yang ikut mendoakan papahnya, bahkan warga di sana juga sangat banyak yang datang.
Rena sangat senang karena ternyata masih banyak yang mau mendoakan Papahnya.
Jika di lihat ke masa lalu, Papah Rena bahkan bukan orang yang baik, Herman sangat sangat ja hat namun setelah dia menyesali perbuatannya dia akhirnya sadar dan mau bertaubat.
Hanya waktu dan keadaan yang bisa merubah seseorang, selebihnya hanya permainan kehidupan.
Malam ini Rena tidak melihat tanda tanda Faiz pulang, mungkin Faiz malu pada keluarga nya karena melakukan hal itu, Pikiran Rena.
Tapi tidak pikiran Rena salah, karena sekarang Faiz tengah gelisah karena Istri nya tak ada di rumah bahkan Nanda juga tidak bisa Faiz temukan.
Faiz mencoba melacak ponsel Nanda namun gps menunjukan kalau Nanda ada di suatu tempat ramai seperti diskotik.
Faiz langsung masuk ke dalam karena dia ingin mencari istri nya.
Faiz masuk ke dalam ternyata Nanda saat ini tengah mabuk mabukan sambil berjoget joget bersama dengan orang orang yang tak Nanda kenal.
Bau minuman menyeruak sampai ke hidung Faiz, selama ini Faiz belum pernah datang ke tempat itu atau mencoba minuman seperti itu.
Faiz langsung menarik Nanda untuk pergi dari sana.
Nanda berontak tapi sayang Nanda sudah tak sadar karena efek samping minuman beralkohol itu.
"Astaghfirullah Nanda sadar lah" ucap Faiz menyadarkan Nanda tapi sayang Nanda tak sadar juga.
"Nanda" geram Faiz.
Faiz menyuruh Nanda masuk ke dalam mobil dengan paksaan, Faiz pergi dari tempat itu menuju ke arah kediaman orang tuanya.
Namun di perjalanan Faiz mendengar kan Nanda yang meracau.
"Hahaha aku akan curi uang mu" tawa Nanda seperti orang gi la.
Faiz menghentikan mobilnya dia langsung menatap pada Istri nya itu.
"Dari mana kamu punya uang untuk mabuk" tanya Faiz.
"Aku mengambil kalung si pelit" ucap Nanda tertawa tawa.
"Pelit siapa" tanya Faiz.
"Uminya si Faiz bo doh itu" ucap Nanda.
Faiz tak menyangka kalau istri nya akan melakukan hal itu, tapi Faiz tidak terlalu percaya apa lagi sekarang Nanda tidak sepenuhnya sadar.
"Tidak ada gunanya aku bicara pada dia, aku akan tanya saat Nanda sudah sadar, tapi sekarang aku tak akan pulang dulu ke rumah Umi aku takut kalau ucapan Nanda benar" ucap Faiz.
Saat ini Faiz memutus kan untuk menginap di apartemen temannya yang tak jauh dari sana.
Faiz mencoba untuk menelpon temannya tapi sayang sekali ponsel Faiz kuota nya habis.
"Sesusah ini aku sampai kuota aku habis" geram Faiz sambil memukul stir.
Namun Faiz ingat pada ponsel istri nya yang sudah pasti banyak kuota.
Faiz mengambil ponsel istri nya itu yang ada di dalam tas istri nya.
Namun Faiz terkejut saat melihat ada banyak uang di dalam tas Nanda.
"Uang apa ini" gumam Faiz terkejut.
Faiz mengambil uang itu dia langsung menyimpan uang itu, saat Nanda bangun nanti dia akan tanyakan pada Nanda dari mana uang itu.
Faiz malah berpikir kalau ucapan Nanda ada benarnya, Faiz berpikir kalau Nanda mencuri perhiasan Uminya karena tadi saat Luthfi ijin untuk pulang dulu ke rumah nya untuk mengambil pakaian.
Nanda tidak marah atau mau ikut, dan sekarang Faiz mencurigai sikap Nanda yang seolah betah di rumah orang tua nya.
"Harus nya aku paham hal ini" gumam Faiz.
__ADS_1
Faiz langsung mengambil ponsel Nanda dan segera menghubungi temannya itu, dia akan menginap di sana ada lagi hari sudah semakin malam sekarang.
"Aku sangat malu kalau Nanda benar melakukan hal itu" gumam Faiz yang tidak tau pada permasalahan itu.